Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi andalan warga Gampong Lamdom, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh, untuk memantau kondisi kesehatan tanpa harus mengeluarkan biaya. Bagi warga lanjut usia (lansia), layanan yang hadir melalui kegiatan Posyandu dan Posbindu gampong ini menjadi kesempatan penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini.
Rabu, 12 Agustus 2026, sejumlah warga sudah mulai berdatangan ke Balee Gampong Lamdom. Sejak selepas subuh, sejumlah alas duduk telah disiapkan. Beberapa meja juga ditata untuk melayani warga yang mengikuti program CKG.
Meja pendaftaran dan pemeriksaan tekanan darah ditempatkan di bagian luar, sedangkan meja kecil dan alas duduk dijejerkan rapi untuk perawat dan dokter serta tenaga kesehatan (nakes) lainnya.
Sekitar pukul 08.15 WIB, satu per satu warga mulai datang mendaftarkan diri untuk cek kesehatan. Meski loket pendaftaran dan petugas belum seluruhnya siaga, warga sudah memenui kursi tunggu yang ditempatkan di sisi meja petugas.
Sekitar 30 menit kemudian layanan dibuka dan warga mengambil antrean. Warga mulai dilayani seperti menimbang berat badan dan mengukur lingkar pinggang. Setelah itu petugas mengukur tekanan darah dan diminta menunggu giliran untuk diperiksa lanjutan.
Berbekal nomor antrean, warga menunggu giliran pemeriksaan kadar gula darah dan kadar lemak dalam darah. Tiga pemeriksaan ini merupakan standar prioritas para lansia di Posyandu Gampong Lamdom. Mayoritas warga yang dapat merupakan perempuan. Sementara itu, jumlah laki-laki yang memanfaatkan fasilitas gratis ini masih relatif sedikit.
Namun, sejumlah warga laki-laki tetap rutin menyempatkan diri memeriksakan tekanan darah, kolesterol dan gula darah. Ibnu Yamin dan Bachrum merupakan dua lansia laki-laki yang memanfaatkan program CKG tersebut.
Ibnu Yamin yang sehari-hari dikenal dengan sapaan Pak Min, hari itu memeriksakan kesehatan terdeteksi kondisinya tidak normal. Tekanan darah, kolesterol dan gula darah di atas rata-rata, sehingga ia dianjurkan berobat.
Pak Min pun menerima tiga jenis obat untuk dikonsumsi selama tiga hari. “Saya dikasih obat tekanan darah tinggi, kolesterol dan gula darah untuk 3 hari, selebihnya saya berobat ke rumah sakit” ujarnya.
Pak Min yang sehari-hari meniti hidupnya dari berjualan sarapan pagi, sangat bersyukur bisa terlayani CKG apalagi di kampungnya. Dengan pendapatan pas-pasan tentu pemeriksaan kesejatan tanpa biaya bisa mengurangi beban hidup dan pikiran. Paling tidak Pak Min bisa mengenali gejala sakit guna bisa mencegahnya.
Riwayat tiga penyakit tidak menular memang sudah lama. Saat masih menekuni pekerjaan sebagai tukang becak pun Pak Min sudah mengalami hipertensi. Kebiasaan merokoknya yang belum sanggup ditinggalkan menjadi pemulihan kondisi tubuhnya makin lamban.
Pengalaman serupa dialami Bachrum. Ayah dua putri dan satu putra ini sudah lama meninggalkan kebiasaan merokok dan minum kopi. Riwayat hipertensi yang masih menggelayuti dirinya mengharusnya ia kerap memeriksakan Kesehatan, terutama saat CKG.
“Saya harus control tekanan darah, kalua yang lain aman, ujar Bachrum usai diperiksa petugas Kesehatan.
Memang CKG antusias dimanfaatkan warga untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyakit. Paling tidak melalui CKG, warga akan lebih waspada mengonsumsi makanan atau kebiasan hidup sehari-hari. Makanya, wajar saja jika warga terutama para lansia tidak melewatkan kesempatan pada kegiatan CKG.

Demikian juga dengan Lina, warga sekampung Yamin dan Bachrum. Perempuan yang akrab disapa Kak Lina pun pernah gelisah akibat kadar kolesterolnya naik dari batasan normal. Sehingga cek kesehatan dini melalui CKG dinilai sangat bermanfaat.
“Kami sangat senang CKG masuk kampung. Selain mudah dan tidak mesti mengeluarkan biaya untuk ongkos transportasi,” ujarnya.
Antusiasme para lansia memanfaatkan CKG juga dibenarkan kader Posyandu Gampong Lamdom, Kamila. Warga yang datang umumnya memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus atau sering disebut darah manis atau gula darah.
Setiap kegiatan Posyandu hadir di kampung sekitar 70 pasien dilayani untuk waktu setengah hari. “Paling banyak pasien lansia perempuan, lelaki masih kurang peduli terhadap Kesehatan,” jelas Kamila.
Faktor pola hidup warga di kampung terutama Aceh yang gemar mengonsumsi daging dan kopi manis diduga kuat jadi penyebab dua penyakit tidak menular ini terus terjadi. Belum lagi budaya merokok di kalangan masyarakat awam yang bisa menularkan bahaya untuk keluarganya.[]
MUKHTARUDDIN YACOB




















