• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Abua Leman dan Tidur Aja Dulu

Sahlan Hanafiah by Sahlan Hanafiah
May 25, 2025
in Analisis
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Abua Leman dan Tidur Aja Dulu

Abua Leman dan Tidur Aja Dulu. (Ilustrasi AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Sahlan Hanafiah
Staf Pengajar Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar Raniry

Belakangan ini publik di dunia maya ramai menggunakan hashtag ”kabur aja dulu”. Setiap kali muncul masalah di Indonesia, seperti kasus mega korupsi di lembaga penegak hukum, di sektor minyak dan tambang, pagar laut, bentrok antara TNI dan polisi, para netizen menawarkan solusi kabur aja dulu.

Kabur aja dulu adalah reaksi dan ekspresi kekecewaan masyarakat, terutama kelas menengah, atas berbagai masalah yang terjadi secara beruntun di Indonesia, terutama sejak gerakan reformasi ’98 bergulir.

BACA JUGA

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

Masyarakat melihat, meski proses reformasi telah berlangsung puluhan tahun, pemerintah dipilih silih berganti, namun harapan dan kemajuan masih jauh dari terang. Karena itu, untuk menurunkan rasa frustasi yang memuncak, kabur aja dulu disodorkan sebagai solusi.

Bukan fenomena baru
Namun kabur aja dulu bukanlah fenomena baru. Jauh sebelum adanya media sosial, masyarakat telah mempraktekkan aksi kabur aja dulu, menjauh dari masalah yang mereka hadapi, khususnya akibat ketidakpastian kebijakan pemerintah. Bahkan aksi kabur aja dulu pada masa sebelumnya dilakukan dengan cara yang sangat bervariasi. Tentu saja sesuai kapasitas mereka masing-masing.

Saya teringat pada sosok Abua Leman (panggilan hormat kami masa kecil untuk almarhum Ahmad Sulaiman) di awal tahun 1990-an. Saat itu, akhir periode rezim otoriter militeristik Orde Baru berkuasa, kondisi ekonomi dan politik tidak kalah morat marit seperti sekarang.

Abua Leman sehari-hari berprofesi sebagai petani. Ia memiliki tiga orang anak. Semua anaknya dikirim ke perguruan tinggi. Dengan hanya bertani, penghasilan Abua Leman sudah pasti tidak cukup.

Maka untuk menambah penghasilan, setelah pulang dari sawah, Abua Leman menjadi tukang jahit pakaian. Ia menyewa lapak seukuran mesin jahit di salah satu toko kain di pasar Ulee Gle.

Istrinya juga ikut membantu menambah penghasilan keluarga dengan memelihara bebek dan ayam kampung di sekitar rumahnya. Sebagian dari telur bebek dan ayam dijual ke pasar. Sebagian lagi dijadikan bahan untuk membuat kue bhoi. Kue bhoinya terkenal enak. Karena itu, anak-anak waktu itu memanggil istri Abua Leman dengan panggilan Miwa Bhoi.

Setiap waktu makan siang tiba, Abua Leman pulang ke rumahnya yang terletak kurang lebih 1 Km dari pasar dengan mengayuh sepeda Phoenix kesayangannya. Ia tidak makan siang di warung nasi karena ingin berhemat. Selesai makan, Abua Leman menuju ke meunasah (surau) kampung kami yang terletak 1.5 Km dari pasar untuk melaksanakan shalat Zuhur.

Kebiasaan Abua Leman shalat Zuhur di meunasah yang letaknya lebih jauh dari pasar mengundang rasa penasaran saya. Bukankah Abua Leman bisa shalat Zuhur di rumah atau shalat Zuhur di masjid yang tempatnya jauh lebih mulia dan letaknya lebih dekat dari tempat ia menjahit?

Belakangan baru saya tahu misteri dibalik kebiasaan Abua Leman shalat Zuhur di meunasah. Ternyata Abua Leman punya kebiasaan tidur siang di jamboe jaga yang letaknya diapit oleh sawah dan meunasah.

Selain tempatnya teduh, dihembus angin sawah, jamboe jaga juga selalu ramai. Di sana biasanya sudah ada beberapa orang seumuran Abua Leman. Mereka juga memiliki kebiasaan yang sama, singgah di jamboe jaga sambil ngobrol setelah selesai shalat Zuhur. Topik yang dibicarakan beragam, mulai dari hal yang remeh temeh hingga topik serius.

Namun yang menarik dari sosok Abua Leman adalah, ia tidak terlibat dalam diskusi. Biasanya setelah bersalaman, Abua Leman langsung mencari sudut kosong dan merebahkan badannya di atas lantai jamboe jaga yang terbuat dari pelepah pohon pinang.

