• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Bencana Seiring Waktu Merambat

Anna Rizatil by Anna Rizatil
February 9, 2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Bencana Seiring Waktu Merambat

Zulkifli Abdy, Sarjana Ilmu Komunikasi, berkiprah di bidang kepenulisan. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Zulkifli Abdy
Sarjana Ilmu Komunikasi, berkiprah di bidang kepenulisan

Dimensi waktu yang terus merambat, kadangkala berpotensi mempengaruhi melemahnya ingatan. Semakin lama waktu berjalan, semakin besar pula kemungkinan melemahnya ingatan kita terhadap suatu peristiwa. Kondisi paling buruk dari semua itu, seiring dengan berjalannya waktu, tanpa sadar secara perlahan kita akan dilamun rasa lupa.

Sebutlah peristiwa bencana banjir bandang yang terjadi di Aceh, dan dua wilayah lainnya di Sumatera, yakni Sumatra Utara dan Sumatera Barat menjelang akhir bulan November lalu. Di hari-hari pertama setelah bencana itu terjadi, semua perhatian kita, pemerintah daerah dan pusat, lembaga-lembaga non pemerintah, elemen politik, swadaya masyarakat, perseorangan yang peduli, juga negara-negara donor yang ingin berempati, terpusat ke sana.

BACA JUGA

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

Namun pada hari-hari setelah itu, dan hari ini dua bulan lebih setelah bencana itu terjadi, segala perhatian, kepedulian, dan empati terasa mulai melemah. Hal ini boleh jadi disebabkan karena terbatasnya sumberdaya, termasuk logistik dan peralatan yang dimiliki, di samping juga “endurance” para relawan yang telah berjibaku sejak hari-hari pertama bencana pun mulai melemah.

Relawan dengan segala keterbatasan telah mengikhlaskan tenaga dan pikiran, namun tentang dana dan peralatan yang dibutuhkan tentu ada pada pemerintah. Terkait dengan bencana di tiga provinsi di Sumatera ini, pemerintah pusat tidak juga menetapkan statusnya sebagai bencana nasional, boleh jadi itu pula yang menyebabkan segala upaya terkait penanganan dan pemulihan pasca bencana menjadi tidak maksimal.
Padahal dilihat dari skala bencana, serta dampak yang diakibatkannya, lebih dari patut disebut sebagai bencana nasional.

Baik dari aspek jumlah korban jiwa, dan rusaknya infrastruktur, bahkan beberapa kawasan hingga saat ini relatif masih terisolir, sehingga penyaluran bantuan, terutama makanan dan obat-obatan masih terkendala.

Belum lagi dampak lain dari bencana ini, lahan pertanian tertimbun lumpur, dan yang lebih miris lagi ada beberapa pemukiman penduduk yang hilang, dan banyak warga masyarakat yang kehilangan tempat tinggal serta harta benda, yang masih menjalani hari-hari paling getir dalam hidup mereka di tenda-tenda pengungsian.

Sementara pemerintah daerah masih terus melakukan ikhtiar dengan kemampuan yang ada, bahkan Aceh membuka kemungkinan untuk menerima bantuan dari luar negeri.

Sungguh ini sebuah ironi, di mana pemerintah pusat terkesan enggan memberi status “Bencana Nasional”, sehingga segala upaya dan kepedulian pemerintah dalam penanganan pasca bencana agaknya belum maksimal. Ibarat cinta yang tidak sepenuh hati, sehingga kasih sayang pun tidak setulus hati, semoga itu tidak terjadi di Aceh.

Bukankah Aceh adalah “daerah modal”, yang juga telah banyak jasanya bagi republik ini, tanpa kita sebut pun sejarah telah mencatat. Banyak yang berpendapat, bahwa bencana alam berupa banjir bandang yang melanda Aceh akhir November yang lalu itu lebih dahsyat daripada tsunami tahun 2004 yang silam. Setidaknya dilihat dari cakupan wilayah yang terdampak, juga jumlah korban dan kerusakan fisik yang diakibatkannya.

Tsunami 2004 berdampak di beberapa wilayah pesisir pantai, sementara bencana alam ekologis kemarin mencakup wilayah 18 Kabupaten/Kota, dampak yang diakibatkannya boleh jadi lebih besar. Merujuk data yang diperoleh dari media center posko tanggap darurat bencana hidrometeorologi Aceh 20 Januari 2026, setidaknya kita mendapat gambaran seberapa besar dampak bencana tersebut:

Dari 18 kabupaten/kota yang terdampak bencana, tercatat korban 670.826 KK/ 2.584.067 jiwa, meninggal 561 jiwa, hilang 30 jiwa, luka ringan 4.939 jiwa, luka berat 456 jiwa. Jumlah pengungsian 988 titik, berasal dari 24.301 KK dan 91.703 jiwa. Kerusakan fasilitas umum: Kantor 227 rusak, Rumah Ibadah 641 rusak, Fasilitas Kesehatan 146 rusak, Sekolah 1.204 rusak, Pesantren 685 rusak. Kerusakan Jalan: 2.507 ruas dan Jembatan 599 unit. Kerusakan harta benda: Rumah 213.403 rusak, Ternak 63.187 ekor, Sawah 56.652 Ha, Kebun 100.376 Ha, serta Tambak 32.341 Ha.

