• Tentang Kami
Sunday, October 4, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Ketika Anak Naik Kelas, tetapi Kemampuannya Tidak

Refleksi atas masih ditemukannya siswa sekolah dasar yang belum lancar membaca

SAGOE TV by SAGOE TV
August 14, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ketika Anak Naik Kelas, tetapi Kemampuannya Tidak: Refleksi atas masih ditemukannya siswa sekolah dasar yang belum lancar membaca

Ilustrasi Ketika Anak Naik Kelas, tetapi Kemampuannya Tidak. (AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Fajri, S.Pd.I, M.Ag, Gr
Guru & Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Kenaikan kelas seharusnya menjadi penanda bahwa seorang siswa mengalami pertumbuhan kemampuan. Setiap tahun ajaran baru, siswa berpindah dari satu kelas ke kelas berikutnya dan dari satu jejang ke jenjang berikutnya dengan harapan pengetahuan, keterampilan, dan karakternya ikut berkembang. Namun, bagaimana jika yang naik hanya kelasnya, sementara kemampuan dasarnya tertinggal?

Pertanyaan itu mengemuka setelah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Singkil mengungkapkan bahwa masih terdapat siswa kelas IV bahkan kelas V sekolah dasar yang belum lancar membaca. Yang patut diapresiasi, pengakuan tersebut tidak berhenti pada pernyataan di media. Kepala dinas turun langsung ke sekolah, memetakan persoalan, dan menyiapkan pembinaan bagi siswa yang mengalami kesulitan. Kejujuran seperti ini penting, karena perbaikan selalu diawali dengan keberanian mengakui adanya masalah.

BACA JUGA

Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit

Hari Pancasila dan Harapan Rakyat

Namun sesungguhnya, persoalan ini bukan hanya tentang kemampuan membaca seorang anak. Persoalan yang lebih mendasar adalah mengapa seorang anak bisa terus naik kelas tanpa terlebih dahulu menguasai kemampuan yang menjadi fondasi seluruh proses belajar.

Sebagai guru di jenjang SMP, saya beberapa kali menemukan kenyataan yang membuat hati terusik. Ada siswa kelas VII yang ketika diminta menulis di buku latihan, bentuk hurufnya masih menyerupai tulisan anak yang baru belajar menulis di kelas I sekolah dasar. Ukuran huruf tidak beraturan, garis tulisan belum stabil, bahkan cara memegang alat tulis masih tampak kaku. Sebagian dari mereka juga masih mengalami kesulitan membaca teks sederhana dengan lancar.

Kondisi tersebut tentu tidak muncul dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Maka dari itu, ketika seorang siswa tiba di bangku SMP dengan kemampuan membaca dan menulis yang masih sangat dasar, pertanyaannya bukan lagi apakah anak tersebut rajin belajar atau tidak. Pertanyaannya adalah, di mana sistem pendidikan Ketika siswa itu masih berada di kelas I, kelas II, atau kelas III?

Kemampuan membaca merupakan pintu masuk seluruh pembelajaran. Anak yang belum mampu membaca dengan baik akan kesulitan memahami soal matematika, teks IPA, bacaan IPS, bahkan materi pendidikan agama. Ketika fondasi ini rapuh, maka seluruh bangunan pembelajaran ikut kehilangan kekuatannya.

Dalam The Fifth Discipline (1990), Peter Senge memperkenalkan konsep learning organization, yaitu organisasi yang mampu belajar dari data, mengenali persoalan sejak dini, lalu memperbaiki sistemnya secara berkelanjutan. Organisasi yang sehat tidak menunggu masalah menjadi besar. Ia memiliki mekanisme untuk menemukan persoalan sebelum berubah menjadi krisis.

Semestinya sekolah juga demikian. Sekolah yang dikelola dengan benar tidak menunggu seorang siswa duduk di kelas IV untuk mengetahui bahwa ia belum lancar membaca. Sekolah telah memiliki pemetaan kemampuan membaca sejak kelas I, melakukan pendampingan bagi siswa yang tertinggal, melibatkan orang tua, dan mengevaluasi perkembangan anak secara berkala.

Dalam dunia industri, produk yang tidak memenuhi standar mutu akan segera terdeteksi sebelum dipasarkan. Pendidikan seharusnya memiliki prinsip yang sama. Setiap kelas mestinya menjadi titik kendali mutu yang memastikan seluruh siswa telah menguasai kompetensi dasar sebelum melangkah ke kelas berikutnya. Ketika seorang anak baru diketahui belum mampu membaca setelah berada di kelas IV atau bahkan SMP, persoalannya bukan sekadar keterlambatan belajar, tetapi lemahnya mekanisme pengendalian mutu dalam ekosistem pendidikan itu sendiri.

