• Tentang Kami
Saturday, July 4, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

SAGOE TV by SAGOE TV
July 3, 2026
in Opini
Reading Time: 7 mins read
A A
0
Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

Konsep "The Spirit of Aceh Education" menghubungkan sejarah, pendidikan, memori kolektif, dan identitas kawasan dalam satu jalur interpretasi. Sumber: Visualisasi AI berdasarkan konsep penulis, 2026.

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Fithria Zahwa Kh
Mahasiswi Program Studi Magister Arsitektur Universitas Syiah Kuala, Aceh

Bagi masyarakat Aceh, Darussalam dikenal sebagai kawasan pendidikan terbesar di Aceh. Namun, kawasan ini bukan sekadar tempat berdirinya kampus. Di balik bangunan-bangunannya tersimpan perjalanan Aceh membangun masa depan melalui pendidikan, mulai dari warisan ulama, lahirnya Kota Pelajar dan Mahasiswa, dinamika konflik, hingga kebangkitan pascabencana.

Pada dekade 1950-an, Aceh masih menghadapi berbagai persoalan pascakemerdekaan, termasuk konflik DI/TII yang berlangsung antara tahun 1953 hingga 1959. Konflik tersebut tidak hanya menimbulkan ketidakstabilan keamanan, tetapi juga menyebabkan pendidikan dan pembangunan berjalan sangat terbatas. Setelah konflik berakhir pada tahun 1959, muncul sebuah gagasan besar dari para tokoh Aceh dan pemerintah untuk membangun pusat pendidikan terpadu sebagai fondasi masa depan daerah. Dari gagasan inilah lahir Darussalam yang dikenal sebagai “Kota Pelajar dan Mahasiswa”. Darussalam dibangun bukan sekadar sebagai lokasi kampus, tetapi sebagai representasi perubahan orientasi masyarakat Aceh dari konflik menuju pendidikan, dari Darul Harb menuju Darussalam. Transformasi tersebut dapat dipahami melalui rangkaian peristiwa penting yang membentuk perkembangan kawasan pendidikan ini.

BACA JUGA

Membangun Aceh dari Masjid

Kota Kolaborasi, tetapi Belum dengan Tetangga

Darussalam sebagai Warisan Pendidikan Aceh

Nilai penting Darussalam tidak hanya terletak pada keberadaan institusi pendidikannya, tetapi juga pada sejarah yang membentuk kawasan tersebut. Pembangunan Darussalam ditandai dengan peletakan batu pertama Tugu Kopelma Darussalam pada 17 Agustus 1958 oleh Menteri Agama Mohammad Ilyas atas nama Pemerintah Pusat. Setahun kemudian, pada 2 September 1959, Darussalam resmi dibuka melalui peresmian Fakultas Ekonomi sebagai fakultas pertama di kawasan tersebut.

Kehadiran Presiden Soekarno pada peresmian Kopelma Darussalam menegaskan pentingnya kawasan ini sebagai simbol pembangunan pendidikan Aceh. Peristiwa tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Pendidikan Daerah Istimewa Aceh melalui SK Gubernur Aceh Nomor 90 Tahun 1960. Semangat itu tercermin dalam berkembangnya berbagai institusi pendidikan di kawasan ini.

Universitas Syiah Kuala, perguruan tinggi negeri pertama di Aceh, mengabadikan nama Teungku Syiah Kuala (Syekh Abdurrauf as-Singkili), ulama besar abad ke-17 yang berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penyebaran Islam di Nusantara. Penamaan tersebut mencerminkan bahwa pendidikan tinggi modern di Aceh berakar pada warisan intelektual Islam yang telah berkembang jauh sebelumnya.

Darussalam juga menjadi pusat perkembangan pendidikan Islam modern melalui berdirinya cabang IAIN Yogyakarta di Aceh pada 1 November 1959 yang kemudian berkembang menjadi UIN Ar-Raniry. Nama Ar-Raniry diambil dari Syekh Nuruddin Ar-Raniry, ulama dan cendekiawan besar pada masa Kesultanan Aceh. Di kawasan yang sama berdiri Dayah Manyang Teungku Chik Pante Kulu yang diresmikan pada 1968, memperlihatkan bahwa sejak awal Darussalam dirancang untuk menghubungkan pendidikan tinggi modern dengan tradisi pendidikan dayah.

