• Tentang Kami
Monday, August 10, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas

SAGOE TV by SAGOE TV
June 23, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas

Monolog “Kurông” yang dimainkan oleh Zikrayanti.

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Zanjabila

Di bawah temaram lampu, Sabtu, 20 Juni 2026, udara di Arifa Safura Studio mendadak padat oleh sebuah kegelisahan yang mendalam. Ketika ruang gerak masyarakat menyempit menjadi jeruji dan tubuh dipaksa tunduk pada aturan yang dingin. Cut Nyak Institute hadir mempersembahkan Monolog “Kurông”.

Pertunjukan seni gerak yang dimainkan oleh Zikrayanti ini bukan sekedar pementasan biasa, melainkan sebuah karya manifesto visual, ruang aman, sekaligus mimbar perlawanan bagi masyarakat untuk membongkar luka lama serta bayang-bayang penertiban yang kaku dan hanya ditujukan pada kaum yang lemah di Tanah Rencong.

BACA JUGA

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

Dengan memanfaatkan kurungan simbolis yang dikelilingi tata cahaya merah tungal serta kegelapan kostum hitam, pementasan ini membedah bagaimana batas-batas buatan manusia mengintervensi dari ketakutan yang mencekam saat kebebasan terenggut, hingga menyulut percikan kemarahan yang menjelma menjadi energi perlawanan fisik di atas panggung.

Suasana di dalam ruangan seketika bergelora dan memuncak saat pertunjukan usai dan beralih ke sesi diskusi yang emosional. Zikrayanti selaku storyteller, langsung meluapkan kemarahan yang selama ini tertahan terhadap para pembuat kebijakan yang dinilai menjalankan aturan secara sewenang-wenang.

Dengan nada tegas dan berani, ia menyampaikan manifesto lisannya yang menggetarkan seisi ruangan. “Saya sedang marah dengan cara para pembuat kebijakan menjalankan aturan. Selama ini, wajah pengawasan moralitas kita sering kali tajam ke bawah, namun tumpul ke atas. Ingatlah, tubuh dan jiwa kita bukan milik lembaga pengawas Satpol PP-WH, penguasa ataupun politisi! Tubuh kita adalah hak mutlak milik kita sendiri dan Tuhan. Sudah saatnya kita mengganggu kenyamanan mereka yang telah lama mengganggu kenyamanan hidup kita,” ungkap Zikrayanti.

Diskusi kemudian bergerak semakin tajam menembus batasan tradisi ketika Arifa Safura bertindak sebagai pemantik diskusi. Ia membuka jalannya diskusi dengan menyoroti bagaimana tubuh perempuan terus-menerus ditarik ke pusaran kekuasaan, terlalu disorot, dan dieksploitasi demi mencapai tujuan politis tertentu. Seharusnya dengan adanya pemimpin perempuan mampu melahirkan ruang aman yang sejati bagi kaumnya, keberadaan mereka justru sering kali sekedar dijadikan alat politik dan komoditas bagi panggung kekuasaan yang patriarkis.

Tak hanya membedah isu sosial, Arifa Safura juga memperdalam analisisnya dengan menguliti keintiman ruang melalui penataan artistik pertunjukan yang dirancang untuk mengintervensi psikologis penonton. Menurutnya, penataan artistik ini bukan sekedar soal panggung, melainkan keterlibatan ruang dan manusia yang dipaksa berhimpit ke depan demi membangun rasa ketidaknyamanan fisik yang nyata.

“Merah gelap, tangga, bunyi cambuk menghantam besi. Begitu terasa bagaimana debaran elemen tangga sebagai jeruji, permainan lampu merah, hingga refleksi bayangan di balik kaca berhasil memantik teror batin dan memaksa pikiran audiens mengembara bebas,” ujarnya.

Ketegangan diskusi kian memuncak ketika para peserta mulai berani menyuarakan trauma dan rasa sesak yang selama ini terpendam akibat kekangan sistem. Salah satu penonton yang hadir, mengungkapkan dengan suara bergetar menahan emosi, bahwa pementasan ini telah berhasil membongkar luka yang dirasakan bersama, menegaskan bahwa rasa sesak itu nyata dan kedamaian mustahil ditemukan jika perjuangan dilakukan secara terpisah. Ketika negara dan lingkungan justru menjadi sumber kendala, ikatan kebersamaan menjadi satu-satunya tameng yang tersisa untuk menghadapi penindasan yang semakin nyata di depan mata.

Rozhatul Valica, selaku artistik ikut mengamini kerugian sistemis ini dengan menyoroti bagaimana budaya patriarki yang menuntut laki-laki untuk selalu kuat dan dilarang menangis yang pada akhirnya turut merugikan kaum lekaki itu sendiri, seraya menguatkan forum bahwa ruang ini adalah tempat yang aman untuk saling berbagi kerapuhan. Bahkan, Rozhatul secara lugas membongkar absurditas stereotip gender yang mengakar di masyarakat melalui analogi sebatang rokok.

“Ketika cowok yang ngerokok, memang paru parunya bakal terlindungi? Atau ketika cewek yang ngerokok, apa paru parunya bakal langsung rusak? Rasa sama aja, sama-sama manusia. Tapi ketika perempuan yang melakukannya, stereotip kita langsung memberikan label buruk dan penghakiman moral yang kasar. Stereotip yang dialami secara masif, orang menganggapnya sebagai normal. Normal itu terbentuk dari stereotip masing-masing. Kesadaran itu ada di otak kita, bukan di gender,” cetus Rozhatul dengan lantang, menolak normalisasi penghakiman sosial yang timpang.

