• Tentang Kami
Monday, September 14, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal

SAGOE TV by SAGOE TV
June 10, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Mungkin yang kurang bukan acara Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi

ADA satu hal yang belakangan sering muncul ketika melihat Banda Aceh.

Kota ini tidak pernah benar-benar sepi.

BACA JUGA

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

SPS Revival: Memperkuat Praktik Kreatif sebagai Bagian dari Kehidupan Masyarakat

Hampir setiap minggu selalu ada sesuatu yang bergerak. Diskusi berlangsung di sudut-sudut yang berbeda. Musik dimainkan di ruang yang berbeda. Workshop berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Komunitas lahir, bertumbuh, lalu melahirkan inisiatif baru. Anak-anak muda mengorganisasi kegiatan dengan sumber daya yang terbatas tetapi dengan energi yang nyaris tidak habis-habis.

Dalam banyak hal, ini pertanda baik.

Sebuah kota yang masih melahirkan perjumpaan adalah kota yang masih memiliki denyut kehidupan.

Masih ada orang yang bersedia meluangkan waktu untuk mengajar.
Masih ada yang bersedia belajar.
Masih ada yang mendokumentasikan.
Masih ada yang mengorganisasi.
Masih ada yang membuka ruang agar orang lain dapat bertemu.

Tidak semua kota memiliki kemewahan seperti itu.

Namun ada satu pertanyaan yang terus mengendap.

Mengapa begitu banyak hal baik lahir di kota ini, tetapi hanya sedikit yang tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri?

Pola yang sama terus muncul.

Sebuah kegiatan berlangsung dengan baik.
Orang-orang datang.
Percakapan terjadi.

Ide bermunculan.

Kolaborasi mulai dibayangkan.
Nomor telepon bertukar tangan.
Foto dan video direkam.
Semua orang pulang dengan keyakinan bahwa sesuatu yang penting baru saja terjadi.

Lalu waktu berjalan.

Dokumentasi tersimpan di laptop seseorang.
Kontak-kontak baru perlahan tenggelam dalam daftar panjang percakapan.
Catatan yang pernah dianggap penting tidak pernah lagi dibuka.
Jejaring yang sempat terbentuk kehilangan momentum.

Beberapa bulan kemudian, siklus yang hampir sama kembali dimulai.

Mencari orang yang sama.
Mencari ruang yang sama.
Mengulang percakapan yang sama.
Menjelaskan kembali hal-hal yang pernah dijelaskan sebelumnya.
Seolah-olah kota ini memiliki kebiasaan untuk terus memulai dari awal.

Bukan karena kekurangan orang yang bekerja.

Bukan karena kekurangan gagasan.

Energi selalu tersedia.

Yang sering tidak bertahan adalah jembatan yang menghubungkan satu pengalaman dengan pengalaman berikutnya.

Selama ini kehidupan budaya sering diukur dari jumlah peristiwa yang berhasil diselenggarakan.
Semakin banyak acara, semakin hidup sebuah kota dianggap.

Ukuran semacam itu terasa terlalu sederhana.

Yang lebih penting justru apa yang tertinggal setelah sebuah kegiatan selesai.

Apakah pengetahuan baru berhasil dicatat?
Apakah hubungan baru berhasil dirawat?
Apakah pengalaman yang lahir dapat digunakan kembali oleh orang lain?
Ataukah semuanya menghilang bersama pembongkaran panggung dan berakhir sebagai arsip yang tidak pernah dibuka lagi?

Perbedaan antara kota yang ramai dan kota yang berkembang sering berada di wilayah yang nyaris tidak terlihat itu.

Kota yang berkembang memiliki kemampuan untuk mengingat.

Ia menyimpan pengalaman.
Menghubungkan pengetahuan.
Merawat hubungan.
Dan meneruskan hasil kerja satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ketika mendengar kata infrastruktur, perhatian kita biasanya tertuju pada bangunan, jalan, atau fasilitas fisik.

