Oleh: Ari J. Palawi
SPS Fellow – Lingkar Wali Sustainable Platform for Society; MACS Team, Sekolah Pascasarjana USK
Ada banyak alasan orang datang ke Aceh. Ada yang ingin melihat laut dan lanskapnya. Ada yang ingin mengenal sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakatnya. Ada pula yang datang untuk belajar di perguruan tinggi.
Saya membayangkan satu kemungkinan yang lebih jauh: orang datang ke Banda Aceh secara khusus karena ingin belajar sesuatu yang hanya bisa mereka temukan di sini.
Bayangkan mahasiswa yang meneliti ingatan tentang tsunami bersama warga yang mengalaminya. Peneliti yang mempelajari proses perdamaian melalui arsip dan cerita masyarakat. Seniman yang bekerja bersama para pelaku tradisi. Atau mahasiswa dari negara lain yang datang untuk memahami bagaimana sebuah masyarakat merawat pengetahuan, menghadapi perubahan, dan membangun kembali kehidupannya.
Semua itu bukan angan-angan yang harus dimulai dari nol. Bahan belajarnya telah ada di Aceh. Pekerjaan kita adalah membuatnya terhubung, terawat, dan terbuka untuk dipelajari lebih jauh.
Kita punya bahan yang kaya
Banda Aceh memiliki ekosistem pendidikan tinggi yang besar. BPS Aceh mencatat 75.692 mahasiswa di 30 perguruan tinggi di kota ini pada 2025, dalam cakupan pendataan kementerian terkait. USK melaporkan 37.005 mahasiswa aktif pada semester ganjil 2026/2027. UIN Ar-Raniry melaporkan 22.455 mahasiswa aktif pada November 2025. Angka-angka ini berasal dari periode dan cakupan pelaporan yang berbeda, sehingga tidak tepat dijumlahkan begitu saja.
USK juga melaporkan 131 mahasiswa asing dari 38 negara pada September 2026. Kehadiran mereka memberi gambaran bahwa hubungan pendidikan lintas negara sudah berlangsung. Seberapa jauh Banda Aceh dapat menarik lebih banyak pelajar internasional masih menjadi pertanyaan yang perlu dijawab melalui data dan kerja nyata.
Kita juga memiliki warisan intelektual yang panjang. Hamzah Fansuri dan Abd al-Rauf as-Singkili adalah bagian dari sejarah pemikiran Aceh yang melampaui batas geografis. Tradisi seni, bahasa, pengetahuan lingkungan, dan praktik kehidupan masyarakat menyimpan bahan penelitian yang luas.
UNESCO memasukkan kesenian Saman pada 2011 ke dalam daftar warisan budaya takbenda yang memerlukan pelindungan mendesak. Pengakuan itu membawa pesan penting: pengetahuan budaya perlu terus diwariskan, didokumentasikan, dan diberi ruang untuk berkembang.
Pengalaman konflik, perdamaian, tsunami, dan pemulihan kehidupan masyarakat juga menyimpan banyak pelajaran. Semua itu dapat menjadi sumber penelitian tentang ketahanan sosial, ingatan kolektif, lingkungan, tata kelola bencana, dan perubahan masyarakat. Pengalaman warga perlu diperlakukan dengan hormat. Mereka berhak ikut menentukan bagaimana cerita dan pengetahuan mereka digunakan.
Pengetahuan perlu bergerak
Kita sering menghasilkan kegiatan, karya, penelitian, dan pertemuan. Pertanyaan berikutnya: apa yang bisa diteruskan setelah semuanya selesai?
Sebuah pertunjukan dapat menjadi arsip. Wawancara dapat berkembang menjadi dokumentasi sejarah lisan. Penelitian dapat melahirkan film, pameran, buku, atau karya digital. Pertemuan antara mahasiswa dan komunitas dapat membuka penelitian baru. Hasilnya kemudian digunakan oleh orang lain untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah dimulai.
Di sini, seni, penelitian, teknologi, dan kehidupan masyarakat dapat saling menghidupkan. Pendekatan research-creation membuka ruang bagi proses penciptaan untuk ikut membangun pengetahuan. Film, fotografi, pertunjukan, arsip, dan karya kreatif dapat menjadi cara untuk menyelidiki pengalaman manusia, selama prosesnya tetap kritis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Saya tertarik pada gagasan Aceh sebagai Living Laboratory: ruang tempat orang belajar dari kehidupan nyata dan bekerja bersama masyarakat. Istilah ini baru bermakna jika hubungan yang dibangun berlangsung setara. Warga bukan bahan penelitian yang bisa diambil ceritanya lalu ditinggalkan. Mereka adalah mitra yang memiliki suara, hak, dan kepentingan.
Salah satu jalan yang bisa dibangun
Gagasan MACSÂ (Master of Arts in Creative Arts and Cultural Studies) berangkat dari kemungkinan tersebut. Usulan program magister interdisipliner di Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala ini dirancang untuk mempertemukan seni kreatif, studi kebudayaan, dan disiplin lain yang relevan. Arahnya mencakup penelitian dan penciptaan, warisan hidup, teknologi kreatif, serta persoalan sosial dan kebijakan kebudayaan.
MACS masih berada dalam proses institusional. Program ini belum resmi dibuka. Kurikulum, sumber daya, kebutuhan mahasiswa, kemitraan, dan dukungan kelembagaan harus terus dipersiapkan.
Bagi saya, nilai gagasan ini terletak pada peluang yang lebih luas daripada sebuah program studi. Kita dapat membangun hubungan yang lebih kuat antara kampus, komunitas, seniman, lembaga kebudayaan, dan peneliti. MACS bisa menjadi salah satu ruang untuk mengerjakannya, sementara ekosistem belajarnya harus tumbuh bersama banyak pihak.
Yogyakarta, Melbourne, Kyoto, dan Honolulu, Hawai’i, memiliki perjalanan dan kekuatan masing-masing dalam menghubungkan pendidikan dengan kehidupan kota. Banda Aceh punya jalannya sendiri. Kita tidak perlu mengaku sudah berada pada posisi yang sama. Kita perlu membuat alasan yang semakin kuat bagi orang untuk datang, belajar, bekerja bersama, lalu membawa pulang pengetahuan yang mereka peroleh di sini.
Saya ingin melihat Banda Aceh tumbuh ke arah itu. Kota yang pengalaman dan pengetahuannya terus berkembang. Kota yang memberi ruang bagi pertanyaan baru. Kota yang membuat warganya ikut belajar dari tempat mereka hidup.
Bayangkan jika suatu hari orang datang ke Banda Aceh bukan hanya untuk melihat Aceh, tetapi untuk memahami sesuatu bersama orang-orang Aceh. Menurut saya, kemungkinan itu layak kita kerjakan.



















