• Tentang Kami
Friday, September 25, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Literasi dan Apresiasi Seni: Menghidupkan yang Nyaris Terbiasa Dilupakan

SAGOE TV by SAGOE TV
March 27, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

Ari J. Palawi Praktisi, Etnomusikolog & Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari Palawi
Praktisi dan akademisis seni Universitas Syiah Kuala

Di Aceh, seni tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal dalam suara yang dilantunkan selepas magrib, dalam gerak tubuh yang diwariskan tanpa banyak penjelasan, dalam syair yang mengalir dari ingatan ke ingatan. Ia tidak selalu diumumkan, tidak selalu dipamerkan, tetapi tetap hidup—diam-diam, setia, dan akrab.

Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: apakah kita masih benar-benar menghidupi seni itu? Atau jangan-jangan, kita hanya menjalaninya—sebagai kebiasaan yang diwariskan, tanpa sempat lagi kita pahami?

BACA JUGA

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

Di titik inilah kita mulai merasakan sesuatu yang halus, tapi penting. Bukan kehilangan, melainkan jarak. Jarak antara seni dan kesadaran kita terhadapnya. Jarak yang tidak terasa karena ia tumbuh perlahan, di dalam keseharian kita sendiri.

Yang Terlalu Dekat, Sering Tak Terbaca

Ada hal-hal yang justru sulit kita pahami karena terlalu dekat. Seperti laut bagi masyarakat pesisir—ia selalu ada, tetapi tidak selalu benar-benar dilihat.

Seni di Aceh sering berada dalam posisi seperti itu. Kita mengenalnya sejak kecil. Kita tahu bentuknya, ritmenya, bahkan mungkin hafal geraknya. Tapi di balik semua itu, makna yang dulu hidup perlahan menjadi samar.

Bukan karena ia hilang, tetapi karena tidak lagi dibaca. Kita menyaksikan pertunjukan, tetapi tidak selalu memahami cerita yang dibawanya. Kita menikmati irama, tetapi tidak selalu merasakan nilai yang tersimpan di dalamnya. Kita melestarikan bentuk, tetapi sering kehilangan ruh.

Di sinilah persoalannya bukan pada kurangnya seni, melainkan pada lemahnya literasi seni.

Literasi seni bukan sekadar kemampuan memahami karya secara teknis. Ia adalah kemampuan untuk membaca yang tidak tertulis, menangkap yang tidak diucapkan, dan merasakan yang tidak selalu dijelaskan. Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, untuk tidak hanya melihat, tetapi juga memahami.

Tanpa literasi, seni mudah berubah menjadi rutinitas. Ia tetap ada, tetapi tidak lagi menyentuh. Ia dijaga, tetapi tidak lagi dihidupi. Dan ketika makna mulai memudar, apresiasi pun perlahan ikut melemah.

Pengetahuan yang Tinggi, Tapi Belum Membumi

Di sisi lain, ada ruang yang juga tidak pernah berhenti bergerak: dunia akademik. Di sana, seni dibicarakan dengan serius. Ia diteliti, dianalisis, dan dituliskan dalam berbagai bentuk publikasi. Konsep diperkuat, teori diperluas, dan diskursus terus dikembangkan.

Semua ini penting. Bahkan sangat penting. Namun ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kembali:
sejauh mana pengetahuan itu sampai kepada masyarakat?

Seringkali, ia berhenti di ruang yang sama tempat ia lahir. Dibaca oleh kalangan terbatas, dibahas dalam lingkaran yang tidak jauh berbeda. Ia menjadi rapi, sistematis, dan terukur—tetapi tidak selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, di luar kampus, masyarakat terus menjalani praktik seni dengan cara mereka sendiri. Mereka mencipta, merawat, dan mewariskan—meski tanpa bahasa akademik, tanpa dokumentasi yang rapi, tanpa legitimasi formal.

Seperti dua sungai yang mengalir berdekatan, tetapi tidak pernah benar-benar bertemu.

Yang satu membawa teori. Yang lain membawa pengalaman. Keduanya penting. Keduanya kaya. Namun tanpa pertemuan, keduanya kehilangan kesempatan untuk saling menguatkan. Di sinilah jarak itu semakin terasa. Bukan sebagai konflik, tetapi sebagai ketiadaan hubungan.

Dari Literasi Menuju Apresiasi: Mengalami, Bukan Sekadar Melihat

Di antara dua arus itu, ada satu jalan yang sebenarnya sederhana, tetapi sering terabaikan: literasi.

Bukan literasi yang penuh istilah dan terasa jauh, tetapi literasi yang tumbuh dari pengalaman. Literasi yang membuat seseorang mulai bertanya, mulai memperhatikan, dan akhirnya mulai memahami. Ketika literasi hadir, cara kita melihat seni pun berubah.

Kita tidak lagi sekadar menonton, tetapi mulai membaca.
Kita tidak hanya menikmati, tetapi mulai merasakan.
Kita tidak hanya mengenali, tetapi mulai menghubungkan.

Dari sini, lahirlah sesuatu yang lebih dalam: apresiasi. Apresiasi bukan sekadar rasa suka. Ia adalah bentuk keterlibatan. Ia membuat seseorang tidak lagi berada di luar seni, tetapi menjadi bagian darinya.

