BANDA ACEH | SAGOE TV – Ceramah tarawih perdana Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Fathun Qarib kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh menghadirkan pesan mendalam tentang makna puasa. Rektor Prof Mujiburrahman menegaskan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi momentum transformasi spiritual yang berlandaskan aqidah, syariah, dan akhlak bagi umat Islam.
Mengawali ceramahnya yang bertajuk Filosofi Ramadhan Mubarak, Rektor UIN Ar-Raniry mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa bagi orang-orang beriman. Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa puasa merupakan manifestasi ketauhidan dan bukti konkret keimanan seorang hamba kepada Allah SWT.
“Perintah puasa hanya ditujukan kepada orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah momentum pengejawantahan iman dalam bentuk ketaatan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, pengakuan iman harus dibuktikan dengan kepatuhan menjalankan ibadah puasa, kecuali bagi mereka yang memiliki uzur syar’i. Puasa, kata dia, menjadi titik tolak menuju derajat takwa sebagaimana tujuan utama yang ditegaskan dalam Al-Qur’an.
Dalam aspek aqidah, Mujiburrahman menekankan pentingnya menjaga kemurnian tauhid. Ia mengingatkan bahwa praktik syirik, baik besar maupun kecil seperti riya, dapat menggugurkan nilai ibadah, termasuk puasa. Ia mengutip Surah Al-Kahfi ayat 110 sebagai landasan agar setiap amal dilakukan dengan ikhlas dan tidak menyekutukan Allah.
Sementara dalam dimensi syariah, Prof Mujib menegaskan bahwa ibadah puasa harus dilandasi ilmu dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Tanpa dasar pengetahuan yang benar, amal ibadah berpotensi tertolak. Ia merujuk Surah Al-Furqan ayat 23 tentang amal yang tidak sesuai tuntunan sehingga menjadi sia-sia.
“Beribadah tanpa ilmu bisa berujung pada kerusakan yang lebih besar daripada maslahat,” katanya, mengutip pandangan ulama klasik.
Adapun dalam konteks akhlak, Rektor menyoroti pentingnya menjaga etika sosial selama Ramadhan. Ia mengingatkan bahwa perilaku seperti ghibah, adu domba, dusta, pandangan yang tidak terjaga, hingga sumpah palsu dapat menghilangkan pahala puasa.
“Bisa jadi seseorang berpuasa, tetapi yang ia peroleh hanya lapar dan dahaga,” ujarnya mengutip hadist Nabi.
Mujiburrahman berharap Ramadhan menjadi momentum perbaikan diri secara menyeluruh, tidak hanya dalam hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga dalam relasi sosial antar sesama manusia.
Ia menutup ceramah tarawih dengan ajakan menjadikan Ramadhan sebagai ruang transformasi menuju pribadi yang kembali pada fitrah dan mencapai derajat takwa. []

















