• Tentang Kami
Tuesday, June 16, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Mengapa Damai Aceh Bertahan?

Sahlan Hanafiah by Sahlan Hanafiah
May 17, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Mengapa Damai Aceh Bertahan?
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Sahlan Hanafiah
Staf Pengajar Program Studi Sosiologi Agama UIN Ar Raniry Banda Aceh.

Menjelang peringatan 17 tahun MoU Helsinki, seorang kolega mengajukan pertanyaan sulit seperti judul di atas ke saya. Tentu ia tidak dalam posisi sedang bertaruh atau berharap agar damai Aceh gagal, melainkan benar-benar kagum sekaligus penasaran dengan capaian yang diraih Aceh hingga damai mampu bertahan 17 tahun lamanya.

Menurutnya, bertahannya perdamaian Aceh hingga jangka waktu lama merupakan sebuah keganjilan karena bertolak belakang dari data dan teori yang pernah ia baca.

BACA JUGA

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Untuk menyakinkan saya, ia menunjukkan data perdamaian yang gagal antara 1945-2013 yang dihimpun oleh Universitas Uppsala, Swedia. Pada tahun tersebut, dari 105 negara yang pernah mengalami perang saudara seperti Aceh, 59 atau lebih setengah di antaranya kembali terjerumus ke dalam konflik. Artinya, jumlah perdamaian yang gagal lebih besar dari jumlah perdamaian yang bertahan.

Sementara berdasarkan teori yang ia baca, bertahan atau gagalnya perdamaian sangat dipengaruhi oleh faktor seperti; cara konflik berakhir, sisa akar konflik masa lalu, pemilu dini, keberadaan pasukan perdamaian, dan keadilan transisi.

Mengutip hasil penelitian Caplan dan Hoeffler (2017), kolega saya menyebutkan, cara konflik berakhir akan menentukan jangka waktu lamanya sebuah perdamaian bertahan.

Jika konflik berakhir atau damai diraih dengan cara kemenangan militer, seperti yang terjadi di Sri Lanka, di mana militer menggempur habis kelompok pemberontak Macan Tamil Ealam, maka durasi damai tanpa kekerasan akan bertahan lebih lama. Sebaliknya, jika konflik berakhir melalui meja perundingan, maka durasi damai akan bertahan lebih singkat.

Hasil penelitian tersebut menurutnya masuk akal karena kemenangan militer, baik militer pemerintah maupun kelompok perlawanan, menyebabkan salah satu pihak kehilangan kekuatan menyerang maupun bertahan dan pada akhirnya harus menyerah kalah. Sementara untuk membangun gerakan baru membutuhkan waktu lama.

Sementara perundingan damai tidak membuat para pihak yang berkonflik kehilangan kapasitas berperang. Perundingan dan perjanjian damai seringkali dipakai sebagai strategi mengulur waktu, melakukan konsolidasi, menghimpun logistik dan sumber daya sehingga lebih siap menghadapi gempuran.

Namun situasi seperti itu tidak terjadi dalam kasus Aceh. Pemerintah dan mantan pejuang Gerakan Aceh Merdeka tetap berpegang teguh pada perjanjian damai yang ditandatangan di Helsinki 17 tahun silam. Tidak ada tanda-tanda adanya gerakan yang mengarah pada persiapan konflik baru. Yang terjadi justru konsolidasi dalam bingkai sistem demokrasi dan politik Indonesia.

Kolega saya lalu merujuk variabel lain, yaitu sisa akar konflik masa lalu. Mengutip Paul Collier, Hoeffler dan Soderbom (2004) ia menyebutkan, jika akar konflik masa lalu seperti kemiskinan dan korupsi masih ada atau belum selesai, maka kemungkinan besar perdamaian akan berakhir dalam jangka waktu singkat.

Namun ketika melihat kenyataan Aceh hari ini, kolega saya meragukan teori tersebut. Kemiskinan hingga kini masih menjadi masalah utama di Aceh. Begitu pun dengan korupsi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis antara Maret-September 2021 menunjukkan Aceh berada pada posisi provinsi termiskin di Pulau Sumatra dan masuk dalam lima provinsi dengan penduduk miskin tertinggi di Indonesia. Tapi kemiskinan akut tersebut tidak menggagalkan perdamaian dan tidak pula menyebabkan terjadinya konflik baru.

