• Tentang Kami
Friday, July 31, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Setelah Dilestarikan, Lalu Apa?

Catatan Muharram tentang Warisan dan Masa Depan Aceh

SAGOE TV by SAGOE TV
June 16, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh

Ari J. Palawi. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Aneuk Mukim Kayee Adang, Gampong Peurada, Bandar Aceh Darussalam

Menjelang pergantian tahun Hijriah, saya kembali pada satu pertanyaan yang sering muncul dalam perjalanan berjumpa dengan berbagai tradisi di Aceh.

Kita masih memiliki banyak warisan dari masa lalu. Bahasa Aceh masih terdengar dalam percakapan sehari-hari. Kesenian masih hadir di panggung-panggung. Upacara adat tetap dilaksanakan. Lembaga-lembaga tradisional masih berdiri, bahkan dalam beberapa keadaan tampil lebih semarak dibanding masa lalu.

BACA JUGA

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

Namun, ada sesuatu yang perlahan berubah. Bukan bentuknya, melainkan hubungan kita dengan pengetahuan, nilai, dan cara pandang yang dahulu membuat warisan itu memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Dua puluh tahun terakhir, berbagai upaya pelestarian patut kita hargai. Pekan Kebudayaan Aceh terus dilaksanakan. Naskah-naskah lama diselamatkan. Sanggar-sanggar seni tumbuh di berbagai daerah. Berbagai pihak berusaha menjaga bahasa daerah agar tidak hilang.

Semua itu penting.

Namun sebuah kebudayaan tidak lahir hanya untuk disimpan dalam lemari sejarah, ditampilkan di atas panggung, atau dirayakan sebagai kebanggaan masa lalu. Ia lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam memahami dunia, menyelesaikan persoalan, dan memberi makna pada kehidupan.

Dahulu, bahasa bukan sekadar alat untuk berbicara. Di dalamnya tersimpan petuah, cara menyampaikan rasa hormat, cara membaca alam, dan kebijaksanaan yang sulit dipisahkan dari kata-kata yang mengandungnya. Ketika seorang nenek atau ayah menasihati anak cucunya dengan ungkapan Aceh yang diwarisi dari generasi sebelumnya, yang berpindah bukan hanya kalimat, tetapi juga cara melihat kehidupan.

Demikian pula hikayat, seni, dan adat. Rapa’i, Ratéb, Seudati, dan berbagai ekspresi budaya Aceh tidak lahir semata-mata untuk menjadi tontonan. Ia pernah menjadi ruang belajar, ruang berkumpul, tempat masyarakat menanamkan nilai, menguatkan kebersamaan, serta merenungkan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan.

Adat juga tidak memperoleh wibawanya karena usianya yang tua. Ia dihormati karena pernah membantu masyarakat mengambil keputusan, menyelesaikan perselisihan, menjaga keseimbangan hubungan sosial, dan mengatur kehidupan bersama.

Karena itu, persoalan kebudayaan kita hari ini mungkin bukan terutama tentang hilangnya warisan. Banyak warisan masih ada. Tantangan yang lebih besar adalah menjaga agar hubungan antara warisan tersebut dengan kehidupan masyarakat tidak terputus.

Di sinilah pertanyaan yang sering kali terlewat: setelah dilestarikan, lalu apa?

Jawabannya tentu bukan menghidupkan kembali masa lalu sebagaimana adanya. Zaman berubah. Teknologi mengubah cara manusia belajar dan berkarya. Dunia digital membuka ruang komunikasi yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya. Anak-anak muda Aceh tumbuh dengan pengalaman, bahasa visual, dan cara berpikir yang berbeda.

Namun perubahan tidak harus membuat kita tercerabut dari akar.

Akar yang kuat tidak membuat sebuah pohon berhenti tumbuh. Justru dari akarlah tumbuh ranting baru, daun baru, dan buah yang baru. Demikian pula kebudayaan. Tradisi tidak kehilangan martabatnya ketika bertemu dengan teknologi, ilmu pengetahuan, dan kreativitas generasi baru. Yang penting, nilai yang menjadi jiwanya tetap memiliki tempat.

