• Tentang Kami
Tuesday, June 16, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

SAGOE TV by SAGOE TV
June 3, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Tarmizi. Foto: Arsip Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Tarmizi
Aktivis 98 dan Anggota Dewan Pembina The Aceh Institute

 

BACA JUGA

Dek Gam Sang Petarung, PAN Aceh Menuju Tiga Besar 2029

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

Membuka Pagar: Contoh dari Dunia Luar

Di banyak negara maju maupun berkembang, universitas tidak lagi menjadi “menara gading” yang terpisah dari realitas sosial. Di Jerman, misalnya, universitas didesain sebagai mitra pembangunan lokal: hasil riset pertanian langsung diserahkan kepada petani, laboratorium teknik bekerja sama dengan pengrajin setempat, dan dosen serta mahasiswa hadir secara berkelanjutan memecahkan masalah sanitasi, energi, dan ekonomi warga . Di Filipina, model service-learning menggabungkan pembelajaran akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat—programnya tidak berhenti saat laporan selesai, melainkan dirancang agar warga mampu melanjutkannya sendiri setelah kampus pergi . Bahkan di beberapa negara Afrika, perguruan tinggi justru didirikan di tengah wilayah pedesaan agar ilmu pengetahuan langsung meresap ke kehidupan sehari-hari.

Di Indonesia sendiri, ada contoh keberhasilan yang patut ditiru. Beberapa universitas di Jawa dan Bali telah mengubah paradigma pengabdian masyarakatnya: tidak lagi sekadar membagikan bantuan sesaat, melainkan membangun kemitraan jangka panjang. Dosen dan peneliti mendampingi warga meningkatkan mutu kopi, merancang sistem irigasi hemat air, hingga membantu mengurus hak kelola hutan. Hasilnya: pendapatan warga naik, masalah sosial menurun, dan kampus pun mendapat bahan riset yang relevan serta aplikatif.

Mengapa Kesenjangan Ini Terjadi di Darussalam?

Jika dibandingkan, apa yang terjadi di lingkungan Unsyiah dan UIN Ar-Raniry menunjukkan adanya celah sistemik. Ada beberapa alasan mendasar mengapa “tembok tak kasat mata” ini kokoh berdiri:

Pertama, sistem penilaian kampus yang lebih mementingkan jumlah publikasi ilmiah daripada dampak nyata. Dosen dan peneliti lebih didorong menulis makalah berbahasa Inggris di jurnal internasional ketimbang mengubah pengetahuannya menjadi solusi yang bisa dipahami dan digunakan petani, nelayan, atau pedagang kecil. Dana riset pun lebih mudah didapat jika topiknya bersifat teoritis ketimbang berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat .

Kedua, pola pengabdian masyarakat yang prosedural ketimbang substantif. Seperti disinggung sebelumnya, KKN dan penyuluhan sering menjadi kewajiban administratif semata. Waktu yang singkat, pendekatan yang sepihak, dan tidak ada mekanisme pemantauan jangka panjang membuat program ini hanya menjadi “karpet merah sesaat” tanpa meninggalkan bekas kemandirian.

Ketiga, minimnya ruang dialog sejajar. Warga sekitar jarang dilibatkan dalam merumuskan prioritas kampus. Pertanyaan “apa yang kamu butuhkan?” jarang diajukan, diganti dengan asumsi “ini yang kami anggap baik untukmu”. Akibatnya, ilmu yang diajarkan sering kali tidak menyentuh akar masalah: meski kampus memiliki pakar ekonomi, petani tetap kesulitan menjual hasil panennya; meski ada dosen kesehatan, sanitasi lingkungan di gampong sekitar masih jauh dari layak.

Harga dari Sebuah Istana Tertutup

Menutup diri dari lingkungan sekitar memiliki konsekuensi mahal. Dana negara yang mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya seolah habis hanya untuk memelihara kehidupan di dalam pagar: membangun gedung megah, melengkapi laboratorium yang jarang dimanfaatkan masyarakat, dan menyelenggarakan seminar yang pesertanya hanya kalangan akademisi. Sementara di luar, generasi muda masih kekurangan akses pelatihan keterampilan, produk lokal Aceh belum naik nilainya, dan berbagai persoalan sosial tak kunjung menemukan solusi ilmiah yang tepat.

