• Tentang Kami
Sunday, January 18, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
KIRIM TULISAN
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • DATA BENCANA ACEH 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • DATA BENCANA ACEH 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Menempatkan Aceh di Peta: Antara Representasi, Diplomasi Budaya, dan Daya Hidup Seni Tradisi

SAGOE TV by SAGOE TV
July 30, 2025
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Menempatkan Aceh di Peta: Antara Representasi, Diplomasi Budaya, dan Daya Hidup Seni Tradisi

Ilustrasi. (AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi

Dalam dunia yang kian terkoneksi, berbicara tentang budaya tak lagi cukup berhenti pada pelestarian. Ia kini menuntut kehadiran yang bermartabat dan berdaya dalam percakapan global. Aceh, dengan sejarah panjang dan warisan spiritual yang kaya, menghadapi tantangan penting dalam hal ini. Apakah seni tradisinya masih memiliki daya tawar? Apakah ia masih tumbuh sebagai kekuatan kultural yang hidup, atau hanya tinggal sebagai simbol seremonial yang tampil di panggung, tapi tak lagi terdengar?

Aceh sejatinya tidak pernah hilang dari peta. Namun, terlalu sering ia hanya hadir sebagai bayangan: diingat lewat citra, bukan suara. Ia tampil di berbagai forum kebudayaan, namun jarang menjadi subjek yang menentukan narasi. Pertanyaan “bagaimana Aceh hadir di dunia?” menjadi kunci penting dalam refleksi kebudayaan hari ini. Untuk menjawabnya, kita perlu menengok ke belakang, membaca kenyataan hari ini, dan membayangkan jalan ke depan.

Dalam sejarahnya, Aceh pernah menjadi simpul diplomasi dan pertukaran budaya di Asia Tenggara. Salah satu simbol kuat dari masa itu adalah surat Sultan Aceh kepada Ratu Elizabeth I dari Inggris pada abad ke-16. Surat itu bukan sekadar dokumen politik, melainkan cermin dari peradaban yang sadar akan representasi dan martabat budaya. Seni dalam konteks ini bukan hiasan, melainkan bagian dari diplomasi itu sendiri. Tari, musik, sastra, dan arsitektur digunakan untuk menyampaikan nilai, bukan sekadar untuk dikagumi. Ia adalah bahasa politik, spiritual, dan sosial dalam satu kesatuan. Warisan ini menunjukkan bahwa Aceh tidak hanya pernah dikenal, tetapi juga dihormati sebagai entitas kultural yang aktif dan sejajar dalam dunia Islam dan Asia.

BACA JUGA

Sebuah Kekalahan dalam Kemenangan

Gegara Aceh Merasa ‘Dicuekin’ Pusat

Namun, kenyataan kontemporer menunjukkan jurang yang makin menganga antara sejarah dan praktik hari ini. Seni tradisi Aceh masih kerap tampil, tetapi dalam format yang makin dangkal. Ia hadir dalam seremoni resmi, menjadi pembuka atau pelengkap acara, tetapi jarang menjadi ruang pendidikan atau refleksi. Di balik panggung megah itu, kita menyaksikan ketimpangan: dokumentasi yang lemah, regenerasi yang minim, dan institusi seni yang berjalan tanpa arah. Budaya makin terjebak dalam logika proyek, bukan proses. Seni direduksi menjadi “tugas” untuk memenuhi agenda tertentu, bukan kebutuhan untuk memahami dan menghidupkan nilai-nilai bersama.

Baca Juga:  Olimpiade Madrasah Indonesia 2025 di Aceh Diikuti 756 Peserta dari 23 Kabupaten/Kota

Kondisi ini memunculkan krisis representasi. Siapa yang menampilkan seni Aceh, untuk tujuan apa, dan dalam narasi siapa? Representasi yang tidak berakar pada kesadaran historis dan konteks sosial bisa dengan mudah menjelma menjadi bentuk eksotisme baru. Seni ditampilkan karena “unik”, bukan karena bermakna. Ia dipilih karena “menghibur”, bukan karena mendidik atau menggerakkan. Dalam situasi seperti ini, seni tradisi tidak lagi berfungsi sebagai ruang spiritual, sosial, dan pedagogis seperti dulu. Ia berubah menjadi panggung kosong yang hanya memenuhi harapan visual penonton, bukan kebutuhan batin masyarakat.

