• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

AI, Kegelapan, dan Harapan

Menjawab Arfiansyah dengan Cinta kepada Akal Sehat

SAGOE TV by SAGOE TV
August 9, 2025
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
AI, Kegelapan, dan Harapan

Ari J. Palawi. (Foto: for Sagoe TV)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Peneliti dan pendidik di bidang seni, budaya, dan masyarakat di Universitas Syiah Kuala.

Tulisan Dr. Arfiansyah berjudul “Tak Sempat Membawa Terang, AI Membawa Kegelapan” (Sagoe TV, 5 Agustus 2025) menyampaikan kekhawatiran yang perlu kita dengar dan pikirkan bersama. Ia menyoroti penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia akademik—dari mahasiswa yang menyerahkan skripsi kepada mesin, hingga dosen dan institusi yang berbangga dengan karya ilmiah instan. Saya tidak dalam posisi membantah keresahan itu. Tapi izinkan saya menyisipkan satu perspektif: bahwa kegelapan yang kita hadapi hari ini bukan karena AI, melainkan karena redupnya kecerdasan manusia itu sendiri—kecerdasan yang jujur, kritis, dan beretika—yang saya sebut sebagai Human Intelligence (HI).

BACA JUGA

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

Kita perlu hati-hati dalam memberi nama pada gejala. Menyebut AI sebagai pembawa kegelapan seolah memberi beban moral pada alat, bukan pada pengguna. Padahal AI hanyalah cermin. Ia tidak menciptakan niat buruk, tidak punya kehendak bebas. Ia bekerja dari perintah, belajar dari data, dan menjawab apa yang diminta. Kalau AI digunakan untuk menipu, menyalin, memalsukan, atau memproduksi kebohongan, maka yang perlu diperiksa bukan alatnya, melainkan manusianya. Masalah bukan pada teknologi, tapi pada nilai dan nalar yang gagal mengiringinya.

Saya tidak ingin membela AI, tapi juga tak ingin menyalahkannya secara serampangan. Sebab dalam banyak hal, AI justru membuka ruang baru bagi kreativitas, kolaborasi, dan efisiensi. Masalah muncul ketika manusia memperlakukannya bukan sebagai alat bantu berpikir, tetapi sebagai pengganti berpikir. Ketika mahasiswa mengganti proses pencarian dengan perintah cepat, ketika dosen mengejar publikasi tanpa melewati perenungan, ketika kampus membanggakan kuantitas tanpa menimbang kualitas, maka AI hanya menjadi katalis dari krisis yang sudah lebih dulu ada. Bukan penyebab, melainkan pemantul.

Dalam tulisan saya di Kompasiana berjudul “Segarkan Dulu Kecerdasan Manusianya” (17 Mei 2025), saya menyampaikan keresahan dari arah yang berbeda. Kita hidup dalam sistem pendidikan yang dibentuk oleh tuntutan administratif, target akreditasi, dan tekanan sosial untuk cepat selesai. Mahasiswa didorong lulus cepat, dosen didesak terbit banyak. Di tengah iklim seperti ini, AI datang bukan sebagai penyelamat atau perusak, melainkan sebagai pengungkap: memperlihatkan sejauh mana kemalasan struktural dan kekosongan intelektual telah menjadi norma yang diterima.

Di banyak kampus, mahasiswa didorong untuk “mengejar publikasi” bukan karena semangat ilmiah, tetapi karena kewajiban administratif. Bahkan di semester awal pascasarjana, tugas-tugas sudah harus diterbitkan di jurnal dengan level tertentu, padahal belum ada kesiapan berpikir atau perangkat metodologis yang memadai. Di sisi lain, dosen pun terburu-buru mengejar angka publikasi demi sertifikasi dan kredit poin. Dalam suasana ini, AI hadir bukan untuk memperdalam ilmu, tetapi menjadi jalan pintas sistemik—dan kita semua membiarkannya karena ikut menikmati manfaat instannya. Maka penyalahgunaan AI tidak terjadi dalam ruang kosong; ia tumbuh subur di antara struktur yang memprioritaskan hasil daripada proses.

Maka solusinya bukan menuduh AI membawa kegelapan, tapi menyadari bahwa kita telah lama memadamkan obor akal sehat kita sendiri. Kampus hari ini bukan lagi ruang tafakur, tetapi pabrik administratif. Ruang kelas kehilangan rasa ingin tahu. Skripsi berubah jadi syarat, bukan proses. Artikel ilmiah dipakai untuk akreditasi, bukan pengetahuan. Dalam konteks seperti itu, AI hanya mempercepat apa yang selama ini kita diamkan. Maka pertanyaannya: masih adakah tempat untuk kejujuran intelektual di dunia yang begitu sibuk memburu format?