Bahasa Aceh, misalnya, tidak hanya memiliki masa depan di ruang keluarga. Ia dapat hadir dalam buku, film, musik, karya sastra kontemporer, permainan digital, aplikasi, dan berbagai ruang kreatif yang dekat dengan generasi muda.

Kesenian juga dapat terus berkembang. Rapa’i dan berbagai bentuk seni lainnya tidak kehilangan ruhnya hanya karena hadir dalam panggung yang berbeda atau berdialog dengan bentuk ekspresi baru, selama nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan pesan kemanusiaan yang dikandungnya tetap terjaga.

Demikian pula hikayat dan adat. Keduanya tidak harus berhenti sebagai cerita lama atau tata cara yang hanya muncul pada waktu tertentu. Di dalamnya terdapat cara berpikir, nilai kepemimpinan, tanggung jawab sosial, serta hubungan manusia dengan alam yang masih dapat memberi cahaya bagi persoalan pendidikan, lingkungan, dan kehidupan bersama saat ini.

Sebuah masyarakat yang matang bukanlah masyarakat yang memilih antara masa lalu dan masa depan. Ia adalah masyarakat yang mampu mempertemukan keduanya dalam satu perjalanan yang terus berlangsung: menjaga kebijaksanaan yang masih bernilai, menafsirkan kembali apa yang perlu disesuaikan, dan melahirkan cara-cara baru untuk menjawab kebutuhan zaman.

Mungkin inilah tugas terbesar generasi hari ini. Kita bukan hanya penjaga peninggalan masa lalu, tetapi penerus yang bertanggung jawab memastikan warisan itu tetap mampu berbicara kepada zaman yang terus berubah.

Memasuki tahun baru Hijriah, barangkali yang perlu kita renungkan bukan hanya apa yang berhasil kita selamatkan dari para pendahulu, melainkan apa yang masih dapat diwariskan oleh warisan itu kepada kehidupan kita hari ini.

Yang paling hakiki dari sebuah peradaban bukanlah banyaknya peninggalan yang berhasil dipertahankan.

Pusaka yang sesungguhnya adalah kemampuan setiap generasi untuk terus menghidupkan pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan yang telah diwariskan.

Warisan yang hanya dipelihara akan menjadi kenangan.

Warisan yang terus diberi ruang dalam kehidupan akan menjadi pengetahuan.

Di sanalah masa depan sebuah masyarakat menemukan arahnya: dalam kemampuannya menjaga percakapan antara masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.[]

Tags: AcehAri J. PalawiMasa Depan AcehMuharramopiniWarisan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh
Opini

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

by SAGOE TV
July 29, 2026
Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.
Opini

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

by SAGOE TV
July 30, 2026
Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh
Opini

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

by SAGOE TV
July 21, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas
Opini

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

by SAGOE TV
July 18, 2026
Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang
Opini

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

by SAGOE TV
July 17, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

July 30, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

July 29, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Setelah Panggung Dibongkar

Setelah Panggung Dibongkar

July 28, 2026
Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

July 30, 2026
Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

July 6, 2025
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Balai Bahasa Aceh Hadirkan Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa, Wujud Pelestarian Karya dan Penguatan Literasi

Balai Bahasa Aceh Hadirkan Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa, Wujud Pelestarian Karya dan Penguatan Literasi

July 31, 2026
Calvin Ho

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

July 30, 2026

EDITOR'S PICK

UIN Ar-Raniry dan Kemenkum Aceh Perkuat Sinergi Edukasi Kekayaan Intelektual di Kampus

UIN Ar-Raniry dan Kemenkum Aceh Perkuat Sinergi Edukasi Kekayaan Intelektual di Kampus

April 17, 2026
Pemerintah Aceh Rapat Persiapan MCSP 2025, Plt Sekda Untuk Perkuat 4 Aspek

Pemerintah Aceh Rapat Persiapan MCSP 2025, Plt Sekda: Untuk Perkuat 4 Aspek

April 14, 2025
Ketika Puisi Bertanya: Untuk Apa Kau Datang?

Ketika Puisi Bertanya: Untuk Apa Kau Datang?

December 23, 2025
Ratusan Warga Aceh Utara Ganti Nama di Pengadilan dalam Setahun

Ratusan Warga Aceh Utara Ganti Nama di Pengadilan dalam Setahun

February 3, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.