BANDA ACEH | SAGOE TV – Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi setiap Sabtu sore di Arena Skate Lamprit. Yang datang membawa alat musik belum tentu pulang dengan lagu yang sama. Yang semula hanya ingin menonton bisa saja terlibat dalam percakapan panjang. Bahkan, seseorang yang datang sendirian kerap pulang dengan rencana kolaborasi yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.
Itulah semangat yang kembali ingin dihidupkan SPS Revival pada Sabtu, 1 Agustus 2026, melalui tema “Meutaloe: Menautkan Karya, Menjalin Manusia.”
Dalam bahasa Aceh, meutaloe berarti saling menaut, saling menghubungkan. Bagi SPS Revival, makna itu melampaui sebuah tema mingguan. Ia menjadi cara memandang kebudayaan itu sendiri: setiap karya lahir dari perjumpaan, setiap perjumpaan membangun kepercayaan, dan setiap kepercayaan membuka kemungkinan bagi lahirnya karya-karya berikutnya.
Karena itu, SPS Revival tidak pernah membayangkan dirinya sekadar panggung pertunjukan. Panggung hanyalah alasan awal untuk berkumpul. Yang ingin dirawat adalah ruang di belakangnya: ruang ketika orang saling mengenal, saling mendengar, saling mencoba, lalu menemukan kemungkinan bekerja bersama tanpa harus menunggu undangan atau proyek berikutnya.
Semangat Meutaloe mulai terasa bahkan sebelum acara berlangsung. Percakapan di antara para peserta berkembang dengan sendirinya. Ada yang mengusulkan rapa’i dimainkan dengan pendekatan baru. Ada yang menawarkan gurindam Melayu untuk dipertemukan dengan musisi muda. Rap Aceh, beatbox, monolog, puisi, musik akustik, hingga komunitas skate hadir dalam percakapan yang sama. Tidak ada upaya menyeragamkan semuanya. Sebaliknya, setiap bunyi diberi kesempatan menemukan bunyi lain untuk diajak berdialog.
Sabtu nanti, pengunjung juga akan mendengar kisah tentang rapa’i dari seorang utoh muda asal Aceh Utara. Di ruang yang sama, komunitas Beatbox Aceh dijadwalkan kembali melanjutkan eksplorasi mereka. Musisi independen, penyair, pegiat monolog, pelaku ekonomi kreatif, komunitas skate, hingga para penikmat seni dipertemukan tanpa sekat. Di SPS Revival, pemain rapa’i dapat duduk berdampingan dengan beatboxer, penyair berbagi ruang dengan rapper, dan seorang skater mungkin menjadi orang pertama yang mengapresiasi sebuah monolog. Pemandangan seperti inilah yang ingin terus dipelihara.
Pertemuan lintas disiplin itu bukan sesuatu yang dirancang secara kaku. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa kebudayaan tidak berkembang karena setiap orang menjadi sama, melainkan karena setiap orang bersedia saling mendengar. Tradisi tidak kehilangan martabat ketika bertemu bentuk-bentuk baru. Sebaliknya, tradisi memperoleh kesempatan memperluas gema kehidupannya.
Dalam beberapa pekan terakhir, SPS Revival mulai memperlihatkan benih-benih itu. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal mulai kembali datang setiap Sabtu. Percakapan berlanjut di luar jadwal acara. Gagasan-gagasan kecil mulai berubah menjadi rencana bersama. Hubungan semacam inilah yang sering luput dari dokumentasi, tetapi justru menjadi fondasi bagi lahirnya ekosistem kreatif yang sehat.
Atas dasar itulah SPS Revival memandang keberhasilan sebuah ruang kreatif tidak berhenti pada ramainya penonton atau panjangnya daftar penampil. Yang jauh lebih penting adalah apakah sesudah acara selesai masih ada alasan bagi orang untuk kembali bertemu, melanjutkan percakapan, saling menguatkan, dan menciptakan sesuatu yang baru.
Perhatian publik yang mulai mengarah kepada SPS Revival dalam beberapa waktu terakhir tentu menjadi penyemangat. Namun perhatian itu bukan tujuan akhir. Yang ingin dijaga adalah agar ruang ini tetap terbuka, setara, dan dapat dimiliki siapa saja. Tidak ada panggung yang lebih tinggi daripada yang lain. Tidak ada bunyi yang lebih penting daripada bunyi yang lain. Setiap orang datang bukan hanya untuk menunjukkan apa yang dimiliki, tetapi juga untuk menemukan apa yang belum pernah ditemuinya.
Melalui tema “Meutaloe: Menautkan Karya, Menjalin Manusia,” SPS Revival mengundang siapa pun untuk hadir. Membawa karya akan menjadi kegembiraan. Membawa alat musik akan memperkaya suasana. Datang dengan rasa ingin tahu pun sudah lebih dari cukup. Sebab setiap perjumpaan selalu menyimpan kemungkinan yang tidak dapat direncanakan sebelumnya.
Mungkin tidak semua orang akan tampil di atas panggung pada Sabtu nanti. Namun setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada sebuah pertunjukan: ruang yang membuat orang ingin kembali, bukan karena acaranya semata, melainkan karena manusia-manusia yang ditemuinya di sana.
Informasi Kegiatan
SPS Revival
Tema: Meutaloe: Menautkan Karya, Menjalin Manusia
Hari/Tanggal: Sabtu, 1 Agustus 2026
Waktu: 16.30 WIB – selesai
Tempat: Arena Skate Lamprit, Banda Aceh
Terbuka untuk umum. Membawa karya dipersilakan. Datang untuk berjumpa jauh lebih diharapkan.




