Dalam kehidupan budaya, bentuknya jauh lebih beragam.

Sebuah sistem dokumentasi yang baik adalah infrastruktur.
Arsip yang terawat adalah infrastruktur.
Peralatan bersama yang dapat diakses banyak orang adalah infrastruktur.
Platform yang menyimpan pengetahuan adalah infrastruktur.
Ruang yang membuat orang merasa nyaman untuk datang kembali juga merupakan infrastruktur.

Banyak di antaranya tidak terlihat megah.
Tidak memiliki seremoni peresmian.
Tidak menghasilkan foto-foto yang mudah dipublikasikan.

Namun justru elemen-elemen seperti itulah yang menentukan apakah sebuah ekosistem dapat tumbuh atau hanya menghasilkan rangkaian peristiwa yang terputus-putus.

Kreativitas dapat lahir dari spontanitas.

Sementara, keberlanjutan membutuhkan sesuatu yang lebih dari itu.

Belakangan perhatian saya sering tertuju pada ruang-ruang yang tetap hidup tanpa perlu dipaksa hidup.

Ruang yang ramai bukan karena jadwal kegiatan.
Melainkan karena kehadiran manusia.

Salah satunya adalah Skate Park Lamprit.

Yang menarik dari tempat itu bukan bentuk fisiknya.
Bukan pula fasilitasnya.
Daya tarik utamanya terletak pada kebiasaan yang tumbuh di dalamnya.

Setiap sore orang datang dengan alasan yang berbeda-beda.

Ada yang bermain skateboard.
Ada yang berlatih.
Ada yang memotret.
Ada yang membuat video.
Ada yang berdiskusi.
Ada yang sekadar duduk menunggu senja.
Ada yang datang karena ingin bertemu teman.
Ada pula yang datang karena tidak ingin sendirian.

Tidak ada protokol khusus.
Tidak ada susunan acara.
Tidak ada panggung utama.
Namun kehidupan terus berlangsung.

Di situlah nilai sebuah ruang publik sering kali ditemukan.

Ia mempertemukan manusia.

Banyak hal penting tumbuh dari pertemuan yang sederhana.

Bukan dari ruang yang paling megah.
Bukan dari program yang paling besar.
Melainkan dari ruang yang cukup hidup untuk membuat orang kembali datang.

Lalu datang lagi.
Dan datang lagi.
Hingga hubungan yang semula sebatas perkenalan berubah menjadi kepercayaan.

Hampir semua kerja kolektif bertumpu pada fondasi itu.

Kolaborasi tumbuh dari kepercayaan.
Pengetahuan tumbuh dari percakapan.
Komunitas tumbuh dari kebiasaan untuk terus hadir.
Bahkan peluang ekonomi sering lahir dari hubungan-hubungan yang pada mulanya tidak pernah direncanakan.

Pertanyaan yang layak diajukan bukan bagaimana menghadirkan lebih banyak acara.

Pertanyaan yang lebih mendesak adalah bagaimana memastikan setiap pertemuan meninggalkan sesuatu yang dapat digunakan kembali.

Sebuah dokumentasi.
Sebuah arsip.
Sebuah pengetahuan.
Sebuah jejaring.
Atau sekadar alasan yang cukup kuat untuk kembali bertemu minggu depan.

Kota yang hidup bukan kota yang paling sering menghasilkan peristiwa.

Kota yang hidup adalah kota yang mampu belajar dari peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya.

Banda Aceh telah menunjukkan kemampuannya untuk bangkit, beradaptasi, dan membangun kembali dirinya berkali-kali.

Energi itu tidak pernah benar-benar hilang.

Ia berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari satu komunitas ke komunitas lain.
Dari satu ruang ke ruang yang lain.

Pekerjaan yang masih menunggu adalah menghubungkan semuanya.

