ACEH TAMIANG | SAGOE TV – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Tamiang menyatakan ratusan bangunan sekolah dari berbagai jenjang pendidikan mengalami kerusakan akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Aceh Tamiang, Sepriyanto, mengatakan berdasarkan data sementara, total sekolah terdampak banjir mencapai 439 unit.
“Data sementara yang dihimpun, sekolah yang mengalami kerusakan akibat banjir mencapai 439 sekolah dengan rincian sebanyak 73 Sekolah mengalami rusak berat, sebanyak 306 sekolah mengalami rusak sedang dan sebanyak 60 sekolah mengalami rusak ringan,” ujar Sepriyanto, Sabtu (20/12/2025).
Ia menjelaskan, tingkat kerusakan bangunan sekolah sangat bervariasi, mulai dari kerusakan ringan hingga berat. Kerusakan paling dominan ditemukan pada ruang kelas yang terendam lumpur, tertimbun material kayu gelondongan, serta mengalami kerusakan pada plafon dan dinding.
Selain itu, lantai sekolah banyak yang tergerus air, sementara fasilitas penunjang seperti meja, kursi, buku pelajaran, dan peralatan laboratorium tidak lagi dapat digunakan.
“Sejumlah sekolah juga mengalami kerusakan pada sarana sanitasi, jaringan listrik, dan pagar sekolah akibat derasnya arus banjir. Kondisi ini membuat sebagian sekolah belum dapat kembali melaksanakan proses belajar mengajar secara normal,” katanya.
Kondisi tersebut menyebabkan sebagian sekolah belum dapat kembali melaksanakan proses belajar mengajar secara normal. Aktivitas pendidikan di beberapa wilayah terdampak terpaksa dihentikan sementara, dan sebagian siswa diliburkan atau belajar dari rumah.
“Keselamatan siswa dan tenaga pendidik menjadi prioritas. Untuk sekolah yang mengalami kerusakan cukup parah, kami belum mengizinkan kegiatan belajar mengajar tatap muka sampai kondisi benar-benar aman,” kata Sepriyanto.
Meski demikian, ia menyebutkan terdapat 58 sekolah yang tidak terdampak banjir dan tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biasa.
Sepriyanto menambahkan, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk proses pembersihan lumpur dan material sisa banjir yang menumpuk di lingkungan sekolah.
“Saat ini dukungan dari pihak lain untuk melakukan pembersihan lumpur sisa material sangat dibutuhkan. Sebab sebagian besar sekolah yang terdampak banjir dipenuhi material lumpur dan kayu yang tidak dapat dilakukan pembersihan secara manual,” ujarnya.
Untuk sekolah dengan kategori rusak berat, Disdikbud Aceh Tamiang mewacanakan penyelenggaraan sekolah darurat. Saat ini, pihaknya tengah menggalang dukungan dari masyarakat, relawan, serta lembaga swadaya masyarakat (NGO) agar proses pendidikan dapat segera berjalan kembali.
“Sebanyak 17 sekolah, terdiri dari 10 Sekolah Dasar dan 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP), membutuhkan tenda untuk pelaksanaan sekolah darurat,” ujar Sepriyanto.[]




















