Oleh: Nafisah Hanim, S.Pd., M.Pd.
Dosen Program Studi Pendidikan Biologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Pelajaran biologi di ruang kelas kerap terasa jauh dari lingkungan dan kehidupan sehari-hari peserta didik. Belajar biologi masih menggunakan konsep lama, menghafal nama latin, mengenal istilah, sedangkan hubungan pelajaran dengan lingkungan sekitar belum begitu dimunculkan. Siswa akhirnya tidak banyak yang berminat dalam pembelajaran biologi, mereka sekadar mengikuti pelajaran sebagai syarat melewati kurikulum ke tahapan selanjutnya.
Bagi yang lahir dan besar di Aceh Rayeuk, khususnya di Kabupaten Aceh Besar, hampir setiap keluarga pernah menyantap kuah beulangong di acara kenduri adat atau merasakan nikmatnya ie bu peudah yang kerap hadir di bulan puasa Ramadan. Kuliner warisan nenek moyang ini kaya rempah, daun-daunan, dan serat, dan semuanya berkaitan langsung dengan cara tubuh kita mencerna makanan. Namun ketika duduk di kelas untuk belajar sistem pencernaan, yang dihafal siswa adalah gambar organ dari buku teks, lengkap dengan nama latin dan urutan saluran cerna. Makanan khas daerah yang begitu akrab dengan lidah mereka nyaris tak pernah disebut.
Pengalaman itu membuat saya bertanya: mengapa biologi, ilmu tentang kehidupan, justru terasa jauh dari kehidupan siswa di sekolah? Pertanyaan ini bukan sekadar soal selera siswa terhadap mata pelajaran. Ia menyangkut apakah sekolah berhasil membuat ilmu terasa hidup bagi anak-anak yang sehari-hari bersentuhan dengan makanan, tumbuhan, dan alam di sekitarnya, tetapi tidak selalu menyadari bahwa semua itu adalah biologi.
Salah satu sebabnya ada pada bahan ajar. Buku teks ditulis untuk pembaca di seluruh Indonesia oleh para pakar di bidangnya, sehingga contoh-contohnya cenderung seragam dan netral. Itu wajar, bahkan perlu. Tetapi di kelas, siswa belajar paling baik ketika materi menyentuh sesuatu yang mereka kenal. Siswa Aceh Besar yang tahu persis rasa kuah pliek u, misalnya, tidak mendapat kesempatan menjadikan pengalaman itu pintu masuk untuk memahami zat gizi, serat, dan kerja enzim. Pengetahuan dari rumah dan pengetahuan dari sekolah berjalan di jalur yang berbeda. Akibatnya, sebagian siswa menganggap pelajaran biologi tidak bermanfaat bagi kehidupan mereka dan kehilangan ketertarikan untuk mempelajarinya. Padahal rasa ingin tahu siswa tidak hilang. Ia hanya tidak menemukan pijakan di dalam kelas. Ketika contoh yang dipakai terasa asing, siswa cenderung belajar untuk menghadapi ujian, bukan untuk memahami dunia tempat mereka tinggal. Akibatnya siswa tidak tertarik materi pelajaran biologi karena dirasa tidak bermanfaat dalam kehidupan mereka.
Persoalan kedua terletak pada cara kita menguji pemahaman. Banyak ulangan biologi mengukur seberapa baik siswa mengingat istilah. Siswa bisa menyebut fungsi lambung dengan benar, tetapi belum tentu mampu menjelaskan mengapa makan berlebihan membuat perut tidak nyaman, atau mengapa sayur dan daun-daunan baik bagi usus. Padahal ie bu peudah yang sering mereka santap terdiri dari puluhan jenis rempah dan daun pilihan yang diwariskan turun-temurun. Pengetahuan yang begitu kaya itu mestinya menjadi bahan belajar, bukan sekadar latar yang dilewati begitu saja. Pelajaran yang berhenti di hafalan sulit terasa berguna, dan sesuatu yang tidak terasa berguna mudah dilupakan. Ketika materi hanya disampaikan di depan kelas tanpa dihubungkan dengan pengalaman nyata siswa di rumah, jarak antara ilmu dan kehidupan akan semakin lebar. Hasil belajar yang tampak baik di atas kertas belum tentu berarti siswa benar-benar memahami. Pemahaman yang bermakna baru terlihat ketika siswa mampu menggunakan konsep itu untuk menjelaskan peristiwa yang mereka alami sendiri.
Persoalan ketiga menyangkut nilai. Di madrasah, siswa tumbuh dengan nilai agama dan adat yang kuat. Sayangnya, sains sering diajarkan seolah tidak ada urusannya dengan keduanya. Sains dianggap urusan sekolah, sedangkan iman dan adat dianggap urusan rumah dan surau. Dalam pengamatan saya, pemisahan ini membuat sebagian siswa menyimpan dua dunia yang tidak pernah bertemu, bahkan mulai menganggap keduanya bertentangan. Kebiasaan memilih salah satu seperti ini jauh dari sikap moderat, yaitu kemampuan menimbang dari berbagai sisi tanpa harus meniadakan salah satunya. Padahal, pendidikan yang baik seharusnya membantu siswa memandang sains, iman, dan budaya sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Sikap moderat tidak lahir dari ceramah semata. Ia tumbuh dari kebiasaan berpikir, yaitu membiasakan siswa melihat sebuah persoalan dari beberapa sudut sebelum menyimpulkan, dan kebiasaan itu dapat dilatih lewat pelajaran apa pun, termasuk biologi.