Angka-angka di atas terus mengalami perubahan tergantung kondisi di lapangan. Tidak berlebihan kalau kita menyebutnya sebagai “tsunami” yang terjadi di daratan. Daya rusak banjir bandang yang terjadi kemarin, mungkin lebih parah dibanding tsunami 2004 yang lalu, terutama dilihat dari kerusakan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan dan bangunan, pemukiman penduduk, lahan pertanian, dan fasilitas umum seperti kantor dan rumah sakit.

Ada baiknya pemerintah mengambil pelajaran dari penanganan pasca tsunami 2004, yang melakukan langkah tanggap dan cepat, dengan membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh.

Dalam kurun waktu dua tahun, badan yang dibentuk pemerintah pusat tersebut, telah berhasil membangun kembali kawasan terdampak, seperti jalan dan jembatan, termasuk ruas jalan Banda Aceh – Meulaboh, Perkantoran, gedung-gedung Fasilitas Umum seperti Rumah Sakit dan Pasar, dan membangun puluhan ribu unit rumah bagi penduduk yang terdampak bencana.

Tentu kita semua menaruh harapan, seiring berjalannya waktu tidak sampai melemahkan ingatan kita akan bencana dahsyat yang telah memporak-porandakan bukan hanya harta benda, tetapi juga masa depan.
Yang perlu kita pelihara di dalam ingatan, bahwa penanganan dampak bencana yang dirasa masih jauh dari harapan, untuk itu pemerintah pusat jangan abai, apalagi sampai lupa.

Agaknya pemerintah pusat tidak perlu ragu lagi untuk menetapkan status bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi di Sumatera sebagai “Bencana Nasional”.

Membentuk semacam Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di tiga provinsi terdampak yang bertanggungjawab langsung kepada presiden. Bila mungkin badan yang akan dibentuk tersebut diberi target dapat menyelesaikan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam kurun waktu paling dua tahun.

Bagi penduduk yang kehilangan tempat tinggal, pemerintah membangun hunian sementara yang akan ditempati hingga pembangunan rumah pengganti terbangun.

Bagi pengungsi yang berada di pengungsian, di mana mereka terutama petani yang telah kehilangan lahan, untuk kebutuhan hidup sehari-hari, pemerintah sedapatnya memenuhi kebutuhan makan dan lauk-pauk, serta perlengkapan sekolah bagi anak-anak mereka.

Dengan ditetapkannya status sebagai “Bencana Nasional”, segala pembiayaan terkait rehabilitasi dan rekonstruksi tentu sepenuhnya akan dibiayai pemerintah pusat. Pemerintah daerah akan melakukan pendataan sesuai perkembangan di lokasi bencana, dan melaporkannya secara berkala pada pemerintah pusat.

Provinsi Aceh yang pernah menangani proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami Aceh 2004 silam, tentu pengalaman tersebut akan sangat membantu. Penulis hanya ingin mengingatkan segala sesuatu yang sesungguhnya kita semua juga tahu.

Tetapi seiring waktu yang terus merambat, selalu saja ada kekhawatiran bahwa rambatan ingatan kita sewaktu-waktu dapat melemah, sehingga kita menjadi makhluk pelupa. Semoga kita tidak akan pernah lupa, bahwa bencana ekologis yang terjadi di Sumatera ini merupakan tanggungjawab kita semua, terutama pemerintah pusat. Semakin cepat pemulihan, semakin cepat pula masyarakat bangkit dari keterpurukan. []

Tags: acehbencanaBencana AcehBencana Sumatera 2025opiniSeiring Waktu Merambat
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas
Opini

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

by SAGOE TV
July 18, 2026
Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang
Opini

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

by SAGOE TV
July 17, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh
Opini

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

by SAGOE TV
July 16, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi
Opini

Tentang Media dan Perhatian Publik

by SAGOE TV
July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti
Opini

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

by SAGOE TV
July 13, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026

EDITOR'S PICK

Ketum KONI Pusat: PON XXI adalah Pemersatu Bangsa

Ketum KONI Pusat: PON XXI adalah Pemersatu Bangsa

September 8, 2024
Menatap Laga PSMS, Akhyar Siapkan Evaluasi Total Permainan Persiraja

Persiraja Didenda Rp25 Juta oleh Komdis PSSI, Ini Penyebabnya

February 12, 2026
UIN Ar-Raniry Terjunkan 112 Mahasiswa ke Lokasi Banjir Pidie Jaya dan Bireuen

UIN Ar-Raniry Terjunkan 112 Mahasiswa ke Lokasi Banjir Pidie Jaya dan Bireuen

December 24, 2025
Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia

Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia

April 4, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.