Menyimpan pengalaman yang telah diperoleh.
Merawat pengetahuan yang telah lahir.
Menjaga hubungan yang telah terbentuk.
Lalu meneruskannya kepada mereka yang akan datang setelah kita.

Sebab kota tidak dibangun hanya oleh bangunan.

Kota dibangun oleh ingatan.

Oleh percakapan.
Oleh kebiasaan untuk saling belajar.
Oleh ruang-ruang yang membuat orang ingin kembali datang.
Dan oleh kesediaan untuk memastikan bahwa setiap generasi tidak perlu mengulang perjalanan yang sama dari garis awal.[]

Tags: AnalisisAri J. PalawiBanda AcehSeniSkate Park Stage
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga
SENI

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

by SAGOE TV
September 11, 2026
SPS Revival Memperkuat Praktik Kreatif sebagai Bagian dari Kehidupan Masyarakat
SENI

SPS Revival: Memperkuat Praktik Kreatif sebagai Bagian dari Kehidupan Masyarakat

by SAGOE TV
September 9, 2026
Refleksi Vol. 18 Kru Semangat dan Perjalanan Para Artis Muda
SENI

Refleksi Vol. 18 Kru Semangat dan Perjalanan Para Artis Muda

by SAGOE TV
September 7, 2026
Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu
SENI

Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu

by SAGOE TV
September 4, 2026
Tangke Wakili Aceh di Lake Toba Traditional Music Festival
SENI

Tangke Wakili Aceh di Lake Toba Traditional Music Festival

by SAGOE TV
September 3, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

September 11, 2026
Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

September 11, 2026
Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara? Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

September 10, 2026
Mahasiswa PKK USK Belajar Pendidikan Kuliner dan Pariwisata dari Akademisi Malaysia

Mahasiswa PKK USK Belajar Pendidikan Kuliner dan Pariwisata dari Akademisi Malaysia

September 12, 2026
Prof Teuku Zulfikar Jadi Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Ini Fokus yang Akan Diperkuat

Prof Teuku Zulfikar Jadi Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Ini Fokus yang Akan Diperkuat

September 12, 2026
Mahasiswa USK Soroti Pemulihan Pascabencana Aceh, Plt Sekda Buka Ruang Dialog

Mahasiswa USK Soroti Pemulihan Pascabencana Aceh, Plt Sekda Buka Ruang Dialog

September 11, 2026
Dua Kampus Besar Aceh Kembali Perkuat Kerja Sama untuk Majukan Pendidikan

Dua Kampus Besar Aceh Kembali Perkuat Kerja Sama untuk Majukan Pendidikan

September 11, 2026
Mujiburrahman Terpilih Jadi Ketua ICMI Aceh, Unggul 13 Suara dalam Muswil VIII

Mujiburrahman Terpilih Jadi Ketua ICMI Aceh, Unggul 13 Suara dalam Muswil VIII

September 12, 2026
Pengurus ICMI Orda Aceh Besar Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

Pengurus ICMI Orda Aceh Besar Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

September 7, 2026

EDITOR'S PICK

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif

April 30, 2026
Pemerintah Aceh Minta Pertamina Benahi Layanan SPBU, Antrean BBM Diminta Tak Ganggu Fasilitas Umum

Pemerintah Aceh Minta Pertamina Benahi Layanan SPBU, Antrean BBM Diminta Tak Ganggu Fasilitas Umum

July 31, 2026
Ketua Harian Dekranas Serukan Aceh Bangkit saat Kunjungi Stand Dekranasda Aceh

Ketua Harian Dekranas Serukan “Aceh Bangkit” saat Kunjungi Stand Dekranasda Aceh

July 11, 2026
Pelat BL untuk Semua Kendaraan di Aceh, Solusi Agar Pajak Mengalir ke Daerah Sendiri

Pelat BL untuk Semua Kendaraan di Aceh, Solusi Agar Pajak Mengalir ke Daerah Sendiri

October 1, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.