• Tentang Kami
Monday, August 3, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Meutaloe; Ketika Banda Aceh Mulai Belajar Bersama

SAGOE TV by SAGOE TV
August 3, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Meutaloe; Ketika Banda Aceh Mulai Belajar Bersama

Seorang peserta berseloroh demikian menjelang SPS Revival Vol. 11 berakhir di Arena Skate Lamprit, Banda Aceh, Sabtu (1/8). Foto: for sagoetv

Share on FacebookShare on Twitter

“Ini sudah seperti Jogja, Pak. Terasa vibes kreativitasnya.”

Seorang peserta berseloroh demikian menjelang SPS Revival Vol. 11 berakhir di Arena Skate Lamprit, Banda Aceh, Sabtu (1/8). Bukan karena Banda Aceh berubah menjadi Yogyakarta. Yang terasa justru suasananya. Orang-orang dari latar berbeda berkumpul tanpa sekat, saling mengamati, saling belajar, lalu menciptakan sesuatu bersama.

Seorang santri tampil membawakan monolog. Musisi mengisi ilustrasi secara spontan. Saksofon menyusul. Rapa’i diperkenalkan. Skater bertahan hingga acara usai. Warga yang semula hanya melintas ikut berhenti menyaksikan. Tidak ada tiket. Tidak ada transaksi. Bahkan belum ada spanduk yang menandai kegiatan ini. Seluruh acara berjalan atas gotong royong individu dan komunitas yang percaya bahwa ruang seperti ini perlu terus hidup.

BACA JUGA

 Pengadilan Digital  dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

Pemandangan seperti itu masih jarang dijumpai di Banda Aceh. Kota ini semakin ramai oleh berbagai aktivitas, tetapi belum banyak ruang terbuka yang mempertemukan orang tanpa kepentingan komersial. Padahal, kota kreatif tidak tumbuh hanya dari gedung, festival, atau agenda seremonial. Kota kreatif tumbuh ketika warganya terbiasa bertemu, bertukar pengalaman, dan mengembangkan gagasan bersama.

Jawaban atas kebutuhan itu mulai terlihat bahkan sebelum pertunjukan pertama dimulai.

Di salah satu sudut arena, seorang santri yang akan membawakan monolog AENG/ALIMIN berkata kepada temannya, “Kami latihan terus selama ini di pesantren, Pak. Waktu Pak Guru Firman ngajak main di sini, wah, senang sekali. Ada panggung untuk kami.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan kenyataan yang lebih luas. Banyak sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi memiliki peserta didik dengan kemampuan artistik yang baik. Mereka berlatih dengan disiplin dan menyiapkan karya secara serius. Namun, tidak semua memiliki ruang untuk menguji hasil latihan di hadapan publik dan berdialog dengan pelaku seni dari berbagai bidang.

Sebelum monolog dimulai, para santri memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar. Mereka menghampiri Bang Kobong, mengamati perangkat tata suara, lalu bertanya bagaimana sistem audio bekerja dalam sebuah pertunjukan. Ketika kamera dokumentasi dikeluarkan, mereka bergantian melihat, memegang, dan menanyakan proses pengambilan gambar. Di sudut lain, guru pendamping merampungkan rias wajah pemain dengan beberapa garis sederhana yang mempertegas karakter tokoh. Semua berlangsung di ruang terbuka, tanpa fasilitas khusus, tetapi dikerjakan dengan kesungguhan.

Keseriusan itu tampak ketika monolog dimulai. Selama sekitar 20 menit, tokoh Alimin menghidupkan pergulatan seorang narapidana yang menunggu eksekusi mati melalui dialog-dialog imajiner tentang keadilan, moral, dan kemanusiaan. Penguasaan panggung terasa mantap. Bangku sederhana berubah menjadi bagian penting dari dramatika. Gerak, intonasi, dan ekspresi terjaga hingga akhir pertunjukan. Tepuk tangan panjang yang menutup penampilan itu menjadi penghargaan atas proses latihan yang mereka bangun di pesantren.

Pola yang sama muncul pada sesi bersama Azhari, putra muda pembuat rapa’i dari Aceh Utara. Melalui jejaring SPS Reviva, panitia mengetahui ia sedang berada di Banda Aceh membantu perawatan sejumlah rapa’i. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk mengundangnya berbincang bersama peserta.