Kasus di Aceh Singkil hendaknya tidak dipandang sebagai persoalan satu daerah. Ia adalah cermin yang mengajak seluruh kabupaten dan kota melakukan refleksi yang sama. Berapa banyak siswa di sekolah-sekolah kita yang sebenarnya masih mengalami kesulitan membaca? Apakah kita memiliki data yang akurat? Apakah intervensi telah dilakukan sejak dini? Ataukah kita baru menyadari persoalan itu ketika anak telah berada di jenjang yang lebih tinggi?

Hasil PISA 2022 yang masih menunjukkan kemampuan literasi membaca peserta didik Indonesia berada di bawah rata-rata OECD seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan literasi dasar belum selesai. Berbagai asesmen nasional, termasuk Tes Kemampuan Akademik (TKA), juga akan kehilangan maknanya apabila fondasi membaca dan menulis tidak dibangun secara kuat sejak kelas awal. Tes dapat mengukur kemampuan, tetapi tidak dapat menggantikan proses panjang membangun kemampuan itu sendiri.

Kenaikan kelas memang penting untuk menjaga keberlanjutan pendidikan siswa. Namun kenaikan kelas tidak boleh berubah menjadi sekadar perpindahan administratif. Ia harus menjadi cermin bahwa anak benar-benar bertumbuh.

Sebab pendidikan bukan sekadar memastikan anak berpindah dari kelas I ke kelas II, lalu ke kelas III, hingga akhirnya lulus. Pendidikan adalah memastikan bahwa pada setiap jenjang itu, kemampuan anak ikut bertambah.

Jika yang naik setiap tahun hanya kelasnya, sementara kemampuannya tertinggal, maka yang perlu kita evaluasi bukan semata-mata anak. Yang harus terlebih dahulu bercermin adalah sistem pendidikan itu sendiri dan ekosistem yang dibangun didalamnya.

Tags: AcehAnakAnak SekolahKelasMembacapendidikanRefleksiSDSekolahSiswaSMP
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit
Opini

Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit

by SAGOE TV
October 4, 2026
Hari Pancasila dan Harapan Rakyat
Opini

Hari Pancasila dan Harapan Rakyat

by SAGOE TV
October 1, 2026
Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan Langkah Berikutnya bagi MACS di USK
Opini

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan: Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

by SAGOE TV
September 30, 2026
Dari Percakapan ke Meja Ngopi Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK
Opini

Dari Percakapan ke Meja Ngopi: Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK

by SAGOE TV
September 25, 2026
Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari
Opini

Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

by SAGOE TV
September 15, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan: Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

September 30, 2026
609 Peserta di Aceh Ikuti Ujian TUNAS 2026 di USK Selama Tiga Hari

609 Peserta di Aceh Ikuti Ujian TUNAS 2026 di USK Selama Tiga Hari

September 28, 2026
Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda

Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda

September 28, 2026
Warga Soroti Rencana Pembebasan Lahan Jalan Syarif Thayeb-Seulanga Banda Aceh

Warga Soroti Rencana Pembebasan Lahan Jalan Syarif Thayeb-Seulanga Banda Aceh

October 2, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Siti Murtiningsih, Istri Wamen Nezar Patria Dikukuhkan Jadi Guru Besar Filsafat Pendidikan UGM

Siti Murtiningsih, Istri Wamen Nezar Patria Dikukuhkan Jadi Guru Besar Filsafat Pendidikan UGM

February 24, 2025
Dari Percakapan ke Meja Ngopi Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK

Dari Percakapan ke Meja Ngopi: Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK

September 25, 2026
Timnas Indonesia Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Gilas Bangladesh 9-2

Timnas Indonesia Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Gilas Bangladesh 9-2

October 1, 2026
150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

September 23, 2026

EDITOR'S PICK

Wagub Aceh Fadhlullah Takziah ke Guru Senior Dayah Jeumala Amal di Pidie Jaya

Wagub Aceh Fadhlullah Takziah ke Guru Senior Dayah Jeumala Amal di Pidie Jaya

July 26, 2025
Menuju Haji 2026, Wagub Fadhlullah Buka Diklat PPIH Kloter Embarkasi Aceh

Menuju Haji 2026, Wagub Fadhlullah Buka Diklat PPIH Kloter Embarkasi Aceh

February 6, 2026
Wagub Fadhlullah Keteguhan Komitmen Jadi Kunci Bertahannya Perdamaian Aceh

Wagub Fadhlullah: Keteguhan Komitmen Jadi Kunci Bertahannya Perdamaian Aceh

October 8, 2025
Sekda Aceh untuk Paskibraka 2026 Tugas Selesai, Semangat Pengabdian Baru Dimulai

Sekda Aceh untuk Paskibraka 2026: Tugas Selesai, Semangat Pengabdian Baru Dimulai

August 18, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.