“Ini sudah seperti Jogja, Pak. Terasa vibes kreativitasnya.”
Seorang peserta berseloroh demikian menjelang SPS Revival Vol. 11 berakhir di Arena Skate Lamprit, Banda Aceh, Sabtu (1/8). Bukan karena Banda Aceh berubah menjadi Yogyakarta. Yang terasa justru suasananya. Orang-orang dari latar berbeda berkumpul tanpa sekat, saling mengamati, saling belajar, lalu menciptakan sesuatu bersama.
Seorang santri tampil membawakan monolog. Musisi mengisi ilustrasi secara spontan. Saksofon menyusul. Rapa’i diperkenalkan. Skater bertahan hingga acara usai. Warga yang semula hanya melintas ikut berhenti menyaksikan. Tidak ada tiket. Tidak ada transaksi. Bahkan belum ada spanduk yang menandai kegiatan ini. Seluruh acara berjalan atas gotong royong individu dan komunitas yang percaya bahwa ruang seperti ini perlu terus hidup.
Pemandangan seperti itu masih jarang dijumpai di Banda Aceh. Kota ini semakin ramai oleh berbagai aktivitas, tetapi belum banyak ruang terbuka yang mempertemukan orang tanpa kepentingan komersial. Padahal, kota kreatif tidak tumbuh hanya dari gedung, festival, atau agenda seremonial. Kota kreatif tumbuh ketika warganya terbiasa bertemu, bertukar pengalaman, dan mengembangkan gagasan bersama.
Jawaban atas kebutuhan itu mulai terlihat bahkan sebelum pertunjukan pertama dimulai.
Di salah satu sudut arena, seorang santri yang akan membawakan monolog AENG/ALIMIN berkata kepada temannya, “Kami latihan terus selama ini di pesantren, Pak. Waktu Pak Guru Firman ngajak main di sini, wah, senang sekali. Ada panggung untuk kami.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan kenyataan yang lebih luas. Banyak sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi memiliki peserta didik dengan kemampuan artistik yang baik. Mereka berlatih dengan disiplin dan menyiapkan karya secara serius. Namun, tidak semua memiliki ruang untuk menguji hasil latihan di hadapan publik dan berdialog dengan pelaku seni dari berbagai bidang.
Sebelum monolog dimulai, para santri memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar. Mereka menghampiri Bang Kobong, mengamati perangkat tata suara, lalu bertanya bagaimana sistem audio bekerja dalam sebuah pertunjukan. Ketika kamera dokumentasi dikeluarkan, mereka bergantian melihat, memegang, dan menanyakan proses pengambilan gambar. Di sudut lain, guru pendamping merampungkan rias wajah pemain dengan beberapa garis sederhana yang mempertegas karakter tokoh. Semua berlangsung di ruang terbuka, tanpa fasilitas khusus, tetapi dikerjakan dengan kesungguhan.
Keseriusan itu tampak ketika monolog dimulai. Selama sekitar 20 menit, tokoh Alimin menghidupkan pergulatan seorang narapidana yang menunggu eksekusi mati melalui dialog-dialog imajiner tentang keadilan, moral, dan kemanusiaan. Penguasaan panggung terasa mantap. Bangku sederhana berubah menjadi bagian penting dari dramatika. Gerak, intonasi, dan ekspresi terjaga hingga akhir pertunjukan. Tepuk tangan panjang yang menutup penampilan itu menjadi penghargaan atas proses latihan yang mereka bangun di pesantren.
Pola yang sama muncul pada sesi bersama Azhari, putra muda pembuat rapa’i dari Aceh Utara. Melalui jejaring SPS Reviva, panitia mengetahui ia sedang berada di Banda Aceh membantu perawatan sejumlah rapa’i. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk mengundangnya berbincang bersama peserta.
Dipandu Taufik Maroe, percakapan berkembang dari teknik pembuatan rapa’i menuju persoalan yang lebih besar: nilai rapa’i sebagai identitas budaya Aceh, proses belajar dari para senior, hingga tantangan regenerasi para perajin. Diskusi itu mengingatkan bahwa tradisi tidak hanya bertahan karena dimainkan, tetapi juga karena terus dibuat, dirawat, dan diwariskan.
Menjelang penutupan, Galuh pada saksofon, Yanis pada cajón, Coach Sandi Islamanda pada vokal, dan saya pada gitar mengeksplorasi Bungong Jeumpa tanpa latihan maupun aransemen. Tidak ada yang berusaha menjadi pusat perhatian. Masing-masing mendengar, merespons, lalu memberi ruang kepada yang lain. Di situlah tema Meutaloe-Menautkan Karya, Merawat Perjumpaan benar-benar bekerja.
SPS Revival Vol. 11 menunjukkan bahwa membangun ekosistem kreatif tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Yang lebih mendasar adalah menghadirkan ruang yang memungkinkan pengetahuan berpindah, jejaring tumbuh, dan generasi muda belajar langsung dari para pelaku. Praktik seperti ini melengkapi pendidikan formal yang memiliki keterbatasan ruang, waktu, dan kurikulum.
Karena itu, ruang-ruang semacam ini layak dipandang sebagai investasi sosial dan kebudayaan. Gagasan Dana Abadi Ekosistem Kreatif Aceh bukan sekadar soal membiayai kegiatan, melainkan memastikan proses belajar, regenerasi, dokumentasi, dan kolaborasi terus berlangsung. Infrastruktur fisik dapat dibangun dalam waktu singkat. Infrastruktur sosial membutuhkan ketekunan yang jauh lebih panjang.
Mungkin minggu depan belum ada spanduk. Panggungnya pun masih sederhana. Namun selama semakin banyak anak muda menemukan ruang untuk belajar, pengetahuan terus berpindah antargenerasi, dan kolaborasi terus lahir, Banda Aceh sedang membangun sesuatu yang lebih penting daripada sebuah acara. Kota ini sedang membangun fondasi ekosistem kreatifnya sendiri. | Ari J. Palawi




















