• Tentang Kami
Saturday, August 1, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Menghidupkan Dua Mesin Ekonomi Aceh: Saatnya Likuiditas Menjadi Strategi Pembangunan

SAGOE TV by SAGOE TV
April 16, 2026
in Analisis
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Kepala Kanwil Bea dan Cukai Aceh, Safuadi, ST., M.Sc., Ph.D.

Safuadi, ST., M.Sc., Ph.D. Foto: SagoeTV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Safuadi, ST., M.Sc., Ph.D
Pemerhati Pembangunan dan Ekonomi Aceh.

Selama bertahun-tahun, pembangunan ekonomi di banyak daerah termasuk Aceh cenderung bertumpu hanya pada satu mesin: APBD sebagai sumber belanja pembangunan. Logika yang digunakan sederhana: jika pemerintah membangun jalan, jembatan, kantor, atau fasilitas publik, maka ekonomi akan bergerak, pendapatan masyarakat meningkat, dan indeks pembangunan manusia membaik.

BACA JUGA

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

Namun dalam praktiknya, ketergantungan pada satu mesin fiskal saja membuat gerak ekonomi daerah kurang bertenaga. Belanja pemerintah terbatas, penyalurannya bertahap, dan struktur belanjanya sering kali tidak dominan pada sektor produktif. Akibatnya, perekonomian bergerak lambat, investasi swasta tidak berkembang, dan pasar tidak memiliki cukup tenaga untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Di sini kita perlu melihat sebuah fakta baru yang menarik, yang muncul dari kebijakan nasional dalam beberapa waktu terakhir.

Bank Indonesia hingga November ini mencatat bahwa jumlah uang beredar luas (M2) mencapai Rp 9.771 triliun, meningkat 8% dibanding tahun sebelumnya. Dan yang lebih penting, kenaikan likuiditas ini bukan terjadi secara alamiah, melainkan karena adanya injeksi terarah berupa penyaluran dana sekitar Rp 200 triliun ke sistem perbankan nasional.

Dalam waktu sekitar dua bulan saja, efek pengganda (money multiplier) bekerja: Rp 200 triliun dana awal menghasilkan pergerakan ekonomi sekitar Rp 781 triliun. Padahal proyeksi awal hanya memperkirakan efek tersebut akan tercapai dalam kurun dua tahun.

Selama ini Aceh sebenarnya tidak miskin uang, tetapi miskin keberanian menggerakkan uang. Dana Bank Aceh, Dana Abadi Pendidikan, Dana Baitul Mal, dana idle kas daerah, dan berbagai simpanan lembaga keuangan kita lebih banyak tidur di deposito, giro, obligasi, dan saham, sementara petani tidak punya modal, nelayan kekurangan cold storage, UMKM kehabisan nafas, dan anak muda memilih merantau karena di kampungnya uang tidak berputar. Kita telah menjadikan uang sebagai barang untuk disimpan, bukan alat untuk menciptakan kesejahteraan, padahal uang hanya punya satu fungsi sejati: berputar dan melahirkan nilai tambah. Selama uang kita dibiarkan diam, ekonomi akan tetap diam. Jika kita ingin Aceh bangkit, maka kita harus mengubah pola pikir ini sekarang—hidupkan likuiditas, gerakkan pembiayaan produktif, dan jadikan dana-dana yang selama ini mengendap sebagai bensin untuk menghidupkan mesin ekonomi rakyat. Tanpa itu, berapa pun anggaran dan dana Otsus yang kita terima, hasilnya hanya sirkulasi kemiskinan yang sama, hanya dengan bentuk yang lebih rapi.

Pesan pentingnya sederhana:
Ketika uang didorong untuk beredar, bukan sekadar disimpan, maka ekonomi hidup.
Inilah mesin ekonomi kedua yang selama ini jarang disentuh oleh pemerintah daerah:
Mesin Moneter: Likuiditas Pasar

Jika mesin fiskal adalah bagaimana pemerintah mengumpulkan, mengelola dan membelanjakan uang, maka mesin moneter adalah bagaimana uang berputar di masyarakat dan sektor usaha.

Kenaikan M2 yang terjadi di tingkat nasional menunjukkan bahwa:
• Ketika perbankan mendapat penguatan likuiditas, mereka dapat memperluas pembiayaan.
• Pembiayaan tersebut mendorong produksi, perdagangan, dan konsumsi.
• Aktivitas ini menciptakan lapangan kerja, pendapatan, dan kepercayaan pasar.
Dengan kata lain:
Likuiditas adalah oksigen ekonomi. Tanpa likuiditas, usaha tidak bergerak, dan pasar kehilangan nafas.

