• Tentang Kami
Sunday, October 18, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

SAGOE TV by SAGOE TV
September 2, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak. (Ilustrasi AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Fajri, S.Pd.I, M.Ag
Guru dan Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Bayangkan seorang anak Aceh berusia 16 tahun. Ia sudah melewati sekolah dasar. Ia juga sudah menyelesaikan SMP. Namun ketika teman-temannya bersiap mengenakan seragam putih abu-abu, ia justru mulai memikirkan hal lain: membantu orang tua bekerja. Bukan karena ia membenci sekolah. Bukan pula karena ia tidak punya cita-cita. Bisa jadi karena di rumah ada kebutuhan yang harus dipenuhi dan peran yang memaksa harus dipilih

Di atas kertas, sekolah mungkin gratis. Tetapi untuk tetap bersekolah, ada ongkos yang harus dibayar. Seragam, buku, transportasi, uang saku, akses internet, hingga biaya hidup bagi anak yang harus tinggal jauh dari sekolah. Ada pula ongkos yang tidak pernah tercatat dalam kuitansi: kesempatan anak untuk bekerja dan membantu keluarganya.

BACA JUGA

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

Di sinilah pendidikan Aceh perlu dilihat dengan kacamata yang sedikit berbeda. Selama ini kita cukup bangga ketika melihat hampir semua anak usia sekolah dasar berada di bangku sekolah.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) anak usia 7–12 tahun di Aceh mencapai 99,42 persen pada 2024. Pada usia 13–15 tahun, angkanya masih 97,77 persen. Tetapi ketika memasuki usia 16–18 tahun, angkanya turun menjadi 81,55 persen.

Angka itu seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Ke mana anak-anak yang lain? Ada sekitar 18,45 persen anak usia 16–18 tahun yang tidak tercermin dalam angka partisipasi sekolah tersebut. Mereka bukan sekadar angka. Mereka adalah anak-anak yang sedang berada pada usia menentukan masa depan.

Ada yang mungkin bekerja. Ada yang membantu orang tua. Ada yang terkendala jarak. Ada yang menikah. Ada yang kehilangan minat belajar. Ada pula yang mungkin tidak melihat sekolah sebagai jalan yang cukup menjanjikan bagi kehidupannya.

Kita tidak boleh menyederhanakan semuanya menjadi persoalan kemiskinan. Namun kita juga tidak boleh berpura-pura bahwa kondisi ekonomi tidak berpengaruh terhadap keputusan sebuah keluarga mempertahankan anak di sekolah.

Sebab ketika anak masih berusia tujuh tahun, keluarga mungkin berpikir bagaimana memasukkannya ke sekolah. Ketika anak berusia tujuh belas tahun, pertanyaannya bisa berubah: apakah ia masih harus sekolah atau sudah waktunya membantu keluarga?

Di situlah pendidikan bertemu dengan realitas kehidupan. Anak usia 16 atau 17 tahun sudah cukup kuat untuk bekerja. Ia bisa membantu di kebun, berdagang, bekerja di warung, menjadi buruh, atau masuk ke berbagai pekerjaan informal.

Sementara sekolah menawarkan sesuatu yang berbeda: masa depan yang belum terlihat hasilnya. Keluarga akhirnya berhadapan dengan pilihan yang tidak selalu mudah. Hari ini atau masa depan? Pendapatan sekarang atau pendidikan yang manfaatnya baru mungkin dirasakan beberapa tahun kemudian?

Dalam ekonomi, ada istilah biaya kesempatan. Ketika seorang anak memilih tetap sekolah, ada kesempatan memperoleh penghasilan yang harus dilepaskan. Bagi keluarga yang mapan, pilihan itu mungkin tidak terlalu berat. Tetapi bagi keluarga yang hidup dengan pendapatan terbatas, pilihan tersebut dapat menjadi persoalan serius.

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika mengatakan seorang anak putus sekolah karena tidak menghargai pendidikan. Jangan-jangan kita terlalu cepat menilai anak dari ruang kelas, sementara ia menghadapi persoalan kehidupan yang tidak pernah masuk ke dalam buku pelajaran.

Di sinilah pekerjaan rumah pendidikan Aceh menjadi lebih besar. Tugas pendidikan bukan lagi sekadar memastikan anak masuk sekolah. Tugas berikutnya adalah membuat mereka ingin dan mampu bertahan di sekolah.

Anak harus menemukan alasan mengapa ia perlu terus belajar. Ia harus melihat bahwa matematika, bahasa, sains, keterampilan, bahkan pelajaran yang sering dianggap membosankan, memiliki hubungan dengan kehidupan yang akan dijalaninya di masa depan.

