• Tentang Kami
Friday, September 4, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Agam Hana Raba Krèh

SAGOE TV by SAGOE TV
November 4, 2025
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Agam Hana Raba Krèh

Ilustrasi. (Pixabay)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Musisi dan Akademisi Seni Aceh

Dalam bahasa Aceh, ada sebuah hadih maja yang bunyinya keras dan getir, tapi sarat kebijaksanaan: “Agam hana raba krèh.” Secara harfiah, artinya laki-laki tidak meraba buah pelirnya sendiri — kalimat yang kasar di telinga, tapi luhur di makna. Ia bukan bicara tentang tubuh, melainkan tentang harga diri, keberanian, dan rasa malu yang menjaga manusia dari kehinaan.

BACA JUGA

Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu

Tangke Wakili Aceh di Lake Toba Traditional Music Festival

Peribahasa ini lahir dari masa ketika kata masih berarti. Ketika lelaki tidak hanya dinilai dari seberapa kuat fisiknya, tapi dari seberapa teguh ia memegang kebenaran. Laki-laki sejati adalah yang tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus berdiri di tempat yang benar — meski sendirian.

Sekarang, gema itu nyaris hilang. Kita punya banyak laki-laki dengan jas rapi, jabatan tinggi, dan gelar panjang, tapi sedikit yang masih punya malu. Banyak yang pandai berbicara, tapi takut menegakkan kebenaran. Banyak yang tampak gagah, tapi sebenarnya hanya penakut yang pandai bersembunyi di balik rapat dan kesepakatan palsu. Aceh kini seperti rumah besar yang masih berdiri, tapi kehilangan isi moralnya.

Nada Keberanian yang Hilang

Laki-laki Aceh dulu adalah penggubah keberanian. Mereka menyusun hidup seperti melodi — jujur, seimbang, dan tegas. Tgk. Chik di Tiro berjuang bukan untuk nama, tapi untuk kebenaran yang ia yakini. Teuku Umar menulis strategi dengan darahnya sendiri. Dan di antara mereka berdirilah seorang perempuan, Laksamana Keumalahayati, pemimpin armada laut pertama di dunia, yang berperang bukan demi gengsi, tapi demi kehormatan bangsanya. Ia adalah teguran abadi bagi para laki-laki yang kehilangan marwah. Ketika perempuan bisa berdiri di garis depan dengan keberanian, mengapa laki-laki hari ini justru berlindung di balik alasan dan kompromi?

Kini, banyak pemimpin yang lebih sibuk menjaga posisi daripada menjaga kebenaran. Banyak yang terlihat bekerja, padahal hanya sibuk mempercantik laporan. Ada yang berani bersuara, tapi hanya ketika aman. Mereka seperti gitar tanpa senar — tampak utuh, tapi tak lagi bersuara. Lebih menyedihkan lagi, sifat pengecut itu kini diwariskan kepada generasi muda. Banyak yang sudah akil balig tapi belum matang pikir. Tubuhnya dewasa, tapi jiwanya masih ringkih. Mereka ingin disebut laki-laki, tapi takut menjadi manusia yang bertanggung jawab.

Anak Muda dan Lagu yang Patah

Di kampus, di warung kopi, di ruang kerja, dan di forum publik, kita melihat wajah-wajah muda yang kehilangan arah moral. Mereka hafal teori dari luar negeri, tapi tak bisa membaca luka di sekitar. Pandai berbicara di media sosial, tapi gagap ketika harus turun tangan di dunia nyata. Mereka ingin tampil, bukan tumbuh; berani karena ramai, bukan karena benar.

Sekarang ini, di banyak kampus dan sekolah, banyak anak muda laki-laki yang kehilangan daya tahan batin. Badannya besar, tapi pikirannya rapuh. Sudah akil balig, tapi belum dewasa. Gampang menyerah, cepat bosan, dan malas berpikir panjang. Mereka lebih percaya diri berdebat di media sosial daripada berani menyentuh persoalan di lapangan. Banyak yang kuliah hanya untuk gelar, bukan untuk ilmu. Banyak juga yang jadi guru atau pemimpin muda, tapi bekerja dengan semangat “yang penting jalan.”

Fenomena ini bisa kita lihat di mana-mana — dari ruang kelas sampai lembaga pemerintahan. Budaya tanggung jawab makin tipis, sementara budaya cari aman makin tebal. Dulu, pemuda Aceh dikenal kuat hati, peka, dan berani berdiri di barisan depan. Kini banyak yang terjebak pada gaya hidup kosong — sok modern tapi rapuh, sok paham tapi malas belajar.

Syekh Abdurrauf dan Tafsir Keberanian

Namun sejarah Aceh tidak hanya diwarnai perang dan darah. Ada juga keberanian yang ditulis dengan pena dan ilmu.

