• Tentang Kami
Sunday, May 3, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Aceh Dua Dekade Damai: Seremoni Berlimpah, Substansi Terlupa

SAGOE TV by SAGOE TV
August 25, 2025
in Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
0
Aceh Dua Dekade Damai: Seremoni Berlimpah, Substansi Terlupa

Ari J. Palawi. (Foto: dokumentasi pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Peneliti dan pendidik di bidang seni, budaya, dan masyarakat di Universitas Syiah Kuala.

Bayangkan sebuah panggung di Balee Meuseuraya Banda Aceh. Layar LED menampilkan tulisan emas “20 Years of Peace”. Mikrofon dipoles, mimbar dihias, pejabat duduk berbaris, merpati putih dilepas. Musik dan doa mengalun, kamera menyorot tiap detik. Di layar, damai tampak sempurna dan penuh simbol. Tapi pertanyaan muncul: yang dirayakan damai itu sendiri, atau sekadar ritualnya?

Di sisi panggung, Expo Hari Damai berlangsung lima hari. Stan dinas berlomba memamerkan poster dan video; Dinas Pariwisata meraih predikat terbaik. Ada doa akbar di Masjid Raya, tabligh di Lhokseumawe dan Aceh Jaya, hingga penyerahan sertipikat tanah bagi eks-kombatan. Partai politik ikut menggelar syukuran dan santunan anak yatim dengan baliho besar. Semua menegaskan: damai memang dirayakan, tapi dalam logika seremoni dan citra.

BACA JUGA

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

Namun peringatan dua dekade damai tidak berhenti di Aceh. Di Jakarta, forum refleksi digelar ERIA School of Government (13–15 Agustus 2025) menghadirkan Jusuf Kalla, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Nobuhiro Aizawa. Diskusi menekankan bahwa MoU Helsinki lahir bukan sebagai hadiah instan, melainkan dari tragedi tsunami yang membuka ruang dialog. Pelajarannya jelas: dialogue works, tapi damai hanya bertahan jika dipupuk setiap hari, bukan sekadar ditandatangani (Seasia.co, 15 Agustus 2025).

Kontrasnya nyata. Di Banda Aceh, damai dirayakan lewat simbol dan panggung. Di Jakarta, ia dibedah sebagai proses rapuh yang butuh kejujuran. Dalam bahasa budaya, ada dua ekspresi: seremoni untuk mengingatkan, refleksi untuk mempertajam ingatan. Jika seremoni lebih dominan, damai mudah dipandang hanya sebagai acara tahunan, bukan realitas sehari-hari.

Di titik inilah kebudayaan berperan. Ia bukan panggung seni semata, melainkan cara memberi makna pada peristiwa penting. Seremoni tanpa refleksi hanya melahirkan “kenangan instan”—indah di foto, cepat dilupakan. Sebaliknya, refleksi budaya menuntut kisah konflik ditulis di kurikulum, arsip disimpan di museum, cerita dituturkan lewat seni, dan ingatan diwariskan lintas generasi.

Panggung boleh meriah, tetapi tanpa ruang belajar ia hanya pesta. Inilah paradoks dua dekade damai Aceh: dunia melihat simbol perdamaian panjang di Asia Tenggara, sementara rakyat masih mencari substansi di balik merpati putih dan spanduk emas.

Dokumentasi yang Tak Menjamin Empati
Dua dekade lalu, kamera dan pena jurnalis menjadi saksi penderitaan Aceh. Foto-foto Dandhy Laksono menyingkap wajah-wajah di bawah darurat militer: rumah terbakar, warga mengungsi, anak-anak tumbuh dengan senjata di halaman gampong. Dokumentasi seperti itu mengguncang nurani, mengangkat isu Aceh ke meja diplomasi, hingga membuka jalan menuju MoU Helsinki. Gambar dan tulisan pernah menjadi senjata moral tak kalah tajam dari peluru.

Ironisnya, di era media sosial, dokumentasi justru berlimpah tetapi empati menipis. Di Papua, misalnya, video kekerasan beredar luas, namun bercampur dengan meme dan hiburan hingga tragedi kehilangan bobot, bergulir cepat, lalu hilang. Apa yang dulu memicu solidaritas kini mudah menjadi tontonan sesaat. Teknologi ternyata bisa juga menciptakan banalitas penderitaan.