Pun demikian halnya dengan Pendidikan menengah tidak cukup hanya menghasilkan ijazah. Ia harus memberi bekal. Jika sekolah hanya menawarkan ijazah, sementara dunia di luar sekolah menawarkan uang yang bisa diterima hari itu juga, kita tidak boleh heran jika sebagian anak mulai membandingkan keduanya.

Karena itu, pendidikan menengah di Aceh perlu semakin dekat dengan kehidupan. Pendidikan vokasi harus diperkuat. Keterampilan harus dihargai. Dunia sekolah perlu lebih terhubung dengan dunia kerja tanpa menjadikan sekolah sekadar tempat mencetak tenaga kerja. Anak harus diberi keyakinan bahwa belajar hari ini tidak membuatnya kehilangan kesempatan untuk hidup lebih baik esok hari.

Hardikda seharusnya tidak hanya menjadi hari untuk merayakan keberhasilan pendidikan Aceh. Hardikda juga semestinya menjadi kesempatan untuk bertanya lebih keras. Kita boleh bangga dengan APS 99,42 persen pada usia 7–12 tahun. Kita juga patut mengapresiasi angka 97,77 persen pada usia 13–15 tahun. Tetapi kita tidak boleh menutup mata ketika angka itu turun menjadi 81,55 persen pada usia 16–18 tahun.

Sebab di antara angka 97,77 dan 81,55 persen itu ada anak-anak yang perjalanan pendidikannya mulai terhenti. Kita tidak cukup hanya menghitung berapa banyak anak yang masuk sekolah. Kita juga harus menghitung berapa banyak yang bertahan, berapa banyak yang menyelesaikan pendidikan, dan yang lebih penting: berapa banyak yang benar-benar memperoleh kemampuan untuk mengubah masa depannya.

Sekolah boleh gratis. Tetapi perjalanan menuju sekolah tidak selalu gratis. Bertahan di sekolah juga tidak selalu mudah. Dan meyakinkan sebuah keluarga bahwa pendidikan masih layak diperjuangkan, kadang-kadang membutuhkan lebih dari sekadar program pemerintah.

Di situlah masa depan pendidikan Aceh dipertaruhkan. Bukan hanya pada jumlah gedung sekolah yang berdiri, tetapi pada berapa banyak anak yang berhasil kita jaga agar tidak berhenti berjalan sebelum sampai ke pintu masa depannya.

Baca juga: Siapa yang Kenyang, Siapa yang Masih Lapar? Refleksi 21 Tahun Perdamaian Aceh

Tags: 2026AcehGratisHardikdaopinipendidikanRefleksiSekolah
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan
Opini

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

by SAGOE TV
October 14, 2026
Publik dalam Bayang Militerisme Urban
Opini

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

by SAGOE TV
October 5, 2026
Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit
Opini

Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit

by SAGOE TV
October 4, 2026
Hari Pancasila dan Harapan Rakyat
Opini

Hari Pancasila dan Harapan Rakyat

by SAGOE TV
October 1, 2026
Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan Langkah Berikutnya bagi MACS di USK
Opini

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan: Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

by SAGOE TV
September 30, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

October 13, 2026
Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

October 16, 2026
Arsip tabloid asAsi

asAsi: Nyawöung dalam Wujud Lain

October 16, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

October 14, 2026
Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

October 15, 2026
Persiraja vs Semen Padang Nama Besar Kabau Sirah Tak Bikin Laskar Rencong Gentar

Total Denda Rp100 Juta, Persiraja dan Faris Adit Disanksi Usai Laga Kontra Sumsel United

October 14, 2026
Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

October 11, 2026
Baun Thoib Soaloon Kepala Kantor Bahasa Kepri

Mendikdasmen Lantik 162 Pejabat, Baun Thoib Soaloon Jabat Kepala Kantor Bahasa Kepri

October 18, 2026
Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

October 11, 2026

EDITOR'S PICK

Helikopter Polri Segera Dikerahkan ke Aceh, Kapolda Turunkan 855 Personel BKO untuk Penanganan Bencana

Helikopter Polri Segera Dikerahkan ke Aceh, Kapolda Turunkan 855 Personel BKO untuk Penanganan Bencana

November 29, 2025
Belajar Inovasi Layanan Perpustakaan Dari University of North Texas

Belajar Inovasi Layanan Perpustakaan Dari University of North Texas

April 20, 2023
Bantuan Kemanusiaan Lintas Negara Diserahkan kepada Gubernur Aceh

Bantuan Kemanusiaan Lintas Negara Diserahkan kepada Gubernur Aceh

December 16, 2025
Aceh Besar Raih Juara Umum MTQ Aceh ke-37 di Pidie Jaya

Aceh Besar Raih Juara Umum MTQ Aceh ke-37 di Pidie Jaya

November 8, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.