Masjid Jami’ Darussalam yang dibangun atas prakarsa Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy pada awal 1960-an menjadi pusat kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat kampus. Pada masa konflik Aceh, Darussalam kembali mencatat sejarah melalui kepemimpinan Prof. Dr. Dayan Dawood, M.A., yang mempertahankan keberlangsungan pendidikan di tengah situasi konflik. Dedikasinya kini dikenang melalui Gedung AAC Dayan Dawood sebagai simbol ketangguhan dunia pendidikan Aceh. Keseluruhan elemen tersebut membentuk identitas Darussalam sebagai kawasan pendidikan terpadu dengan nilai sejarah, pendidikan, sosial, dan memori kolektif yang kuat bagi masyarakat Aceh.

Selain institusi pendidikan dan bangunan bersejarah, perkembangan Darussalam juga didukung oleh sistem transportasi yang menghubungkan kawasan pendidikan dengan Kota Banda Aceh. Salah satu yang paling dikenal adalah Bus Robur yang beroperasi pada era 1980-an dan melayani mobilitas mahasiswa, dosen, serta masyarakat menuju Darussalam. Kehadirannya memperlihatkan bahwa berkembangnya kawasan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh pembangunan institusi, tetapi juga oleh aksesibilitas yang mendukung aktivitas akademik sehari-hari. Meski kini tidak lagi beroperasi, Bus Robur tetap menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Aceh mengenai kehidupan kampus pada masa itu.

Heritage Trail sebagai Media Membaca Kembali Darussalam

Meski memiliki sejarah yang kuat, banyak mahasiswa dan masyarakat belum memahami makna di balik ruang-ruang di Darussalam. Nama Universitas Syiah Kuala, Gedung AAC Dayan Dawood, Bus Robur, hingga Tugu Darussalam lebih sering dikenali sebagai bagian dari kawasan kampus daripada sebagai jejak perjalanan pendidikan Aceh. Akibatnya, Darussalam dipahami sebagai kumpulan institusi pendidikan, bukan sebagai lanskap sejarah yang merekam tradisi keilmuan Islam, pembangunan pendidikan modern, masa konflik, hingga kebangkitan pascabencana. Ketika sejarah tidak lagi terbaca melalui ruang, identitas kawasan pun perlahan memudar. Salah satu pendekatan untuk menghidupkan kembali sejarah tersebut adalah melalui heritage trail, yaitu jalur interpretasi yang menghubungkan titik-titik penting dalam suatu kawasan sehingga pengunjung dapat memahami sejarah melalui pengalaman berjalan kaki.

Konsep heritage trail telah diterapkan di berbagai negara. Boston Freedom Trail di Amerika Serikat menghubungkan 16 situs perjuangan kemerdekaan melalui jalur bata merah yang memudahkan pengunjung mengikuti narasi sejarah secara mandiri. Sementara itu, Wuchang Historic District Heritage Trail di Tiongkok memperlihatkan bagaimana bangunan, ruang publik, dan kehidupan masyarakat dapat dirangkai menjadi satu pengalaman interpretatif. Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan heritage trail tidak hanya bergantung pada keberadaan objek bersejarah, tetapi juga pada tema, narasi, dan sistem wayfinding yang mampu menghubungkan seluruh lokasi menjadi satu pengalaman yang utuh.

Pendekatan tersebut relevan diterapkan di Darussalam karena sejarah pendidikan Aceh tidak hanya tercermin pada bangunan kampus, tetapi juga pada tokoh pendidikan, ruang publik, tradisi keilmuan Islam, memori konflik, hingga sistem transportasi yang mendukung perkembangan kawasan. Tanpa narasi yang menyatukan seluruh elemen tersebut, setiap lokasi hanya akan dipahami sebagai objek yang berdiri sendiri. Berangkat dari pemahaman tersebut, Heritage Trail Kopelma Darussalam mengangkat tema The Spirit of Aceh Education. Tema ini menjadikan pendidikan sebagai benang merah yang menghubungkan tradisi keilmuan Islam, lahirnya Darussalam sebagai Kota Pelajar dan Mahasiswa, perkembangan pendidikan tinggi modern, dinamika konflik, hingga kebangkitan pascabencana. Dengan demikian, warisan yang diinterpretasikan tidak hanya berupa bangunan, tetapi juga nilai, gagasan, dan semangat pendidikan yang membentuk identitas Darussalam. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam usulan Heritage Trail Kopelma Darussalam melalui proses penyusunan kawasan, inventarisasi node heritage, dan perancangan jalur interpretasi.