Dipandu Taufik Maroe, percakapan berkembang dari teknik pembuatan rapa’i menuju persoalan yang lebih besar: nilai rapa’i sebagai identitas budaya Aceh, proses belajar dari para senior, hingga tantangan regenerasi para perajin. Diskusi itu mengingatkan bahwa tradisi tidak hanya bertahan karena dimainkan, tetapi juga karena terus dibuat, dirawat, dan diwariskan.

Menjelang penutupan, Galuh pada saksofon, Yanis pada cajón, Coach Sandi Islamanda pada vokal, dan saya pada gitar mengeksplorasi Bungong Jeumpa tanpa latihan maupun aransemen. Tidak ada yang berusaha menjadi pusat perhatian. Masing-masing mendengar, merespons, lalu memberi ruang kepada yang lain. Di situlah tema Meutaloe-Menautkan Karya, Merawat Perjumpaan benar-benar bekerja.

SPS Revival Vol. 11 menunjukkan bahwa membangun ekosistem kreatif tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Yang lebih mendasar adalah menghadirkan ruang yang memungkinkan pengetahuan berpindah, jejaring tumbuh, dan generasi muda belajar langsung dari para pelaku. Praktik seperti ini melengkapi pendidikan formal yang memiliki keterbatasan ruang, waktu, dan kurikulum.

Karena itu, ruang-ruang semacam ini layak dipandang sebagai investasi sosial dan kebudayaan. Gagasan Dana Abadi Ekosistem Kreatif Aceh bukan sekadar soal membiayai kegiatan, melainkan memastikan proses belajar, regenerasi, dokumentasi, dan kolaborasi terus berlangsung. Infrastruktur fisik dapat dibangun dalam waktu singkat. Infrastruktur sosial membutuhkan ketekunan yang jauh lebih panjang.

Mungkin minggu depan belum ada spanduk. Panggungnya pun masih sederhana. Namun selama semakin banyak anak muda menemukan ruang untuk belajar, pengetahuan terus berpindah antargenerasi, dan kolaborasi terus lahir, Banda Aceh sedang membangun sesuatu yang lebih penting daripada sebuah acara. Kota ini sedang membangun fondasi ekosistem kreatifnya sendiri. | Ari J. Palawi

Tags: Banda AcehBelajarguruKebudayaanPerguruan TinggiSeniSenimanSPS Revival
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

 Pengadilan Digital  dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan
Opini

 Pengadilan Digital  dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

by SAGOE TV
August 2, 2026
Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi
Opini

Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

by SAGOE TV
August 1, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh
Opini

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

by SAGOE TV
July 29, 2026
Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.
Opini

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

by SAGOE TV
July 30, 2026
Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh
Opini

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

by SAGOE TV
July 21, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

July 30, 2026
Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

August 1, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

July 29, 2026
Setelah Panggung Dibongkar

Setelah Panggung Dibongkar

July 28, 2026
Calvin Ho

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

July 30, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Siswi SDN 50 Banda Aceh Raih Gelar Inong Cilik Aceh 2026

Siswi SDN 50 Banda Aceh Raih Gelar Inong Cilik Aceh 2026

July 31, 2026
 Pengadilan Digital  dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

 Pengadilan Digital  dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

August 2, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Usung “Meutaloe”: Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

July 31, 2026

EDITOR'S PICK

Kemenag Salurkan Lebih dari Rp85 Miliar untuk Penanganan Dampak Bencana di Aceh

Kemenag Salurkan Lebih dari Rp85 Miliar untuk Penanganan Dampak Bencana di Aceh

June 10, 2026
FDK UIN Ar-Raniry Lantik Pengurus Ormawa Periode 2025

FDK UIN Ar-Raniry Lantik Pengurus Ormawa Periode 2025

February 25, 2025
Shalat Sarana Penghubung Antara Hamba dengan Sang Pencipta

Shalat Sarana Penghubung Antara Hamba dengan Sang Pencipta

January 17, 2025
Gol Tunggal Mantan Pemain Persiraja Bawa Persijap Promosi ke Liga 1

Gol Tunggal Mantan Pemain Persiraja Bawa Persijap Promosi ke Liga 1

February 26, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.