Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi dan Akademisi Seni, Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh
Dua puluh satu tahun setelah MoU Helsinki, pertanyaan tentang Aceh tidak berhenti pada apa yang hendak diwariskan kepada generasi yang lahir setelah konflik. Ada pertanyaan lain yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari: siapa yang sebenarnya membentuk cara mereka berpikir, bekerja, memilih teman, menilai keberhasilan, dan menghadapi perbedaan?
Pertanyaan ini muncul setelah saya menulis tentang apa yang ingin Aceh wariskan kepada generasi pascakonflik. Setelah 21 Tahun Damai, Aceh Mau Mewariskan Apa? Tulisan itu melihat pendidikan, kebudayaan, pengetahuan, kreativitas, ruang perjumpaan, dan kerja bersama sebagai bagian dari pekerjaan damai. Setelahnya, saya merasa ada satu lapisan yang belum cukup dibicarakan.
Anak muda tidak tumbuh di ruang kosong. Mereka masuk ke kampus, tempat kerja, organisasi, komunitas, keluarga, dan ruang digital yang sudah memiliki ukuran sendiri. Mereka melihat siapa yang mendapat kesempatan. Mereka memperhatikan siapa yang didengar. Mereka mengetahui apa yang dianggap berhasil. Lambat laun, lingkungan itu ikut menentukan pilihan mereka.
Di titik ini, persoalannya menjadi lebih rumit.
Bayangkan seorang mahasiswa yang menemukan bahwa nilai bagus lebih mudah dikejar daripada kemampuan yang sungguh-sungguh. Ia melihat sertifikat lebih mudah dipamerkan daripada proses belajar. Ia menyaksikan jabatan organisasi membawa akses yang tidak selalu dimiliki orang yang paling mampu. Ia menemukan bahwa popularitas kadang lebih cepat mendatangkan perhatian daripada karya.
Apa yang kemudian ia pilih?
Kita tidak bisa buru-buru menyalahkannya.
Saya pernah menulis tentang standar yang diam-diam turun di lingkungan kampus seni. Tidak ada pengumuman bahwa standar berubah. Tidak ada rapat yang memutuskan kualitas boleh diturunkan. Proses itu justru berjalan lewat kebiasaan. Pekerjaan yang dulu dianggap belum selesai mulai diterima. Kritik makin jarang. Hasil yang biasa-biasa saja terasa cukup.
Lingkungan seperti itu mengajarkan sesuatu, meski tidak pernah masuk dalam kurikulum.
Mahasiswa belajar membaca situasi. Ia belajar apa yang harus dikerjakan agar lulus. Ia belajar siapa yang sebaiknya ditemui. Ia belajar kapan harus bicara dan kapan lebih aman diam. Ia juga belajar apa yang menghasilkan pengakuan.
Semua itu merupakan pendidikan.
Pertanyaannya, pendidikan macam apa?
Kita sering membicarakan kualitas mahasiswa melalui indeks prestasi, kegiatan organisasi, sertifikat, kompetisi, atau jumlah pengalaman yang tercantum dalam CV. Semua itu memiliki nilai. Namun seseorang dapat memiliki banyak tanda keberhasilan tanpa memiliki kemampuan yang sepadan.
Sebaliknya, orang yang tekun menguasai satu keterampilan belum tentu punya daftar kegiatan yang panjang.
Ukuran seperti ini penting diperiksa, terutama ketika seseorang mulai memasuki dunia profesional. Jabatan bukan kemampuan memimpin. Sertifikat bukan penguasaan pekerjaan. Banyak kenalan bukan berarti mampu membangun kerja sama. Pengikut di media sosial bukan ukuran kedalaman gagasan.
Pertanyaan yang lebih sederhana justru sering terlewat: setelah semua tanda itu dilepas, apa yang benar-benar bisa kita kerjakan?
Pertanyaan semacam ini tidak selalu nyaman. Namun dari sana seseorang mulai memiliki ukuran sendiri.
Ukuran pribadi tidak berarti menolak semua ukuran yang sudah ada. Mahasiswa tetap membutuhkan nilai. Pekerja tetap membutuhkan penilaian kinerja. Organisasi tetap membutuhkan struktur. Yang perlu dijaga adalah jarak antara alat ukur dan kemampuan yang sesungguhnya.
Ketika ruang belajar utama tidak memberi cukup kesempatan, orang juga bisa mencari ruang lain.
Bukan berarti semua orang harus mengikuti banyak komunitas atau memenuhi waktunya dengan kegiatan. Kadang satu percakapan yang serius lebih berarti daripada sepuluh acara. Satu buku yang selesai dibaca bisa lebih berguna daripada lima seminar. Satu karya yang dikerjakan sampai tuntas bisa mengajarkan lebih banyak daripada sederet pengalaman yang hanya berhenti pada dokumentasi.
