• Tentang Kami
Wednesday, December 10, 2025
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
KIRIM TULISAN
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • DATA BENCANA ACEH 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • DATA BENCANA ACEH 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

AI, Kegelapan, dan Harapan

Menjawab Arfiansyah dengan Cinta kepada Akal Sehat

SAGOE TV by SAGOE TV
August 9, 2025
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
AI, Kegelapan, dan Harapan

Ari J. Palawi. (Foto: for Sagoe TV)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Peneliti dan pendidik di bidang seni, budaya, dan masyarakat di Universitas Syiah Kuala.

Tulisan Dr. Arfiansyah berjudul “Tak Sempat Membawa Terang, AI Membawa Kegelapan” (Sagoe TV, 5 Agustus 2025) menyampaikan kekhawatiran yang perlu kita dengar dan pikirkan bersama. Ia menyoroti penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia akademik—dari mahasiswa yang menyerahkan skripsi kepada mesin, hingga dosen dan institusi yang berbangga dengan karya ilmiah instan. Saya tidak dalam posisi membantah keresahan itu. Tapi izinkan saya menyisipkan satu perspektif: bahwa kegelapan yang kita hadapi hari ini bukan karena AI, melainkan karena redupnya kecerdasan manusia itu sendiri—kecerdasan yang jujur, kritis, dan beretika—yang saya sebut sebagai Human Intelligence (HI).

BACA JUGA

Menjadi Pemimpin Totalitas

Jangan Kirim Kami Makanan, Kirim Saja Kain Kafan

Kita perlu hati-hati dalam memberi nama pada gejala. Menyebut AI sebagai pembawa kegelapan seolah memberi beban moral pada alat, bukan pada pengguna. Padahal AI hanyalah cermin. Ia tidak menciptakan niat buruk, tidak punya kehendak bebas. Ia bekerja dari perintah, belajar dari data, dan menjawab apa yang diminta. Kalau AI digunakan untuk menipu, menyalin, memalsukan, atau memproduksi kebohongan, maka yang perlu diperiksa bukan alatnya, melainkan manusianya. Masalah bukan pada teknologi, tapi pada nilai dan nalar yang gagal mengiringinya.

Saya tidak ingin membela AI, tapi juga tak ingin menyalahkannya secara serampangan. Sebab dalam banyak hal, AI justru membuka ruang baru bagi kreativitas, kolaborasi, dan efisiensi. Masalah muncul ketika manusia memperlakukannya bukan sebagai alat bantu berpikir, tetapi sebagai pengganti berpikir. Ketika mahasiswa mengganti proses pencarian dengan perintah cepat, ketika dosen mengejar publikasi tanpa melewati perenungan, ketika kampus membanggakan kuantitas tanpa menimbang kualitas, maka AI hanya menjadi katalis dari krisis yang sudah lebih dulu ada. Bukan penyebab, melainkan pemantul.

Baca Juga:  Menjemput Fajar Investasi Aceh: Dari Narasi Potensi ke Realitas Ekonomi Baru

Dalam tulisan saya di Kompasiana berjudul “Segarkan Dulu Kecerdasan Manusianya” (17 Mei 2025), saya menyampaikan keresahan dari arah yang berbeda. Kita hidup dalam sistem pendidikan yang dibentuk oleh tuntutan administratif, target akreditasi, dan tekanan sosial untuk cepat selesai. Mahasiswa didorong lulus cepat, dosen didesak terbit banyak. Di tengah iklim seperti ini, AI datang bukan sebagai penyelamat atau perusak, melainkan sebagai pengungkap: memperlihatkan sejauh mana kemalasan struktural dan kekosongan intelektual telah menjadi norma yang diterima.

