• Tentang Kami
Wednesday, September 16, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Menghidupkan Dua Mesin Ekonomi Aceh: Saatnya Likuiditas Menjadi Strategi Pembangunan

SAGOE TV by SAGOE TV
April 16, 2026
in Analisis
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Kepala Kanwil Bea dan Cukai Aceh, Safuadi, ST., M.Sc., Ph.D.

Safuadi, ST., M.Sc., Ph.D. Foto: SagoeTV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Safuadi, ST., M.Sc., Ph.D
Pemerhati Pembangunan dan Ekonomi Aceh.

Selama bertahun-tahun, pembangunan ekonomi di banyak daerah termasuk Aceh cenderung bertumpu hanya pada satu mesin: APBD sebagai sumber belanja pembangunan. Logika yang digunakan sederhana: jika pemerintah membangun jalan, jembatan, kantor, atau fasilitas publik, maka ekonomi akan bergerak, pendapatan masyarakat meningkat, dan indeks pembangunan manusia membaik.

BACA JUGA

Kedermawanan di Atas Tanah Rebutan: Ketika Oligarki Berjubah Welas Asih

Membongkar Utang Indonesia dan Ilusi “Masih Aman”

Namun dalam praktiknya, ketergantungan pada satu mesin fiskal saja membuat gerak ekonomi daerah kurang bertenaga. Belanja pemerintah terbatas, penyalurannya bertahap, dan struktur belanjanya sering kali tidak dominan pada sektor produktif. Akibatnya, perekonomian bergerak lambat, investasi swasta tidak berkembang, dan pasar tidak memiliki cukup tenaga untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Di sini kita perlu melihat sebuah fakta baru yang menarik, yang muncul dari kebijakan nasional dalam beberapa waktu terakhir.

Bank Indonesia hingga November ini mencatat bahwa jumlah uang beredar luas (M2) mencapai Rp 9.771 triliun, meningkat 8% dibanding tahun sebelumnya. Dan yang lebih penting, kenaikan likuiditas ini bukan terjadi secara alamiah, melainkan karena adanya injeksi terarah berupa penyaluran dana sekitar Rp 200 triliun ke sistem perbankan nasional.

Dalam waktu sekitar dua bulan saja, efek pengganda (money multiplier) bekerja: Rp 200 triliun dana awal menghasilkan pergerakan ekonomi sekitar Rp 781 triliun. Padahal proyeksi awal hanya memperkirakan efek tersebut akan tercapai dalam kurun dua tahun.

Selama ini Aceh sebenarnya tidak miskin uang, tetapi miskin keberanian menggerakkan uang. Dana Bank Aceh, Dana Abadi Pendidikan, Dana Baitul Mal, dana idle kas daerah, dan berbagai simpanan lembaga keuangan kita lebih banyak tidur di deposito, giro, obligasi, dan saham, sementara petani tidak punya modal, nelayan kekurangan cold storage, UMKM kehabisan nafas, dan anak muda memilih merantau karena di kampungnya uang tidak berputar. Kita telah menjadikan uang sebagai barang untuk disimpan, bukan alat untuk menciptakan kesejahteraan, padahal uang hanya punya satu fungsi sejati: berputar dan melahirkan nilai tambah. Selama uang kita dibiarkan diam, ekonomi akan tetap diam. Jika kita ingin Aceh bangkit, maka kita harus mengubah pola pikir ini sekarang—hidupkan likuiditas, gerakkan pembiayaan produktif, dan jadikan dana-dana yang selama ini mengendap sebagai bensin untuk menghidupkan mesin ekonomi rakyat. Tanpa itu, berapa pun anggaran dan dana Otsus yang kita terima, hasilnya hanya sirkulasi kemiskinan yang sama, hanya dengan bentuk yang lebih rapi.

Pesan pentingnya sederhana:
Ketika uang didorong untuk beredar, bukan sekadar disimpan, maka ekonomi hidup.
Inilah mesin ekonomi kedua yang selama ini jarang disentuh oleh pemerintah daerah:
Mesin Moneter: Likuiditas Pasar

Jika mesin fiskal adalah bagaimana pemerintah mengumpulkan, mengelola dan membelanjakan uang, maka mesin moneter adalah bagaimana uang berputar di masyarakat dan sektor usaha.

Kenaikan M2 yang terjadi di tingkat nasional menunjukkan bahwa:
• Ketika perbankan mendapat penguatan likuiditas, mereka dapat memperluas pembiayaan.
• Pembiayaan tersebut mendorong produksi, perdagangan, dan konsumsi.
• Aktivitas ini menciptakan lapangan kerja, pendapatan, dan kepercayaan pasar.
Dengan kata lain:
Likuiditas adalah oksigen ekonomi. Tanpa likuiditas, usaha tidak bergerak, dan pasar kehilangan nafas.

Pelajaran untuk Aceh
Aceh memiliki modal fiskal yang besar melalui Dana Otsus dan APBA, namun belum memiliki strategi moneter daerah untuk menggerakkan likuiditas.

Selama ini:
• Dana pemerintah banyak yang mengendap di kas daerah dan bank
• Kredit produktif UMKM masih rendah
• Sektor pertanian dan perikanan kurang memperoleh modal kerja
• Perdagangan lokal lemah karena daya beli berkurang
• Investasi swasta enggan masuk karena perputaran uang rendah

Dengan kata lain:
Aceh memiliki air dalam kendi, tetapi belum menuangkannya ke ladang ekonomi yang haus.
Maka untuk menghidupkan ekonomi Aceh, kita perlu menyalakan dua mesin sekaligus:

1. Mesin Fiskal (APBA, Dana Otsus, DAK, Hibah)
Namun dengan satu catatan penting “Belanja harus diarahkan ke sektor produktif”, bukan hanya rutin dan infrastruktur fisik dasar.

