• Tentang Kami
Wednesday, July 15, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Menulis Cepat, Berpikir Dangkal?

SAGOE TV by SAGOE TV
May 14, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Muna Madrah_Menulis Cepat Berpikir Dangkal

Muna Madrah, Sosiolog dan Dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung. Foto: Arsip Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muna Madrah
Sosiolog dan Dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung

Beberapa kegelisahan lahir bukan dari ruang seminar besar, melainkan dari percakapan sederhana di kelas.

BACA JUGA

Tentang Media dan Perhatian Publik

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

Seorang mahasiswa bertanya kepada saya, “Bu, bolehkah saya menulis artikel dengan menggunakan AI?”

Saya menjawab pelan, “Bagaimana anda menggunakan AI?”

Ia menjelaskan bahwa ia cukup memasukkan judul atau topik penelitian, lalu sistem AI akan membuatkan artikel lengkap beserta kesimpulannya. Saya tersenyum kecil. Saya tahu dari mana imajinasi itu datang: media sosial hari ini dipenuhi iklan tentang bagaimana menulis artikel dalam satu jam, menyelesaikan skripsi dalam semalam, atau menghasilkan publikasi ilmiah secara instan dengan bantuan kecerdasan buatan.

Saya tidak ingin menjawabnya sebagai sebuah fenomena benar atau salah. Sebab persoalannya memang tidak sesederhana “boleh” atau “tidak boleh”. AI adalah teknologi. Dan seperti teknologi lainnya, ia bisa menjadi alat bantu yang berguna, tetapi juga bisa menjadi jalan pintas yang menumpulkan daya pikir.

Saya kemudian mengatakan kepada mahasiswa itu, bahwa AI memang bisa membantu menulis artikel dalam hitungan menit. Bahkan mungkin lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan oleh manusia dalam menyusun kerangka berpikirnya sendiri. Tetapi pengetahuan tidak pernah lahir secara instan. Pengetahuan dibangun melalui proses panjang: membaca, mengalami kebingungan, merasakan kegelisahan, melakukan perenungan, membiarkan gagasan mengendap, sampai perlahan muncul pemahaman yang lebih jernih.

Di situlah letak kegelisahan saya sebagai dosen hari ini.

Masalah terbesar pendidikan kita mungkin bukan mahasiswa yang tidak bisa menulis, tetapi mahasiswa yang tidak lagi sabar berpikir.

Di era digital, kecepatan telah menjadi standar baru hampir dalam segala hal. Kita hidup di tengah budaya yang memuja efisiensi. Segala sesuatu harus cepat: informasi cepat, respons cepat, hasil cepat, bahkan gelar dan publikasi pun diharapkan cepat. Dalam logika seperti ini, berpikir perlahan sering dianggap tidak produktif.

Kampus perlahan ikut terseret dalam logika yang sama. Dosen dituntut produktif, mahasiswa dituntut cepat lulus, publikasi diukur dengan angka, sementara proses membaca dan berpikir mendalam semakin kehilangan ruang. Dalam situasi seperti itu, teknologi akhirnya tidak lagi dipandang sebagai alat bantu intelektual, tetapi sebagai cara mempercepat produksi akademik.

Padahal berpikir justru merupakan pekerjaan yang lambat.

Saya teringat Socrates. Filsuf Yunani itu membangun pendidikan bukan dengan memberikan jawaban kepada murid-muridnya, melainkan dengan mengajukan pertanyaan yang membuat mereka ragu terhadap apa yang mereka kira sudah mereka pahami. Bagi Socrates, justru kesadaran bahwa kita belum benar-benar tahu adalah awal dari pencarian pengetahuan yang sesungguhnya.

Pendidikan, dalam pandangan itu, bukan soal mengisi kepala dengan jawaban. Melainkan melatih manusia untuk bertanya, meragukan, dan terus menguji.

Dan proses seperti itu, baik dulu maupun sekarang, tidak pernah bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.

Ia membutuhkan ketekunan membaca, keberanian meragukan jawaban sendiri, kesediaan merevisi gagasan, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum benar-benar memahami sesuatu. Proses intelektual bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan membangun kedalaman cara pandang terhadap dunia.