Lalu kolega saya beranjak ke pelaksaan pemilihan umum dini. Mengutip hasil riset Anna K. Jarstad (2009), ia menyebutkan bahwa pemilihan umum yang digelar terlalu cepat, beberapa bulan setelah perjanjian damai, umumnya dapat menyebabkan durasi damai berlangsung singkat.

Sebab, situasi pada fase awal biasanya belum stabil. Senjata ilegal masih beredar luas, kepercayaan belum tumbuh, ekonomi masih sulit, dan masyarakat masih terbelah. Jadi, menggelar pemilu dalam situasi seperti itu sangat rawan. Apalagi pemilu sifatnya kompetisi. Ketegangan pasti sangat mudah terjadi.

Namun kekhawatiran Anna K. Jarstad tidak sepenuhnya terjadi di Aceh. Meski gesekan dan ketegang di lapangan sempat terjadi, akan tetapi tidak sampai merusak damai. Sejak 2006, Aceh bahkan telah menggelar pilkada, pemilu legislatif dan presiden hingga berulang kali. Kenyataannya perdamaian Aceh masih tetap utuh.

Keberadaan pasukan perdamaian dari hasil bacaan kolega saya juga merupakan salah satu elemen penting dan menentukan bertahan atau tidaknya damai. Mengutip Fortna (2004) kolega saya menyebutkan, semakin lama pasukan perdamaian berada di daerah paska konflik maka semakin lama pula damai bertahan.

Dalam kasus Aceh, AMM atau Aceh Monitoring Mission selaku pemantau proses damai hanya berada di Aceh selama satu tahun satu bulan (15 September 2005 hingga 15 Desember 2006). Mereka meninggalkan Aceh bahkan sebelum semua butir-butir penjanjian damai diimplementasikan. Kenyataannya, damai Aceh tetap bertahan.

Lalu kolega saya menyorot keadilan transisi. Sambil mengutip Loyle dan Appel (2017) ia menyebutkan bahwa keadilan transisi paska konflik merupakan salah satu yang paling menentukan bertahannya damai. Sebab, keadilan adalah salah satu yang kerap dijadikan alasan utama memberontak.

Namun dalam kasus Aceh kenyataannya ternyata berbeda. Meski para pelaku kejahatan masa konflik tidak diadili, kebenaran belum diungkap, rekonsiliasi antara pelaku dan korban belum terjadi, dan hak-hak korban belum sepenuhnya dikembalikan, perdamaian Aceh tetap bertahan.

Kondisi tersebut membuat kolega saya semakin penasaran. ”Lantas apa yang membuat perdamaian Aceh mampu bertahan hingga 17 tahun lamanya?” tanyanya penuh penasaran ke saya. Saya hanya mampu menggelengkan kepala, memberi sinyal bahwa saya pun tidak tahu.[]

Tags: CMIDamaidamai acehFinlandiaIndonesiakonflikRI-GAM
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Sahlan Hanafiah

Sahlan Hanafiah

Sahlan Hanafiah adalah Penggerak "Rumoh NekNyah" di Ulee Glee Pidie Jaya, Aceh.

Related Posts

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia: Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

June 10, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 7, 2026
Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

June 15, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

June 13, 2026
Dari Meja yang Sama

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

June 13, 2026
Mungkin yang kurang bukan acara Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

June 10, 2026
Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU

Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU

June 9, 2026
Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

June 8, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025

EDITOR'S PICK

Ini Pesan Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman pada Malam Perdana Tarawih

Ini Pesan Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman pada Malam Perdana Tarawih

March 1, 2025
Kurator Digital, Wajah Baru Profil Lulusan Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry

Kurator Digital, Wajah Baru Profil Lulusan Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry

April 15, 2025
KUR Bank Aceh Tahun Ini Rp1,5 Triliun, Diharapkan Bermanfaat bagi UMKM

KUR Bank Aceh Tahun Ini Rp1,5 Triliun, Diharapkan Bermanfaat bagi UMKM

February 6, 2025
Jelang Ramadhan, Ratusan Warga Aceh Tengah Tempati Huntara

Jelang Ramadhan, Ratusan Warga Aceh Tengah Tempati Huntara

February 15, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.