• Tentang Kami
Tuesday, September 15, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Diskursus Kerusakan Lingkungan Berkelanjutan

Sulaiman Tripa by Sulaiman Tripa
March 24, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Diskursus Kerusakan Lingkungan Berkelanjutan
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Sulaiman Tripa.
Dosen FH Unsyiah, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.

Kerusakan lingkungan yang kita rasakan selama ini, terjadi lewat serangkaian perilaku. Tidak terjadi dengan sendirinya. Ada sesuatu yang dilakukan dan tidak sesuai dengan peruntukan suatu makhluk. Ketika hal ini dilawan atau diperlakukan secara semena-mena, maka implikasinya adalah bagi manusia itu sendiri. Semua yang dilakukan dengan serampangan, baik secara legal atau tidak, semua akan berdampak bagi kehidupan manusia.

Apalagi, secara berturut-turut sudah saya tuliskan bahwa kerusakan itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari pertambahan penduduk yang berlangsung demikian tinggi akhir-akhir ini. Namun demikian, bukan berarti dengan pertambahan penduduk yang cepat tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan manusia. Pertambahan penduduk, idealnya tidak bisa menjadi alasan bagi bolehnya perilaku semena-mena manusia terhadap alam.

BACA JUGA

Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara? Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Dalam al-Quran, Allah jelas menyebutkan bahwa segala kerusakan di bumi disebabkan oleh tangan-tangan jahil manusia.

Sekarang ini seperti mendapat momentum untuk merenungi kembali ayat tersebut. Terutama ketika kita melihat kerusakan parah terjadi di berbagai daerah tambang. Tak terkecuali di Aceh.

Penolakan tambang oleh masyarakat dilakukan di banyak tempat. Masyarakat semakin sadar, bahwa antara pendapatan dari sektor tambang dengan biaya rehabilitasi dari kerusakan fisik yang ditimbulkan, sangatlah tidak sebanding. Belum lagi kerusakan sosial-budaya.

Dalam Pasal 156 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, disebutkan bahwa pengelolaan pertambangan merupakan salah satu kewenangan Aceh dan kabupaten kota. Pasal ini sesungguhnya menekankan konsep yang tidak kalah penting, yakni pengelolaan pertambangan harus dilaksanakan dengan prinsip berkelanjutan.

Dari pasal tersebut, jelas memperlihatkan bahwa antara eksploitasi dan penekanan berkelanjutan sama-sama mendapat penekanan. Secara logika, sesungguhnya pertambangan bisa dilakukan dengan hati-hati, terutama pada sumber tambang yang bisa dijadikan sebagai sumber energi.

Namun demikian pada kenyataannya, hampir tidak ada daerah yang berhasil melakukannya dengan penuh kehati-hatian. Sebaliknya, justru daerah tambang umumnya bermasalah, dengan kerusakan lingkungan yang luar biasa.

Dalam kenyataan, nafsu manusia untuk melakukan eksploitasi jauh lebih hebat ketimbang kemampuan manusia untuk mengontrol keseimbangannya.

Kerusakan lingkungan semakin tidak terkontrol ketika wewenang pengelolaan ada di semua level. Pada era otonomi daerah, kerusakan lingkungan terjadi dimana-mana. Kewenangan pengelolaan sumberdaya banyak yang sudah beralih ke daerah.

Kerusakan alam akibat eksploitasi yang semakin mudah, adalah sisi negatif dari kewenangan yang menyebar. Hal tersebut logis terjadi mengingat dengan otonomi, anggaran pembangunan sebagian besar juga harus ditentukan oleh pendapatan daerah sendiri. Atas dasar kepentingan tersebut, banyak daerah yang menggadai daerahnya dengan harga murah, dengan harapan mempertinggi pendapatan.

