• Tentang Kami
Friday, August 14, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Ketika Anak Naik Kelas, tetapi Kemampuannya Tidak

Refleksi atas masih ditemukannya siswa sekolah dasar yang belum lancar membaca

SAGOE TV by SAGOE TV
August 14, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ketika Anak Naik Kelas, tetapi Kemampuannya Tidak: Refleksi atas masih ditemukannya siswa sekolah dasar yang belum lancar membaca

Ilustrasi Ketika Anak Naik Kelas, tetapi Kemampuannya Tidak. (AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Fajri, S.Pd.I, M.Ag, Gr
Guru & Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Kenaikan kelas seharusnya menjadi penanda bahwa seorang siswa mengalami pertumbuhan kemampuan. Setiap tahun ajaran baru, siswa berpindah dari satu kelas ke kelas berikutnya dan dari satu jejang ke jenjang berikutnya dengan harapan pengetahuan, keterampilan, dan karakternya ikut berkembang. Namun, bagaimana jika yang naik hanya kelasnya, sementara kemampuan dasarnya tertinggal?

Pertanyaan itu mengemuka setelah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Singkil mengungkapkan bahwa masih terdapat siswa kelas IV bahkan kelas V sekolah dasar yang belum lancar membaca. Yang patut diapresiasi, pengakuan tersebut tidak berhenti pada pernyataan di media. Kepala dinas turun langsung ke sekolah, memetakan persoalan, dan menyiapkan pembinaan bagi siswa yang mengalami kesulitan. Kejujuran seperti ini penting, karena perbaikan selalu diawali dengan keberanian mengakui adanya masalah.

BACA JUGA

Setelah 21 Tahun Damai, Aceh Mau Mewariskan Apa?

Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

Namun sesungguhnya, persoalan ini bukan hanya tentang kemampuan membaca seorang anak. Persoalan yang lebih mendasar adalah mengapa seorang anak bisa terus naik kelas tanpa terlebih dahulu menguasai kemampuan yang menjadi fondasi seluruh proses belajar.

Sebagai guru di jenjang SMP, saya beberapa kali menemukan kenyataan yang membuat hati terusik. Ada siswa kelas VII yang ketika diminta menulis di buku latihan, bentuk hurufnya masih menyerupai tulisan anak yang baru belajar menulis di kelas I sekolah dasar. Ukuran huruf tidak beraturan, garis tulisan belum stabil, bahkan cara memegang alat tulis masih tampak kaku. Sebagian dari mereka juga masih mengalami kesulitan membaca teks sederhana dengan lancar.

Kondisi tersebut tentu tidak muncul dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Maka dari itu, ketika seorang siswa tiba di bangku SMP dengan kemampuan membaca dan menulis yang masih sangat dasar, pertanyaannya bukan lagi apakah anak tersebut rajin belajar atau tidak. Pertanyaannya adalah, di mana sistem pendidikan Ketika siswa itu masih berada di kelas I, kelas II, atau kelas III?

Kemampuan membaca merupakan pintu masuk seluruh pembelajaran. Anak yang belum mampu membaca dengan baik akan kesulitan memahami soal matematika, teks IPA, bacaan IPS, bahkan materi pendidikan agama. Ketika fondasi ini rapuh, maka seluruh bangunan pembelajaran ikut kehilangan kekuatannya.

Dalam The Fifth Discipline (1990), Peter Senge memperkenalkan konsep learning organization, yaitu organisasi yang mampu belajar dari data, mengenali persoalan sejak dini, lalu memperbaiki sistemnya secara berkelanjutan. Organisasi yang sehat tidak menunggu masalah menjadi besar. Ia memiliki mekanisme untuk menemukan persoalan sebelum berubah menjadi krisis.

Semestinya sekolah juga demikian. Sekolah yang dikelola dengan benar tidak menunggu seorang siswa duduk di kelas IV untuk mengetahui bahwa ia belum lancar membaca. Sekolah telah memiliki pemetaan kemampuan membaca sejak kelas I, melakukan pendampingan bagi siswa yang tertinggal, melibatkan orang tua, dan mengevaluasi perkembangan anak secara berkala.

Dalam dunia industri, produk yang tidak memenuhi standar mutu akan segera terdeteksi sebelum dipasarkan. Pendidikan seharusnya memiliki prinsip yang sama. Setiap kelas mestinya menjadi titik kendali mutu yang memastikan seluruh siswa telah menguasai kompetensi dasar sebelum melangkah ke kelas berikutnya. Ketika seorang anak baru diketahui belum mampu membaca setelah berada di kelas IV atau bahkan SMP, persoalannya bukan sekadar keterlambatan belajar, tetapi lemahnya mekanisme pengendalian mutu dalam ekosistem pendidikan itu sendiri.

