• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Grak ngon Gidham

Sulaiman Tripa by Sulaiman Tripa
March 20, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Grak ngon Gidham

Ilustrasi.

Share on FacebookShare on Twitter

 

Keadaan keluarga saya biasa saja. Alhamdulillah saya memiliki almarhum abu saya seorang pekerja keras. Karena kami keluarga biasa, maka anak-anaknya harus membantu berbagai kegiatan orang tua dalam memenuhi nafkah bagi keluarganya.

BACA JUGA

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Saya praktis bisa membantu ketika usia sudah belia. Mungkin kelas enam madrasah atau kelas 1 sekolah menengah pertama. Kurang lebih sebelum beliau meninggal, ada 10 tahun.

Saya mendapat bekal selama lebih kurang 10 tahun itu. Salah satu kerja bersama yang sangat dibutuhkan banyak tenaga adalah ketika mempersiapkan pagar kebun. Bahan dasar pagar adalah bambu, yang alhamdulillah waktu itu kami juga memiliki beberapa rumpunnya. Waktu itu saya mulai belajar cara bekerja secara efektif. Saat itu saya bisa belajar bagaimana orang tua menggunakan tenaga yang terbatas untuk sesuatu yang luar biasa.

Belahan bambu digunakan untuk pagar, ia sangat kuat, bahkan di lokasi yang banyak sekali babi hutan sekalipun, biasanya dengan bambu yang padat, akan membuat posisi pagar kokoh. Bambu yang digunakan sesugguhnya sudah terbagi kepada dua bagian. Bagian paling bawah, biasanya dua atau  dua setengah meter, digunakan untuk tiang. Selebihnya digunakan untuk pagar.

Dalam masyarakat tertentu, ujung bambu juga bisa digunakan untuk tali pengikat. Jadi bagian itu harus diperkirakan ketika dipotong. Lalu sisi yang dipotong juga tidak boleh sisi bagian luar –karena akan tertendang dan mengenai pemotong. Jadi harus diambil dari bagian dalam. Pohon bambu itulah yang akan dibelah dan digunakan untuk pagar.

Saya yakin tidak semua orang tahu cara belah bambu yang kelihatan sangat sederhana. Cara belah bambu yang cepat dan sederhana adalah dengan membelah lebih dulu di salah satu ujungnya. Kemudian kaki digunakan untuk menginjak di sisi yang satu, sedangkan tangan digunakan untuk mengangkat di sisi yang lain. Pola seperti ini lebih cepat, syaratnya alur yang dibelah sesuai dengan jenis bambu, karena apabila di alur yang salah, bambu akan sulit terbelah. Begitulah, apabila dilihat dari jauh mungkin kesannya mudah, namun bisa saja terasa berat oleh yang melakukan. Sederhana karena ia tinggal menekan dan mengangkat. Sedangkan yang melakukan membutuhkan teknik dan tenaga ekstra.

Pagar dari pohon bambu akan rusak secara periodik. Biasanya bisa diperkirakan, sekitar tiga atau empat tahun, untuk kebun jenis tanaman tertentu dan di lokasi tertentu terutama yang banyak babi hutan dan gangguan lain, bambu yang dipakai untuk pagar sudah harus diganti. Biasanya bambu bekas itu masih bisa dipergunakan dan dibawa ke kebun yang berada dekat kampung. Lokasinya lebih aman dan tidak banyak gangguuan, karenanya tidak membutuhkan pagar dengan kekuatan ekstra.

Jadi sering ikut dalam memperbaiki pagar kebun, membuat pengalaman saya membelah bambu bertambah. Pengalaman ini, adalah semakin mudah menggunakan kaki untuk menekan yang di bawah, dan mengangkat dengan tangan yang terus berada di atas. Posisinya selalu seperti ini.

Suatu kali saya merenung-renung, sambil membayangkan bagaimana jika bambu itu mengeluh, karena manusia memperlakukannya tidak adil. Sebagian darinya diinjak keras, lalu sebagian lagi diangkat tinggi. Bukankah bagian yang diinjak akan merasa terjepit, sedangkan yang diangkat mendapat angin segar?

Ada bagian yang diangkat (ji grak; beu et). Lalu ada bagian yang dihentak (gidham; gilho). Saya konsultasi dengan sejumlah orang yang memahami bahasa Aceh, kata gidham, itu diucapkan dengan gi-dh’am. Sedang beu et, dibaca dengan beu-oet (angkat). Jika alihbahasa ke Indonesia, gidham sepadan dengan kata injak, namun injak dari kata gidham itu, bukan injak biasa, ia harus dilakukan dengan menyentak.

Sekilas, gidham akan dipahami seperti kondisi melihat orang yang sedang emosi dan menginjak sesuatu. Bisa dibandingkan, seseorang yang sedang tidak enak badan, atau karena terganggu psikologis tertentu, tiba-tiba digigit seekor serangka. Apa yang akan dilakukan terhadap serangga itu? Bukan orang bisa menginjak, tetapi seolah belum cukup, malah serangga yang lemah diputar lagi sehingga ia benar-benar hancur. Nauzdubillah.

Dengan demikian, gidham memang harus menyentak. Mereka yang melakukannya, akan menganggap kerja ini sebagai seni (seulah). Jangan lupakan seni bekerja model ini, yang membuat banyak orang sangat terbantu dalam mendayagunakan kekuatannya secara efektif.

Saran saya jangan pakai pengalaman dan seni ini untuk memperlakukan manusia. Seseorang harus selalu paham bahwa ketika diinjak, manusia akan terjepit dan merasa kemanusiaannya tidak berharga. Namun ketika diangkat pun, harus dilakukan secara manusiawi. Percayalah, apabila suatu waktu Anda pernah melakukan hal ini, maka haruslah sensitif dan sering mendengar mereka yang di bawah, yang ditekan dengan kaki, mengeluh dan meratapi nasibnya ketika dilupakan dan tidak ada yang peduli.

 

Tags: acehAnakKebudayaanOrang TuaSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa adalah analis sosial legal dan kebudayaan. Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

Related Posts

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026

EDITOR'S PICK

2 Bocah di Aceh Besar Ditemukan Meninggal Tenggelam di Sungai

2 Bocah di Aceh Besar Ditemukan Meninggal di Sungai

March 19, 2025
Aceh Tamiang dan Makna “Ngezombie” Pascabencana Banjir Bandang

Aceh Tamiang dan Makna Ngezombie Pascabencana Banjir Bandang

February 24, 2026
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

July 11, 2026
UIN Ar-Raniry Dorong Kolaborasi Pelestarian Warisan Budaya Lewat Digitalisasi Manuskrip

UIN Ar-Raniry Dorong Kolaborasi Pelestarian Warisan Budaya Lewat Digitalisasi Manuskrip

February 8, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.