Corak seperti ini, bisa disebut sebagai teknokratis, dimana alam dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan. Satu dekade yang lalu, pakar lingkungan Indonesia Soemarwoto menyebutkan manusia mulai cenderung memilih pandangan antroposentrisme dimana lingkungan menempatkan kepentingan manusia di pusatnya. Pandangan tersebut menolak nilai intrinsik alam yang menyebabkan lahirnya sikap dan perilaku eksploitasi dari manusia.

Dalam berbagai level kebijakan, corak seperti ini yang paling terasa. Corak yang memandang bahwa dengan alam, kita hanya memiliki satu pilihan: mengeksploitasinya untuk menghasilkan uang. Kondisi ini menimbulkan kegelisahan, mungkinkah kita tidak bisa menjaga keberlanjutan lingkungan? Apakah kita hanya punya pilihan untuk kerusakan lingkungan yang berkelanjutan?

Setiap waktu kita diingatkan bahwa setiap kebijakan lingkungan harus selalu dilihat melalui kacamata ekologi terdalam, sebagaimana Capra mengingatkan kita sejak setengah abad yang lalu. Seyogianya kebijakan harus memperhatikan bahwa dalam kehidupan, semua entitas kehidupan saling terkait, mulai dari organisme, sistem sosial, dan lingkungan. Semua terhubung menjadi satu sebagai satu kesatuan kehidupan.

Oleh sebagian pihak menganggap bahwa konsep tersebut tercermin dari Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 (UUD sebelum amandemen). Dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 disebutkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Konsep setelah amandemen, memungkinkan pola pengelolaan sumberdaya semakin terbuka.

Pada kenyataannya, terjadi paradoksal antara kepentingan desentralisasi dengan pencapaian kesejahteraan. Aspek hukum desentralisasi jelas memperlihatkan bahwa tujuan akhir adalah kesejahteraan. Namun realitasnya, pemahaman terhadap kesejahteraan semakin membingungkan. Seolah-olah kesejahteraan dari tujuan akhir desentralisasi selalu dimaksudkan dengan materil.

Aras tambang menjadi salah satu contoh bagaimana bingungnya kita memahami konsep kesejahteraan dari kebijakan. Kesejahteraan selalu dikaitkan dengan angka-angka.

Perkembangan kekinian harus menjadi cambuk bagi kita semua untuk mengingatkan pengambil kebijakan bahwa kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan angka-angka dan ekonomi semata. Sumber pendapatan dari tambang harus selalu diukur dengan kerusakan ekologis dan sosial-budaya.

Dalam melihat lingkungan ada tiga hal yang harus selalu dilihat, yakni ekologis, ekonomi, dan sosial-budaya. Namun ketika berhadapan dengan kepentingan praktis dari pengambil kebijakan, target ekonomi yang selalu mengedepan. Jarang sekali memperhitungkan relasi antara ketiganya.

Bayangkan bila ada kabupaten yang bangga dengan pendapatan yang kurang dari satu miliar dalam beberapa tahun, sedangkan untuk merehabilitasi implikasi bencana menghabiskan anggaran hampir setengah triliun. Ini corak bagaimana ekonomi yang secuil seolah lebih penting ketimbang menyelamatkan kepentingan yang lebih besar.

Sesungguhnya secara sederhana, proses pengukuran kerusakan bisa dilakukan dengan mengoperasionalkan pola-pola kearifan. Pola ini terdapat di hampir semua tempat. Bahkan ia menjadi kenyataan yang tidak terhindarkan.

Dalam masyarakat terdapat berbagai kekayaan tradisional, kearifan lokal, dan pengetahuan lokal yang mengatur proses pengelolaan sumberdaya dan ekosistemnya, termasuk yang berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya. Melalui jendela kearifan, kita menjadi semakin sensitif memilah bahwa perusakan lingkungan hidup akan menjadi beban sosial, yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah harus menanggung biaya pemulihannya.

Masalahnya adalah operasional kearifan selalu kalah gengsi dengan kewenangan eksploitasi yang melahirkan iming-iming materi.

