• Tentang Kami
Wednesday, November 4, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

USK, Publik Aceh, dan Retaknya Relasi yang Dulu Membentuk Darussalam

SAGOE TV by SAGOE TV
December 27, 2025
in Analisis
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Musik, Syariat, dan Ruang Publik: Mengapa Aceh Perlu Menata, Bukan Menolak

Ari J. Palawi. (Foto: dokumen pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi.
Peneliti Budaya & Akademia Seni, Universitas Syiah Kuala.

Universitas Syiah Kuala (USK) bukan sekadar institusi pendidikan. Sejak pendiriannya pada 2 September 1961 dan pengukuhannya melalui Keputusan Presiden No.161/1962ยน, ia berdiri sebagai salah satu proyek paling serius dalam membangun Aceh yang baru: wilayah yang bergerak dari luka kolonial dan ketegangan politik menuju harapan โ€œDar as-Salamโ€ โ€” sebuah ruang aman bagi ilmu, keberadaban, dan masa depan rakyat. USK tumbuh sebagai jantung nadi modernitas Aceh, tempat lahirnya para tenaga profesional, intelektual publik, sekaligus mediator antara Aceh dan republik.

Namun bila dulu hubungan kampusโ€“publik Aceh bersifat organik, intens, bahkan emosional, kini relasi itu mengalami retak halus yang semakin nyata. Pilihan editorial ini bukan nostalgia murahan; ini diagnosis struktural terhadap transformasi tata kelola universitas, dinamika politik Aceh, serta melemahnya figur-figur penghubung yang dulu menghidupkan imajinasi USK sebagai rumah besar rakyat.

BACA JUGA

Kedermawanan di Atas Tanah Rebutan: Ketika Oligarki Berjubah Welas Asih

Membongkar Utang Indonesia dan Ilusi โ€œMasih Amanโ€

Dulu: ketika rektor USK adalah figur publik Aceh
Sejarah kepemimpinan USK mencatat satu pola penting: beberapa rektornya tidak berhenti sebagai administrator pendidikan; mereka terjun menjadi pemimpin publik dengan mandat besar. Contoh paling menonjol ialah Ibrahim Hasan, yang setelah menjabat rektor, kemudian memimpin Aceh sebagai Gubernur (1986โ€“1993)ยฒ dan menempati posisi strategis di tingkat pusat pada masa Orde Baruยณ. Ia bukan hanya teknokrat; ia simbol gagasan bahwa kampus adalah pusat gravitasi moral-intelektual Aceh.

Di sisi lain, ada pula kisah tragis Prof. Dayan Dawood, rektor yang ditembak mati pada 2001 di tengah konflik bersenjataโด. Kepergiannya mengguncang Aceh. Ia bukan sekadar pimpinan universitas; ia figur publik yang dipercaya menautkan aspirasi rakyat, dunia akademik, dan proses perdamaian. Publik Aceh merasakan kehilangan itu bukan sebagai kabar kampus, tetapi sebagai tragedi kolektif.

Kedua contoh ini menunjukkan sesuatu yang dulu sangat jelas: USK dan rakyat Aceh saling memiliki. Keberadaan kampus tidak berdiri di balik pagar; ia hadir dalam urusan publik, pembangunan daerah, hingga narasi identitas Aceh di panggung nasional.

Kini: status PTNBH dan menjauhnya figur kampus dari imajinasi publik
Transformasi USK menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) pada Oktober 2022 melalui PP No.38/2022โต menandai perubahan besar. PTNBH membawa otonomi akademik dan finansial yang lebih luasโ€”idealnya membuka kreativitas dan kapasitas universitas. Namun, model ini juga memindahkan sebagian kuasa strategis dari ruang demokrasi kampus ke struktur tata kelola yang kian teknokratis dan tertutup.

Mekanisme pemilihan rektor PTNBH, misalnya, memasukkan porsi suara pemerintahโ€”sering disebut 35%โ€”melalui perwakilan menteriโถ. Secara nasional, porsi ini menjadi sumber polemik di berbagai kampusโท. Bukan karena pemerintah tak boleh terlibat, melainkan karena keseimbangan antara otonomi akademik dan intervensi politik menjadi kabur.