Syekh Abdurrauf as-Singkili, ulama besar abad ke-17, menulis Tafsir Tarjuman al-Mustafid — tafsir Al-Qur’an lengkap dalam bahasa Melayu-Jawi. Karya itu bukan sekadar kitab tafsir, melainkan pernyataan moral: bahwa ilmu harus berpihak pada masyarakat, bukan pada kekuasaan. Di masa Sultanah Safiatuddin, beliau berani menegaskan pentingnya agama yang mencerahkan, bukan menakut-nakuti. Ia hidup di tengah politik istana, tapi tidak kehilangan arah spiritual. Syekh Abdurrauf mengajarkan bahwa keberanian sejati bukan pada siapa yang kita lawan, tapi pada seberapa jujur kita terhadap nurani sendiri. Ilmu tanpa keberanian hanyalah hiasan. Keberanian tanpa ilmu hanyalah kebodohan yang bersuara keras.

Hari ini, kita punya banyak orang pintar, tapi sedikit yang benar-benar berani jujur. Banyak yang mengajar tapi tak mendidik, berdakwah tapi menakuti, memimpin tapi tak memelopori. Semua sibuk memainkan peran, tapi lupa memainkan hati.

Kehilangan Malu, Hilangnya Musik Nurani

Malu adalah irama dasar dalam kebudayaan Aceh. Tanpa malu, hidup menjadi fals — seperti lagu yang kehilangan nada.

Dulu, orang Aceh menjaga malu sebagaimana menjaga iman. Kini, banyak yang menganggap malu sebagai penghalang karier. Pejabat bisa tersenyum di tengah kebusukan. Guru bisa membiarkan muridnya malas tanpa rasa bersalah. Mahasiswa bisa menyontek tanpa merasa hina. Semua tampak wajar — bahkan dianggap pintar mencari celah. Inilah hakikat dari hadih maja itu: agam hana raba krèh — laki-laki yang tidak lagi tahu di mana letak kehormatannya.Ia tak lagi meraba marwahnya, tak lagi memeriksa hatinya, tak lagi mendengarkan suara nuraninya. Dan ketika rasa malu mati, maka keberanian pun ikut terkubur bersama harga diri.

Menemukan Kembali Irama Diri

Aceh tidak butuh lebih banyak pidato, tapi lebih banyak teladan. Laki-laki sejati tidak harus berteriak lantang; cukup tegak di tempat yang benar. Ia tidak menjilat ke atas dan tidak menindas ke bawah. Ia tidak menjual prinsip demi proyek, dan tidak menukar ilmu dengan tepuk tangan.

Sudah cukup kita menonton lakon kepemimpinan palsu yang berulang setiap lima tahun. Sudah cukup kita mendengar pidato yang indah tapi hampa. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian moral — keberanian untuk malu, untuk belajar, untuk menolak kebodohan yang dibungkus kepintaran, dan untuk hidup jujur di tengah dunia yang pura-pura. Sebagaimana genderang dan rapa’i Aceh hanya berbunyi indah bila dipukul dengan ritme yang tepat, demikian pula hidup ini. Bila tidak jujur, ia hanya akan jadi bunyi tanpa makna.

Laki-laki Aceh — dari pejabat hingga mahasiswa, dari guru hingga seniman, dari dosen hingga pemimpin gampong — semua harus kembali mendengar gema hadih maja itu. Karena bila keberanian terus kita abaikan, kita bukan lagi agam, hanya gema kosong yang menunggu senyap. []

Tags: AcehBudayagenerasi mudaMakin Tahu IndonesiaopiniPemuda AcehPriaSeniSeni Budaya
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu
SENI

Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu

by SAGOE TV
September 4, 2026
Tangke Wakili Aceh di Lake Toba Traditional Music Festival
SENI

Tangke Wakili Aceh di Lake Toba Traditional Music Festival

by SAGOE TV
September 3, 2026
SPS Revival Volume 17 “Bijèh”: Membuka Ruang Bertemu, Bermain, dan Menciptakan Bersama
SENI

SPS Revival Volume 17 “Bijèh”: Membuka Ruang Bertemu, Bermain, dan Menciptakan Bersama

by SAGOE TV
September 2, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut
SENI

SPS Revival Diversifikasi Program lewat SPS Talk #1: Membaca Seni di Ruang Publik

by SAGOE TV
August 31, 2026
MEUGOE Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan
SENI

MEUGOE: Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

by SAGOE TV
August 27, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

September 2, 2026
Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

September 3, 2026
Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

August 31, 2026
9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

August 31, 2026
Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

August 31, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Diversifikasi Program lewat SPS Talk #1: Membaca Seni di Ruang Publik

August 31, 2026
Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

August 12, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

August 31, 2026

EDITOR'S PICK

Rasyidi juara Musabaqah Hifzhil Qur’an 15 juz di Libya

Alumni Dayah Insan Qur’ani Aceh Juara 1 Musabaqah Hifzhil Qur’an 15 Juz di Libya

March 20, 2026
PW ISNU Aceh Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir

Jelang Lebaran, PW ISNU Aceh Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Aceh Tamiang

March 14, 2026
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

May 29, 2025
Pelantikan Bupati Aceh Tenggara Diwarnai Walk Out Komisioner Panwaslih

Pelantikan Bupati Aceh Tenggara Diwarnai Walk Out Komisioner Panwaslih

March 15, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.