Di era AI, situasi bergerak sebaliknya. Mahasiswa sering datang bukan dengan pertanyaan, tetapi dengan keinginan memperoleh jawaban secepat mungkin. Akibatnya, proses intelektual perlahan kehilangan ruang untuk kebingungan, keraguan, dan kontemplasi, padahal dari situlah kedalaman berpikir biasanya lahir.

Hari ini kita menyaksikan perubahan yang cukup mengkhawatirkan. Banyak mahasiswa merasa cukup “mengetahui” sesuatu hanya karena mampu menghasilkan ringkasan cepat dari AI. Mereka tampak memahami konsep, padahal sesungguhnya baru berada di permukaan. Mereka mampu menyusun kalimat akademik, tetapi belum tentu mampu membangun argumentasi secara matang.

Kita akhirnya berhadapan dengan ironi pendidikan modern: tulisan semakin banyak, tetapi proses berpikir semakin tipis.

Tentu saya tidak sedang mengajak mahasiswa memusuhi teknologi. Saya sendiri menggunakan AI dalam beberapa pekerjaan akademik. Teknologi dapat membantu memetakan ide, merapikan struktur tulisan, mencari kemungkinan perspektif, bahkan mempercepat pekerjaan teknis tertentu. Dalam banyak hal, AI sangat membantu.

Namun, ada garis yang perlu dijaga dengan hati-hati: jangan sampai AI menggantikan nalar manusia.

AI seharusnya membantu kita menyusun gagasan, bukan menggantikan proses pembentukan gagasan itu sendiri. Sebab jika seluruh proses berpikir diserahkan kepada mesin, maka yang hilang bukan hanya kemampuan menulis, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan secara lebih mendalam.

Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar soal menghasilkan output akademik. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu berpikir reflektif, kritis, dan sadar terhadap dunia di sekitarnya.

Jangan-jangan di tengah kemajuan teknologi hari ini, yang perlahan hilang bukan kemampuan menulis manusia, melainkan kesabaran manusia untuk berpikir. Wallahualam.

Tags: AIBerpikirManusiaMenulisMuna Madrahopinipendidikan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Dari Meja yang Sama. Ari Palawi
Opini

Tentang Media dan Perhatian Publik

by SAGOE TV
July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti
Opini

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

by SAGOE TV
July 13, 2026
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah
Opini

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

by SAGOE TV
July 11, 2026
Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh
Opini

Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

by SAGOE TV
July 8, 2026
Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota
Opini

Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

by SAGOE TV
July 6, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

July 11, 2026
UIN Ar-Raniry Tambah 6 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini Capai 66 Orang

UIN Ar-Raniry Tambah 6 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini Capai 66 Orang

July 14, 2026
Horor Perjalanan Belum Berakhir

Horor Perjalanan Belum Berakhir

July 10, 2026
BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

July 10, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Risman Rachman.

Manajemen Solusi, Bagaimana Menerapkannnya?

March 15, 2025
Pemerintah Luncurkan Gernas RANA, Perkuat Pelindungan Anak di Pesantren dan Madrasah

Pemerintah Luncurkan Gernas RANA, Perkuat Pelindungan Anak di Pesantren dan Madrasah

July 12, 2026
Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

July 8, 2026

EDITOR'S PICK

Buka Turnamen Sepak Bola, Bupati Aceh Besar Minta Pemain Tutup Aurat Pakai Celana Legging

Buka Turnamen Sepak Bola, Bupati Aceh Besar Minta Pemain Tutup Aurat

April 27, 2025
ISNU Aceh Berbagi Baju Lebaran untuk Anak Yatim di Daerah Pedalaman

ISNU Aceh Berbagi Baju Lebaran untuk Anak Yatim di Daerah Pedalaman

March 30, 2025
Isra Mi’raj dan Seruan Tobat Ekologis: Dari Kesalehan Ritual ke Kesalehan Bumi

Isra Mi’raj dan Seruan Tobat Ekologis: Dari Kesalehan Ritual ke Kesalehan Bumi

January 18, 2026
Wali Nanggroe Kunjungi Lapas Perempuan Sigli, Temukan 6 Bayi dan 155 Warga Binaan di Satu Blok

Wali Nanggroe Kunjungi Lapas Perempuan Sigli, Temukan 6 Bayi dan 155 Warga Binaan di Satu Blok

June 13, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.