Di Aceh, konsekuensi ini lebih sensitif. Publik kita terbiasa melihat rektor sebagai figur moral, intelektual, dan mediator antara Acehโ€”dengan seluruh kompleksitas sejarahnyaโ€”dan sistem nasional. Namun dalam beberapa tahun terakhir, jarak itu terasa melebar: tidak ada lagi rektor USK yang muncul sebagai figur publik setingkat pemimpin Aceh atau tokoh nasional seperti generasi Ibrahim Hasan.

Pernyataan ini bukan romantisme. Ini deskripsi transformasi struktural:
โ€ข Politik Aceh pasca-Helsinki berjalan dengan mesin elite partai, bukan pusat intelektual.
โ€ข PTNBH membuat rektor lebih terikat pada logika manajemen risiko, audit, dan target kinerja.
โ€ข Surutnya figur โ€œintelektual publikโ€ membuat kampus tidak lagi menjadi pusat rujukan moral masyarakat.

Akibatnya, USK kini tampak berjauhan dari denyut rakyat, meski infrastrukturnya makin besar dan reputasinya meningkat. Rakyat Aceh tidak lagi otomatis memandang kampus sebagai jantung harapan bersama.

Jika relasi ini tidak dibenahi, Aceh kehilangan penopang peradabannya
USK bukan sekadar kampus terbesar di Aceh. Ia adalah institusi yang sejak awal dirancang untuk membentuk kelas menengah intelektual Acehโ€”kelas yang mampu menjaga jurang antara konflik dan perdamaian, antara isolasi dan keterhubungan, antara dogma dan ilmu. Jika relasi USKโ€“publik Aceh terus merenggang, konsekuensinya serius:

1. Ruang produksi gagasan Aceh mengecil. Tanpa kepemimpinan intelektual, diskursus publik Aceh jatuh pada retorika politis tanpa kedalaman.
2. Generasi muda kehilangan role model yang โ€œlahir dari rakyat Aceh, berkhidmat untuk rakyat Acehโ€.
3. Kebijakan daerah kehilangan basis riset yang kuat, padahal USK memiliki kapasitas sains, pertanian, kelautan, kedokteran, humaniora, dan kebudayaan yang substansial.
4. Aceh semakin terputus dari jejaring nasional-global yang biasanya dimediasi universitas.

Dalam konteks sejarah Acehโ€”yang pernah menjadi darul harb dan berjuang panjang menuju darussalamโ€”ketiadaan kepemimpinan intelektual bukan isu kecil. Kampus selalu menjadi organ vital yang menjaga arah peradaban.

Masa depan: memulihkan hubungan, memperkuat legitimasi, mengembalikan peran kultural
Untuk mengembalikan USK sebagai โ€œjantung hati rakyat Acehโ€, ada tiga langkah strategis:
Pertama, USK harus kembali membuka diri kepada publik Aceh. Transparansi pemilihan rektor dan kerja-kerja MWA bukan kecanggungan; itu mandat moral. Kampus milik rakyat, bukan hanya milik struktur birokrasi.

Kedua, rektor harus tampil sebagai figur publik. Bukan berarti harus masuk politik, tetapi hadir sebagai suara intelektual Acehโ€”mengeluarkan pandangan terhadap isu ruang publik, ekonomi Aceh, pendidikan, budaya, hingga masa depan energi. Rakyat ingin merasakan bahwa USK hadir, bukan sekadar eksis.

Ketiga, USK perlu menghidupkan kembali tradisi โ€œintelektual organikโ€ Aceh: akademisi yang tak hanya menulis jurnal internasional, tetapi ikut memantik kesadaran publik. Kedua dimensi itu tidak bertentangan; justru keduanya memperkuat relevansi universitas.

USK pernah menjadi simbol Aceh yang ingin maju tanpa tercerabut dari akarnya. Kini, di tengah transformasi tata kelola, kampus ini perlu kembali mengukuhkan posisinya sebagai pusat etika, ilmu, dan keberanian berpikir. Bila USK kembali menghidupkan relasinya dengan rakyat Aceh, ia bukan hanya mempertahankan sejarahnyaโ€”ia melanjutkan perannya sebagai penyangga peradaban Aceh di masa depan.

