Oleh: Azril Ihksan
Sekretaris Pengurus Yayasan Genta Seni Jauhari (GSJ) & Anggota Sekretariat Bersama Sustainable Platform for Aceh Society (SPS)
Jauh sebelum satelit pemantau iklim mengorbit bumi atau algoritma komputer memprediksi arah badai, manusia telah lama berteman mesra dengan alam. Di pesisir barat Nusantara, masyarakat Aceh mengeja tanda-tanda alam melalui tradisi bernilai tinggi yang dikenal sebagai Keuneunong. Pengetahuan tradisional ini menjadi navigasi kehidupan, pedoman bercocok tanam, hingga penentu saat yang aman untuk mengarungi samudera.
Menariknya, kecerdasan ekologis serupa juga berdenyut di belahan bumi selatan. Suku Aborigin di Australia telah puluhan ribu tahun membaca bentang alam mereka yang keras melalui sistem penanggalan musim alami. Kedua budaya ini terpisahkan oleh ribuan mil lautan membuktikan universal truth: alam adalah guru terbaik jika manusia tahu cara mendengarkannya.
“Alam bukan hanya tempat manusia hidup, tetapi juga sumber ilmu yang memberikan petunjuk bagi kehidupan.”
Indigenous Knowledge dari Masyarakat Aceh
Orang Aceh selalu menyusun ramalan musim berdasarkan kalender Aceh yang disebut “keûneunöng” atau “keùnöng” artinya pertemuan antara benda angkasa satu dengan lainnya (MAA, 2025). Secara harfiah dan praktis, Keuneunong adalah manifestasi sistem Pengetahuan Ekologis Tradisional (Traditional Ecological Knowledge / TEK) yang diwariskan secara lintas generasi di Aceh. Masyarakat tradisional tidak sekadar melihat cuaca sebagai peristiwa kebetulan, melainkan sebagai sebuah bahasa yang terstruktur.
Untuk membaca musim, masyarakat Aceh mengamati berbagai sinyal makrokosmos dan mikrokosmos secara cermat:
Siklus Langit: Pergerakan posisi matahari dan pergeseran fase bulan digunakan untuk menentukan ritme waktu makro serta perhitungan pasang-surut air laut.
Atmosfer & Angin: Arah embusan angin serta bentuk formasi awan menjadi penanda meteorologis harian untuk memprediksi badai laut atau masa kemarau panjang.
Bio-Indikator Alam: Perilaku fauna yang tak biasa, kedatangan burung migran, hingga munculnya tunas pada tumbuhan tertentu menjadi indikator biologis yang mengodekan tibanya musim tanam.
Aplikasi Keuneunong sangat terasa dalam menjamin ketahanan pangan dan keselamatan jiwa. Bagi para petani, Keuneunong menentukan waktu tanam padi yang presisi agar terhindar dari musim kering hebat atau serangan hama musiman. Bagi nelayan, pengetahuan ini menjadi kompas alami (Nature Compass) untuk melaut dengan aman, membaca arah arus, dan menemukan titik berkumpulnya ikan di lautan lepas.
Indigenous knowledge dari Suku Aborigin Australia
Jika kita melangkah ke benua Australia, Suku Aborigin seperti masyarakat Yolngu di pesisir utara atau Dharawal di wilayah timur memiliki filosofi yang beriringan dengan Keuneunong. Mereka tidak membagi satu tahun ke dalam empat musim kaku ala Eropa. Sebaliknya, mereka membagi tahun berdasarkan lima hingga enam siklus ekologis yang ditandai oleh perubahan perilaku alam.
Sistem penanggalan ekologis Aborigin sangat bergantung pada bio-indikator lokal yang mirip dengan prinsip Keuneunong di Aceh. Sebagai contoh, ketika bunga Warrigal mulai bermekaran di Australia timur, masyarakat adat tahu bahwa angin barat yang kencang akan segera berembus dan ikan-ikan pesisir berkumpul di muara. Penandaan berbasis indikator biologis ini sejajar dengan kepiawaian nelayan Aceh yang membaca pergerakan musim ikan melalui pola awan dan penanda alam lokal.
Selain itu, kedua tradisi ini memiliki kesamaan dalam memandang alam. Jika Keuneunong menempatkan alam sebagai sumber ilmu, Suku Aborigin memegang konsep spiritual Country dan Dreamtime, di mana tanah leluhur dipandang sebagai entitas hidup yang bernyawa dan harus dirawat bersama. Tidak ada satu pun kalender Yolngu yang bisa dijadikan acuan mutlak. Apa yang disajikan di sini hanyalah sebuah pengetahuan lama dan kolektif untuk memetakan dan mengukur siklus pergantian musim mereka (Hatfield-Dodds, 2016).
Two types of Indigenous knowledge sebagai Etika Ekologis
Di era modern yang ditandai oleh krisis iklim global dan cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi, keberadaan kearifan lokal seperti Keuneunong dan sistem TEK Aborigin bukan sekadar nostalgia masa lalu. Keduanya menyimpan potensi saintifik yang sangat besar.
Sains iklim modern makin menyadari pentingnya mengintegrasikan pengamatan lokal bernilai ratusan tahun ini ke dalam sistem peringatan dini bencana berbasis masyarakat. Lebih dari itu, Keuneunong dan tradisi Aborigin mengajarkan sebuah etika moral dasar: manusia bukanlah penguasa alam yang bebas mengeksploitasi tanpa batas, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang harus bersikap arif dan selaras dengan semesta.
Referensi Pendukung:
Hatfield-Dodds, Z. (2016). Integrating understandings of a Yolngu seasonal calendar: A cross-disciplinary exploration of Scientific and Indigenous Seasonal Knowledge in North East Arnhem Land, Australia [Honours Thesis, Australian National University]. https://zhd.dev/_static/ZHD-Yolngu-seasons-thesis.pdf
Majelis Adat Aceh (MAA). (2025). Keuneunong: Musim dan Takaran. Pemerintah Aceh. https://maa.acehprov.go.id/berita/kategori/pusaka-dan-khasanah-aceh/keuneunong-musim-dan-takaran




















