Oleh: Prof. Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc
Profesor bidang teknologi pascapanen, Dosen Prodi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Email: rkhathir79@gmail.com
Sebagai wilayah dengan mayoritas penduduk beragama Islam dan bahkan menerapkan Qanun Syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, maka dalam menyikapi bencana hidrometeorologi 2025 (tsunami darat), kita semua perlu mengimplementasikan prinsip-prinsip Islam. Beratnya ujian yang kita hadapi adalah bukti kasih sayang Allah SWT agar kita kembali kepada-Nya.
Apa yang dapat dan harus kita lakukan? Pertama adalah bersikap ikhlas menerima ujian ini. Mari kita bersama-sama membaca Surah Al-Ikhlas: Katakanlah Dia adalah Tuhan Yang Esa, Allah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. Bait-bait ini memberikan makna yang begitu mendalam bagi kita. Sudahkah kita ikhlas menjadi hamba Allah? Sudahkah kita menggantungkan segala sesuatu kepada-Nya, dan yakinkah kita bahwa Allah itu Maha Hebat, tidak ada satu kekuatan pun yang dapat mengalahkan-Nya? Mungkin selama ini kita sudah jarang membuka lembaran Al-Qur’an, mari kita kembali kepada kitab suci yang mulia ini. Banyak hikmah dan pelajaran yang akan diperoleh dengan membaca bait-bait dan maknanya.
Kedua, kita harus melakukan evaluasi diri sehingga membawa kita kepada pertobatan. Mengingat kembali kehidupan sebelum ini, apakah kita telah lalai dan melupakan Allah? Sikap ikhlas yang kita lanjutkan dengan evaluasi diri akan membawa momen musibah ini pada sikap hijrah untuk peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sungguh dunia akan fana, yang hidup pasti mati, dan awalnya kita tidak punya apa-apa, lalu Allah memberikan segalanya kepada kita. Kini, ketika Allah mengambil sebagian atau seluruh yang kita miliki, bukankah itu sah? Dan mengapa kita berat hati atau enggan mengembalikannya? Tidak mengapa kita kehilangan segalanya asalkan iman kepada Allah masih terpateri di sanubari.
Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Tahapan evaluasi diri ini sangat penting untuk menentukan langkah selanjutnya. Apakah kita kembali kepada Tuhan atau justru semakin menjauhi-Nya?
Setiap kita berpotensi terlibat dalam kegiatan eksploitasi sumber daya alam, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang diduga sebagai penyebab bencana dahsyat ini. Ada yang terlibat dalam alih fungsi lahan, mengubah hutan menjadi perkebunan, baik secara legal maupun ilegal. Sebagian yang lain hidup boros menggunakan kertas dan bahan lainnya. Sebagai insan, kita pasti tidak luput dari dosa-dosa yang terkadang tidak kita sengaja atau sadari. Ada yang bertindak dari atas meja, ada yang bertindak di lapangan. Pada hakikatnya, bencana sebesar ini disebabkan oleh akumulasi kesalahan banyak orang dalam waktu yang lama, melibatkan lintas sektoral, melibatkan atasan dan bawahan, melibatkan pemerintah pusat hingga daerah, dan seterusnya.
Kondisi kita hari ini adalah hasil dari perilaku membuang sampah sembarangan, alias tidak menjaga kebersihan lingkungan. Padahal kebersihan adalah sebagian dari iman. Setiap orang berpotensi menghasilkan 1 kg sampah per hari, dengan rerata per tahun mencapai 250 kg sampah. Dari desa hingga kota, kondisi lingkungan kita tidak bersih dan didominasi oleh sampah plastik. Saluran air tersumbat oleh sampah-sampah tersebut, bahkan area di atas saluran difungsikan sebagai toko atau rumah tempat tinggal. Pelanggaran demi pelanggaran dilakukan dan dibiasakan hingga menjadi suatu kebudayaan. Alah bisa karena biasa, kita tidak lagi merasa risih dengan sampah dan kekumuhan. Dulu, sampah masyarakat adalah sebagian kecil dari kita yang dianggap hidup tidak berguna. Sekarang, kita semua merupakan “sampah” itu sendiri (redaksi: penghasil sampah).
Ketiga, kita harus siap menghindari lokasi bencana, yang boleh jadi untuk sementara waktu dengan mengungsi, atau bahkan harus siap untuk pindah (hijrah) selamanya ketika lokasi tempat tinggal sebelumnya sudah tidak memungkinkan lagi. Bencana hidrometeorologi yang dahsyat, dengan ketinggian air mencapai 8 meter yang meluluhlantakkan kota dan desa, dapat menghasilkan perubahan ekstrem pada suatu kawasan. Misalnya, ada sungai yang sebelumnya lebarnya 100 meter, setelah bencana menjadi 300 meter. Oleh karena itu, masyarakat dari desa tersebut harus diungsikan secara permanen ke tempat tinggal yang baru. Hijrah adalah keniscayaan, walau kita sangat mencintai daerah tempat kita dilahirkan. Merenungi sejarah hijrahnya Rasulullah SAW semoga dapat memperkuat setiap kita yang harus hijrah ke tempat tinggal yang lebih baik. Kita harus bersedia pindah demi masa depan anak cucu kita.
Keempat, kita tidak boleh memperparah keadaan. Sebagai contoh, terjadi lonjakan harga barang atau penetapan tarif penyeberangan yang tidak wajar ketika sebagian pihak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh telah menyatakan bahwa hukum menaikkan harga barang secara tidak wajar adalah haram. Seruan ulama ini wajib kita indahkan. Semua elemen masyarakat seharusnya bersatu padu memikirkan solusi untuk meringankan kesulitan hidup pascabencana.
Kelima, seharusnya kita mengembangkan rasa empati untuk membantu sesama. Kita dapat memberikan bantuan semampu kita, baik berupa tenaga maupun harta. Donasi penggalangan dana atau bantuan bahan makanan merupakan tindakan positif. Selanjutnya, pendistribusian bantuan perlu koordinasi dan transparansi agar dapat tersalurkan dengan cepat dan tepat. Jangan sampai terbuka peluang penipuan donasi atau penumpukan bantuan di satu desa sementara desa lain tidak mendapat bantuan. Dalam hal ini, komando yang kuat dari Pemerintah Aceh sangat dibutuhkan. Kita mengharapkan peran Pemerintah Aceh untuk menjamin keselamatan korban, kelancaran tugas petugas dan relawan dalam pendistribusian bantuan, serta menindak pelaku-pelaku kejahatan dan premanisme pascabencana.
Akhirnya, marilah kita saling menguatkan dan senantiasa mengharapkan pertolongan Allah SWT. Allah berfirman dalam QS. At-Taghabun ayat 11: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Mari kita menguatkan keimanan kita kepada Allah terlebih dahulu, kemudian berusaha melakukan penanggulangan bencana ini semaksimal yang kita bisa dengan cara yang baik (ma’ruf). Islam adalah konsep healing terbaik dalam semua kondisi yang menimpa kita. Keimanan akan memberikan keyakinan bahwa pertolongan Allah itu dekat dan pasti. Mari kita saling mengingatkan, menasihati dalam kebaikan dan kebenaran, karena proses edukasi harus berkelanjutan untuk memerangi kejahiliahan dan kealpaan. Insya Allah. []



