Regenerasi menjadi titik krusial dalam upaya membalik arah. Tetapi regenerasi bukan hanya soal mengganti pemain lama dengan yang baru. Lebih dari itu, regenerasi harus mencakup perluasan peran—bukan hanya seniman atau penampil, tetapi juga penulis, peneliti, kurator, dan mediator budaya. Aceh perlu menumbuhkan generasi muda yang bukan hanya bisa menari dan menyanyi, tetapi juga menafsir, menulis, dan berbicara tentang makna dari apa yang mereka lakukan. Tanpa ini, seni tradisi akan terus berada di tangan pihak luar yang mendefinisikannya dari kejauhan.

Dalam konteks ini, arsip hidup menjadi penting. Bukan sekadar menyimpan dokumen, melainkan menjaga ruang-ruang praktik agar tetap berdenyut. Meunasah, dapur, kolong rumah, ladang, dan lapangan adalah ruang-ruang arsip itu. Di sanalah ingatan dan pengetahuan budaya dipertukarkan, diajarkan, dan diperbarui. Maka yang kita butuhkan bukan hanya teknologi dokumentasi, tetapi juga kebijakan dan gerakan komunitas yang menjaga agar ruang-ruang ini tetap hidup dan dimaknai bersama.

Diplomasi budaya pun harus dimaknai ulang. Selama ini, ia lebih sering dikelola dari atas ke bawah—ditentukan oleh lembaga, digerakkan oleh agenda luar, dan dipentaskan oleh kelompok resmi. Padahal, seni tradisi Aceh tumbuh dari komunitas. Maka, panggung dunia harus diisi oleh mereka yang hidup dan terlibat langsung dalam tradisi itu. Diplomasi bukan tentang memperlihatkan eksotisme, tetapi membuka percakapan. Ia adalah ruang pertemuan yang saling belajar, bukan pertunjukan satu arah.

Baca Juga:  Sebulan Terputus Akibat Banjir, Akses Jembatan Kuta Blang Bireuen Kini Sudah Bisa Dilalui

Namun semua ini tak akan bermakna tanpa kesadaran etis dalam representasi. Di tengah arus pariwisata massal, digitalisasi, dan komodifikasi budaya, kita perlu bertanya: ketika seni Aceh ditampilkan, siapa yang diuntungkan? Apakah komunitasnya dilibatkan? Apakah narasinya jujur terhadap sejarah dan konteks sosial? Seni tradisi Aceh tidak hanya berisi keindahan bentuk, tetapi juga sejarah penjajahan, pengalaman bencana, dan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Menampilkannya secara asal-asalan bukan saja mereduksi makna, tapi juga mengkhianati ingatan kolektif.

Esai ini tidak menutup dengan jawaban final, melainkan ajakan terbuka untuk menata ulang ekosistem budaya. Kita perlu memperkuat pendidikan seni yang berpihak pada refleksi dan kreativitas lokal. Kita harus mengembangkan arsip budaya yang hidup dan terhubung dengan komunitas. Kita perlu menumbuhkan generasi penulis dan penafsir dari dalam. Dan yang terpenting, kita harus memastikan bahwa setiap panggung yang kita bangun berdiri di atas nilai keadilan, keterlibatan, dan kesadaran historis.

Menempatkan Aceh di peta bukan soal tampil lebih sering, tetapi hadir lebih utuh. Bukan tentang menjadi “dikenal dunia”, tetapi tentang menyuarakan nilai dan martabat dari dalam diri sendiri. Dunia tidak butuh lebih banyak pertunjukan. Ia butuh lebih banyak kejujuran kultural. Aceh bisa hadir di sana—bukan sebagai ingatan masa lalu, tapi sebagai kekuatan kultural yang bergerak, bernapas, dan hidup bersama zaman. []

Ari Palawi
Jembatan Bunyi antara Tradisi dan Inovasi

Dari pesisir Banda Aceh hingga panggung akademik di Melbourne dan Hawai‘i, Dr. Ari Palawi adalah kekuatan budaya yang menjembatani masa lalu dan masa depan melalui senar gitarnya—yang bergetar dalam warisan ratusan tahun tradisi Melayu dan Aceh. Sebagai Dosen Senior Etnomusikologi di Universitas Syiah Kuala, Ari bukan sekadar pendidik, melainkan juga strategi kebudayaan, perancang pertunjukan, dan penggerak komunitas. Entah saat ia membaca makna adat melalui musik, merancang pertukaran lintas budaya, atau mengarahkan kebijakan kebudayaan Aceh, seluruh karyanya berpijar dengan tujuan dan ketulusan.