2. Mesin Moneter (Likuiditas Pasar & Pembiayaan Produktif)
Melalui: “Skema creative financing”, “Penjaminan kredit berbasis pemerintah daerah”, “Pemanfaatan instrumen syariah Bank Aceh”, “Peningkatan pembiayaan koperasi dan UMKM”, “Dana bergulir sektor pangan, maritim, dan agroindustry”.

Ketika fiskal menciptakan pondasi, dan likuiditas menggerakkan roda usaha, maka:
“Daya beli naik, “Produksi meningkat”, “Pasar hidup”, “PAD bertumbuh secara structural”, “Kemiskinan menurun bukan karena bantuan, tapi karena pekerjaan”.

Saatnya Aceh Beralih dari Konsumsi ke Produktivitas
Kita harus berani menata arah pembangunan ekonomi Aceh ke depan:

Pola Lama Pola Baru
Bergantung pada belanja pemerintah Menggerakkan ekonomi berbasis pembiayaan produktif
Infrastruktur fisik sebagai fokus Aktivitas usaha sebagai lokomotif
Belanja → habis Pembiayaan → berputar & tumbuh
Dana mengendap Dana berputar & menciptakan nilai

Karena yang membuat ekonomi maju bukan seberapa banyak uang dimiliki, tetapi seberapa cepat uang beredar dan menciptakan nilai tambah.

Penutup
Momentum nasional menunjukkan bahwa likuiditas yang dikelola dengan benar dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi secara dramatis. Aceh dapat meniru pendekatan ini, bukan dengan meng-copy program pusat, tetapi dengan mendesain model pembiayaan berbasis karakter ekonomi Aceh: pertanian, kelautan, perikanan, industri kecil, dan jasa pariwisata.

Aceh telah memiliki modal fiskal, jaringan perbankan syariah, dan sumber daya ekonomi riil. Yang kita butuhkan sekarang bukan menambah alokasi, tetapi menghidupkan perputaran.

Ekonomi Aceh akan tumbuh bukan karena besar anggarannya, tetapi karena hidup perputaran uangnya. Dua mesin harus menyala. “Fiskal membangun – Moneter menggerakkan”.[]

Tags: AcehEkonomiIndonesiaMakin Tahu IndonesiaPembangunan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Kedermawanan di Atas Tanah Rebutan: Ketika Oligarki Berjubah Welas Asih
Analisis

Kedermawanan di Atas Tanah Rebutan: Ketika Oligarki Berjubah Welas Asih

by SAGOE TV
September 9, 2026
Calvin Ho
Analisis

Membongkar Utang Indonesia dan Ilusi “Masih Aman”

by SAGOE TV
August 16, 2026
Calvin Ho
Analisis

Paradoks Aceh: Mengapa Kekayaan Alam Tidak Menjadi Kemakmuran?

by SAGOE TV
August 7, 2026
Calvin Ho
Analisis

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

by SAGOE TV
July 30, 2026
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

September 11, 2026
Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

September 11, 2026
Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara? Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

September 10, 2026
Mahasiswa PKK USK Belajar Pendidikan Kuliner dan Pariwisata dari Akademisi Malaysia

Mahasiswa PKK USK Belajar Pendidikan Kuliner dan Pariwisata dari Akademisi Malaysia

September 12, 2026
Prof Teuku Zulfikar Jadi Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Ini Fokus yang Akan Diperkuat

Prof Teuku Zulfikar Jadi Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Ini Fokus yang Akan Diperkuat

September 12, 2026
Mahasiswa USK Soroti Pemulihan Pascabencana Aceh, Plt Sekda Buka Ruang Dialog

Mahasiswa USK Soroti Pemulihan Pascabencana Aceh, Plt Sekda Buka Ruang Dialog

September 11, 2026
Mujiburrahman Terpilih Jadi Ketua ICMI Aceh, Unggul 13 Suara dalam Muswil VIII

Mujiburrahman Terpilih Jadi Ketua ICMI Aceh, Unggul 13 Suara dalam Muswil VIII

September 12, 2026
Jejak Syekh Yusuf al-Makassari di Aceh dan Jaringan Samudra Hindia Dibahas UIN Ar-Raniry

Jejak Syekh Yusuf al-Makassari di Aceh dan Jaringan Samudra Hindia Dibahas UIN Ar-Raniry

September 14, 2026
Dua Kampus Besar Aceh Kembali Perkuat Kerja Sama untuk Majukan Pendidikan

Dua Kampus Besar Aceh Kembali Perkuat Kerja Sama untuk Majukan Pendidikan

September 11, 2026

EDITOR'S PICK

Membaca ACEH 2024: Membangun Martabat Politik dengan Politik Bermartabat

Membaca ACEH 2024: Membangun Martabat Politik dengan Politik Bermartabat

February 7, 2026
UIN Ar-Raniry Dukung Program Satu Keluarga Satu Sarjana dari Baitul Mal Simeulue

UIN Ar-Raniry Dukung Program Satu Keluarga Satu Sarjana dari Baitul Mal Simeulue

June 12, 2025
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026
Sekda Aceh Tekankan Percepatan Realisasi APBA 2025 untuk Perpanjangan Dana Otsus

Sekda Aceh Tekankan Percepatan Realisasi APBA 2025 untuk Perpanjangan Dana Otsus

August 25, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.