Tidak lama setelah berbaring disana, suara mendengkur Abua Leman sayup-sayup mulai terdengar, pertanda Abua Leman telah terlelap dalam tidurnya di tengah suara bising teman-temannya.

Tidur siang di jamboe jaga ditengah suara bising teman-temannya membahas politik Orde Baru adalah cara Abua Leman untuk kabur aja dulu dari beban hidup yang ia pikul, khususnya membiayai anak-anaknya sekolah di perguruan tinggi.

Abua Leman seperti tidak ingin membuang waktu, larut dalam diskusi tak berujung. Namun pada saat yang sama, Abua Leman membutuhkan kebisingan jamboe jaga untuk mengantarkannya tidur, kabur dari segala masalah. Biasa jadi sejak kecil Abua Leman terbiasa didongengkan oleh orang tuanya sebelum tidur. Kebiasaan itu kemungkinan terbawa hingga ia dewasa.

Tapi kali ini, yang ia dengar adalah dongeng tentang negerinya yang hampa, banyak masalah, tanpa harapan. Dongeng tentang REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun), kata yang selalu diulang-ulang oleh pemerintah Orde Baru dalam rapat kabinet terbatas. Abua Leman tahu bahwa itu hanyalah angan-angan. Karena itu, ia memilih kabur, mengejar mimpinya dalam tidur.

Tidur aja dulu adalah salah satu cara orang kecil seperti Abua Leman kabur dari peliknya hidup yang dihadapi di zaman Orde Baru. Bagi Abua Leman, kabur secara fisik dari ketidakpastian kebijakan pemerintah tidaklah mungkin dilakukan, mengingat ia memiliki tanggung jawab menghidupi keluarganya. Karena itu, ia memilih tidur, cara paling murah untuk kabur dari masalah.

James C. Scott (1985) dalam bukunya Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance menulis, orang-orang lemah seperti petani selalu memiliki cara untuk melawan rezim pemerintah yang korup dan zalim. Karena sadar tidak berdaya, maka mereka memilih cara-cara perlawanan pasif, tidak langsung.

James C. Scott mengatakan, akumulasi bentuk perlawanan pasif pada suatu waktu akan memuncak dan bisa jadi meledak. Karena itu, jika pemerintah cuek terhadap perlawanan pasif maka itu merupakan kesalahan besar.

Merujuk dari argumen James C. Scott di atas maka tidur aja dulu adalah senjata terakhir yang dimiliki Abua Leman. Abua Leman tidak ingin menghabiskan energinya untuk berdebat pada perkara yang menurutnya berada diluar kapasitasnya. Baginya, menyimpan energi dengan cara tidur aja dulu jauh lebih penting daripada meraba-raba solusi yang belum pasti.

Tidur aja dulu adalah cara Abua Leman mengekspresikan kekecewaanya sekaligus melepaskan kepenatannya. Cara ini bagi Abua Leman terbukti efektif, di mana pada akhirnya Abua Leman berhasil mengantarkan anak-anaknya meraih gelar sarjana, menjadi guru dan budayawan. []

Tags: AnalisisArtikelFenomenaIndonesiaSahlan Hanafiah
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Sahlan Hanafiah

Sahlan Hanafiah

Sahlan Hanafiah adalah Penggerak "Rumoh NekNyah" di Ulee Glee Pidie Jaya, Aceh.

Related Posts

Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Sulaiman Tripa
Analisis

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

by Anna Rizatil
February 2, 2026
Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala
Analisis

Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas
Analisis

Sabar Bukan Diam: Refleksi Etika dan Kebijakan dalam Penanggulangan Bencana Aceh

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis dan Keterbukaan
Analisis

Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis dan Keterbukaan

by Anna Rizatil
December 30, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026

EDITOR'S PICK

Membaca Masa Depan Dayah dari Budaya Akademiknya

Membaca Masa Depan Dayah dari Budaya Akademiknya

February 2, 2026
Perjuangan Kanzia, Bayi 10 Bulan Melawan Kista Hati

Perjuangan Kanzia, Bayi 10 Bulan Melawan Kista Hati

March 15, 2025
Kominfo dan KONI Pusat Berkolaborasi untuk Sukseskan Publikasi PON XXI Aceh-Sumut 2024

Kominfo dan KONI Pusat Berkolaborasi untuk Sukseskan Publikasi PON XXI Aceh-Sumut 2024

August 20, 2024
Menempatkan Aceh di Peta: Antara Representasi, Diplomasi Budaya, dan Daya Hidup Seni Tradisi

Menempatkan Aceh di Peta: Antara Representasi, Diplomasi Budaya, dan Daya Hidup Seni Tradisi

July 30, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.