Pelajaran untuk Aceh
Aceh memiliki modal fiskal yang besar melalui Dana Otsus dan APBA, namun belum memiliki strategi moneter daerah untuk menggerakkan likuiditas.

Selama ini:
• Dana pemerintah banyak yang mengendap di kas daerah dan bank
• Kredit produktif UMKM masih rendah
• Sektor pertanian dan perikanan kurang memperoleh modal kerja
• Perdagangan lokal lemah karena daya beli berkurang
• Investasi swasta enggan masuk karena perputaran uang rendah

Dengan kata lain:
Aceh memiliki air dalam kendi, tetapi belum menuangkannya ke ladang ekonomi yang haus.
Maka untuk menghidupkan ekonomi Aceh, kita perlu menyalakan dua mesin sekaligus:

1. Mesin Fiskal (APBA, Dana Otsus, DAK, Hibah)
Namun dengan satu catatan penting “Belanja harus diarahkan ke sektor produktif”, bukan hanya rutin dan infrastruktur fisik dasar.

2. Mesin Moneter (Likuiditas Pasar & Pembiayaan Produktif)
Melalui: “Skema creative financing”, “Penjaminan kredit berbasis pemerintah daerah”, “Pemanfaatan instrumen syariah Bank Aceh”, “Peningkatan pembiayaan koperasi dan UMKM”, “Dana bergulir sektor pangan, maritim, dan agroindustry”.

Ketika fiskal menciptakan pondasi, dan likuiditas menggerakkan roda usaha, maka:
“Daya beli naik, “Produksi meningkat”, “Pasar hidup”, “PAD bertumbuh secara structural”, “Kemiskinan menurun bukan karena bantuan, tapi karena pekerjaan”.

Saatnya Aceh Beralih dari Konsumsi ke Produktivitas
Kita harus berani menata arah pembangunan ekonomi Aceh ke depan:

Pola Lama Pola Baru
Bergantung pada belanja pemerintah Menggerakkan ekonomi berbasis pembiayaan produktif
Infrastruktur fisik sebagai fokus Aktivitas usaha sebagai lokomotif
Belanja → habis Pembiayaan → berputar & tumbuh
Dana mengendap Dana berputar & menciptakan nilai

Karena yang membuat ekonomi maju bukan seberapa banyak uang dimiliki, tetapi seberapa cepat uang beredar dan menciptakan nilai tambah.

Penutup
Momentum nasional menunjukkan bahwa likuiditas yang dikelola dengan benar dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi secara dramatis. Aceh dapat meniru pendekatan ini, bukan dengan meng-copy program pusat, tetapi dengan mendesain model pembiayaan berbasis karakter ekonomi Aceh: pertanian, kelautan, perikanan, industri kecil, dan jasa pariwisata.

Aceh telah memiliki modal fiskal, jaringan perbankan syariah, dan sumber daya ekonomi riil. Yang kita butuhkan sekarang bukan menambah alokasi, tetapi menghidupkan perputaran.

Ekonomi Aceh akan tumbuh bukan karena besar anggarannya, tetapi karena hidup perputaran uangnya. Dua mesin harus menyala. “Fiskal membangun – Moneter menggerakkan”.[]

Tags: AcehEkonomiIndonesiaMakin Tahu IndonesiaPembangunan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Calvin Ho
Analisis

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

by SAGOE TV
July 30, 2026
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Sulaiman Tripa
Analisis

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

by Anna Rizatil
February 2, 2026
Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala
Analisis

Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas
Analisis

Sabar Bukan Diam: Refleksi Etika dan Kebijakan dalam Penanggulangan Bencana Aceh

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

July 30, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

July 29, 2026
Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

August 1, 2026
Setelah Panggung Dibongkar

Setelah Panggung Dibongkar

July 28, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Calvin Ho

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

July 30, 2026
Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

July 6, 2025
Balai Bahasa Aceh Hadirkan Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa, Wujud Pelestarian Karya dan Penguatan Literasi

Balai Bahasa Aceh Hadirkan Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa, Wujud Pelestarian Karya dan Penguatan Literasi

July 31, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Usung “Meutaloe”: Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

July 31, 2026

EDITOR'S PICK

dehumanisasi pendidikan

Dehumanisasi Pendidikan Aceh

March 20, 2025
Serap dan ‘Modifikasi’ Jawa untuk Kuasa

Serap dan ‘Modifikasi’ Jawa untuk Kuasa

March 14, 2025
Hari Pajak 2025, DJP Targetkan Penerimaan Rp2.189 Triliun dan Tax Ratio 11%

Hari Pajak 2025, DJP Targetkan Penerimaan Rp2.189 Triliun dan Tax Ratio 11%

July 14, 2025
Hamdan Terima Penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Presiden

Hamdan Terima Penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Presiden

August 20, 2024
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.