BANDA ACEH | SAGOETV – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan yang kian kompleks dalam dunia perbukuan, upaya menjaga eksistensi penulis dan penerbit lokal di Aceh terus diperkuat. Komitmen itu kembali ditegaskan dalam pertemuan konsolidasi antara pengurus Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Provinsi Aceh Aceh dengan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA), Zulkifli, Kamis (2/7), di Lantai 2 Gedung Perpustakaan Aceh, Lamnyong, Banda Aceh.
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua IKAPI Aceh, Dr. Mukhlisuddin Ilyas, Sekretaris Teuku Rahmad Afrizal, serta Ketua Dewan Pertimbangan IKAPI Aceh, Prof. Dr. Hasbi Amiruddin, M.A. Agenda ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyusun langkah strategis membangun ekosistem perbukuan Aceh yang lebih sehat, inklusif, dan berdaya saing.
Dalam kesempatan itu, Ketua IKAPI Aceh menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan kepada Plt. Kepala DPKA Aceh sebagai bentuk penguatan sinergi kelembagaan.
Dr. Mukhlisuddin Ilyas menegaskan bahwa keberlangsungan penerbit lokal dan tumbuhnya penulis-penulis Aceh harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, Aceh memiliki kekayaan intelektual, sejarah, dan budaya yang besar, namun semua itu membutuhkan medium yang kuat untuk diwariskan, salah satunya melalui ekosistem buku yang sehat dan berdampak.
Ia menyampaikan sejumlah gagasan strategis, mulai dari rencana pelaksanaan pameran buku, penguatan festival literasi, kampanye anti-pembajakan buku, hingga penguatan ruang-ruang kolaborasi yang melibatkan penerbit, penulis, komunitas literasi, dan pemerintah.
“IKAPI Aceh mendorong agar DPKA Aceh terus mendukung eksistensi penerbit-penerbit lokal dalam berbagai bentuk kegiatan yang mampu melibatkan penerbit dan penulis, serta memberi dampak nyata bagi penguatan ekosistem perbukuan yang sehat di Aceh,” ujar Mukhlisuddin.
Menurutnya, penerbit lokal tidak hanya berfungsi penerbit buku, tetapi juga menjadi penjaga memori kolektif, perawat identitas budaya, dan penggerak literasi masyarakat Aceh.
Sementara itu, Plt. Kepala DPKA Aceh, Zulkifli, memberikan apresiasi atas semangat dan langkah progresif IKAPI Aceh dalam membangun ekosistem perbukuan yang sehat.
Ia menilai, tantangan dunia penerbitan saat ini menuntut adaptasi yang lebih cepat terhadap perkembangan teknologi.
“Kami mendorong penerbit-penerbit di Aceh untuk terus berbenah sesuai perkembangan zaman. Ini era digital, sehingga perlu memperbanyak penerbitan buku elektronik atau e-book agar jangkauan literasi semakin luas,” ujar Zulkifli.
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian khusus dalam diskusi itu adalah penguatan katalog bersama penerbit lokal Aceh. Langkah ini dinilai penting untuk memetakan, mendokumentasikan, sekaligus mempromosikan karya-karya terbitan lokal agar lebih mudah diakses masyarakat.
Zulkifli berharap keberadaan IKAPI Aceh dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), Indeks Pembangunan Manusia (IPM), serta Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) di Aceh.
Di tengah tantangan rendahnya minat baca, maraknya pembajakan buku, dan perubahan pola konsumsi informasi di era digital, kolaborasi antara IKAPI Aceh dan DPKA menjadi angin segar bagi masa depan dunia literasi Aceh.
Sebab, di balik setiap buku yang terbit di Aceh, ada gagasan yang hidup, di balik setiap keberadaan penulis lokal yang bertahan di Aceh ditengah himpitan ekonomi, ada ruang intelektual yang tumbuh untuk Aceh.



















