• Tentang Kami
Tuesday, July 28, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Seni, Universitas, dan Keberanian Membaca Masa Depan

Anna Rizatil by Anna Rizatil
February 6, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Seni dan Universitas: Keberanian Membaca Masa Depan

Ari J. Palawi Dosen Senior Etnomusikologi & Pendidikan Seni Universitas Syiah Kuala. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Dosen Senior Etnomusikologi & Pendidikan Seni Universitas Syiah Kuala

Universitas hari ini tidak lagi dinilai semata dari jumlah publikasi atau capaian administratif, tetapi dari kemampuannya membangun makna, identitas, dan kepercayaan publik. Dalam konteks itulah seni seharusnya dibaca ulang. Di Universitas Syiah Kuala, seni terus hadir dalam pendidikan, praktik kreatif, dan relasi budaya dengan masyarakat Aceh. Namun perannya belum selalu ditempatkan sebagai pengetahuan yang strategis. Tulisan ini lahir dari kegelisahan seorang akademisi seni yang hidup di dalam kampus, mengajak pembaca melihat seni bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai cara berpikir dan aset masa depan universitas.

Kegelisahan yang Lahir dari Ruang Kelas dan Ruang Latihan

BACA JUGA

Setelah Panggung Dibongkar

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

Saya menulis ini bukan dari jarak aman seorang pengamat, melainkan dari dalam ruang yang saya hidupi setiap hari: ruang kelas, ruang latihan, ruang diskusi, dan ruang sunyi tempat gagasan seni dirawat dengan segala keterbatasannya. Di Universitas Syiah Kuala, saya menyaksikan seni tetap berdenyut kadang lirih, kadang kuat namun sering berjalan tanpa irama yang benar-benar terhubung dengan arah besar universitas.

Seni di USK tidak pernah sepenuhnya lenyap. Ia hadir dalam pendidikan calon guru, dalam kerja kreatif mahasiswa, dalam praktik kebudayaan yang membawa nama Aceh ke ruang publik. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, praktik seni dan riset berbasis budaya terus berlangsung melalui pendampingan komunitas, penciptaan karya, hingga dokumentasi tradisi yang merekam ingatan kolektif Aceh. Namun praktik-praktik ini sering berhenti sebagai kerja personal atau unit kecil, belum sepenuhnya terbaca dan dicatat sebagai capaian intelektual universitas secara institusional.

Yang membuat saya gelisah bukanlah kekurangan aktivitas, melainkan absennya pembacaan strategis. Energi kreatif dosen dan mahasiswa sering bekerja dengan daya juang sendiri mengandalkan komitmen personal, bukan ekosistem yang secara sadar dirancang. Di titik ini, seni masih lebih sering dibaca sebagai peristiwa, bukan sebagai cara berpikir.

Padahal, bagi saya, seni adalah salah satu bentuk pengetahuan yang paling jujur. Ia lahir dari keterlibatan, bukan dari jarak; dari pengalaman yang direfleksikan, bukan dari abstraksi semata. Ketika universitas belum sepenuhnya memberi tempat bagi cara mengetahui seperti ini, yang hilang bukan hanya seni, tetapi keluasan horizon intelektual kampus itu sendiri.

Seni, Memori Kolektif, dan Reputasi yang Tidak Dibangun Seketika

Reputasi universitas tidak tumbuh dari laporan tahunan atau angka peringkat semata. Ia terbentuk seperti ingatan: perlahan, berlapis, dan sering kali emosional. Orang mengingat universitas bukan hanya dari apa yang dipublikasikan, tetapi dari pengalaman kultural yang pernah mereka rasakan suasana kampus, keberanian gagasan, dan nilai yang terasa hidup. Dalam lanskap inilah seni bekerja dengan sunyi tetapi menentukan.

Di Universitas Syiah Kuala, seni sesungguhnya telah lama menjadi medium penting dalam membangun relasi universitas dengan masyarakat Aceh. Ketika universitas berbicara tentang kebudayaan, keislaman, dan kearifan lokal, seni sering menjadi bahasa yang paling resonan. Namun kontribusi ini kerap berhenti pada fungsi representatif, belum sepenuhnya diolah sebagai modal reputasi yang dipahami dan dikelola secara sadar.

Sebagai etnomusikolog, saya memandang praktik seni sebagai arsip hidup. Bunyi, ritme, dan gestur budaya menyimpan sejarah, trauma, serta daya tahan sosial masyarakat. Jika universitas tidak membaca seni sebagai arsip pengetahuan semacam ini, maka yang hilang bukan hanya potensi akademik, tetapi juga peluang membangun identitas institusi yang otentik dan tak tergantikan.

Universitas-universitas besar dunia menempatkan seni bukan sebagai dekorasi, melainkan sebagai fondasi karakter. Bukan karena seni selalu menghasilkan keuntungan langsung, tetapi karena ia membangun keterikatan emosional dan kepercayaan publik dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, seni adalah investasi reputasi dan Aceh adalah resonansi kultural yang sangat kuat bagi USK, jika dibaca dengan kepekaan, bukan sekadar dipajang sebagai simbol.

