• Tentang Kami
Tuesday, June 30, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Ekosistem adalah Karya Seni Terbesar Kita

SAGOE TV by SAGOE TV
June 30, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera

Ari J. Palawi. Musisi dan Akademisi Seni Aceh. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

BACA JUGA

SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh

Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh

Beberapa bulan terakhir saya menulis tentang kegelisahan yang sesungguhnya berangkat dari pertanyaan yang sama.

Saya pernah menulis tentang pentingnya literasi dan apresiasi seni sebagai upaya menghidupkan kembali sesuatu yang nyaris terbiasa kita lupakan. Saya juga mempertanyakan pelestarian yang terlalu sering berhenti pada menjaga bentuk, tetapi belum sungguh-sungguh menumbuhkan kehidupan. Dalam tulisan lain saya mengajak kita merenungkan mengapa percakapan seni sering berakhir di meja diskusi tanpa menjelma menjadi kerja bersama. Hingga akhirnya saya menawarkan satu gagasan sederhana melalui Keuneubah Endatu abad ke-21: warisan terbaik bukan sekadar benda atau pengetahuan, melainkan kemampuan untuk terus mencipta.

Hari ini saya tidak ingin mengulang gagasan-gagasan itu. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa semuanya baru memperoleh makna ketika mulai dipraktikkan. Karena kebudayaan tidak tumbuh dari tulisan. Ia tumbuh ketika manusia memilih untuk saling bertemu, saling percaya, lalu bekerja bersama.

Kita sering mengira karya seni adalah sesuatu yang dipertontonkan: tarian, lagu, lukisan, pertunjukan, atau film. Padahal semua itu adalah hasil. Yang jauh lebih sulit adalah menciptakan keadaan agar karya-karya itu terus lahir.

Seorang guru tidak menciptakan murid. Seorang kurator tidak menciptakan karya. Seorang petani tidak menciptakan padi. Namun mereka menghadirkan ruang yang memungkinkan semuanya bertumbuh.

Barangkali demikian pula kebudayaan. Kebudayaan bukan sekadar kumpulan karya, melainkan kemampuan sebuah masyarakat untuk terus melahirkan karya-karya baru.

Karena itu, keberhasilannya tidak cukup diukur dari banyaknya festival atau ramainya pertunjukan. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah panggung dibongkar. Apakah hubungan antarmanusia tetap terjaga? Apakah komunitas mulai bekerja bersama? Apakah pengetahuan terus diwariskan? Apakah ruang publik menjadi semakin bermakna?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah saya perlahan memahami bahwa yang sesungguhnya sedang kita cari bukanlah acara yang lebih besar, melainkan ekosistem yang lebih sehat.

Kesadaran itu sedang kami pelajari melalui perjalanan SPS Revival dan Darud Dunia.

Bukan karena kami merasa telah menemukan jawabannya, tetapi justru karena kami sedang belajar mempertemukan simpul-simpul yang selama ini tumbuh sendiri-sendiri: olahraga urban, seni pertunjukan, literasi, media komunitas, ruang publik, ekonomi kreatif, akademisi, pemerintah, hingga masyarakat.

Proses itu akan memasuki satu babak baru melalui THE SKATE PARK STAGE — REVIVAL pada 18 Juli 2026, bersamaan dengan penyelenggaraan KARDO National Qualification di Skate Park Lamprit bersama Komunitas Skaters Kota Banda Aceh.

Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai kompetisi BMX dan skateboard. Sebagian lagi melihatnya sebagai pertunjukan seni. Yang kami lihat adalah ruang perjumpaan.

Di sana, Komunitas Skaters Kota Banda Aceh memimpin penyelenggaraan kegiatan. SPS Revival menghubungkan berbagai simpul kolaborasi, sementara platform Darud Dunia mendokumentasikan proses dan pengetahuan yang lahir darinya. Radio komunitas membangun percakapan, ruang literasi menghidupkan pembelajaran, ruang kreatif membuka perjumpaan, dan berbagai komunitas bertumbuh melalui kekuatan masing-masing.

Tidak ada yang diminta meninggalkan identitasnya. Justru setiap orang didorong untuk tumbuh melalui pengalaman dan keahliannya sendiri. Di situlah saya memahami bahwa ekosistem bukan berarti menyeragamkan. Ekosistem justru memungkinkan setiap orang tetap menjadi dirinya sendiri, sambil menemukan makna ketika terhubung dengan yang lain.