Baca Juga:  Menakar "Rugi" Teheran: Mengapa Menepikan Indonesia adalah Blunder Geopolitik

Aceh memberi pelajaran: dokumentasi bisa mengubah sejarah, tetapi tanpa pendidikan yang menanamkan makna damai, ingatan cepat hilang. Anak-anak sekolah dasar kini banyak yang tak mengenal kisah pengungsian, operasi militer, bahkan istilah “MoU Helsinki”. Buku sejarah nasional hanya menyinggung sekilas, sementara kurikulum daerah memilih melupakan. Padahal, UUPA memberi Aceh kewenangan penuh memasukkan sejarah lokal ke pendidikan.

Kita menyaksikan amnesia kolektif yang nyaris terprogram. Damai dirayakan di podium, tetapi absen di kelas. Murid-murid bisa menghafal teori globalisasi, tapi tak tahu mengapa ada KKR, bendera Aceh, atau makam tanpa nama di desanya. Ini bukan kelalaian administratif, melainkan kegagalan mengelola memori kolektif—sebuah “putus ingatan” yang disengaja.

Damai yang tidak diajarkan adalah damai yang rapuh. Seremoni bisa mengulang simbol, tetapi tanpa transmisi nilai, generasi baru hanya akan melihat damai sebagai pesta tahunan—bukan hasil perjuangan penuh darah dan air mata. Ingatan konflik bukan untuk membuka luka lama, melainkan mencegah luka baru.

Pendidikan yang Membiarkan Lupa
Jika damai adalah warisan termahal Aceh, maka pendidikan seharusnya menjadi penjaganya. Namun yang tampak justru sebaliknya: sekolah-sekolah megah dari dana otonomi khusus, lengkap dengan AC dan laboratorium, tetapi hampa narasi tentang apa yang dialami rakyat.

Padahal UUPA 2006 memberi kewenangan penuh untuk memasukkan sejarah lokal ke kurikulum. Tetapi tidak ada bab tentang darurat militer, pengungsian, korban hilang, atau diplomasi yang melahirkan MoU Helsinki. Murid Aceh bisa mempelajari ekonomi global, tapi tidak tahu mengapa provinsinya punya bendera, atau mengapa ada KKR.

Lebih ironis, sebagian guru menghindari tema ini karena takut dianggap memihak. Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa memahami konteks politik-sosial yang membentuk identitas mereka. Amnesia pun dipelihara secara sistematis—forgetting by design.

Sejak 2008, triliunan rupiah dana otsus sudah digelontorkan. Infrastruktur pendidikan memang bertambah, tetapi isi pelajaran tetap steril dari sejarah konflik. Anak-anak tumbuh dengan pengetahuan global tetapi miskin kesadaran lokal.

Dalam perspektif budaya, ini paradoks besar. Pendidikan mestinya meneruskan nilai dan pengalaman lintas generasi. Jika sejarah lokal dibiarkan kosong, lahirlah generasi tanpa akar. Mereka bisa bicara kapitalisme, tetapi tidak tahu kenapa kuburan massal ada di desa sendiri.

Kegagalan ini bukan sekadar soal kurikulum, melainkan soal keberanian politik. Negara dan pemerintah daerah lebih nyaman merawat mitos damai di panggung seremoni ketimbang menuliskannya di buku ajar. Padahal, damai yang tidak diajarkan adalah damai yang kehilangan masa depan.

Pemimpin Lokal dan Wajah Seremonial
Salah satu janji besar Helsinki adalah membuka jalan bagi politik lokal. Rakyat diberi hak memilih pemimpin dari putra daerah, bahkan mantan kombatan bisa mendirikan partai. Itu dimaksudkan sebagai pengakuan terhadap kedaulatan rakyat Aceh.

Baca Juga:  Mahathir Kenang Peran Tokoh Aceh dalam Pembangunan Malaysia

Namun dua dekade kemudian, politik lokal justru terjebak dalam pola lama: perebutan rente, seremoni, dan pencitraan. Banyak pemimpin sibuk menggelar syukuran, membagi sembako, atau memimpin zikir akbar di panggung besar ketimbang mengurus harga beras yang naik atau layanan kesehatan yang buruk. Demokrasi yang diharapkan menjadi ruang partisipasi berubah menjadi teater elite, rakyat tetap penonton.

