• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Revolusi ‘Mas Menteri’ dan PTS Aceh

Dr. Tuti Marjan Fuadi, M.Pd by Dr. Tuti Marjan Fuadi, M.Pd
March 24, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Harapan Kesetaraan di Keluarga Gen Z
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dr. Tuti Marjan Fuadi, M.Pd
Wakil Rektor I Universitas Abulyatama Aceh. Email: tutimarjan@gmail.com

Pada tanggal 12 Desember 2020 yang lalu, Kementerian Pendidikan Tinggi Indonesia meluncurkan sebuah program yang dinamakan Kedaireka. Ini adalah sebuah kebijakan yang baru lagi dari kementerian. Sejak “Mas Menteri” Nadeim Makariem menjabat sebagai pimpinan lembaga Pendidikan Tinggi, ada banyak sekali inovasi yang beliau lakukannya. Sebagai anak muda yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi, beberapa inovasi tersebut tentu saja berbasis pada teknologi. Fokus utamanya terutama dalam menyiapkan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi yang siap ditempatkan di dunia kerja. Oleh sebab itu beberapa kebijakan lama dilanjutkan oleh Nadiem dengan cara dan wajah yang baru. Inovasi ini secara umum diapresiasi sebagai langkah besar, yang dapat disebukan sebagai inovasi yang bermanfaat baik bagi dunia pendidikan maupun di dunia usaha.

BACA JUGA

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Masalahnya inovasi tersebut menuntut kesiapan yang ekstra dari Universitas atau Perguruan Tinggi dalam implementasinya. Beberapa kebijakan Nadiem bukanlah sebuah inovasi yang sederhana melainkan sebuah loncatan yang luar biasa terutama dibandingkan dengan tingkat melek teknologi di dalam masyarakat Indonesia, bahkan di dunia pendidikan tinggi itu sendiri. Tulisan ini akan mencoba menjelaskan posisi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Aceh dalam mengahadapi “revolusi” Mas Menteri ini.

Dua diantara program Mas Menteri yaitu Program Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)  dan Kedaireka yang baru diluncurkan. Kebijakan MBKM dibuat untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa agar menguasai berbagai pengetahuan yang berguna saat kelak mereka memasuki dunia kerja. Selama ini mahasiswa hanya diperbolehkan mengambil Mata Kuliah yang disiapkan oleh Program Studi di mana ia kuliah. Dalam program Kampus Merdeka, mahasiswa memiliki peluang untuk memilih mata kuliah yang berada diluar Program Studinya namun masih dalam Perguruan Tinggi yang sama dan atau di Program Studi yang sama di Perguruan Tinggi yang berbeda.

Untuk itu dalam program MBKM menawarkan delapan kegiatan yakni; pertukaran pelajar, magang (praktik kerja), asisten mengajar disatuan pendidikan, penelitian, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, studi/proyek independen dan membangun desa. Melalui delapan program MBKM ini diharapkan terubukanya kesempatan yang luas bagi mahasiswa untuk memperkaya dan meningkatkan wawasan serta kompetensinya di dunia nyata sesuai dengan passion dan cita-citanya. Kesempatan ini juga  akan tercipta sebuah kultur baru dalam proses pembelajaran, dimana belajar dapat terjadi dimanapun, semester belajar tidak terbatas, tidak hanya diruang kelas, perpustakaan dan laboratorium, tetapi belajar juga dapat terjadi di desa, industri, tempat-tempat kerja, tempat-tempat pengabdian, pusat riset, maupun di masyarakat. Kampus merdeka ingin mewujudkan pembelajaran di perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta sebuah kultur yang inovatif, tidak mengekang dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Kebijakan kedua disebut dengan Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta (Kedaireka). Program ini secara resmi diluncurkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di tanggal 12 Desember 2020.  Kedaireka dibuat berbentuk sebuah platform virtual yang diharapkan mampu menghubungkan serta menwujudkan kemudahan sinergi antara dunia pendidikan tinggi dengan dunia industri. Kebijakan ini sebagai sebuah kelanjutan dan pengembangan dari visi kampus merdeka.

Kedaireka dibuat dalam rangka mewujudkan mimpi lama pendidikan tinggi untuk bersinergi dengan dunia usaha dan industri dalam satu platform. Hal ini dirasa penting agar dunia usaha dan pendidikan dapat berjalan beriringan hingga kolaborasi keduanya  dapat memperoleh hasil maksimal. Melalui platform ini  dunia kerja yang memiliki berbagai masalah dan kebutuhan dapat bertemu dengan dunia pendidikan tinggi yang memiliki berbagai solusi untuk masalah tersebut. Dengan demikian akan memotong banyak rantai yang memperjarak keduanya hingga saling melengkapi.

Realitas PTS
Aceh memiliki Perguruan Tinggi Swasta yang sangat banyak. Dari data yang ada, Aceh mencatat 111 buah Perguruan Tinggi swasta, yang terdiri dari 10 universitas, 49 sekolah tinggi, 48 akademi dan 4 politeknik. Belum lagi perguruan tinggi swasta di bawah kementerian agama yang berjumlah 32 buah. Akumulasi semunya menempatkan Aceh menempati posisi nomor dua di Sumatera. Hal ini dapat dilihat dengan dua sisi. Pertama menunjukkan tingginya semangat melanjutkan pendidikan dikalangan masyarakat di Aceh. Hal ini menorong mereka yang memiliki ide-ide tentang pengembangan SDM melalui perguruan tinggi untuk mendirikan PTS. Disisi lain ini juga menunjukkan minimnya kreatifitas dari pengusaha dan mereka yang memiliki modal sehingga memilih membuat perguruan tinggi sebagai usaha yang mendapatkan keuntangan ekonomis.

