Oleh: Azril Ihksan
Tim Kesekretariatan SPS Revival
Pertunjukan dari Para Tamu di Vol. 17 berlangsung tanpa batasan panggung, formal yang megah. Pertunjukan dilakukan langsung di atas lantai semen area skatepark. Suasana ini mencerminkan hakikat dari bijèh (benih) yang tumbuh secara alami dan dekat dengan tanah akar rumput.
Berkata Diva Nabila:
“Benih yang Tumbuh dari Akar Rumput. Di bawah pepohonan yang rindang, Ka’ Ibut, Ka’ Anyi, dan Ka’ Ami tampil membawakan alunan lagu diiringi petikan gitar serta gesekan biola.”
Diva Nabila menatap lekat pertunjukan itu. Dalam kesederhanaan yang merakyat, hadir getaran rasa yang mengalir pelan, meruntuhkan sekat antara pejalan lagu dan pendengar.
Rasa dan Perjumpaan Baru
Berkata Mawar Labiba:
“Banyak hal yang bisa dipelajari dari melihat pertunjukan, bertemu dengan orang-orang baru, dan mencoba pengalaman yang berbeda.”
Setiap nada yang dipetik dan digesek di atas semen dingin itu membawa jiwa-jiwa yang hadir berkelana jauh. Perjumpaan sore itu menjadi ruang pencarian makna bagi setiap kepala di sana.
Mawar Labiba meresapi setiap denyut interaksi tersebut sebuah kelana rasa yang menyadarkan bahwa pembelajaran paling berharga sering kali tumbuh dari ruang-ruang dinamis dan sederhana
Pelukan Hangat di Tepi Arena
Berkata Alya Dayana:
“Kehadiran penonton yang duduk berkumpul di pinggir arena menciptakan kehangatan dan penuh rasa kebersamaan.”
kerinduan akan ruang yang jujur dan menyatu akhirnya menemukan tempatnya di arena ini. Tidak ada jarak, tidak ada batas panggung yang memisahkan jiwa-jiwa yang haus akan hangatnya rasa kebersamaan.
Alya Dayana merasakan rythm itu secara langsung. Sebuah lingkaran manusia yang saling bertaut rasa, lebur dalam alunan nada yang mengalun lembut mengikis lelah.
Merawat Benih Masa Depan
Oleh karena itu, kemarin, SPS Inclusive Stage Volume 17 “Bijèh” bukan hanya ajakan untuk datang menyaksikan, tetapi juga kesempatan untuk mengenal, mencoba, dan menjadi bagian dari perjalanan kreatif bersama.
Sebuah bijèh telah ditanam dengan penuh cinta di tanah Banda Aceh. Ia tidak berhenti sebagai kenangan sore itu, melainkan akan terus berakar kuat dalam ingatan dan berbuah manis menjadi gerakan di masa depan.
“Sebagai Tim SPS, Kami Berharap: Pertemuan SPS berikutnya akan menjadi kerinduan yang dipuji, dinanti dan didatangi.”
Keterangan Pendukung:
¹ Mawar Labiba, Diva Nabila & Alya Dayana adalah Mahasiswi Sendratasik USK, yang merefleksikan hasil pengamatan mereka pada bentuk teks reflektif.




