Saya sepakat bahwa kita berada dalam situasi genting. Tapi membangun rasa genting saja tidak cukup. Kita perlu arah. Dan arah itu, menurut saya, tidak lahir dari paranoia terhadap teknologi, tapi dari rekonstruksi kesadaran kita sebagai manusia. Apa peran kita dalam dunia yang makin otomatis? Apa yang membuat kita tetap manusia di tengah mesin yang makin canggih? Bukan otak kiri yang cepat menghitung, tetapi hati dan akal yang masih bisa menimbang.

Yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya kualitas akademik, tetapi kejujuran eksistensial kita sebagai manusia. Ketika manusia menyerahkan sepenuhnya kerja berpikir kepada mesin, bukan hanya pengetahuan yang dikorbankan, tapi juga rasa tanggung jawabnya. AI bisa membantu menjelaskan data, tapi ia tidak tahu makna air mata. Ia bisa memproses pola, tapi tak bisa merasakan beban keputusan. Maka kalau kita ingin mempertahankan ruang insani dalam pendidikan, kita harus memastikan bahwa mesin tidak menggantikan pengalaman belajar sebagai proses pembentukan moral.

Oleh sebab itu, mari kita dorong kampus untuk tidak alergi pada AI, tetapi justru menjadikannya peluang belajar tentang tanggung jawab. Mari kita gunakan AI sebagai pintu masuk untuk diskusi tentang etika, integritas, dan martabat berpikir. Mari kita buat ruang-ruang di mana mahasiswa tidak hanya diajari menguasai alat, tapi juga diajak menyadari batas dan maknanya. Kita tidak sedang menolak masa depan, tapi sedang berusaha memastikan masa depan itu tetap manusiawi.

AI tidak membawa kegelapan. Kegelapan terjadi ketika kita berhenti menyalakan cahaya dari dalam diri sendiri. Jika kita jujur menatap situasi ini, seharusnya kita tidak sekadar takut, tapi tergerak. Bukan untuk mengubur teknologi, tetapi untuk menyalakan ulang akal sehat. Jika ada krisis hari ini, mungkin inilah kesempatan terbaik untuk meninjau kembali untuk apa sebenarnya kita belajar.

Di sinilah peran para pendidik menjadi amat penting. Kita tak bisa hanya menegur mahasiswa yang memakai AI secara sembrono, tanpa terlebih dahulu menyediakan ruang dialog yang membimbing mereka memahami alat ini secara etis. Kita tak bisa hanya marah pada generasi baru, tanpa menyadari bahwa kadang kita, generasi sebelumnya, juga terlalu sibuk memburu gelar dan jabatan, lalu lupa menjadi teladan berpikir. Alih-alih saling menyalahkan, mari kita mulai dengan saling mendengar—dan dari situ membangun kembali kepercayaan antara ilmu, akal sehat, dan rasa tanggung jawab.

Dan pada titik itu, mungkin kita akan menemukan bahwa harapan bukan datang dari teknologi atau statistik, melainkan dari manusia yang tetap mau bertanya—dan tetap mau jujur dalam menjawabnya. []

Tags: AIArtificial IntelligenceArtikelKecerdasan Buatanopini
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas
Opini

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

by SAGOE TV
July 18, 2026
Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang
Opini

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

by SAGOE TV
July 17, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh
Opini

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

by SAGOE TV
July 16, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi
Opini

Tentang Media dan Perhatian Publik

by SAGOE TV
July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti
Opini

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

by SAGOE TV
July 13, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026

EDITOR'S PICK

Menaker Yassierli Paparkan 5 Strategi Bangun Budaya K3 Cegah Kecelakaan Kerja

Menaker Yassierli Paparkan 5 Strategi Bangun Budaya K3 untuk Cegah Kecelakaan Kerja

February 10, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Mencari Putroe Phang dan Laksamana: Demi Tegaknya Qanun Syariat Islam di Aceh

January 7, 2026
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2025 di Aceh Momentum Bangun Empati dan Layanan Mental yang Inklusif

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2025 di Aceh, Momentum Bangun Empati dan Layanan Mental yang Inklusif

October 10, 2025
Aceh Peringkat 6 PON XXI, Ketum KONI Minta Pemerintah Apresiasi Atlet Peraih Medali

Aceh Peringkat 6 PON XXI, Ketum KONI Minta Pemerintah Apresiasi Atlet Peraih Medali

September 25, 2024
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.