Tags: acehArtikelBudayaDiplomasiopiniSeniSeni BudayaTradisi
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Sebuah Kekalahan dalam Kemenangan
Opini

Sebuah Kekalahan dalam Kemenangan

by Anna Rizatil
January 13, 2026
Gegara Aceh Merasa ‘Dicuekin’ Pusat
Opini

Gegara Aceh Merasa ‘Dicuekin’ Pusat

by SAGOE TV
January 11, 2026
H-1: Kampus, Keputusan, dan Percakapan yang Perlu Dijaga
Opini

H-1: Kampus, Keputusan, dan Percakapan yang Perlu Dijaga

by SAGOE TV
January 11, 2026
Sebuah Kekalahan dalam Kemenangan
Opini

Mencari Putroe Phang dan Laksamana: Demi Tegaknya Qanun Syariat Islam di Aceh

by Anna Rizatil
January 7, 2026
Aceh dan Ujian Kepercayaan Negara: Di Awal Era Prabowo
Opini

Aceh dan Ujian Kepercayaan Negara: Di Awal Era Prabowo

by SAGOE TV
January 5, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

MWA USK Tetapkan Tiga Calon Rektor Terpilih

MWA USK Tetapkan Tiga Calon Rektor Terpilih, Ini Daftar Namanya

January 12, 2026
Sebuah Kekalahan dalam Kemenangan

Sebuah Kekalahan dalam Kemenangan

January 13, 2026
Jurnalis asal Aceh Dinobatkan sebagai Jurnalis Media Cetak Terbaik AMA 2026

Jurnalis Asal Aceh Dinobatkan sebagai Jurnalis Media Cetak Terbaik AMA 2026

January 14, 2026
Manasik Haji Makin Lengkap, Pesawat Citilink Hadir di Asrama Haji Aceh

Manasik Haji Makin Lengkap, Pesawat Citilink Hadir di Asrama Haji Aceh

January 14, 2026
Password Sebagai Warisan; Perginya Seorang Pekerja Kreatif Dunia dari Aceh

Password Sebagai Warisan; Perginya Seorang Pekerja Kreatif Dunia dari Aceh

January 9, 2026
Gegara Aceh Merasa ‘Dicuekin’ Pusat

Gegara Aceh Merasa ‘Dicuekin’ Pusat

January 11, 2026
Sudah 49 Hari Desa Dayah Usen Belum Bersih dari Lumpur

Sudah 49 Hari Desa Dayah Usen Belum Bersih dari Lumpur

January 14, 2026
Puisi untuk Bencana Sumatera: Tuan Katakan Dusta

Puisi untuk Bencana Sumatera: Tuan Katakan Dusta

December 20, 2025
Sundulan Connor Flynn Antar Persiraja Tekuk Persikad Depok 1-0

Sundulan Connor Flynn Antar Persiraja Tekuk Persikad Depok 1-0

January 12, 2026

EDITOR'S PICK

UIN Ar-Raniry Siap Fasilitasi Rekrutmen Beasiswa Turki untuk Pelajar dan Mahasiswa Aceh

UIN Ar-Raniry Siap Fasilitasi Rekrutmen Beasiswa Turki untuk Pelajar dan Mahasiswa Aceh

April 15, 2025
Podcast Pengalaman Orang Aceh dan Turki Jadi Imam di Amerika Serikat

Podcast: Pengalaman Orang Aceh dan Turki Jadi Imam di Amerika Serikat

March 8, 2025
Dr. Masyhuril Penceramah Sambut Tahun Baru Islam 1447 H di Masjid Raya Baiturrahman

Dr. Masyhuril Penceramah Sambut Tahun Baru Islam 1447 H di Masjid Raya Baiturrahman

June 26, 2025
Pj Bupati Aceh Besar Resmikan Musala Dekranasda

Pj Bupati Aceh Besar Resmikan Musala Dekranasda

February 2, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.