Oleh: Rita Khathir
Profesor bidang teknologi pascapanen, Dosen Prodi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala
Tahun ini kita merayakan Hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia (NKRI) tercinta yang ke-81 dengan suka cita. Apakah makna kemerdekaan itu bagi kita? Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Sudah mampu berdiri sendiri? Sudah cerdas? Sudah makmur dan berbahagia? Sudahkan kita mencapai baldatun thayyibatun warabbun ghafur? Negeri yang baik dan diberkati oleh Allah?
Mari bersama-sama kita merenungi makna kemerdekaan ini, walaupun sudah kita raih sejak 81 tahun yang lalu. Generasi pun telah berganti, para pejuang kemerdekaan tahun 1945 telah pun berpulang ke Rahmatullah. Maka kita para generasi yang lahir di alam kemerdekaan, perlu memahami makna kemerdekaan yang sesungguhnya, mempertahankannya dan merawatnya, sampai ke anak cucu kita di masa depan.
Saudaraku yang budiman. Pertama, merdeka itu bukan bermakna boleh berbuat apa saja dengan tidak memikirkan halal dan haramnya. Merdeka bukan bermakna boleh membina dan mencetuskan apa saja dengan tidak memikirkan pantang larangan Tuhan. Merdeka juga bukan artinya bebas tanpa batas, dengan tidak memikirkan syariat Tuhannya.
Kita adalah manusia, makhluk yang diciptakan oleh Allah dilengkapi dengan akal yang diamanatkan untuk menjadi khalifah (pengelola) di bumi ini. Pada hakikatnya kita adalah makhluk yang lemah, yang tidak dapat hidup tanpa adanya elemen lain seperti air, udara, tanah, pangan, sandang dan papan. Lalu Allah telah mencukupi kebutuhan kehidupan kita tersebut, bahkan Allah telah mengutus utusanNya (para Rasul) untuk mengarahkan kehidupan manusia dengan peraturan (syariat) yang sangat penting untuk perkembangan peradaban manusia yang agung dan mulia.
Apakah manfaat peraturan Tuhan bagi kehidupan manusia? Dengan kemampuan akalnya, manusia dapat mengembangkan berbagai pemahaman dalam kapasitas yang terbatas, dan berkemungkinan tersesatkan oleh pikirannya sendiri atau termanipulasikan oleh bisikan syaitan. Untuk menghadapi keterbatasan ini, Allah ingin melindungi manusia agar selalu berada di jalan yang lurus dengan peraturan atau rambu-rambu yang kita sebut agama.
Untuk itu kita patut bersyukur karena berada di negeri yang menerapkan syariat Islam dalam sendi kehidupan dengan berlakunya Qanun Syariat Islam (Qanun No. 11/2002, Qanun No. 6/2014, dan Qanun No. 8/2014). Penerapan hukum Islam akan meninggikan derajat kemanusiaan kita sebagai pribadi yang jujur, amanah, rajin, disiplin, beretika, cerdas, menyampaikan kebaikan, penyayang, dan seterusnya. Agama Islam bertujuan untuk mencetak generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Kedua, merdeka itu adalah bebas dari penjajahan. Kemerdekaan bangsa kita adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Ketiadaan penjajah, menjadikan kita bebas memilih identitas kita sendiri. Kita bebas beragama, mengikuti Tuhan dan memilih cara hidup yang telah diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW. Tanpa penjajahan pula, kita dapat melaksanakan pembangunan, menyelenggarakan pendidikan, membangun ekonomi, memanfaatkan sumber daya alam secara mandiri, dan seterusnya. Sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, tujuan Pemerintah Negara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Ketiga, kemerdekaan tidak bermakna kita bebas membuat apa saja. Apabila manusia boleh berbuat apa saja tanpa aturan/peraturan, maka manusia telah kehilangan kemanusiaannya itu sendiri. Pada saat itu sebenarnya nafsu telah menguasai dan syaitan telah menjadi kawan atau sekutu. Akan ada pula saatnya manusia akan menuhankan akal dan logikanya sendiri. Fenomena ini tentunya akan membawa manusia kepada kehidupan yang porak-poranda, kehilangan kemanusiaan dan tersesat . Allah berfirman dalam QS. Al A’raf ayat 179 yaitu “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Saudaraku sekalian, oleh karena itu, arti kemerdekaan yang sebenarnya adalah bukan sekedar bebas dari penjajahan bangsa lain, namun juga bahwa kita hidup dengan pengetahuan yang benar tentang Allah dan tujuan penciptaan kita yaitu untuk menyembah Allah SWT. Penghambaan diri kita kepada Allah SWT akan menghasilkan insan beriman dan bertaqwa yang mampu memerdekakan diri dari pengaruh nafsu. Dalam QS. Yusuf ayat 53 Allah menyatakan bahwa sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.
Bagaimana kondisi negara kita hari ini? Apakah masih ada korupsi dan nepotisme? Apakah masih ada rakyat yang kelaparan? Apakah masih ada rakyat yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan? Apakah kemaksiatan merajalela? Apakah LGBT melanda? Apakah angka HIV/AIDS meningkat? Dan seterusnya. Beberapa pendapat menyatakan bahwa kita masih hidup dalam penjajahan, berpindah dari tangan penjajah asing ke penjajah pribumi, artinya sebagian kita melakukan berbagai upaya untuk memperkaya diri dengan mengabaikan hak-hak saudara kita yang lainnya.
Kehidupan jahiliyah atau kebodohan akan terjadi kepada manusia yang salah mengenali Allah atau Tuhannya, lalu mereka meninggalkan aturan-aturan Allah. Wahai saudaraku sekalian, Marilah dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 ini, kita semua berniat untuk memperbaiki diri dan keluarga, memastikan bahwa kita sudah merdeka dari dua hal yaitu (1) dari penjajahan bangsa lain dan (2) dari kendali nafsu dan syaitan. Mari kita tingkatkan iman, taqwa, ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga kita dapat membangun semula keinginan luhur untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas. Mari kita bunuh virus-virus korupsi dalam diri kita, dan sebaliknya mari kita gerakkan hati dan tangan kita untuk membangun negara, dan bertekad untuk melunasi hutang bangsa. Semoga Pemerintah kita mempunyai program untuk melunasi hutang negara. Amin ya Rabbal ‘alamin.



