Catatan kaki (sumber rujukan):
1. Profil resmi USK (pembentukan & Keppres 161/1962).
2. Arsip profil Gubernur Aceh.
3. Arsip jabatan nasional era Orde Baru.
4. Liputan nasional soal penembakan Prof. Dayan Dawood.
5. PP No.38/2022 (status PTNBH USK).
6. (6โ€“7) Liputan nasional & pernyataan pejabat mengenai 35% suara pemerintah dalam pilrek PTNBH.[]

Tags: AcehKopelma DarussalamMakin Tahu AcehMakin Tahu IndonesiaPendidikan AcehRektor USKsagoetvUSK
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Kedermawanan di Atas Tanah Rebutan: Ketika Oligarki Berjubah Welas Asih
Analisis

Kedermawanan di Atas Tanah Rebutan: Ketika Oligarki Berjubah Welas Asih

by SAGOE TV
September 9, 2026
Calvin Ho
Analisis

Membongkar Utang Indonesia dan Ilusi โ€œMasih Amanโ€

by SAGOE TV
August 16, 2026
Calvin Ho
Analisis

Paradoks Aceh: Mengapa Kekayaan Alam Tidak Menjadi Kemakmuran?

by SAGOE TV
August 7, 2026
Calvin Ho
Analisis

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

by SAGOE TV
July 30, 2026
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Bandar Publishing-IKAPI Aceh Gelar Diskusi Buku Dr Baun, Sekaligus Lepas Tugas ke Kepri

Bandar Publishing-IKAPI Aceh Gelar Diskusi Buku Dr Baun, Sekaligus Lepas Tugas ke Kepri

November 3, 2026
Tgk Faisal Ali Anggota Majelis Masyayikh

Tgk Faisal Ali Dikukuhkan Jadi Anggota Majelis Masyayikh

November 3, 2026
Kendaraan Listrik Makin Diminati

Kendaraan Listrik Makin Diminati

October 31, 2026
Sebelum Punya Gedung, Fakultas Ini Sudah Punya Grup Percakapan

Sebelum Punya Gedung, Fakultas Ini Sudah Punya Grup Percakapan

November 2, 2026
Rizwan dan Nadia Jadi Duta Literasi UIN Ar-Raniry 2026, Rektor Soroti Budaya Membaca

Rizwan dan Nadia Jadi Duta Literasi UIN Ar-Raniry 2026, Rektor Soroti Budaya Membaca

October 29, 2026
Pihak Swasta Ditantang Membangun SPKLU

Pihak Swasta Ditantang Membangun SPKLU

November 2, 2026
Saat Berhemat Tak Lagi Menyelesaikan Masalah

Saat Berhemat Tak Lagi Menyelesaikan Masalah

November 2, 2026
Mahasiswa USK Pemuda Berprestasi Aceh 2026

Lima Mahasiswa USK Raih Penghargaan Pemuda Berprestasi Aceh 2026, Ini Capaian Mereka

November 3, 2026
Muhammad Siddiq Armia Dilantik Jadi Deputi HAM Kemenko Kumham Imipas

Muhammad Siddiq Armia Dilantik Jadi Deputi HAM Kemenko Kumham Imipas

October 29, 2026

EDITOR'S PICK

Skema Penentuan Kuota Jemaah Haji Provinsi Akan Dikaji Kembali

Skema Penentuan Kuota Jemaah Haji Provinsi Akan Dikaji Kembali

March 6, 2025
Jadwal Kepulangan Jemaah Haji Aceh 2025: Kloter Pertama Tiba 28 Juni di Bandara SIM

Jadwal Kepulangan Jemaah Haji Aceh 2025: Kloter Pertama Tiba 28 Juni di Bandara SIM

June 27, 2025
UIN Ar-Raniry Resmikan Anjungan Air Minum Bergaya Ottoman, Simbol Persaudaraan Aceh-Turki

UIN Ar-Raniry Resmikan Anjungan Air Minum Bergaya Ottoman, Simbol Persaudaraan Aceh-Turki

June 30, 2026
Memaknai Ulang Islam sebagai ‘Agama’

Memaknai Ulang Islam sebagai ‘Agama’

March 24, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.