• Tentang Kami
Saturday, April 18, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Seni, Universitas, dan Keberanian Membaca Masa Depan

Anna Rizatil by Anna Rizatil
February 6, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Seni dan Universitas: Keberanian Membaca Masa Depan

Ari J. Palawi Dosen Senior Etnomusikologi & Pendidikan Seni Universitas Syiah Kuala. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Dosen Senior Etnomusikologi & Pendidikan Seni Universitas Syiah Kuala

Universitas hari ini tidak lagi dinilai semata dari jumlah publikasi atau capaian administratif, tetapi dari kemampuannya membangun makna, identitas, dan kepercayaan publik. Dalam konteks itulah seni seharusnya dibaca ulang. Di Universitas Syiah Kuala, seni terus hadir dalam pendidikan, praktik kreatif, dan relasi budaya dengan masyarakat Aceh. Namun perannya belum selalu ditempatkan sebagai pengetahuan yang strategis. Tulisan ini lahir dari kegelisahan seorang akademisi seni yang hidup di dalam kampus, mengajak pembaca melihat seni bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai cara berpikir dan aset masa depan universitas.

Kegelisahan yang Lahir dari Ruang Kelas dan Ruang Latihan

BACA JUGA

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Saya menulis ini bukan dari jarak aman seorang pengamat, melainkan dari dalam ruang yang saya hidupi setiap hari: ruang kelas, ruang latihan, ruang diskusi, dan ruang sunyi tempat gagasan seni dirawat dengan segala keterbatasannya. Di Universitas Syiah Kuala, saya menyaksikan seni tetap berdenyut kadang lirih, kadang kuat namun sering berjalan tanpa irama yang benar-benar terhubung dengan arah besar universitas.

Seni di USK tidak pernah sepenuhnya lenyap. Ia hadir dalam pendidikan calon guru, dalam kerja kreatif mahasiswa, dalam praktik kebudayaan yang membawa nama Aceh ke ruang publik. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, praktik seni dan riset berbasis budaya terus berlangsung melalui pendampingan komunitas, penciptaan karya, hingga dokumentasi tradisi yang merekam ingatan kolektif Aceh. Namun praktik-praktik ini sering berhenti sebagai kerja personal atau unit kecil, belum sepenuhnya terbaca dan dicatat sebagai capaian intelektual universitas secara institusional.

Baca Juga:  Event, Seni, dan Masalah Standar

Yang membuat saya gelisah bukanlah kekurangan aktivitas, melainkan absennya pembacaan strategis. Energi kreatif dosen dan mahasiswa sering bekerja dengan daya juang sendiri mengandalkan komitmen personal, bukan ekosistem yang secara sadar dirancang. Di titik ini, seni masih lebih sering dibaca sebagai peristiwa, bukan sebagai cara berpikir.

Padahal, bagi saya, seni adalah salah satu bentuk pengetahuan yang paling jujur. Ia lahir dari keterlibatan, bukan dari jarak; dari pengalaman yang direfleksikan, bukan dari abstraksi semata. Ketika universitas belum sepenuhnya memberi tempat bagi cara mengetahui seperti ini, yang hilang bukan hanya seni, tetapi keluasan horizon intelektual kampus itu sendiri.

Seni, Memori Kolektif, dan Reputasi yang Tidak Dibangun Seketika

Reputasi universitas tidak tumbuh dari laporan tahunan atau angka peringkat semata. Ia terbentuk seperti ingatan: perlahan, berlapis, dan sering kali emosional. Orang mengingat universitas bukan hanya dari apa yang dipublikasikan, tetapi dari pengalaman kultural yang pernah mereka rasakan suasana kampus, keberanian gagasan, dan nilai yang terasa hidup. Dalam lanskap inilah seni bekerja dengan sunyi tetapi menentukan.

Di Universitas Syiah Kuala, seni sesungguhnya telah lama menjadi medium penting dalam membangun relasi universitas dengan masyarakat Aceh. Ketika universitas berbicara tentang kebudayaan, keislaman, dan kearifan lokal, seni sering menjadi bahasa yang paling resonan. Namun kontribusi ini kerap berhenti pada fungsi representatif, belum sepenuhnya diolah sebagai modal reputasi yang dipahami dan dikelola secara sadar.

Sebagai etnomusikolog, saya memandang praktik seni sebagai arsip hidup. Bunyi, ritme, dan gestur budaya menyimpan sejarah, trauma, serta daya tahan sosial masyarakat. Jika universitas tidak membaca seni sebagai arsip pengetahuan semacam ini, maka yang hilang bukan hanya potensi akademik, tetapi juga peluang membangun identitas institusi yang otentik dan tak tergantikan.

Baca Juga:  Kolaborasi FKG dan Rumah Amal USK Bantu Korban Banjir Aceh

Universitas-universitas besar dunia menempatkan seni bukan sebagai dekorasi, melainkan sebagai fondasi karakter. Bukan karena seni selalu menghasilkan keuntungan langsung, tetapi karena ia membangun keterikatan emosional dan kepercayaan publik dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, seni adalah investasi reputasi dan Aceh adalah resonansi kultural yang sangat kuat bagi USK, jika dibaca dengan kepekaan, bukan sekadar dipajang sebagai simbol.