Seseorang yang memiliki apresiasi tidak hanya melihat sebuah pertunjukan, tetapi juga merasakan sejarah yang bergerak di dalamnya, nilai yang tersimpan di baliknya, dan makna yang terus hidup melampaui bentuknya.

Di titik ini, seni tidak lagi menjadi tontonan. Ia menjadi pengalaman. Dan ketika pengalaman itu dibagikan—melalui percakapan, tulisan, atau praktik bersama—seni kembali menemukan ruang hidupnya.

Mengurangi Jarak, Menghidupkan Kembali

Mungkin kita tidak kekurangan seni. Kita juga tidak kekurangan pengetahuan. Yang kita kekurangan adalah ruang pertemuan.

Ruang di mana pengetahuan bisa turun dari menara akademik, dan pengalaman bisa naik menjadi bagian dari wacana. Ruang di mana masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemaknaan.

Mengurangi jarak ini tidak selalu membutuhkan program besar. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana: dari tulisan yang lebih membumi, dari diskusi yang lebih terbuka, dari keberanian untuk menggunakan bahasa yang bisa dipahami bersama.

Dari kesediaan untuk mendengar, bukan hanya menjelaskan. Dari keinginan untuk berbagi, bukan hanya menunjukkan. Karena pada akhirnya, seni bukan hanya tentang apa yang diciptakan, tetapi tentang bagaimana ia dihidupi.

Aceh memiliki semua yang dibutuhkan: tradisi yang kuat, pengalaman yang kaya, dan kedalaman makna yang tidak habis digali. Namun semua itu tidak akan cukup jika tidak dibaca kembali, tidak dipahami kembali, dan tidak dihidupkan kembali.

Di sinilah literasi dan apresiasi menemukan perannya.

Bukan sebagai konsep yang jauh,
tetapi sebagai cara untuk kembali dekat—
dengan seni, dengan budaya,
dan dengan diri kita sendiri.[]

Tags: AcehIndonesiakampusLiterasiSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH
SENI

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH

by SAGOE TV
September 22, 2026
Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga
SENI

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

by SAGOE TV
September 11, 2026
SPS Revival Memperkuat Praktik Kreatif sebagai Bagian dari Kehidupan Masyarakat
SENI

SPS Revival: Memperkuat Praktik Kreatif sebagai Bagian dari Kehidupan Masyarakat

by SAGOE TV
September 9, 2026
Refleksi Vol. 18 Kru Semangat dan Perjalanan Para Artis Muda
SENI

Refleksi Vol. 18 Kru Semangat dan Perjalanan Para Artis Muda

by SAGOE TV
September 7, 2026
Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu
SENI

Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu

by SAGOE TV
September 4, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

UIN Ar-Raniry Kukuhkan 9 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini 65 Orang

UIN Ar-Raniry Kukuhkan 9 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini 65 Orang

September 23, 2026
150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

September 23, 2026
Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

Literasi dan Apresiasi Seni: Menghidupkan yang Nyaris Terbiasa Dilupakan

March 27, 2026
Sjamsul Kahar Berpulang, Pendiri Serambi Indonesia dan Tokoh Pers Aceh Tutup Usia 80 Tahun

Sjamsul Kahar Berpulang, Pendiri Serambi Indonesia dan Tokoh Pers Aceh Tutup Usia 80 Tahun

September 24, 2026
Ratusan Warga Aceh Besar Antusias Berobat Gigi Gratis di Aksi Kaninus 16 FKG USK

Ratusan Warga Aceh Besar Antusias Berobat Gigi Gratis di Aksi Kaninus 16 FKG USK

September 19, 2026
Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

September 15, 2026
Aceh Raih Peringkat Keempat MTQ Nasional 2026, Dek Fadh Beri Bonus Rp200 Juta untuk Kafilah

Aceh Tembus 4 Besar MTQ Nasional 2026, Ini Daftar Lengkap Para Juara

September 23, 2026
3 Santriwati Insan Qurani Bawa Aceh Juara 1 Fahmil Qur’an MTQ Nasional 2026

3 Santriwati Insan Qurani Bawa Aceh Juara 1 Fahmil Qur’an MTQ Nasional 2026

September 23, 2026
Warga Abdya di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang Kumpul di Maulid Akbar, Perkuat Silaturahmi

Warga Abdya di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang Kumpul di Maulid Akbar, Perkuat Silaturahmi

September 23, 2026

EDITOR'S PICK

Pasca Bencana Mendikdasmen Salurkan 2.000 Bantuan untuk Siswa Aceh Tamiang

Mendikdasmen Salurkan 2.000 Bantuan untuk Siswa Aceh Tamiang

January 6, 2026
Dek Fadh Temui Kafilah Aceh di MTQ Nasional 2026, Dorong Tampil Terbaik hingga Akhir

Dek Fadh Temui Kafilah Aceh di MTQ Nasional 2026, Dorong Tampil Terbaik hingga Akhir

September 19, 2026
Pelabuhan Calang Potensial Jadi Pusat Ekspor di Wilayah Barat Selatan Aceh

Pelabuhan Calang Potensial Jadi Pusat Ekspor di Wilayah Barat Selatan Aceh

February 27, 2025
Wacana Tunda Azan Isya selama Ramadhan, MPU Banda Aceh Tegaskan Harus Ada Kajian Ilmiah

Wacana Tunda Azan Isya Selama Ramadhan, MPU Banda Aceh Tegaskan Harus Ada Kajian Ilmiah

February 19, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.