Arah kebijakan pendidikan Aceh sebenarnya sudah jelas; Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 menempatkan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal sebagai bagian dari pendidikan di Aceh. Tantangannya ada di ruang kelas, yaitu bagaimana arah itu diterjemahkan menjadi bahan ajar yang benar-benar dipakai guru. Banyak guru biologi berlatar pendidikan sains murni, dan mereka sering harus mencari sendiri cara menghubungkan materi dengan konteks lokal dan keislaman, di tengah beban mengajar yang tidak ringan. Tanpa bahan ajar yang siap pakai, arah kebijakan itu berhenti di atas kertas. Di sinilah peran perguruan tinggi, khususnya lembaga pendidikan guru, menjadi penting: menyediakan contoh bahan ajar yang dapat langsung diuji, diperbaiki, dan dipakai di kelas, bukan hanya wacana di seminar.
Belajar dari dapur sendiri
Beberapa waktu lalu, saya dan tim peneliti dari Prodi Pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry mengembangkan modul pembelajaran biologi untuk siswa MTsN 2 Aceh Besar. Materinya sistem pencernaan, dan konteksnya adalah makanan yang akrab bagi mereka. Kuah beulangong, sie reuboh, kuah pliek u, dan ie bu peudah menjadi bahan untuk membahas zat gizi, serat, dan kerja pencernaan. Di setiap bagian, ayat Al-Qur’an tentang makanan yang halal dan baik serta sikap tidak berlebihan dihubungkan dengan konsep biologinya. Modul itu juga memuat kasus-kasus untuk melatih siswa menimbang suatu persoalan dari beberapa sisi sebelum mengambil sikap. Pengembangan modul seperti ini tentu belum menjawab semua persoalan. Namun ia menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual dapat disusun secara sistematis dan tidak harus bergantung pada kreativitas masing-masing guru.
Pendekatan ini bertumpu pada gagasan sederhana: siswa lebih mudah memahami konsep baru bila dikaitkan dengan sesuatu yang sudah mereka ketahui. Siapa pun yang pernah mengunyah nasi cukup lama akan merasakannya menjadi manis. Pengalaman kecil itu adalah pintu masuk untuk memahami kerja enzim amilase di dalam mulut. Sepiring kuah dengan banyak sayuran dan daun-daunan dapat menjadi awal pembahasan serat dan kesehatan usus. Dengan cara ini, konsep yang semula abstrak menjadi sesuatu yang dapat dirasakan, dibayangkan, dan dibicarakan di rumah. Ayat-ayat tentang makanan yang halal dan baik pun menjadi lebih bermakna, sebab siswa dapat melihat bahwa nilai yang diajarkan agama sejalan dengan pengetahuan tentang bagaimana tubuh bekerja dan apa yang dibutuhkannya. Kearifan lokal seperti masakan, kebiasaan makan, dan pengetahuan tentang tumbuhan di sekitar kita adalah laboratorium yang sudah tersedia dan tidak perlu dibeli.
Pendidikan sains kita tidak kekurangan materi, yang masih kurang adalah keberanian menghubungkan materi itu dengan kehidupan siswa. Guru dapat memulai dari hal paling sederhana, yaitu menanyakan apa yang dimakan siswa di rumah sebelum membahas zat gizi. Penulis buku ajar dapat menyisipkan contoh-contoh lokal di samping contoh nasional. Pengambil kebijakan dapat memberi ruang dan dukungan agar bahan ajar kontekstual semacam ini mudah diperoleh sekolah, bukan hanya dikerjakan oleh guru-guru yang kebetulan punya waktu dan semangat lebih. Pembelajaran biologi pada akhirnya bertujuan menumbuhkan kesadaran akan kehidupan, kelestarian lingkungan, dan tanggung jawab sesama makhluk hidup. Tujuan itu lebih mudah tercapai bila siswa belajar dari lingkungan yang mereka kenal. Siswa yang terbiasa mengamati dan bertanya tentang makanan di sekitarnya akan lebih mudah tumbuh menjadi warga yang peduli pada kesehatan dan lingkungan.
Siswa dapat mengembangkan pengetahuan lokal, dari makanan kuliner di Aceh Besar misalnya. Ini bertujuan untuk membantu mereka dalam berpikir dan pengembangan pengetahuan baru dari lingkungan sekitar mereka. Guru dan perangkat sekolah, harus berperan penting, bagaimana mendekatkan siswa dan lingkungan sekitar mereka.
Pendidikan biologi akan jadi terasa jauh dan tak menarik siswa, karena mereka tidak merasa penting dan sulit dipelajari, biologi harus lebih kuat dihubungkan antara konsep ilmiah dengan pengalaman nyata mereka di rumah. Dalam hal ini, peran penting para pendidik, guru, perangkat sekolah dan pengambil kebijakan pendidikan harus memahami akan kurikulum biologi yang kontekstual di zaman sekarang ini. Banyak hal-hal yang kontekstual di lingkungan sekitar, yang bisa dipelajari oleh siswa. Di sinilah peran guru dalam mengembangkan minat dan bakat siswa, agar pelajaran biologi di sekolah tak hanya sekadar hafalan pada istilah latin semata.




