Merancang Heritage Trail “The Spirit of Aceh Education”

Sebagai usulan awal, Heritage Trail Kopelma Darussalam disusun melalui beberapa tahapan. Langkah pertama adalah menetapkan deliniasi kawasan heritage sebagai batas wilayah yang memiliki keterkaitan sejarah dan nilai pendidikan. Dalam artikel ini, deliniasi mengacu pada kawasan administrasi Gampong Kopelma Darussalam sebagai titik awal pengembangan. Selanjutnya dilakukan inventarisasi node-node heritage yang memiliki nilai sejarah, pendidikan, sosial, dan memori kolektif untuk kemudian disusun ke dalam narasi interpretatif yang saling terhubung. Hasil inventarisasi pada artikel ini merupakan inventarisasi awal yang masih dapat dikembangkan melalui penambahan objek maupun pendalaman narasi sejarah pada setiap node. Tahap berikutnya adalah menyusun jalur interpretasi beserta sistem wayfinding, panel informasi, kode QR, dan peta digital agar pengunjung dapat mengikuti alur cerita secara mandiri. Pada tahap implementasi, pengembangan heritage trail memerlukan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, komunitas sejarah, dan masyarakat sehingga jalur ini dapat dikelola, dimanfaatkan sebagai media edukasi, serta terus dikembangkan secara berkelanjutan.

Peta deliniasi menunjukkan kawasan heritage yang mencakup dua belas node dalam satu jalur interpretasi. Rute sepanjang ±3–4 km ini disusun berdasarkan keterkaitan sejarah, nilai pendidikan, dan hubungan spasial sehingga membentuk narasi perjalanan pendidikan Aceh, dari lahirnya Darussalam sebagai Kota Pelajar dan Mahasiswa hingga berkembang menjadi pusat pendidikan modern. Jalur ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1,5–2 jam berjalan kaki sehingga pengunjung memiliki waktu untuk memahami setiap node secara utuh. Jalur ini juga melintasi Jalan Syekh Abdurauf As-Sinkili, yang mengabadikan nama Teungku Syiah Kuala, ulama besar Aceh abad ke-17. Koridor ini memperkuat keterkaitan ruang kawasan dengan warisan intelektual yang menjadi landasan tema The Spirit of Aceh Education.

Perjalanan dimulai dari Gerbang Kopelma Darussalam sebagai pintu masuk kawasan pendidikan Aceh, kemudian menuju Gedung Pendidikan Awal (Fakultas Ekonomi USK), fakultas pertama yang diresmikan pada pembukaan Darussalam tahun 1959, dan berlanjut ke Tugu Tsunami SD Negeri 69 Banda Aceh yang merepresentasikan ketangguhan dunia pendidikan pascabencana. Rute berikutnya menghubungkan Kampus UIN Ar-Raniry, Koridor Sejarah Bus Robur, Gedung AAC Dayan Dawood, serta kawasan Pohon dan Makam Ulama yang merepresentasikan perkembangan pendidikan Islam, memori konflik, dan tradisi keilmuan Aceh.

Perjalanan kemudian mengarah ke Lapangan dan Tugu Darussalam sebagai simbol lahirnya Kota Pelajar dan Mahasiswa, dilanjutkan ke Gedung Rektorat USK, Masjid Jami’ Darussalam, Kawasan Perumahan Dosen, dan berakhir di Dayah/STAI Teungku Chik Pante Kulu yang menegaskan kesinambungan tradisi pendidikan dayah dan pendidikan modern. Melalui rangkaian tersebut, pengunjung tidak sekadar mengunjungi bangunan bersejarah, tetapi mengikuti narasi yang memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan Islam, pendidikan tinggi, konflik, dan bencana bersama-sama membentuk identitas Darussalam sebagai pusat pendidikan Aceh.

Melalui rangkaian node tersebut, pengunjung tidak hanya mengunjungi bangunan bersejarah, tetapi mengikuti perjalanan yang memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan Islam, pendidikan tinggi, konflik, dan bencana bersama-sama membentuk identitas Darussalam sebagai pusat pendidikan Aceh. Dengan dukungan koridor pedestrian, sistem wayfinding, panel interpretasi, kode QR, dan peta digital, setiap node menjadi bagian dari satu narasi utuh The Spirit of Aceh Education. Pada akhirnya, heritage trail ini bukan sekadar menghubungkan titik-titik bersejarah di Kopelma Darussalam, melainkan menjadi media untuk membaca kembali cita-cita yang melahirkan kawasan tersebut, bahwa pendidikan adalah fondasi pembangunan, identitas, dan masa depan Aceh yang perlu terus diwariskan lintas generasi.[]

Daftar Bacaan:

Antiquities and Monuments Office. (2024). Greater Bay Area education heritage trail. Development Bureau, The Government of the Hong Kong Special Administrative Region. https://www.amo.gov.hk/en/heritage-trails/greater-bay-area-education-trail/index.html

Cullen, G. (1961). The concise townscape. Architectural Press.

