ACEH TAMIANG | SAGOE TV – Tiga bulan setelah banjir melanda Kabupaten Aceh Tamiang, sejumlah warga di Dusun Metro Jaya, Desa Durian, Kecamatan Rantau, masih tinggal di tenda darurat dan terpal. Kondisi hunian sementara yang sempit, panas, dan berdebu memicu persoalan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare pada anak.
Situasi tersebut terpantau saat aksi kemanusiaan yang dilakukan Tim Reaksi Cepat (TRC) Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) pada Sabtu (28/2/2026).
Dalam kegiatan itu, tim memberikan layanan kesehatan serta menyalurkan bantuan logistik bagi warga yang belum memperoleh hunian sementara (huntara).
Sebanyak 47 warga menjalani pemeriksaan kesehatan, terdiri dari 11 laki-laki dan 36 perempuan. Sembilan anak turut diperiksa, sementara satu pasien pascastroke mendapat layanan kunjungan rumah.
Ketua TRC GEN-A, dr. Intan Qanita, mengatakan kondisi tanggap darurat yang berkepanjangan berdampak langsung pada kesehatan warga.
“Walaupun banjir sudah lebih dari tiga bulan, masih banyak warga tinggal di tenda, bahkan ada yang di kompleks pemakaman. Fasilitas MCK belum memadai dan akses pangan terbatas. Ini berpengaruh pada kondisi kesehatan mereka,” ujarnya.
Tim medis mencatat ISPA sebagai keluhan terbanyak. Pada kelompok lanjut usia ditemukan kasus hipertensi, hiperkolesterolemia, dan nyeri kepala. Sementara pada anak-anak, diare menjadi keluhan dominan.
dr. Fatih Ramadhan yang didampingi Ns. Denni Mulyani dari divisi medis menjelaskan, faktor lingkungan menjadi pemicu utama gangguan kesehatan, terutama debu dari lumpur yang mengering di sekitar tenda pengungsian.
“ISPA masih berlanjut karena debu sangat banyak di jalan dan sekitar hunian. Risiko infeksi kulit juga tinggi, dan kami melihat potensi gangguan gizi jika kondisi ini terus berlangsung,” kata Fatih.
Selain pelayanan kesehatan, tim juga menyalurkan 40 paket sembako berisi bahan makanan pokok dan kebutuhan harian. Bantuan lainnya berupa pakaian layak pakai, alat salat, buku, serta alat tulis bagi anak-anak.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, ratusan tenda masih berdiri di sejumlah titik, termasuk sepanjang akses menuju dusun. Satu tenda dapat dihuni beberapa kepala keluarga dengan ventilasi terbatas, sementara suhu di dalam tenda meningkat tajam pada siang hari.
Relawan menilai bantuan kemanusiaan yang diberikan bersifat sementara dan percepatan pembangunan huntara menjadi kebutuhan mendesak agar warga tidak terlalu lama tinggal di hunian darurat.
“Relawan menilai bantuan kemanusiaan yang diberikan bersifat sementara. Solusi jangka panjang tetap memerlukan percepatan pembangunan huntara yang memenuhi standar kesehatan lingkungan, ketersediaan air bersih, fasilitas sanitasi layak, serta akses layanan kesehatan rutin. Tanpa intervensi tersebut, dampak banjir berpotensi berkembang menjadi krisis kesehatan sekunder yang lebih kompleks dan berkepanjangan.” Tambah dr. Intan Qanita.[]




