Perjalanan ini juga mengajarkan bahwa tantangan terbesar bukanlah menyelenggarakan sebuah kegiatan. Yang jauh lebih sulit adalah menjaga hubungan antarmanusia setelah kegiatan itu selesai. Dari kesadaran itulah lahir gagasan awal tentang Lingkar Wali SPS Revival & Darud Dunia.

Bukan organisasi baru. Bukan pula dewan kehormatan. Melainkan ruang belajar lintas generasi yang diharapkan dapat menjaga arah perjalanan, membuka jejaring, dan memastikan nilai-nilai yang sedang dibangun tidak berhenti pada satu kegiatan atau satu generasi.

Sebab setiap gerakan memerlukan dua kekuatan. Mereka yang menggerakkan. Dan mereka yang menjaga arah. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk membangun panggung, tetapi belum cukup sungguh-sungguh membangun rumah bagi kehidupan yang lahir setelah panggung itu selesai.

Sementara kota yang sehat tidak ditandai oleh banyaknya festival, melainkan oleh semakin banyaknya ruang yang membuat orang mau bertemu, belajar, berkarya, dan saling menguatkan.

Barangkali di situlah makna Keuneubah Endatu pada abad ini.

Warisan terbaik bukan lagi sekadar bangunan, artefak, atau dokumen, melainkan kemampuan sebuah masyarakat untuk terus melahirkan manusia-manusia yang mampu berkolaborasi dan mencipta.

Festival akan selesai. Panggung akan dibongkar.

Spanduk akan diturunkan. Namun apabila dari setiap perjumpaan lahir persahabatan, komunitas baru, ruang kreatif, pengetahuan, dan generasi yang ingin melanjutkan perjalanan, maka sesungguhnya karya seninya masih terus dipertunjukkan. Bukan di atas panggung. Melainkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah karya seni terbesar yang dapat kita wariskan. Bukanlah sebuah pertunjukan. Melainkan sebuah ekosistem.

Tags: acehAri J. PalawiekosistemKaryaSeniSkate Park StageSPS Revival
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh
SENI

SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh

by SAGOE TV
June 26, 2026
Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas
SENI

Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas

by SAGOE TV
June 23, 2026
Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh
SENI

Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama: SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh

by SAGOE TV
June 19, 2026
Mungkin yang kurang bukan acara Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal
SENI

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

by SAGOE TV
June 10, 2026
Dari Meja yang Sama
SENI

Dari Meja yang Sama

by SAGOE TV
June 3, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh

Mengantar Si Perantau Cilik: Sebuah Perjalanan Melepaskan, Sebuah Pelajaran Mengikhlaskan

June 26, 2026
SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh

SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh

June 26, 2026
Asrul Sidiq

Kota Kolaborasi, tetapi Belum dengan Tetangga

June 30, 2026
Calvin Ho

Syariat, Otonomi, dan Kemiskinan: Dua Dekade yang Terbuang di Aceh

June 30, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Popularitas Tiyo dan Fatimah: Bongkar Salah Urus Pendidikan Indonesia

June 28, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Di Balik Sekolah Unggul: Antara Ijazah, Koneksi, dan Jurang Kesempatan

June 29, 2026
Blok Andaman Harus Segera Jalan; Revisi POD Berisiko Tunda Investasi Bertahun-Tahun

Blok Andaman Harus Segera Jalan; Revisi POD Berisiko Tunda Investasi Bertahun-Tahun

June 26, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
STIS Ummul Ayman Resmi Berubah Jadi IAI, Tonggak Baru Pendidikan Tinggi Islam di Aceh

STIS Ummul Ayman Resmi Berubah Jadi IAI, Tonggak Baru Pendidikan Tinggi Islam di Aceh

June 29, 2026

EDITOR'S PICK

Pastikan Tepat Sasaran, Pj Gubernur Aceh Verifikasi Penerima Rumah Layak Huni

Pastikan Tepat Sasaran, Pj Gubernur Aceh Verifikasi Penerima Rumah Layak Huni

January 20, 2025
DPRA Dukung Pembentukan LPPD Syariah di Aceh untuk Perkuat Ekosistem Keuangan Inklusif

DPRA Dukung Pembentukan LPPD Syariah di Aceh untuk Perkuat Ekosistem Keuangan Inklusif

July 29, 2025
sulaiman tripa

Malam Puasa 23, Berharap Bukan Waktu Sisa

March 22, 2025
H-3 Jelang Opening Ceremony PON XXI, Pj Gubernur Safrizal Cek Kesiapan Komplek SHB

H-3 Jelang Opening Ceremony PON XXI, Pj Gubernur Safrizal Cek Kesiapan Komplek SHB

February 8, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.