Diskusi terus bergerak menembus batasan tradisi ketika salah satu penonton yang menunjuk pada fakta bahwa salah satu akar masalah terbesar bermula dari cara pikiran dan stigma masyarakat menerjemahkan peran tersebut. Penonton tersebut melemparkan refleksi tajam dengan mengingatkan kembali bahwa Aceh memiliki sejarah sebagai wilayah hebat yang sejak dulu menghormati kebebasan perempuan tanpa pernah meributkan perbedaan gender, namun kenyataan hari ini justru menunjukkan kemunduran yang sangat jauh.

Penjara moralitas itu bermula dari rumah tangga, di mana perempuan sering kali terbebani oleh stigma pembagian peran domestik yang timpang, seperti keharusan mengurus rumah dari bangun hingga tidur lagi, dan dipaksa untuk tidak boleh mengeluh atau speak up. Stigma yang menumpuk di dalam ruang terkecil inilah yang akhirnya mematikan keberanian perempuan untuk bersuara dan berkata “tidak” di ruang publik.

Sentuhan emosional pementasan ini tidak lepas dari peran Farhan Ali, sosok yang menata musik dan mengembuskan jiwa yang mengetarkan pada setiap ketukan gerak di atas panggung. Musik yang tercipta dari beberapa elemen instrumen yang sempat ia selamatkan sebelum dimusnahkan, mampu mengalun indah mengiringi pertunjukan seni gerak ini.

Selain itu, di tengah diskusi, Farhan juga ikut membagikan pengalaman pahitnya yang mencerminkan betapa represifnya ruang berekspresi di tanah ini. Ia menggungkapkan rasa herannya ketika sebuah kegiatan olah raga santai yang pernah dibuat bersama teman-temannya dan sama sekali tidak mengganggu atau merugikan siapa pun, justru dibubarkan begitu saja oleh orang-orang tertentu dengan alasan yang tidak jelas.

Sebagai sebuah manifesto akhir, forum ini menjadi seruan lantang agar perempuan tidak lagi takut mengambil sikap dalam lingkungan sekecil apa pun, sehingga di dalam forum besar pun mereka berani menolak segala bentuk ketidakadilan. Melalui pementasan “Kurông” dan diskusi yang membakar semangat ini, Cut Nyak Institute menegaskan pesan mendalam bahwa tubuh dan pikiran manusia adalah wilayah merdeka, yang tidak boleh dijajah oleh kepentingan politik mana pun, termasuk komodifikasi sejarah kehebatan tokoh masa lalu, seperti Cut Nyak Dhien yang kontras dengan realitas pengekangan hari ini.

Pertunjukan ini sukses memantik api kesadaran advokasi di benak setiap pengunjung untuk tidak lagi menjadi penonton pastif. Namun, sudah saatnya penonton pulang dengan keberanian baru untuk bergerak dan berbenah dengan cara masing-masing demi merebut kembali arti kenyamanan, keamanan, serta kemerdekaan diri yang sejati di tanah mereka sendiri.[]

Tags: AcehKurongMonologSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun
SENI

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

by SAGOE TV
August 7, 2026
Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran
SENI

Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

by SAGOE TV
August 6, 2026
Meutaloe; Ketika Banda Aceh Mulai Belajar Bersama
SENI

Meutaloe; Ketika Banda Aceh Mulai Belajar Bersama

by SAGOE TV
August 3, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut
SENI

SPS Revival Usung “Meutaloe”: Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

by SAGOE TV
July 31, 2026
Setelah Panggung Dibongkar
SENI

Setelah Panggung Dibongkar

by SAGOE TV
July 28, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kemiskinan di Aceh Naik Jadi 12,34 Persen, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 10.400 Orang

Kemiskinan di Aceh Naik Jadi 12,34 Persen, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 10.400 Orang

August 6, 2026
Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

August 7, 2026
Calvin Ho

Paradoks Aceh: Mengapa Kekayaan Alam Tidak Menjadi Kemakmuran?

August 7, 2026
Bahlil Lantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA, Pimpin Pengelolaan Migas Aceh

Bahlil Lantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA, Pimpin Pengelolaan Migas Aceh

August 5, 2026
Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

August 6, 2026
MTsN 2 Banda Aceh Luncurkan Tujuh Buku Karya Siswa dan Guru, Cetak Generasi Penulis Sejak Dini

MTsN 2 Banda Aceh Luncurkan Tujuh Buku Karya Siswa dan Guru, Cetak Generasi Penulis Sejak Dini

August 8, 2026
Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Aceh Besar, Perumdam Tirta Mountala Siapkan Solusi Jangka Panjang

Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Aceh Besar, Perumdam Tirta Mountala Siapkan Solusi Jangka Panjang

August 5, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Sangerday Fest 2026 Digelar di Museum Tsunami Aceh, Ini Jadwal dan Rangkaian Acaranya

Sangerday Fest 2026 Digelar di Museum Tsunami Aceh, Ini Jadwal dan Rangkaian Acaranya

August 8, 2026

EDITOR'S PICK

BMBPSDM Kemenag RI Mantapkan Sinergi TIK 2025 di Yogyakarta

BMBPSDM Kemenag RI Mantapkan Sinergi TIK 2025 di Yogyakarta

June 13, 2025
Pelatih FC Bekasi City Sudah Pelajari Permainan Persiraja

Pelatih FC Bekasi City Sudah Pelajari Permainan Persiraja

November 20, 2024
Dishub Aceh Perketat Pemeriksaan Kelayakan Kendaraan Umum Jelang Mudik Lebaran

Dishub Aceh Perketat Pemeriksaan Kelayakan Kendaraan Umum Jelang Mudik Lebaran

March 13, 2025
Membaca kembali Strategi Mengawal Undang-Undang Pemerintahan Aceh

Membaca Kembali Strategi Mengawal Undang-Undang Pemerintahan Aceh

February 13, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.