BANDA ACEH | SAGOE TV — Film terbaru sineas Aceh, Muhammad Hendri, berjudul Seungue Lam Kayee mengangkat kisah ingatan dan kehilangan setelah sebuah kampung dilanda banjir bandang. Film yang mempertemukan sastra, tradisi hikayat, dan sinema ini telah merilis trailer resmi dan bersiap menemui penonton.
Trailer film dengan judul internasional “First as Tragedy, Then as Silence” tersebut telah dirilis melalui kanal YouTube Aceh Menonton dan akun Instagram @filmseunguelamkayee.
Film ini mengikuti perjalanan seorang pembuat film dokumenter dan seniman tutur hikayat yang berkolaborasi merawat ingatan sebuah kampung setelah diterjang banjir bandang. Melalui kamera dan tuturan, keduanya berusaha menghadirkan kembali pengalaman masyarakat yang tersisa di tengah perubahan kehidupan pascabencana.
Di sisi lain, seorang adik menghadapi pertentangan antara mempertahankan kenangan dan menerima kehilangan. Melalui puisi dan perjumpaan dengan ingatan, ia berusaha memahami dukacita serta perlahan menerima sesuatu yang tidak lagi dapat kembali.
Dalam penggarapannya, Muhammad Hendri berkolaborasi dengan Fauzan Santa, sineas sekaligus pegiat sastra yang dikenal melalui film Surat Kaleng 1949 dan kiprahnya di Sekolah Menulis Dokarim, serta Fuadi Klayu, seniman tutur hikayat Aceh yang sebelumnya menjadi figur utama dalam film Hikayatussistance.
“Fauzan terlibat sebagai produser dan penulis skenario, sementara Fuadi turut mengembangkan skenario sekaligus menggarap musik orisinal film,” ujar Hendri dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Ia menjelaskan, gagasan film ini menyerap ide dari cerita-cerita pendek pemenang Sayembara Cerpen Piala Gubernur Aceh 2026. Namun, ide tersebut kemudian dikembangkan menjadi narasi baru yang berdiri sendiri, lengkap dengan karakter, struktur cerita, dan pendekatan artistiknya.
Mempertemukan Sastra, Hikayat, dan Sinema
Bagi Hendri, Seungue Lam Kayee merupakan kelanjutan eksplorasi penciptaan hybrid cinema, yakni pendekatan yang mempertemukan berbagai bentuk dan praktik penceritaan dalam bahasa sinema.
Melalui film ini, Hendri menyelidiki kemungkinan sinema yang tumbuh dari pengalaman lokal dengan menghubungkan seni tutur, sastra, praktik dokumenter, dan pendekatan artistik film naratif.
Pendekatan tersebut digunakan untuk mengartikulasikan pengalaman kehilangan dan kehidupan masyarakat setelah bencana.
Dalam proses produksinya, Hendri juga mengeksplorasi metode pembuatan film beranggaran mikro (microbudget filmmaking). Pendekatan ini merujuk pada sejumlah pemikiran dan tradisi sinema, seperti French New Wave, neorealisme Italia, serta auterisme yang menempatkan pembuat film sebagai subjek kreatif dengan kebebasan menentukan bahasa dan sikap estetikanya.
Melalui pendekatan tersebut, penciptaan film tidak semata-mata bergantung pada besarnya anggaran atau kelengkapan fasilitas. Kemampuan mengembangkan bahasa sinema dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia juga menjadi bagian penting dalam proses kreatif.
Tantangan Infrastruktur Perfilman Aceh
Di tengah semakin mudahnya akses terhadap teknologi produksi audiovisual, praktik perfilman di Aceh masih menghadapi persoalan infrastruktur pemutaran dan distribusi.
Kamera digital, komputer pribadi, serta perangkat penyuntingan yang semakin terjangkau memungkinkan lebih banyak orang memproduksi karya audiovisual. Namun, kemudahan tersebut belum diikuti perkembangan ruang pemutaran yang sepadan.
Ia menyebutkan, Aceh masih belum memiliki jaringan bioskop komersial. Sementara itu, ruang pemutaran alternatif dengan fasilitas proyeksi dan tata suara yang memadai juga belum tersedia secara luas dan berkelanjutan.
Keterbatasan tersebut bahkan menjadi tantangan bagi pembuat film lokal untuk melakukan test screening melalui layar sinema yang layak.
Dalam satu dekade terakhir, lanjut Hendri, upaya pemajuan sinema dan kebudayaan di Aceh terus berlangsung melalui kegiatan komunitas, festival, serta berbagai program dukungan produksi. Meski demikian, ekosistem yang menghubungkan produksi, distribusi, pemutaran, dan kehidupan ekonomi pembuat film belum sepenuhnya terbentuk.
Ketergantungan pada proyek tahunan dan pendanaan musiman memperlihatkan bahwa persoalan perfilman tidak hanya berkaitan dengan kesempatan menghasilkan karya, tetapi juga keberlanjutan institusi dan ruang yang menopang aktivitas tersebut.
“Kondisi tersebut turut memberi konteks bagi perjalanan Seungue Lam Kayee. Film ini tidak hanya lahir dari praktik penciptaan yang harus menyiasati keterbatasan ekosistem perfilman di Aceh, tetapi juga membawa pertanyaan mengenai keberlangsungan karya setelah proses produksi selesai,” ujarnya.
Dalam konteks ini, kata Hendri, inklusivitas sinema tidak cukup diukur dari semakin terbukanya akses terhadap teknologi produksi. Ketersediaan ruang pemutaran, jaringan distribusi, dan kehidupan ekonomi yang memungkinkan pembuat film terus berkarya juga menjadi bagian penting.
Tanpa keberlanjutan tersebut, menurut dia, film berisiko berhenti sebagai artefak administratif dari program musiman, alih-alih berkembang menjadi praktik kebudayaan yang hidup bersama masyarakat.
Siapkan Kolaborasi Pemutaran Mulai 2027
Seungue Lam Kayee diproduksi melalui kolaborasi Komunitas Hikayat Aceh, Muhammad Hendri Films, Aceh Menonton Films, Hikayatussistance, Timur Djauh, Cangkee Studio, Laelangge Lab, Gerakan Surah Buku Indonesia, Sakhi House Coffee, dan Kundang Institute.
Produksi film ini mendapat dukungan Pemerintah Aceh dan Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh.
Saat ini, tim produksi tengah mempersiapkan peluang kolaborasi pemutaran bersama festival film, komunitas, perguruan tinggi, institusi kebudayaan, serta pengelola ruang pemutaran alternatif di berbagai wilayah.
Kerja sama pemutaran dijadwalkan mulai dibuka pada awal 2027. Informasi mengenai mekanisme kolaborasi dan perkembangan perjalanan film akan diumumkan melalui akun Instagram resmi @filmseunguelamkayee.
Melalui perjumpaan dengan penonton, Seungue Lam Kayee diharapkan dapat membuka percakapan lebih luas tentang ingatan, pengalaman pascabencana, dan masa depan perfilman Aceh. Perjalanan film ini juga diharapkan tidak berhenti pada proses produksi, tetapi berlanjut melalui ruang-ruang pemutaran dan kehidupan kebudayaan masyarakat.
“Melalui perjumpaan dengan publik, film diharapkan memperoleh kehidupan yang melampaui proses produksi dan program yang melahirkannya,” demikian Hendri.




















