Suasana hangat menyelimuti Aula Lantai 2 Mes Aceh di Jalan RP Soeroso, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam, 19 November 2025. Puluhan pemuda dan mahasiswa Aceh dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti Kongres Komite Mahasiswa Pemuda Aceh Nusantara (KMPAN) ke-VIII.
Mewakili Pemerintah Aceh, Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) Said Marzuki secara resmi membuka Kongres KMPAN VIII tersebut. Dalam sambutannya, Said menegaskan BPPA bukan sekadar kantor perwakilan Pemerintah Aceh, tetapi juga rumah bagi masyarakat Aceh di perantauan.
Pintu BPPA, kata Said, selalu terbuka bagi siapapun yang membutuhkan bantuan atau sekadar ingin bersilaturahmi. “Hal ini sesuai dengan instruksi bapak Gubernur Aceh yang meminta kita untuk selalu memperhatikan, membantu serta mendampingi masyarakat Aceh di perantauan,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Said juga menjelaskan berbagai program sosial yang selama ini dijalankan BPPA. Salah satu yang paling sering dilakukan adalah pemulangan jenazah warga Aceh yang meninggal di perantauan. Sepanjang 2025, tercatat sekitar 25 jenazah telah dipulangkan ke Aceh.
Tak hanya itu, BPPA juga membantu masyarakat Aceh yang mengalami kesulitan biaya untuk kembali ke kampung halaman, termasuk mahasiswa yang menempuh pendidikan di Jakarta. Dalam beberapa bulan terakhir saja, sekitar 60 orang telah difasilitasi kepulangannya.
“Selama kegiatannya positif, kami di BPPA akan selalu berusaha membantu. Ini bagian dari tanggung jawab moral kami sebagai perwakilan pemerintah Aceh di bawah pimpinan bapak Gubernur Muzakir Manaf, dan tentunya juga sebagai sesama orang Aceh,” ucap Said.
Said mengakui bahwa program-program sosial tersebut jarang dipublikasikan secara luas. Menurutnya, publikasi berlebihan dikhawatirkan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga bantuan tidak tepat sasaran.
“Kami tidak ingin niat baik ini disalahgunakan. Karena itu, publikasi kegiatan pemulangan dan bantuan sosial akhir-akhir ini memang kami batasi,” ujarnya.
Di hadapan para peserta Kongres KMPAN VIII, Said memberikan apresiasi atas terselenggaranya kongres yang disebutnya sebagai ruang penting memperkuat silaturahmi sesama pemuda Aceh.
Ia menilai kegiatan semacam ini bukan hanya seremonial, tetapi juga jembatan komunikasi yang menjaga kedekatan masyarakat Aceh meski berada jauh dari kampung halaman.
“Hubungan yang sudah terjalin harus terus dirawat. Komunikasi yang baik akan membuat kita tetap solid di manapun berada,” kata Said.
Menutup sambutannya, Said berharap kongres kali ini dapat melahirkan semangat baru bagi para pemuda Aceh untuk terus berkontribusi—baik bagi daerah asal maupun komunitas Aceh di perantauan. Ia menekankan bahwa kekuatan Aceh di masa depan banyak bertumpu pada kreativitas, komitmen, dan kebersamaan generasi mudanya. [RF]




