Otonomi PTN-BH dan Seni sebagai Ekosistem Pengetahuan

Status PTN-BH memberi Universitas Syiah Kuala ruang gerak yang luas. Namun otonomi bukan hanya soal fleksibilitas struktural; ia adalah kesempatan untuk menyusun ulang komposisi pengetahuan universitas. Pertanyaannya bukan semata apa yang bisa dikelola, tetapi nilai apa yang ingin ditumbuhkan.

Dalam komposisi ini, seni masih belum sepenuhnya diberi posisi yang setara. Ia sering hadir sebagai solo sesaat menggema dalam acara tetapi belum menjadi bagian dari aransemen jangka panjang universitas. Padahal, seni sebagai pengetahuan memerlukan ekosistem: pendidikan yang reflektif, riset berbasis praktik yang diakui, dokumentasi yang serius, dan dialog berkelanjutan dengan masyarakat.

Yang dibutuhkan bukan penambahan acara atau seremoni, melainkan keberanian tata kelola untuk mengakui seni sebagai cara berpikir yang sah dalam sistem akademik. Ketika proses kreatif diakui sebagai metode, refleksi sebagai analisis, dan konteks budaya sebagai landasan ilmiah, seni tidak lagi berada di pinggir, tetapi berkontribusi nyata pada tridarma perguruan tinggi.

Di Aceh, pendekatan ini juga memiliki dimensi etis yang kuat. Seni bersentuhan langsung dengan nilai, agama, dan martabat manusia. Universitas yang memberi ruang serius bagi seni sedang menjalankan fungsi pendidikannya secara menyeluruh mengasah nalar sekaligus kepekaan batin.

Catatan Akhir: Membaca Nada-Nada yang Selama Ini Terabaikan

Saya menulis ini sebagai ikhtiar membaca ulang potensi yang selama ini terdengar samar. Seni mungkin tidak selalu hadir dalam tabel kinerja atau grafik capaian, tetapi ia membentuk nada dasar universitas cara ia dikenang, dipercaya, dan dirasakan.

Baca Juga:  Saat Aceh Bernyanyi: Musik, Luka, dan Harapan yang Menggema

Universitas Syiah Kuala memiliki banyak kekuatan. Namun justru karena itu, potensi seni yang belum sepenuhnya terorkestrasi menjadi peluang yang terlalu berharga untuk diabaikan. Seni bukan sisa masa lalu, bukan pula sekadar hiasan identitas. Ia adalah sumber pengetahuan yang hidup, menunggu keberanian untuk ditempatkan secara lebih sadar dan dewasa.

Universitas yang mengabaikan seni mungkin tetap berjalan, tetapi ia berjalan tanpa pendengaran yang utuh terhadap manusianya sendiri. []

Tags: KeberanianMakin Tahu Indonesiamasa depanMembaca Masa DepanopiniSeniUniversitas
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan
SENI

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

by Anna Rizatil
April 18, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

by Anna Rizatil
April 16, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

by Anna Rizatil
April 11, 2026
Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan
SENI

Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan

by SAGOE TV
April 4, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Skate Park Stage: Praktik yang Tidak Lagi Hilang, Melainkan Bekerja

by SAGOE TV
March 30, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

April 16, 2026
Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

April 13, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

April 11, 2026
Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

April 10, 2026
PSAP Sigli Juara Liga 4 Aceh 2025/2026, Kalahkan Al Farlaky FC 2-0 di Final

PSAP Sigli Juara Liga 4 Aceh 2025/2026, Kalahkan Al Farlaky FC 2-0 di Final

April 12, 2026
Mualem Minta Dana Otsus Aceh Abadi 2,5 Persen di Hadapan Baleg DPR RI, Ini Responsnya

Mualem Minta Dana Otsus Aceh Abadi 2,5 Persen di Hadapan Baleg DPR RI, Ini Responsnya

April 17, 2026
Gempa M 5,7 Guncang Barat Daya Sinabang Aceh, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa M 5,7 Guncang Barat Daya Sinabang Aceh, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

April 12, 2026
Persiraja Tantang Pemuncak Adhyaksa FC di Banten, Laga Krusial Penentu Asa Laskar Rencong

Persiraja Tantang Pemuncak Adhyaksa FC di Banten, Laga Krusial Penentu Asa Laskar Rencong

April 12, 2026
Baleg DPR RI Sepakat Perpanjang Dana Otsus Aceh, Berlaku Lagi Setelah 2027?

Baleg DPR RI Sepakat Perpanjang Dana Otsus Aceh, Berlaku Lagi Setelah 2027?

April 16, 2026

EDITOR'S PICK

Mualem Sampaikan Pengalaman Aceh Pasca-Perjanjian Helsinki di Forum Internasional Bangsamoro

Mualem Sampaikan Pengalaman Aceh Pasca-Perjanjian Helsinki di Forum Internasional Bangsamoro

November 20, 2025
Sidang Isbat Penentuan Idul Fitri 1446 H Digelar 29 Maret 2025, Rukyatul Hilal di 33 Titik

Sidang Isbat Penentuan Idul Fitri 1446 H Digelar 29 Maret 2025, Rukyatul Hilal di 33 Titik

March 20, 2025
Fasset Kenalkan Fitur Crypto Zakat, Inovasi Syariah di Pasar Kripto

Fasset Kenalkan Fitur Crypto Zakat, Inovasi Syariah di Pasar Kripto

March 15, 2025
Program 100 Hari Pemko Banda Aceh

Program 100 Hari Pemko Banda Aceh Fokus yang Berdampak Langsung bagi Masyarakat

March 15, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.