Mansur, T. M., Abdullah, T., Husaini, Harun, M., Sulaiman, S., Mawarpury, M., Sulastri, Mawardi, & Subhayni. (2020). Universitas Syiah Kuala: Sejarah dan nilai. Syiah Kuala University Press.

National University of Singapore, Centre for University Core. (n.d.). Singapore trails: NUS heritage trails. Retrieved June 4, 2026, from https://cutecenter.nus.edu.sg/projects/sg-trails.html

Radzuan, I. S. M., Wee, S. T., Rohiat, M. A., Samam, N. H. M., & Boon, T. K. (2024). The potential of heritage trail mapping in Bandar Penggaram, Batu Pahat, Johor, Malaysia: An empirical investigation. Planning Malaysia, 22(1), 209–223.

Sekolah Tinggi Agama Islam Yayasan Tgk. Chik Pante Kulu. (n.d.). Sejarah STAIPK. Retrieved June 4, 2026, from https://www.staipantekulu.ac.id/sejarah-staipk

Seputar Aceh. (2017, January 16). Foto Bus Robur tempo dulu, riwayatmu kini. https://www.seputaraceh.com/foto-bus-robur-tempo-dulu-riwayatmu-kini/

Talsya, T. A. (2012, October 20). Ketika Darussalam mula jadi. https://tambeh.wordpress.com/2012/10/20/ketika-darussalam-mula-jadi/

UNESCO. (2011). Recommendation on the Historic Urban Landscape. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. https://whc.unesco.org/uploads/activities/documents/activity-638-98.pdf

Wang, Y., & Shmelova-Nesterenko, O. (2023). Design strategy of urban heritage trail. In Proceedings of the International Scientific and Practical Conference “Actual Problems of Modern Design” (pp. 711–719). Kyiv National University of Technologies and Design.

Zou, H., Zhang, G., Sun, C., Landrum, L., Tang, Y., Hu, Y., … & Li, A. (2025). Thematic cultural heritage tourism trail planning integrating multi-source data and machine learning in Wuhan China. npj Heritage Science, 13(1), 547.[]

Tags: aceharsitekturDarussalamHeritage TrailIndonesiaJejak Pusakaopinisejarah AcehUSK
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Bandar Publishing Terbitkan Buku Wakil Ketua DPRK Banda Aceh
Opini

Membangun Aceh dari Masjid

by SAGOE TV
July 2, 2026
Asrul Sidiq
Opini

Kota Kolaborasi, tetapi Belum dengan Tetangga

by SAGOE TV
June 30, 2026
Calvin Ho
Opini

Syariat, Otonomi, dan Kemiskinan: Dua Dekade yang Terbuang di Aceh

by SAGOE TV
June 30, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup
Opini

Di Balik Sekolah Unggul: Antara Ijazah, Koneksi, dan Jurang Kesempatan

by SAGOE TV
June 29, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup
Opini

Popularitas Tiyo dan Fatimah: Bongkar Salah Urus Pendidikan Indonesia

by SAGOE TV
June 28, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Asrul Sidiq

Kota Kolaborasi, tetapi Belum dengan Tetangga

June 30, 2026
Calvin Ho

Syariat, Otonomi, dan Kemiskinan: Dua Dekade yang Terbuang di Aceh

June 30, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Di Balik Sekolah Unggul: Antara Ijazah, Koneksi, dan Jurang Kesempatan

June 29, 2026
STIS Ummul Ayman Resmi Berubah Jadi IAI, Tonggak Baru Pendidikan Tinggi Islam di Aceh

STIS Ummul Ayman Resmi Berubah Jadi IAI, Tonggak Baru Pendidikan Tinggi Islam di Aceh

June 29, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Popularitas Tiyo dan Fatimah: Bongkar Salah Urus Pendidikan Indonesia

June 28, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Nipharia, Inovasi Mahasiswa USK yang Sulap Buah Nipah Jadi Minuman Kekinian

Nipharia, Inovasi Mahasiswa USK yang Sulap Buah Nipah Jadi Minuman Kekinian

July 2, 2026
Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

July 3, 2026
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026

EDITOR'S PICK

Banjir Surat Cinta dari Allah SWT

Banjir: Surat Cinta dari Allah SWT

November 29, 2025
ASN Pemerintah Aceh Diingatkan Jaga Netralitas di Pilkada 2024

ASN Pemerintah Aceh Diingatkan Jaga Netralitas di Pilkada 2024

November 21, 2024
Aceh Kemiskinan Mental

Aceh Kemiskinan Mental

June 28, 2022
KIP Banda Aceh Tetapkan Illiza dan Afdhal Paslon Terpilih

KIP Banda Aceh Tetapkan Illiza dan Afdhal Paslon Terpilih

January 9, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.