Dalam konsep keadilan lingkungan, peran hukum adalah mewujudkan ide keadilan ke dalam bentuk konkret agar dapat memberikan manfaat bagi hubungan antar manusia.

Ketika berhadapan dengan kekuatan politik yang lebih lebar, timbul banyak pertanyaan kemana hukum. Karena hukum memang menjadi alat bagi berbagai kepentingan.

Dalam dunia idealitas, hukum menjadi salah satu kekuatan penjaga keberlanjutan lingkungan. Dalam dunia realitas, hukum seringkali diputarbalikkan untuk kepentingan lain, yang bisa kita sebut dengan keberlanjutan kerusakan lingkungan.

Dengan keberadaan pemerintah, kita berharap bahwa tambang akan ditata. Bahwa keberlanjutan lingkungan adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena lingkungan bukan hanya milik kita, tapi mereka yang akan lahir setelah kita. Jangan sampai apa yang menjadi hak generasi mendatang, justru diberikan izinnya secara legal oleh kita manusia yang sedang hidup dan berleha-leha sekarang ini.

 

Tags: diskursuskerusakan lingkungan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa adalah analis sosial legal dan kebudayaan. Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

Related Posts

Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali
Artikel

Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara? Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

by SAGOE TV
September 10, 2026
Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

September 11, 2026
Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

September 11, 2026
Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara? Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

September 10, 2026
Mahasiswa PKK USK Belajar Pendidikan Kuliner dan Pariwisata dari Akademisi Malaysia

Mahasiswa PKK USK Belajar Pendidikan Kuliner dan Pariwisata dari Akademisi Malaysia

September 12, 2026
Prof Teuku Zulfikar Jadi Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Ini Fokus yang Akan Diperkuat

Prof Teuku Zulfikar Jadi Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Ini Fokus yang Akan Diperkuat

September 12, 2026
Mahasiswa USK Soroti Pemulihan Pascabencana Aceh, Plt Sekda Buka Ruang Dialog

Mahasiswa USK Soroti Pemulihan Pascabencana Aceh, Plt Sekda Buka Ruang Dialog

September 11, 2026
Mujiburrahman Terpilih Jadi Ketua ICMI Aceh, Unggul 13 Suara dalam Muswil VIII

Mujiburrahman Terpilih Jadi Ketua ICMI Aceh, Unggul 13 Suara dalam Muswil VIII

September 12, 2026
Jejak Syekh Yusuf al-Makassari di Aceh dan Jaringan Samudra Hindia Dibahas UIN Ar-Raniry

Jejak Syekh Yusuf al-Makassari di Aceh dan Jaringan Samudra Hindia Dibahas UIN Ar-Raniry

September 14, 2026
Dua Kampus Besar Aceh Kembali Perkuat Kerja Sama untuk Majukan Pendidikan

Dua Kampus Besar Aceh Kembali Perkuat Kerja Sama untuk Majukan Pendidikan

September 11, 2026

EDITOR'S PICK

Sayembara Tangkap Maling di Aceh Utara

Sayembara Tangkap Maling di Aceh Utara, Hadiah hingga Rp1 Juta

March 15, 2025
Timnas Indonesia Lolos Piala Asia U-20 2025, Ketum PSSI Beri Apresiasi

Timnas Indonesia Lolos Piala Asia U-20 2025, Ketum PSSI Beri Apresiasi

September 30, 2024
Satgas PRR Usulkan Bantuan Huntap Naik Jadi Rp80 Juta, Siapkan Dua Skema Pendanaan Baru

Satgas PRR Usulkan Bantuan Huntap Naik Jadi Rp80 Juta, Siapkan Dua Skema Pendanaan Baru

July 3, 2026
Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh

Belajar dari Inisiatif Mandiri Seni–Budaya dalam Konteks Bencana di Sumatra

January 27, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.