Di banyak kampus, mahasiswa didorong untuk “mengejar publikasi” bukan karena semangat ilmiah, tetapi karena kewajiban administratif. Bahkan di semester awal pascasarjana, tugas-tugas sudah harus diterbitkan di jurnal dengan level tertentu, padahal belum ada kesiapan berpikir atau perangkat metodologis yang memadai. Di sisi lain, dosen pun terburu-buru mengejar angka publikasi demi sertifikasi dan kredit poin. Dalam suasana ini, AI hadir bukan untuk memperdalam ilmu, tetapi menjadi jalan pintas sistemik—dan kita semua membiarkannya karena ikut menikmati manfaat instannya. Maka penyalahgunaan AI tidak terjadi dalam ruang kosong; ia tumbuh subur di antara struktur yang memprioritaskan hasil daripada proses.

Maka solusinya bukan menuduh AI membawa kegelapan, tapi menyadari bahwa kita telah lama memadamkan obor akal sehat kita sendiri. Kampus hari ini bukan lagi ruang tafakur, tetapi pabrik administratif. Ruang kelas kehilangan rasa ingin tahu. Skripsi berubah jadi syarat, bukan proses. Artikel ilmiah dipakai untuk akreditasi, bukan pengetahuan. Dalam konteks seperti itu, AI hanya mempercepat apa yang selama ini kita diamkan. Maka pertanyaannya: masih adakah tempat untuk kejujuran intelektual di dunia yang begitu sibuk memburu format?

Saya sepakat bahwa kita berada dalam situasi genting. Tapi membangun rasa genting saja tidak cukup. Kita perlu arah. Dan arah itu, menurut saya, tidak lahir dari paranoia terhadap teknologi, tapi dari rekonstruksi kesadaran kita sebagai manusia. Apa peran kita dalam dunia yang makin otomatis? Apa yang membuat kita tetap manusia di tengah mesin yang makin canggih? Bukan otak kiri yang cepat menghitung, tetapi hati dan akal yang masih bisa menimbang.

Baca Juga:  Masa Depan Industri Aceh: Peluang, Tantangan dan Jalan Menuju Kemandirian Ekonomi

Yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya kualitas akademik, tetapi kejujuran eksistensial kita sebagai manusia. Ketika manusia menyerahkan sepenuhnya kerja berpikir kepada mesin, bukan hanya pengetahuan yang dikorbankan, tapi juga rasa tanggung jawabnya. AI bisa membantu menjelaskan data, tapi ia tidak tahu makna air mata. Ia bisa memproses pola, tapi tak bisa merasakan beban keputusan. Maka kalau kita ingin mempertahankan ruang insani dalam pendidikan, kita harus memastikan bahwa mesin tidak menggantikan pengalaman belajar sebagai proses pembentukan moral.

Oleh sebab itu, mari kita dorong kampus untuk tidak alergi pada AI, tetapi justru menjadikannya peluang belajar tentang tanggung jawab. Mari kita gunakan AI sebagai pintu masuk untuk diskusi tentang etika, integritas, dan martabat berpikir. Mari kita buat ruang-ruang di mana mahasiswa tidak hanya diajari menguasai alat, tapi juga diajak menyadari batas dan maknanya. Kita tidak sedang menolak masa depan, tapi sedang berusaha memastikan masa depan itu tetap manusiawi.

AI tidak membawa kegelapan. Kegelapan terjadi ketika kita berhenti menyalakan cahaya dari dalam diri sendiri. Jika kita jujur menatap situasi ini, seharusnya kita tidak sekadar takut, tapi tergerak. Bukan untuk mengubur teknologi, tetapi untuk menyalakan ulang akal sehat. Jika ada krisis hari ini, mungkin inilah kesempatan terbaik untuk meninjau kembali untuk apa sebenarnya kita belajar.

Di sinilah peran para pendidik menjadi amat penting. Kita tak bisa hanya menegur mahasiswa yang memakai AI secara sembrono, tanpa terlebih dahulu menyediakan ruang dialog yang membimbing mereka memahami alat ini secara etis. Kita tak bisa hanya marah pada generasi baru, tanpa menyadari bahwa kadang kita, generasi sebelumnya, juga terlalu sibuk memburu gelar dan jabatan, lalu lupa menjadi teladan berpikir. Alih-alih saling menyalahkan, mari kita mulai dengan saling mendengar—dan dari situ membangun kembali kepercayaan antara ilmu, akal sehat, dan rasa tanggung jawab.