Terlepas dari dua sudut pandang tersebut, kenyataannya Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki Universitas Swasta yang sangat banyak dan tersebar dihampir semua daerah kabupaten/kota. Kondisi ini tentu saja menyebabkan jumlah mahasiswa yang sekolah di pendidikan tinggi di Aceh sangat tinggi dimana jumlah siswa lulusan SMA sederajat yang mendaftar sebagai mahasiswa baru ke perguruan tinggi mencapai 192.581 serta yang dinyatakan lulus sebagai mahasiswa baru sebanyak 37.117. Jika semuanya lulus, ini berarti ada 20 ribu sarjana lahir di Aceh setiap tahun. Itu baru dari universitas yang ada di Provinsi ini. Tanpa sebuah skill dan keterampilan yang langsung dapat diimplementasikan dalam dunia usaha tentu saja mereka akan menjadi pengangguran. Kita tahu bahwa pengangguran adalah akar kemiskinan.

Kebijakan ‘Mas Menteri’
Kebijakan MBKM dan Kedaireka seperti telah disinggung diatas harus menjadi perhatian PTS di Aceh. Hal ini kelak akan menjadi pintu gerbang yang sangat terbuka dalam melahirkan sarjana yang siap ditempatkan di dunia usaha. Pun demikian ini bukanlah perkara yang mudah. Bukan rahasia lagi lembaga pendidikan tinggi di Aceh mengalami tantangan yang berat karena konflik-konflik internal di dalam lembaga dan keterbatasan dana pengembangan kampus. Kondisi demikian dapat menghalangi pendidikan tinggi swasta untuk mewujudkan mimpi menghasilkan sarjana yang berkualitas seperti visi kementerian.

Ada beberapa hal yang harus disiapkan oleh perguruan tinggi swasta untuk mengatasinya. Pertama, melakukan kerjasama dengan dunia industri dalam wujud MoU dan MoA untuk dapat menjalankan kegiatan magang oleh mahasiswa. Kedua, membangun kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta untuk program pertukaran pelajar. Ketiga, menguatkan basis keilmuan di kampus dengan beragam inovasi mutakhir yang sesuai dengan perkembangan teknologi sehingga mahasiswa dapat mengimplementasikannya dalam wujud nyata membangun desa, berwirausaha dan bahkan mengembangan riset dan proyek kemanusiaan.

Namun ada banyak tantangan dalam  mewujudkan hal ini. Jumlah industri yang sangat terbatas menyebabkan ruang untuk magang mahasiswa juga sempit. Bahkan UMKM yang di daerah lain telah menjadi solusi baru perekonomian juga masih sangat terbatas di Aceh. Demikian juga dengan persoalan pembiayaan yang juga menjadi kendala. Program MBKM membutuhkan biaya tambahan yang besar. Siapa yang menanggung bebas biaya ini? apakah mahasiswa harus menanggung biaya tambahan atas kebijakan ini? Apakah lembaga atau dunia usaha bersedia memberikan layanan percuma? Ini masih menjadi masalah. Demikian juga dengan keterbatasan sumberdaya manusia yang dapat mengelola  sarana teknologi informasi di PTS yang tentu saja akan menghalangi implementasi kebijakan ini.

Dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan di sini dalam rangka mempermudah implementasi kebijakan tersebut. Beberapa yang dapat dilakukan antara lain mempermudah serta menfasilitasi mahasiswa untuk dapat magang (praktik kerja) di instansi pemerintah. Hal ini bisa dilakukan dengan mendukung anggaran untuk mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan penelitian, proyek kemanusiaan serta kegiatan wirausaha. Selain itu juga dapat memberikan kelonggaran penggunaan dana desa untuk pengembangan SDM mahasiswa dalam menjalankan kegiatan membangun desa. Mendukung UMKM yang dapat menampung mahasiswa magang.

Sebagai penutup tulisan ini, saya menegaskan bahwa inovasi kebijakan di perguruan tinggi yang digagas oleh “Mas Menteri”  bagus bagi peningkatan kompetensi sumberdaya manusia Indonesia khususnya Aceh. Bila dilihat pengaruh jangka panjang, kedepan kita akan memperoleh SDM yang unggul. Selain dapat menjadi tenaga kerja, mereka juga dapat menginisiasi pembukaan lapangan kerja baru yang sangat variatif sehingga dapat mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan. Namun pertanyaan besar yang perlu kita renungkan bersama, siapkah perguruan tinggi swasta menjalankan kebijakan ini?[]

Tags: Mas Menterimerdeka belajarpendidikanPTS di Acehrevolus
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Dr. Tuti Marjan Fuadi, M.Pd

Dr. Tuti Marjan Fuadi, M.Pd

Wakil Rektor I Universitas Abulyatama Aceh. Email: tutimarjan@gmail.com

Related Posts

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026

EDITOR'S PICK

Mualem Terbangkan Bantuan Darurat ke Daerah Terisolasi di Aceh Timur dan Bener Meriah

Mualem Terbangkan Bantuan Darurat ke Daerah Terisolasi di Aceh Timur dan Bener Meriah

December 2, 2025
Pemilihan Rektor dan Rasionalitas Palsu di Kampus Kita

Pemilihan Rektor dan Rasionalitas Palsu di Kampus Kita

January 30, 2026
Prof Syamsul Rijal: Premanisme Ormas Hambat Pembangunan dan Investasi

Prof Syamsul Rijal: Premanisme Ormas Hambat Pembangunan dan Investasi

June 12, 2025
Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif

April 30, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.