• Tentang Kami
Monday, October 19, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Mengapa Pelajaran Biologi Jauh dari Kehidupan Siswa?

SAGOE TV by SAGOE TV
October 19, 2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Mengapa Pelajaran Biologi Jauh dari Kehidupan Siswa

Nafisah Hanim dari Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry mengembangkan modul pembelajaran biologi bagi siswa MTsN 2 Aceh Besar. Foto: Dokpri

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nafisah Hanim, S.Pd., M.Pd.
Dosen Program Studi Pendidikan Biologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Pelajaran biologi di ruang kelas kerap terasa jauh dari lingkungan dan kehidupan sehari-hari peserta didik. Belajar biologi masih menggunakan konsep lama, menghafal nama latin, mengenal istilah, sedangkan hubungan pelajaran dengan lingkungan sekitar belum begitu dimunculkan. Siswa akhirnya tidak banyak yang berminat dalam pembelajaran biologi, mereka sekadar mengikuti pelajaran sebagai syarat melewati kurikulum ke tahapan selanjutnya.

Bagi yang lahir dan besar di Aceh Rayeuk, khususnya di Kabupaten Aceh Besar, hampir setiap keluarga pernah menyantap kuah beulangong di acara kenduri adat atau merasakan nikmatnya ie bu peudah yang kerap hadir di bulan puasa Ramadan. Kuliner warisan nenek moyang ini kaya rempah, daun-daunan, dan serat, dan semuanya berkaitan langsung dengan cara tubuh kita mencerna makanan. Namun ketika duduk di kelas untuk belajar sistem pencernaan, yang dihafal siswa adalah gambar organ dari buku teks, lengkap dengan nama latin dan urutan saluran cerna. Makanan khas daerah yang begitu akrab dengan lidah mereka nyaris tak pernah disebut.

BACA JUGA

Kabut Asap Sampai ke Aceh, Apa yang Sudah Kita Ajarkan kepada Anak-anak?

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

Pengalaman itu membuat saya bertanya: mengapa biologi, ilmu tentang kehidupan, justru terasa jauh dari kehidupan siswa di sekolah? Pertanyaan ini bukan sekadar soal selera siswa terhadap mata pelajaran. Ia menyangkut apakah sekolah berhasil membuat ilmu terasa hidup bagi anak-anak yang sehari-hari bersentuhan dengan makanan, tumbuhan, dan alam di sekitarnya, tetapi tidak selalu menyadari bahwa semua itu adalah biologi.

Salah satu sebabnya ada pada bahan ajar. Buku teks ditulis untuk pembaca di seluruh Indonesia oleh para pakar di bidangnya, sehingga contoh-contohnya cenderung seragam dan netral. Itu wajar, bahkan perlu. Tetapi di kelas, siswa belajar paling baik ketika materi menyentuh sesuatu yang mereka kenal. Siswa Aceh Besar yang tahu persis rasa kuah pliek u, misalnya, tidak mendapat kesempatan menjadikan pengalaman itu pintu masuk untuk memahami zat gizi, serat, dan kerja enzim. Pengetahuan dari rumah dan pengetahuan dari sekolah berjalan di jalur yang berbeda. Akibatnya, sebagian siswa menganggap pelajaran biologi tidak bermanfaat bagi kehidupan mereka dan kehilangan ketertarikan untuk mempelajarinya. Padahal rasa ingin tahu siswa tidak hilang. Ia hanya tidak menemukan pijakan di dalam kelas. Ketika contoh yang dipakai terasa asing, siswa cenderung belajar untuk menghadapi ujian, bukan untuk memahami dunia tempat mereka tinggal. Akibatnya siswa tidak tertarik materi pelajaran biologi karena dirasa tidak bermanfaat dalam kehidupan mereka.

Persoalan kedua terletak pada cara kita menguji pemahaman. Banyak ulangan biologi mengukur seberapa baik siswa mengingat istilah. Siswa bisa menyebut fungsi lambung dengan benar, tetapi belum tentu mampu menjelaskan mengapa makan berlebihan membuat perut tidak nyaman, atau mengapa sayur dan daun-daunan baik bagi usus. Padahal ie bu peudah yang sering mereka santap terdiri dari puluhan jenis rempah dan daun pilihan yang diwariskan turun-temurun. Pengetahuan yang begitu kaya itu mestinya menjadi bahan belajar, bukan sekadar latar yang dilewati begitu saja. Pelajaran yang berhenti di hafalan sulit terasa berguna, dan sesuatu yang tidak terasa berguna mudah dilupakan. Ketika materi hanya disampaikan di depan kelas tanpa dihubungkan dengan pengalaman nyata siswa di rumah, jarak antara ilmu dan kehidupan akan semakin lebar. Hasil belajar yang tampak baik di atas kertas belum tentu berarti siswa benar-benar memahami. Pemahaman yang bermakna baru terlihat ketika siswa mampu menggunakan konsep itu untuk menjelaskan peristiwa yang mereka alami sendiri.