Baca Juga:  Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

Dan pada titik itu, mungkin kita akan menemukan bahwa harapan bukan datang dari teknologi atau statistik, melainkan dari manusia yang tetap mau bertanya—dan tetap mau jujur dalam menjawabnya. []

Tags: AIArtificial IntelligenceArtikelKecerdasan Buatanopini
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Menjadi Pemimpin Rita Khathir
Opini

Menjadi Pemimpin Totalitas

by SAGOE TV
December 10, 2025
Jangan Kirim Kami Makanan, Kirim Saja Kain Kafan
BENCANA SUMATERA 2025

Jangan Kirim Kami Makanan, Kirim Saja Kain Kafan

by SAGOE TV
December 9, 2025
Satu Rasa Buat Aceh dari Malaya Sriwijaya
BENCANA SUMATERA 2025

Satu Rasa Buat Aceh dari Malaya Sriwijaya

by SAGOE TV
December 7, 2025
Pemprov Aceh dan SPBU, Quo Vadis?
Opini

Pemprov Aceh dan SPBU, Quo Vadis?

by SAGOE TV
December 6, 2025
Reposisi dan Evaluasi Aceh di Dalam NKRI
Opini

Reposisi dan Evaluasi Aceh di Dalam NKRI

by SAGOE TV
December 6, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Cerita Penanganan Darurat Dua Bencana di Aceh: Tsunami 2004 dan Banjir 2025

Cerita Penanganan Darurat Dua Bencana di Aceh: Tsunami 2004 dan Banjir 2025

December 4, 2025
Update Donasi untuk Bencana Sumatera 2025 via SAGOETV

Update Donasi untuk Bencana Sumatera 2025 via SAGOETV

December 9, 2025
Satu Rasa Buat Aceh dari Malaya Sriwijaya

Satu Rasa Buat Aceh dari Malaya Sriwijaya

December 7, 2025
Memahami Pola Penyamaran dalam Dunia Spionase

Memahami Pola Penyamaran dalam Dunia Spionase

March 15, 2025
Bencana Aceh

Bencana Aceh: Benarkah ”merdeka” Sebagai Solusi?

December 5, 2025
Bencana: Tekan Tombol Sinkronisasi

Bencana: Tekan Tombol Sinkronisasi

December 4, 2025
Bupati Aceh Selatan Mirwan

Mendagri Tito Berhentikan Sementara Bupati Aceh Selatan Buntut Umrah Saat Bencana

December 9, 2025
Amnesty International Desak Pemerintah Tetapkan Darurat Nasional untuk Percepat Evakuasi Korban Banjir Sumatra

Bupati Aceh Selatan Klarifikasi Umrah di Tengah Bencana: Nazar Pribadi

December 5, 2025
Wajah Kolonial Dalam Tanggap Bencana Aceh

Wajah Kolonial Dalam Tanggap Bencana Aceh

December 3, 2025

EDITOR'S PICK

BPA Gelar Doa Bersama dan Peusijuek Mualem-Dek Fadh

BPA Gelar Doa Bersama dan Peusijuek Mualem-Dek Fadh

January 19, 2025
25.767 Peserta Ikut Tes SKD CPNS Kemenag di Aceh, Ujian Digelar di 4 Titik Lokasi

37.849 Peserta Lulus SKD CPNS Kemenag dan Berhak Mengikuti SKB

November 19, 2024
RISNAWATI

Adopsi Bukan Sekedar Pengangkatan Anak

August 20, 2024
Persiraja vs Barito Putera: Tiket Mulai Rp25 Ribu, Uji Coba Penting Jelang Championship 2025/26

Persiraja vs Barito Putera: Tiket Mulai Rp25 Ribu, Uji Coba Penting Jelang Championship 2025/26

August 12, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.