BANDA ACEH | SAGOE TV — Rangkaian kegiatan SPS Revival berlanjut melalui SPS Experience I, sebuah kegiatan pembelajaran langsung yang mempertemukan mahasiswa dengan praktik pengembangan kreativitas dan ekonomi kreatif di Gedung Yayasan AMANAH, Ladong.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut SPS Talk #2: “Lulusan Seni 2026–2030: Ke Mana?”. Dalam SPS Experience I, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sendratasik FKIP Universitas Syiah Kuala memperoleh kesempatan untuk melihat secara langsung berbagai fasilitas, produk, serta praktik pengembangan potensi lokal yang tersedia di Gedung AMANAH.
Laporan kegiatan mencatat bahwa mahasiswa mengunjungi sejumlah fasilitas, antara lain AMANAH Store, studio musik, studio foto, studio podcast dan voice over, laboratorium pengolahan kopi dan minyak nilam, ruang inovasi bisnis, greenhouse, rumah teknologi, serta fasilitas pengelolaan limbah.
Pengalaman tersebut memperlihatkan kepada mahasiswa bahwa pengembangan kreativitas dapat terhubung dengan pendidikan, teknologi, kewirausahaan, UMKM, media, produksi, serta pemanfaatan potensi lokal. Laporan kegiatan juga mencatat adanya kemungkinan tindak lanjut berupa workshop, kunjungan lanjutan, pameran karya mahasiswa, pemanfaatan studio, dan pengembangan produk kreatif.
Dari kegiatan pembelajaran menuju komunikasi lanjutan
Setelah kegiatan tersebut, komunikasi antara Lingkar Wali — SPS Revival dan Yayasan AMANAH berlanjut. Pada Senin, 21 September 2026, berlangsung pertemuan yang dihadiri dua anggota Lingkar Wali SPS, serta Ketua dan Sekretaris Yayasan AMANAH.
Pertemuan ini masih berada pada tahap awal. Pembicaraan berfokus pada kemungkinan pengembangan hubungan yang lebih luas antara SPS dan AMANAH, terutama dalam penguatan ekosistem kreatif Aceh.
Belum ada kesepakatan final, MoU, maupun keputusan pembiayaan yang diumumkan dari pembicaraan tersebut. Yang muncul adalah kesefahaman awal untuk melanjutkan komunikasi dan melihat kemungkinan kerja sama yang dapat dikembangkan secara bertahap.
Dari Skatepark Stage menuju Sustainable Platform for Society
Perkembangan ini juga berkaitan dengan proses pengembangan SPS Revival. SPS yang pada awalnya dikenal melalui Skatepark Stage kini diperluas pemaknaannya menjadi Sustainable Platform for Society (SPS).
Perubahan tersebut bukan berarti meninggalkan perjalanan sebelumnya. Sebaliknya, pengalaman dan jejaring yang telah terbentuk menjadi dasar untuk memperluas fungsi SPS sebagai platform yang menghubungkan berbagai kegiatan kreatif, komunitas, pengembangan kapasitas, produksi karya, pengetahuan, dokumentasi, serta jejaring kolaborasi.
Dalam perkembangannya, SPS telah memiliki sejumlah gagasan dan platform kegiatan seperti SPS Talks, SPS Learning Lab, SPS Collab, SPS Experience, SPS Inclusive Stage, SPS Screen, SPS Creative Market, SPS Podcast, SPS Journal, SPS Review, SPS Residency, SPS Fellowship, SPS Archive Project, SPS Publishing, SPS Record, dan SPS Documentary.
Gagasan yang sedang dikembangkan bukan semata-mata menambah jumlah kegiatan, tetapi bagaimana berbagai platform tersebut dapat saling terhubung sehingga proses pengembangan talenta tidak berhenti pada satu kegiatan.
Peserta, misalnya, dapat memperoleh wawasan melalui SPS Talks, mengembangkan kemampuan melalui Learning Lab, mengerjakan proyek melalui Collab, mengikuti pendalaman melalui Residency atau Fellowship, kemudian mempresentasikan karya melalui berbagai ruang yang tersedia. Proses tersebut selanjutnya dapat diperkuat melalui dokumentasi, publikasi, pengarsipan, dan media.
Gagasan integrasi SPS dan AMANAH
Dalam komunikasi awal setelah SPS Experience, muncul pula gagasan mengenai kemungkinan integrasi antara kekuatan yang telah dimiliki masing-masing pihak.
AMANAH memiliki fasilitas, ruang pengembangan kreativitas, jaringan, serta pengalaman dalam pengembangan ekonomi kreatif dan potensi lokal. Sementara SPS membawa pengalaman dalam pengembangan program, komunitas, pembelajaran, kolaborasi, dokumentasi, serta pengembangan jejaring pengetahuan.
Karena itu, pendekatan yang sedang dibicarakan bukan sekadar membuat satu kegiatan bersama, tetapi melihat kemungkinan bagaimana berbagai sumber daya tersebut dapat saling terhubung.
Salah satu gagasan yang diajukan dalam komunikasi awal adalah Inisiatif Ekosistem Kreatif Aceh (IEKA) sebagai kemungkinan payung pengembangan kolaborasi jangka panjang. Namun, gagasan tersebut masih berada pada tahap awal dan belum menjadi program bersama yang telah ditetapkan.
Jika pembicaraan ini berlanjut, bentuk kerja sama, pembagian peran, program, kelembagaan, maupun sumber pembiayaannya masih perlu dibicarakan dan dirumuskan bersama.
Membangun dari yang sudah ada
Pendekatan SPS Revival adalah membangun dari ekosistem yang telah ada, bukan menggantikannya. Karena itu, kerja sama dengan AMANAH, apabila berkembang ke tahap berikutnya, diharapkan dapat mempertemukan berbagai unsur yang sudah berjalan: mahasiswa dan pendidikan, komunitas kreatif, pelaku seni dan budaya, pelaku UMKM, ruang produksi, teknologi, pasar, dunia usaha, serta jaringan pengetahuan.
Pada tahap sekarang, yang paling penting adalah melanjutkan komunikasi, menguji gagasan, melihat kemungkinan program yang realistis, dan membangun kesefahaman antarpihak.
SPS Experience I menjadi salah satu titik awal dari proses tersebut. Sebagaimana dirumuskan dalam laporan kegiatan, pengalaman mahasiswa di Gedung AMANAH diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan kunjungan, tetapi dapat menjadi awal pengembangan keterampilan, kreativitas, kolaborasi, dan pemanfaatan peluang secara berkelanjutan.
Dengan demikian, perkembangan SPS Revival dan komunikasi dengan Yayasan AMANAH saat ini lebih tepat dipahami sebagai proses penjajakan dan pengembangan gagasan. Ke depan, proses tersebut akan menentukan apakah berbagai gagasan yang telah dibicarakan dapat berkembang menjadi program, kemitraan, atau platform bersama yang lebih terstruktur.[]
Ari J. Palawi (Lingkar Wali — SPS Revival)




