Persoalan ketiga menyangkut nilai. Di madrasah, siswa tumbuh dengan nilai agama dan adat yang kuat. Sayangnya, sains sering diajarkan seolah tidak ada urusannya dengan keduanya. Sains dianggap urusan sekolah, sedangkan iman dan adat dianggap urusan rumah dan surau. Dalam pengamatan saya, pemisahan ini membuat sebagian siswa menyimpan dua dunia yang tidak pernah bertemu, bahkan mulai menganggap keduanya bertentangan. Kebiasaan memilih salah satu seperti ini jauh dari sikap moderat, yaitu kemampuan menimbang dari berbagai sisi tanpa harus meniadakan salah satunya. Padahal, pendidikan yang baik seharusnya membantu siswa memandang sains, iman, dan budaya sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Sikap moderat tidak lahir dari ceramah semata. Ia tumbuh dari kebiasaan berpikir, yaitu membiasakan siswa melihat sebuah persoalan dari beberapa sudut sebelum menyimpulkan, dan kebiasaan itu dapat dilatih lewat pelajaran apa pun, termasuk biologi.

Arah kebijakan pendidikan Aceh sebenarnya sudah jelas; Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 menempatkan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal sebagai bagian dari pendidikan di Aceh. Tantangannya ada di ruang kelas, yaitu bagaimana arah itu diterjemahkan menjadi bahan ajar yang benar-benar dipakai guru. Banyak guru biologi berlatar pendidikan sains murni, dan mereka sering harus mencari sendiri cara menghubungkan materi dengan konteks lokal dan keislaman, di tengah beban mengajar yang tidak ringan. Tanpa bahan ajar yang siap pakai, arah kebijakan itu berhenti di atas kertas. Di sinilah peran perguruan tinggi, khususnya lembaga pendidikan guru, menjadi penting: menyediakan contoh bahan ajar yang dapat langsung diuji, diperbaiki, dan dipakai di kelas, bukan hanya wacana di seminar.

Belajar dari dapur sendiri

Beberapa waktu lalu, saya dan tim peneliti dari Prodi Pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry mengembangkan modul pembelajaran biologi untuk siswa MTsN 2 Aceh Besar. Materinya sistem pencernaan, dan konteksnya adalah makanan yang akrab bagi mereka. Kuah beulangong, sie reuboh, kuah pliek u, dan ie bu peudah menjadi bahan untuk membahas zat gizi, serat, dan kerja pencernaan. Di setiap bagian, ayat Al-Qur’an tentang makanan yang halal dan baik serta sikap tidak berlebihan dihubungkan dengan konsep biologinya. Modul itu juga memuat kasus-kasus untuk melatih siswa menimbang suatu persoalan dari beberapa sisi sebelum mengambil sikap. Pengembangan modul seperti ini tentu belum menjawab semua persoalan. Namun ia menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual dapat disusun secara sistematis dan tidak harus bergantung pada kreativitas masing-masing guru.

Pendekatan ini bertumpu pada gagasan sederhana: siswa lebih mudah memahami konsep baru bila dikaitkan dengan sesuatu yang sudah mereka ketahui. Siapa pun yang pernah mengunyah nasi cukup lama akan merasakannya menjadi manis. Pengalaman kecil itu adalah pintu masuk untuk memahami kerja enzim amilase di dalam mulut. Sepiring kuah dengan banyak sayuran dan daun-daunan dapat menjadi awal pembahasan serat dan kesehatan usus. Dengan cara ini, konsep yang semula abstrak menjadi sesuatu yang dapat dirasakan, dibayangkan, dan dibicarakan di rumah. Ayat-ayat tentang makanan yang halal dan baik pun menjadi lebih bermakna, sebab siswa dapat melihat bahwa nilai yang diajarkan agama sejalan dengan pengetahuan tentang bagaimana tubuh bekerja dan apa yang dibutuhkannya. Kearifan lokal seperti masakan, kebiasaan makan, dan pengetahuan tentang tumbuhan di sekitar kita adalah laboratorium yang sudah tersedia dan tidak perlu dibeli.

