BANDA ACEH | SAGOE TV – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menjalin kerja sama dengan PT Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) untuk menyiapkan talenta digital Aceh dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kolaborasi tersebut mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara UIN Ar-Raniry dan Indosat berlangsung dalam rangkaian seminar terbuka bertajuk “Aceh dalam Peta AI Nasional: Infrastruktur, Talenta, dan Ekosistem” di Auditorium Prof. Ali Hasymi, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (2/11/2026). Prosesi terseut turut disaksikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria yang hadir sebagai pembicara kunci dalam seminar itu.
MoU tersebut ditandatangani Rektor UIN Ar-Raniry Prof Mujiburrahman dan Head of Circle Sumatra PT Indosat Ooredoo Hutchison Agus Sulistio.
Mujiburrahman mengatakan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri menjadi bagian penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi transformasi digital.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, berpikir kritis, serta memahami aspek etika dan tanggung jawab dalam pemanfaatan AI.
Ia berharap kerja sama dengan Indosat dapat membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan kompetensi digital, mengembangkan penelitian, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Mujiburrahman juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut mengambil peran sebagai pencipta gagasan, pengembang inovasi, dan bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Menurutnya, perkembangan teknologi yang berlangsung cepat harus dihadapi dengan kesiapan, kreativitas, dan kemauan untuk terus belajar. Mahasiswa juga diharapkan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas wawasan dan membangun jejaring dengan praktisi maupun pemangku kebijakan.
Mujiburrahman menyebut UIN Ar-Raniry ingin mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai kebutuhan daerah, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, penguatan UMKM, pengembangan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Dengan kolaborasi itu, Aceh diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari transformasi digital nasional, tetapi juga mampu memberikan kontribusi melalui pengembangan riset dan inovasi yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Head of Circle Sumatra PT Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio, menyampaikan bahwa pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence(AI) tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur jaringan, tetapi juga membutuhkan kesiapan talenta dan ekosistem kolaborasi.
“AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, tetapi telah mengubah cara masyarakat belajar, bekerja, berbisnis, dan berinovasi. Kemajuan digital akan semakin bermakna ketika konektivitas didukung oleh talenta yang kompeten dan ekosistem kolaborasi yang kuat,” ujarnya.
Agus menilai Aceh memiliki potensi besar dalam pengembangan ekosistem digital, didukung bonus demografi dan tingginya proporsi penduduk usia produktif.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang melek digital, mampu berinovasi, serta memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.
“Indosat berkomitmen memperkuat infrastruktur dan ekosistem digital serta memberdayakan masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa,” katanya.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry, Prof Muji Mulia, mengatakan Aceh perlu mengambil bagian dalam perkembangan AI nasional melalui penguatan infrastruktur, pengembangan talenta, dan pembentukan ekosistem digital.
Menurutnya, pemanfaatan AI dapat diarahkan untuk mendukung berbagai sektor di Aceh, mulai dari promosi usaha kopi dan produk lokal, pengembangan pariwisata, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pelayanan publik.
Namun, dia mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi tersebut perlu memperhatikan prinsip keadilan, keterbukaan, perlindungan data pribadi, serta tanggung jawab dalam penggunaannya.




