Momentum 20 tahun damai memperlihatkan itu. Hampir semua aktor politik tampil: gubernur, bupati, hingga partai. Ada yang melepas merpati putih, membagikan santunan, atau membacakan pidato penuh air mata. Tetapi di balik semua itu, masalah mendasar tetap: kemiskinan 12,33 persen, di atas rata-rata nasional (BPS, Maret 2025), pengangguran tinggi, ketimpangan melebar. Angka ini jarang disebut di podium.

Lembaga Wali Nanggroe pun menghadapi krisis legitimasi. Sah secara hukum, tetapi perannya kerap terjebak protokoler seremoni, jauh dari denyut masyarakat. Simbolisme tinggi tidak diikuti langkah nyata.
Politik Aceh tampak lebih sibuk merawat simbol ketimbang substansi. Merpati putih memang indah, tetapi tidak menggantikan harga ikan yang kian mahal. Pidato berurai air mata menyentuh hati, tetapi tak menggantikan janji kerja yang tak kunjung terwujud.

Wajah politik Aceh hari ini adalah wajah seremoni: megah di panggung, rapuh di akar. Selama jalur ini tak berubah, damai akan terus dirayakan, tapi tak sungguh dijalani.

Seni dan Tradisi Berkesenian Masyarakat Aceh: Antara Diplomasi dan Hiburan
Aceh bukan hanya dikenal karena konflik dan perdamaian, tetapi juga karena seni yang dulu berfungsi sebagai bahasa diplomasi. Pada abad ke-16, Sultan Aceh menulis surat kepada Ratu Elizabeth I: bukan sekadar pernyataan politik, melainkan simbol peradaban melalui bahasa, kaligrafi, dan martabat budaya. Seni waktu itu adalah representasi kedaulatan.

Hari ini, seni dan tradisi berkesenian masyarakat Aceh lebih sering tampil sebagai dekorasi acara resmi. Saman atau Seudati dipentaskan untuk menyambut tamu atau memeriahkan festival—indah di panggung, tetapi sering kehilangan ruh reflektif. Seni diperlakukan sebagai hiburan visual, bukan ruang pengetahuan. Ia jarang dipakai untuk bertanya siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana hendak menuju.

Logika proyek memperburuk keadaan. Banyak kegiatan seni hanya dijalankan demi anggaran tahunan, bukan untuk membangun ekosistem berkelanjutan. Regenerasi lemah, dokumentasi minim, sanggar kesulitan mencari murid baru. Di tingkat global, seni Aceh tampil sebagai “eksotika Asia Tenggara”, tetapi tanpa penguatan lokal, ia berisiko jadi atraksi cepat dilupakan. Dunia tidak butuh panggung indah semata, tetapi kejujuran kultural yang menyuarakan pengalaman nyata masyarakat.

Seni seharusnya menjadi jembatan memori: menuturkan kisah konflik, mengajarkan damai, menumbuhkan empati lintas generasi. Jika seni berhenti di seremoni, ia kehilangan fungsi transformatif. Aceh semestinya tidak hanya menampilkan tari massal di depan pejabat, melainkan juga membangun ruang kreatif di gampong, menghidupkan tradisi lisan, dan mendorong seniman muda melahirkan karya kritis terhadap kondisi sosial hari ini.

Baca Juga:  Seni, Universitas, dan Keberanian Membaca Masa Depan

Inilah ironi lain dua dekade damai. Seni yang dulu menjadi alat diplomasi global kini lebih sering terjebak sebagai dekorasi lokal. Padahal jika dikembalikan ke peran strategisnya, seni bisa menjadi medium paling ampuh untuk merawat damai berkelanjutan.

Dua Dekade Helsinki: Agenda yang Masih Kosong
MoU Helsinki 2005 dipuji sebagai salah satu perjanjian damai paling sukses di Asia Tenggara. Ia menghentikan perang bersenjata, mengakhiri darurat militer, dan membuka jalan reintegrasi. Namun dua dekade kemudian, banyak janji dalam dokumen itu belum terwujud.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) baru bekerja pada 2016 dengan mandat terbatas dan dukungan minim. Banyak korban masih menunggu pengakuan, reparasi, dan pemulihan. Ribuan keluarga kehilangan anggota tanpa kepastian; makam massal belum diteliti tuntas; arsip militer tetap tertutup. Korban merasa ditinggalkan, sementara elite lebih sibuk dengan seremoni.

