JAKARTA | SAGOETV – Warung kopi di Aceh selama ini dikenal sebagai ruang berkumpul dan berdiskusi. Namun, ruang tersebut dinilai dapat dikembangkan lebih jauh menjadi tempat membangun budaya membaca dan mendiskusikan buku.
Gagasan itu disampaikan Anggota DPR RI asal Aceh, Dr. H.M. Nasir Djamil, M.Si., saat menerima penulis buku “Perang dan Damai”, Yunidar ZA, dalam silaturahmi dan diskusi, pada Kamis (8/10) di Kompleks Parlemen Senayan, Gedung Nusantara 1, lantai 4, Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, Yunidar ZA menyerahkan buku terbitan Bandar Publishing yang ditulisnya kepada Nasir Djamil. Penyerahan buku itu sekaligus menjadi bagian dari diskusi mengenai perkembangan literasi, penerbitan dan masa depan pembangunan Aceh.
Nasir Djamil mengatakan pembangunan Aceh membutuhkan kebersamaan seluruh komponen masyarakat. Menurutnya, membangun Aceh tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan pembangunan manusia melalui pendidikan, pengetahuan dan budaya literasi.
“Aceh perlu dibangun bersama dan seluruh komponen harus bersatu untuk masyarakat Aceh,” ujar Nasir Djamil.
Ia menilai budaya membaca dan tradisi berdiskusi harus terus diperkuat. Aceh, kata dia, memiliki modal sosial berupa tradisi berkumpul dan berdiskusi di warung kopi yang dapat diarahkan menjadi kekuatan intelektual masyarakat.
“Warung kopi bisa menjadi tempat diskusi buku,” katanya.
Menurut Nasir, jika budaya tersebut berkembang, maka akan memberikan ruang yang lebih luas bagi penulis, penerbit dan komunitas literasi untuk berkembang. Buku tidak berhenti sebagai bahan bacaan, tetapi menjadi pintu masuk untuk membicarakan berbagai persoalan masyarakat.
Nasir Djamil juga menyoroti pentingnya keterlibatan pemudan dan mahasiswa dalam membangun ekosistem literasi. Pemuda dan mahasiswa, menurutnya, perlu didorong untuk membaca buku, membuat resensi, mendiskusikan gagasan dan mengembangkan pemikiran dari berbagai sumber bacaan.
Tradisi tersebut penting agar perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya tradisi intelektual dan pemikiran kritis.
“Pemuda dan mahasiswa perlu didorong untuk membuat resensi dan membahas ide-ide dari pemikiran yang mereka baca,”ujarnya.
Ia berharap penerbit dan penggiat literasi di Aceh dapat terus memperkuat ekosistem perbukuan sehingga buku semakin dekat dengan masyarakat.
Bagi Nasir, keberadaan penulis dan intelektual memiliki arti penting dalam pembangunan Aceh. Mereka bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga ikut mempersiapkan generasi dan kepemimpinan Aceh di masa depan.
Nasir Djamil memberikan apresiasi kepada para penulis dan intelektual yang terus menghasilkan karya serta memberikan kontribusi bagi Aceh.
Ia melihat literasi memiliki hubungan erat dengan pembangunan perdamaian yang berkelanjutan. Masyarakat yang memiliki tradisi membaca, berdialog dan bertukar gagasan akan lebih memiliki kemampuan untuk memahami perbedaan serta mencari solusi melalui pengetahuan dan dialog.
Karena itu, pembangunan literasi harus ditempatkan sebagai bagian dari investasi jangka panjang bagi masa depan Aceh.
Perdamaian Aceh, kata Nasir, harus terus dirawat dan diterjemahkan dalam pembangunan yang memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.
Dalam konteks tersebut, penulis, intelektual, mahasiswa, penerbit dan komunitas literasi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran generasi muda.
Pertemuan Yunidar ZA dengan Nasir Djamil pun tidak sekadar menjadi silaturahmi dan penyerahan buku. Pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan tentang bagaimana buku, literasi dan tradisi intelektual dapat mengambil bagian dalam perjalanan Aceh menuju masa depan yang lebih damai dan sejahtera.
Sebagaimana diketahui, buku “Perang dan Damai” yang di tulis Yunidar ZA akan didiskusikan secara daring melalui zoom pada Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 20.00 WIB – selesai.




