Yang paling disayangkan adalah hilangnya kesempatan menciptakan warisan pengetahuan. Kampus seharusnya menjadi jembatan antara tradisi lokal dan ilmu modern, melahirkan inovasi yang akar budayanya kental namun mutunya setara standar nasional bahkan internasional. Jika hanya menjadi istana yang menjaga ilmunya sendiri, maka dua universitas besar ini kehilangan hakikatnya sebagai milik rakyat.

Membuka Kembali Pintu Gerbang

Kondisi “Kraton Darussalam” ini bukan takdir yang abadi. Perubahan dimulai dengan menjawab pertanyaan dasar: Apakah kampus ada untuk melayani ilmu, atau ilmu ada untuk melayani masyarakat?

Diperlukan reformasi mendasar: penilaian kinerja dosen tidak hanya berdasar jumlah tulisan, tapi juga seberapa jauh ilmunya bermanfaat bagi orang banyak. Dana riset harus dialokasikan secara proporsional untuk topik-topik nyata yang diajukan bersama masyarakat. Program pengabdian diubah dari seremonial menjadi kemitraan berkelanjutan yang mengukur keberhasilan dari perubahan nyata: peningkatan pendapatan, sanitasi yang membaik, atau munculnya warga yang makin percaya diri dan berilmu .

Darussalam bukan tanah milik segelintir intelektual. Ia adalah aset seluruh rakyat Aceh. Jangan sampai kampus yang didirikan dengan darah dan keringat rakyat ini akhirnya hanya menjadi istana indah yang dikelilingi masyarakat yang tetap “kering ilmu”. Sudah saatnya tembok tak kasat mata itu dirobohkan, agar ilmu yang bersemi di dalamnya benar-benar mengalir membasahi kekeringan pengetahuan, menyejukkan, dan menyejahterakan segenap anak negeri.[]

Tags: acehDarussalamkampusopini
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Musriadi: Hardikda 2025 Momentum Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Karakter Siswa Aceh
Opini

Dek Gam Sang Petarung, PAN Aceh Menuju Tiga Besar 2029

by SAGOE TV
June 15, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan
Opini

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

by SAGOE TV
June 13, 2026
Dari Meja yang Sama
Opini

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

by SAGOE TV
June 13, 2026
Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya
Opini

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia: Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

by SAGOE TV
June 10, 2026
Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat
Opini

Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

by SAGOE TV
June 8, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia: Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

June 10, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 7, 2026
Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

June 15, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

June 13, 2026
Dari Meja yang Sama

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

June 13, 2026
Mungkin yang kurang bukan acara Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

June 10, 2026
Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU

Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU

June 9, 2026
Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

June 8, 2026
Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Meninggal Dunia, Dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman

Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Meninggal Dunia, Dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman

June 15, 2026

EDITOR'S PICK

Prabowo Tebar Benih Padi Pakai Teknologi Drone Pertanian: 1 Hari Bisa 25 Hektare

Prabowo Tebar Benih Padi Pakai Teknologi Drone Pertanian: 1 Hari Bisa 25 Hektare

April 23, 2025
Lapak Kembali Dibuka, Pasar Kuala Simpang Menata Harapan Pasca Banjir

Lapak Kembali Dibuka, Pasar Kuala Simpang Menata Harapan Pascabanjir

January 5, 2026
WUBI Perkuat UMKM Aceh, Gubernur Mualem Soroti Peran Strategis Program BI

WUBI Perkuat UMKM Aceh, Gubernur Mualem Soroti Peran Strategis Program BI

August 8, 2025
Batu Giok Raksasa 5.000 Ton Ditemukan di Beutong, Nagan Raya

Batu Giok Raksasa 5.000 Ton Ditemukan di Beutong, Nagan Raya

November 1, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.