Otonomi PTN-BH dan Seni sebagai Ekosistem Pengetahuan

Status PTN-BH memberi Universitas Syiah Kuala ruang gerak yang luas. Namun otonomi bukan hanya soal fleksibilitas struktural; ia adalah kesempatan untuk menyusun ulang komposisi pengetahuan universitas. Pertanyaannya bukan semata apa yang bisa dikelola, tetapi nilai apa yang ingin ditumbuhkan.

Dalam komposisi ini, seni masih belum sepenuhnya diberi posisi yang setara. Ia sering hadir sebagai solo sesaat menggema dalam acara tetapi belum menjadi bagian dari aransemen jangka panjang universitas. Padahal, seni sebagai pengetahuan memerlukan ekosistem: pendidikan yang reflektif, riset berbasis praktik yang diakui, dokumentasi yang serius, dan dialog berkelanjutan dengan masyarakat.

Yang dibutuhkan bukan penambahan acara atau seremoni, melainkan keberanian tata kelola untuk mengakui seni sebagai cara berpikir yang sah dalam sistem akademik. Ketika proses kreatif diakui sebagai metode, refleksi sebagai analisis, dan konteks budaya sebagai landasan ilmiah, seni tidak lagi berada di pinggir, tetapi berkontribusi nyata pada tridarma perguruan tinggi.

Di Aceh, pendekatan ini juga memiliki dimensi etis yang kuat. Seni bersentuhan langsung dengan nilai, agama, dan martabat manusia. Universitas yang memberi ruang serius bagi seni sedang menjalankan fungsi pendidikannya secara menyeluruh mengasah nalar sekaligus kepekaan batin.

Catatan Akhir: Membaca Nada-Nada yang Selama Ini Terabaikan

Saya menulis ini sebagai ikhtiar membaca ulang potensi yang selama ini terdengar samar. Seni mungkin tidak selalu hadir dalam tabel kinerja atau grafik capaian, tetapi ia membentuk nada dasar universitas cara ia dikenang, dipercaya, dan dirasakan.

Universitas Syiah Kuala memiliki banyak kekuatan. Namun justru karena itu, potensi seni yang belum sepenuhnya terorkestrasi menjadi peluang yang terlalu berharga untuk diabaikan. Seni bukan sisa masa lalu, bukan pula sekadar hiasan identitas. Ia adalah sumber pengetahuan yang hidup, menunggu keberanian untuk ditempatkan secara lebih sadar dan dewasa.

Universitas yang mengabaikan seni mungkin tetap berjalan, tetapi ia berjalan tanpa pendengaran yang utuh terhadap manusianya sendiri. []

Tags: KeberanianMakin Tahu Indonesiamasa depanMembaca Masa DepanopiniSeniUniversitas
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Setelah Panggung Dibongkar
SENI

Setelah Panggung Dibongkar

by SAGOE TV
July 28, 2026
Kardo National Qualifier Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh
SENI

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

by SAGOE TV
July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem
SENI

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

by SAGOE TV
July 15, 2026
Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031
SENI

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

by SAGOE TV
July 8, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Ekosistem adalah Karya Seni Terbesar Kita

by SAGOE TV
July 2, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

July 23, 2026
Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

July 21, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
BPMA dan TNI AD Perkuat Pengamanan Blok A Medco di Aceh Timur

BPMA dan TNI AD Perkuat Pengamanan Blok A Medco di Aceh Timur

July 23, 2026
Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

July 6, 2025
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

July 11, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Menggunting dalam Lipatan

Menggunting dalam Lipatan

May 16, 2026
Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Gayo Lues, Terasa hingga Medan dan Aceh Barat Daya

Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Gayo Lues, Terasa hingga Medan dan Aceh Barat Daya

July 22, 2026

EDITOR'S PICK

Tambah 5 Profesor, USK Kini Miliki 248 Guru Besar

Tambah 5 Profesor, USK Kini Miliki 248 Guru Besar

April 14, 2026
UIN Ar-Raniry Catat Prestasi Internasional, Masuk 15 Besar SCImago 2026

UIN Ar-Raniry Catat Prestasi Internasional, Masuk 15 Besar SCImago 2026

March 31, 2026
Kak Na UMKM Aceh Harus Naik Kelas, Saatnya Produk Lokal Jadi Kebanggaan Global

Kak Na: UMKM Aceh Harus Naik Kelas, Saatnya Produk Lokal Jadi Kebanggaan Global

November 10, 2025
Dinkes Aceh Pastikan Layanan Kesehatan Tetap Berjalan di Tengah Bencana

Dinkes Aceh Pastikan Layanan Kesehatan Tetap Berjalan di Tengah Bencana

December 29, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.