Kita tumbuh melalui perjumpaan, tetapi tidak setiap perjumpaan membuat kita bertumbuh.
Ada orang yang membantu kita memperoleh akses. Ada orang yang membantu kita memperoleh pengakuan. Ada pula orang yang membuat kita melihat kekurangan sendiri.
Yang terakhir sering terasa paling tidak nyaman.
Saya pernah mempertanyakan kecenderungan kita yang terlalu sibuk mencari orang hebat. Dalam banyak keadaan, yang membuat seseorang berkembang justru bukan orang paling terkenal yang ditemuinya, melainkan orang yang bersedia membaca pekerjaannya, memberi kritik, mengajak mencoba lagi, atau menunjukkan bagian yang belum dikuasai.
Ada pertanyaan sederhana yang mungkin lebih berguna ketika memilih lingkungan: setelah sering bertemu orang-orang ini, kemampuan saya bertambah atau saya hanya semakin dikenal?
Pertanyaan tersebut juga berlaku untuk organisasi dan tempat kerja.
Kita akan menemukan lingkungan yang sehat. Kita juga akan menemukan lingkungan yang membuat kecewa. Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk langsung pergi. Ada yang membutuhkan pekerjaan itu. Ada yang harus menyelesaikan kuliah. Ada yang bergantung pada beasiswa. Ada yang membantu keluarga.
Maka hidup tidak selalu menyediakan pilihan yang bersih.
Kadang kita bertahan sambil belajar. Kadang kita mengambil yang masih berguna. Kadang kita mengurangi keterlibatan. Kadang kita mencari orang yang bisa diajak bekerja dengan lebih sehat. Kadang kita membuat ruang kecil sendiri.
Kemampuan membaca keadaan juga bagian dari kedewasaan.
Namun ada jebakan lain. Kita bisa terlalu mudah menyalahkan lingkungan sampai lupa memeriksa diri sendiri.
Kampus yang buruk tidak otomatis membuat semua mahasiswa buruk. Dosen yang kurang memberi ruang tidak menghalangi seseorang untuk membaca lebih jauh. Organisasi yang tidak sehat tidak selalu menghapus kesempatan untuk belajar bekerja. Lingkungan yang penuh kepentingan tidak membuat seseorang kehilangan seluruh pilihan.
Ada bagian yang tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
Sudahkah kita mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh ketika tidak ada yang melihat? Sudahkah kita memperbaiki pekerjaan setelah mendapat kritik? Sudahkah kita berani mengakui bahwa kemampuan kita belum cukup? Sudahkah kita memilih teman karena percakapan yang membuat kita berkembang, bukan semata-mata karena akses yang mungkin mereka berikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa kecil. Justru kebiasaan semacam itu yang perlahan membentuk seseorang.
Di sini saya melihat hubungan yang lebih nyata dengan perdamaian Aceh.
Generasi yang lahir setelah Helsinki tidak hanya membutuhkan cerita tentang bagaimana konflik berakhir. Mereka hidup dalam keadaan yang menuntut kemampuan berbeda: mengelola perbedaan, bekerja dengan orang yang tidak selalu sepemikiran, menerima perubahan rencana, menghadapi kritik, mengakui kesalahan, serta tetap menjaga hubungan ketika kepentingan tidak lagi sama.
Kemampuan itu tidak lahir dari peringatan tahunan.
Ia terbentuk di rumah, kampus, tempat kerja, komunitas, ruang seni, organisasi, warung kopi, percakapan pertemanan, bahkan dalam cara kita membatalkan sebuah rencana.
Dari sana saya kembali pada pertanyaan awal.
Siapa yang membentuk kita setelah damai?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana nama lembaga atau orang yang pernah mengajar kita. Kita dibentuk oleh contoh yang kita lihat berulang kali. Kita dibentuk oleh ukuran yang terus dipakai di sekitar kita. Kita dibentuk oleh orang yang kita pilih untuk dengarkan. Kita juga dibentuk oleh keputusan kecil yang kita ambil ketika tidak ada yang memberi tepuk tangan.
Anak muda tidak memilih semua keadaan yang mereka terima. Namun mereka akan menentukan kebiasaan mana yang diteruskan.
Maka mungkin pekerjaan kita bukan memberi mereka terlalu banyak nasihat.
Cukup pastikan bahwa kehidupan yang mereka lihat setiap hari memberi mereka alasan untuk memilih yang lebih baik.




