Pendidikan sains kita tidak kekurangan materi, yang masih kurang adalah keberanian menghubungkan materi itu dengan kehidupan siswa. Guru dapat memulai dari hal paling sederhana, yaitu menanyakan apa yang dimakan siswa di rumah sebelum membahas zat gizi. Penulis buku ajar dapat menyisipkan contoh-contoh lokal di samping contoh nasional. Pengambil kebijakan dapat memberi ruang dan dukungan agar bahan ajar kontekstual semacam ini mudah diperoleh sekolah, bukan hanya dikerjakan oleh guru-guru yang kebetulan punya waktu dan semangat lebih. Pembelajaran biologi pada akhirnya bertujuan menumbuhkan kesadaran akan kehidupan, kelestarian lingkungan, dan tanggung jawab sesama makhluk hidup. Tujuan itu lebih mudah tercapai bila siswa belajar dari lingkungan yang mereka kenal. Siswa yang terbiasa mengamati dan bertanya tentang makanan di sekitarnya akan lebih mudah tumbuh menjadi warga yang peduli pada kesehatan dan lingkungan.

Siswa dapat mengembangkan pengetahuan lokal, dari makanan kuliner di Aceh Besar misalnya. Ini bertujuan untuk membantu mereka dalam berpikir dan pengembangan pengetahuan baru dari lingkungan sekitar mereka. Guru dan perangkat sekolah, harus berperan penting, bagaimana mendekatkan siswa dan lingkungan sekitar mereka.

Pendidikan biologi akan jadi terasa jauh dan tak menarik siswa, karena mereka tidak merasa penting dan sulit dipelajari, biologi harus lebih kuat dihubungkan antara konsep ilmiah dengan pengalaman nyata mereka di rumah. Dalam hal ini, peran penting para pendidik, guru, perangkat sekolah dan pengambil kebijakan pendidikan harus memahami akan kurikulum biologi yang kontekstual di zaman sekarang ini. Banyak hal-hal yang kontekstual di lingkungan sekitar, yang bisa dipelajari oleh siswa. Di sinilah peran guru dalam mengembangkan minat dan bakat siswa, agar pelajaran biologi di sekolah tak hanya sekadar hafalan pada istilah latin semata.

Tags: BiologikehidupanopiniPelajaranpendidikanSiswa
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Risnawati Ridwan
Opini

Kabut Asap Sampai ke Aceh, Apa yang Sudah Kita Ajarkan kepada Anak-anak?

by Risnawati binti Ridwan
October 18, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan
Opini

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

by SAGOE TV
October 14, 2026
Publik dalam Bayang Militerisme Urban
Opini

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

by SAGOE TV
October 5, 2026
Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit
Opini

Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit

by SAGOE TV
October 4, 2026
Hari Pancasila dan Harapan Rakyat
Opini

Hari Pancasila dan Harapan Rakyat

by SAGOE TV
October 1, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

October 13, 2026
Arsip tabloid asAsi

asAsi: Nyawöung dalam Wujud Lain

October 16, 2026
Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

October 16, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

October 14, 2026
Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

October 15, 2026
Persiraja vs Semen Padang Nama Besar Kabau Sirah Tak Bikin Laskar Rencong Gentar

Total Denda Rp100 Juta, Persiraja dan Faris Adit Disanksi Usai Laga Kontra Sumsel United

October 14, 2026
Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

October 11, 2026
Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

October 18, 2026
Baun Thoib Soaloon Kepala Kantor Bahasa Kepri

Mendikdasmen Lantik 162 Pejabat, Baun Thoib Soaloon Jabat Kepala Kantor Bahasa Kepri

October 18, 2026

EDITOR'S PICK

Mewujudkan Perfilman di Aceh

March 25, 2025
Mengenal Program Sekolah Penggerak, Bisa Tingkatkan Kualitas Pendidikan?

Mengenal Program Sekolah Penggerak, Bisa Tingkatkan Kualitas Pendidikan?

March 24, 2025
Jembatan Terputus, Ratusan Siswa di Aceh Utara Tak Bisa ke Sekolah

Jembatan Terputus, Ratusan Siswa di Aceh Utara Tak Bisa ke Sekolah

February 28, 2025
Persiraja vs PSPS Pekanbaru: Miftahul Hamdi Ajak Suporter Penuhi SHB

Persiraja Butuh Kemenangan Lawan PSPS, Mohon Doa dan Dukungan Masyarakat Aceh

February 10, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.