Kasus di Aceh Singkil hendaknya tidak dipandang sebagai persoalan satu daerah. Ia adalah cermin yang mengajak seluruh kabupaten dan kota melakukan refleksi yang sama. Berapa banyak siswa di sekolah-sekolah kita yang sebenarnya masih mengalami kesulitan membaca? Apakah kita memiliki data yang akurat? Apakah intervensi telah dilakukan sejak dini? Ataukah kita baru menyadari persoalan itu ketika anak telah berada di jenjang yang lebih tinggi?

Hasil PISA 2022 yang masih menunjukkan kemampuan literasi membaca peserta didik Indonesia berada di bawah rata-rata OECD seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan literasi dasar belum selesai. Berbagai asesmen nasional, termasuk Tes Kemampuan Akademik (TKA), juga akan kehilangan maknanya apabila fondasi membaca dan menulis tidak dibangun secara kuat sejak kelas awal. Tes dapat mengukur kemampuan, tetapi tidak dapat menggantikan proses panjang membangun kemampuan itu sendiri.

Kenaikan kelas memang penting untuk menjaga keberlanjutan pendidikan siswa. Namun kenaikan kelas tidak boleh berubah menjadi sekadar perpindahan administratif. Ia harus menjadi cermin bahwa anak benar-benar bertumbuh.

Sebab pendidikan bukan sekadar memastikan anak berpindah dari kelas I ke kelas II, lalu ke kelas III, hingga akhirnya lulus. Pendidikan adalah memastikan bahwa pada setiap jenjang itu, kemampuan anak ikut bertambah.

Jika yang naik setiap tahun hanya kelasnya, sementara kemampuannya tertinggal, maka yang perlu kita evaluasi bukan semata-mata anak. Yang harus terlebih dahulu bercermin adalah sistem pendidikan itu sendiri dan ekosistem yang dibangun didalamnya.

Tags: AcehAnakAnak SekolahKelasMembacapendidikanRefleksiSDSekolahSiswaSMP
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Ari J. Palawi
Opini

Setelah 21 Tahun Damai, Aceh Mau Mewariskan Apa?

by SAGOE TV
August 13, 2026
Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan_Risnawati Ridwan
Opini

Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

by SAGOE TV
August 3, 2026
Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi
Opini

Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

by SAGOE TV
August 1, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh
Opini

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

by SAGOE TV
July 29, 2026
Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.
Opini

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

by SAGOE TV
July 30, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Cek Kesehatan Gratis Andalan Menjaga Raga

Cek Kesehatan Gratis Andalan Menjaga Raga

August 14, 2026
Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

August 7, 2026
Ari J. Palawi

Setelah 21 Tahun Damai, Aceh Mau Mewariskan Apa?

August 13, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Calvin Ho

Paradoks Aceh: Mengapa Kekayaan Alam Tidak Menjadi Kemakmuran?

August 7, 2026
Prodi Ekonomi Syariah UIA Jalani Asesmen LAMEMBA, Dorong Peningkatan Mutu Dosen dan Lulusan

Prodi Ekonomi Syariah UIA Jalani Asesmen LAMEMBA, Dorong Peningkatan Mutu Dosen dan Lulusan

August 11, 2026
Pengangguran di Aceh Capai 157 Ribu Orang

Pengangguran di Aceh Capai 157 Ribu Orang

August 8, 2026
Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

August 6, 2026
Kemiskinan di Aceh Naik Jadi 12,34 Persen, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 10.400 Orang

Kemiskinan di Aceh Naik Jadi 12,34 Persen, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 10.400 Orang

August 6, 2026

EDITOR'S PICK

Mahasiswa UIA Ambil Bagian di World Cleanup Day 2025 Bireuen, Aksi Bersih Pantai Kuala Raja

Mahasiswa UIA Ambil Bagian di World Cleanup Day 2025 Bireuen, Aksi Bersih Pantai Kuala Raja

September 22, 2025
USK Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Ini Sosoknya

USK Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Ini Sosoknya

October 30, 2024
UIN Ar-Raniry Galakkan Budaya Menghafal Al-Qur'an di Kalangan Mahasiswa

UIN Ar-Raniry Galakkan Budaya Menghafal Al-Qur’an di Kalangan Mahasiswa

June 10, 2026
Gubernur Muzakir Manaf Tiba di Banda Aceh, Langsung Bekerja hingga Larut Malam

Gubernur Muzakir Manaf Tiba di Banda Aceh, Langsung Bekerja hingga Larut Malam

May 16, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.