Di bidang ekonomi, sejak 2008 dana otonomi khusus menembus Rp100 triliun. Namun per Maret 2025, kemiskinan Aceh masih 12,33 persen, jauh di atas rata-rata nasional 8,47 persen—sekitar 704.690 orang hidup miskin (BPS Aceh, 25 Juli 2025). Dengan SDA melimpah dan dana besar, ini tamparan keras: damai memang menghentikan senjata, tapi belum menghadirkan sejahtera.

Tata kelola sumber daya juga bermasalah. Transparansi rendah, partisipasi masyarakat terbatas, pembangunan cenderung proyek-sentris. Rakyat melihat otsus sebagai “uang elite”, bukan milik bersama. Persepsi bahwa damai hanya menguntungkan kelompok tertentu makin menguat.

Dalam perspektif budaya, ini bukan sekadar angka. Pertanyaannya sederhana: apakah anak bisa sekolah dengan aman? Apakah rumah sakit layak? Apakah harga di pasar terjangkau? Jika jawabannya ragu, berarti damai belum sungguh hidup.

MoU Helsinki pernah dianggap pintu transformasi besar. Dua dekade kemudian, pintu itu masih setengah terbuka. Seremoni tahunan berjalan, tetapi substansi perdamaian—keadilan, kesejahteraan, transparansi—masih menunggu giliran.

Dari Seremoni ke Substansi
Dua puluh tahun sudah cukup untuk belajar bahwa damai tak bisa dijaga hanya dengan panggung megah dan merpati putih. Ia butuh ruang kelas yang berani mengajarkan sejarah, seni yang menjadi jembatan memori, dan pemimpin yang berani membuka arsip, mengakui korban, serta menyalurkan anggaran ke rakyat, bukan proyek citra.

Perdamaian yang hidup adalah perdamaian yang berakar di keseharian: harga beras stabil, layanan kesehatan adil, kerja terbuka, kurikulum jujur, ruang budaya kritis. Tanpa itu, damai hanya jadi agenda tahunan penuh baliho dan sambutan resmi.

Dunia memandang Aceh sebagai model resolusi konflik, tetapi juga menunggu konsistensi. Menempatkan Aceh di peta global bukan soal tampil lebih sering, melainkan hadir lebih jujur. Dunia tak menunggu panggung baru, melainkan kesungguhan. Dua dekade sudah cukup—untuk berhenti merayakan, dan mulai merawat. []

Tags: 20 Tahun Perdamaian AcehacehDamaiDua Dekade Damai AcehKebudayaanopiniPerdamaianpolitikRI-GAMSeni Aceh
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?
Opini

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

by Anna Rizatil
April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh
Opini

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

by SAGOE TV
April 26, 2026
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan
Opini

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

by Anna Rizatil
April 25, 2026
Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan
Opini

Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan

by Anna Rizatil
April 20, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global
Opini

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

by Anna Rizatil
April 17, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

April 29, 2026
Pengelola Perpustakaan di Langsa Dilatih Otomasi Berbasis Inlislite

64 Pengelola Perpustakaan di Langsa Dilatih Otomasi Berbasis Inlislite

May 1, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

April 26, 2026
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

April 25, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Hardiknas 2026 Universitas Syiah Kuala Gelar Diskusi Nasional Pendidikan Seni

Hardiknas 2026: USK Gelar Diskusi Nasional Pendidikan Seni

May 1, 2026
94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

April 29, 2026
Tasyakuran Milad ke-98, PERTI Abdya Ziarahi Makam Para Ulama

Tasyakuran Milad ke-98, PERTI Abdya Ziarahi Makam Para Ulama

May 2, 2026
Pemerintah Aceh Perpanjang Status Transisi Pemulihan Pascabencana hingga Juli 2026

Pemerintah Aceh Perpanjang Status Transisi Pemulihan Pascabencana hingga Juli 2026

April 28, 2026

EDITOR'S PICK

Lima Kabupaten dengan Ketahanan Pangan Terbaik di Aceh 

Lima Kabupaten dengan Ketahanan Pangan Terbaik di Aceh 

February 6, 2025

Buku Agenda Ramadhan dan Pesantren Kilat

March 20, 2025
Baru 50 Persen ASN Pemda Aceh Terdaftar Program Tapera

Baru 50 Persen ASN Pemda Aceh Terdaftar Program Tapera

February 8, 2026
Mengapa Kesehatan Kerja Penting dalam K3? Ini Penjelasan Menaker Yassierli

Mengapa Kesehatan Kerja Penting dalam K3? Ini Penjelasan Menaker Yassierli

February 8, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.