• Tentang Kami
Friday, September 4, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Bendera Putih Aceh dan Frustrasi Kolektif yang Ditahan

Anna Rizatil by Anna Rizatil
December 19, 2025
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Perang Timur Tengah dan Tameng APBN Kita

Safuadi. ST., M.Sc., Ph.D

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Safuadi Harun
Pemerhati Ekonomi dan Pembangunan Aceh

Bencana kembali menyelimuti Aceh. Hujan ekstrem, banjir bandang, dan siklon yang menyapu 18 kabupaten/kota menambah panjang daftar duka di tanah ini. Di berbagai desa terlihat bendera putih berkibar bukan sebagai simbol menyerah, melainkan penanda bahwa masyarakat sedang memanggil empati dunia.

Fenomena ini dapat dibaca melalui teori psikologi sosial klasik: Frustration–Aggression Theory, sebagaimana dikemukakan oleh John Dollard, Neal Miller, Leonard Doob, O.H. Mowrer, dan Robert Sears dalam buku “Frustration and Aggression” (1939). Teori ini menjelaskan hubungan kausal antara hambatan tujuan, frustrasi emosional, dan munculnya agresi.

BACA JUGA

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

Menurut teori tersebut, ketika individu atau kelompok terhalang mencapai tujuan hidupnya seperti bekerja, bertani, menempati rumah, bersekolah maka muncullah frustrasi. Frustrasi memicu ketegangan psikologis yang mendorong individu merespons dalam bentuk agresi untuk mereduksi tekanan tersebut.

Dalam konteks Aceh, bencana berulang menghadang tujuan-tujuan dasar itu. Rumah hanyut, ladang hilang, jalan terputus, dan masa depan menjadi kabur. Ini bukan sekadar kerugian fisik, ia merusak rasa kendali atas hidup. Hambatan berulang ini membentuk frustrasi sosial kolektif.

Namun menurut Dollard dkk, agresi tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik. Ia bisa berubah menjadi agresi teralihkan atau bahkan sublimasi simbolik melalui norma budaya dan religius. Nilai‐nilai gotong royong, kesalehan kolektif, dan memori emosional tsunami 2004 menjadi penyangga sosial yang menghalangi ledakan agresi destruktif di Aceh.

Karena kanal kekerasan dibendung norma, energi emosional mencari ekspresi lain. Di sinilah bendera putih Aceh menemukan maknanya sebagai kanal agresi yang disublimkan menjadi seruan moral. Bendera putih itu bukan lambang pasrah, tetapi pesan psikososial: “Kami mencapai batas daya. Kami memilih damai. Tetapi dunia, lihatlah kami.”

Bendera putih menjadi simbol frustrasi kolektif yang menolak berubah menjadi kekerasan. Alih-alih merusak, masyarakat Aceh memilih menyalurkan ketegangan emosional melalui tanda visual yang memanggil perhatian dan empati. Ini adalah bentuk agresi pasif yang diarahkan keluar, dengan harapan dunia menatap melalui mata nurani.

Teori Frustrasi–Agresi membantu kita memahami bahwa bencana bukan hanya peristiwa alam. Ia menciptakan hambatan struktural yang menghasilkan frustrasi sosial. Jika frustrasi ini tak mendapat respons atau ruang pemulihan, ia berpotensi bermuara pada agresi destruktif. Kanal simbolik seperti bendera putih merupakan mekanisme sosial untuk meredam potensi itu.

Karena itu, saat masyarakat mengangkat bendera putih di tengah banjir dan longsor, dunia harus membaca pesan psikologis kolektif ini. Bahwa ketahanan sosial mereka luar biasa, tetapi tidak tanpa batas. Bahwa energi frustrasi itu harus dijawab bukan hanya dengan simpati, tetapi dengan tindakan nyata dan sistem dukungan yang berkeadilan.

Aceh kini berdiri di titik kritis: antara ketabahan dan keputusasaan. Bendera putih adalah seruan terakhir agar dunia hadir sebelum frustrasi itu berubah bentuk. Kita berharap, sebagaimana dicatat Dollard dan koleganya pada 1939, agresi tidak jatuh pada bentuk destruktif, tetapi dialihkan menjadi solidaritas, empati, dan percepatan bantuan kemanusiaan.

Namun pertanyaan yang mengemuka kini adalah: sampai kapan Aceh mampu bertahan dalam situasi sulit yang berulang ini? Ketangguhan sosial masyarakat Aceh memang kuat, tetapi daya tahan psikologis memiliki batas. Ketika bencana berulang menghancurkan sumber penghidupan, menunda pemulihan ekonomi, dan mengguncang rasa aman, frustrasi kolektif perlahan menumpuk. Jika kanal simbolik seperti bendera putih tidak direspons dengan tindakan cepat dan nyata, tanda itu dapat berubah makna; dari seruan empati menjadi gejala keputusasaan. Inilah saatnya negara, pemerintah daerah, dunia usaha, civil society, dan komunitas global memahami bahwa resiliensi masyarakat tidak boleh dianggap taken for granted.

Karena itu, perlu atensi penuh dan terkoordinasi dari semua pihak agar suasana frustrasi ini tidak terdorong ke arah agresi destruktif. Pemerintah harus memastikan langkah rekonstruksi dan rehabilitasi secepatnya. Media perlu menjaga sensitivitas narasi. Akademisi dan lembaga sosial harus menguatkan dukungan psikososial, bukan sekadar bantuan fisik. Bencana alam memang tidak dapat dicegah, namun frustrasi sosial dapat dikelola. Dengan membaca bendera putih sebagai sinyal awal tekanan kolektif, bukan sekadar simbol keputusasaan, para pemangku kepentingan dapat bertindak sebelum energi frustrasi itu mencari jalan agresi yang lebih keras. Aceh bukan hanya memerlukan empati, tetapi kepemimpinan kolaboratif untuk mencegah tragedi sosial susulan. Bendera putih bukan tanda menyerah. Ia adalah tanda kehidupan dan harapan.[]

Tags: AcehBencana AcehBencana Sumatera 2025Bendera PutihFrustasi KolektifopiniSafuadi. ST.
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026
Opini

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

by SAGOE TV
September 2, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK
Opini

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

by SAGOE TV
August 31, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

by SAGOE TV
August 23, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi
Opini

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

by SAGOE TV
August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

by SAGOE TV
August 20, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

September 2, 2026
Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

September 3, 2026
Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

August 31, 2026
UTU Gandeng USK Percepat Pembukaan Fakultas Kedokteran

UTU Gandeng USK Percepat Pembukaan Fakultas Kedokteran

September 4, 2026
9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

August 31, 2026
Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

August 31, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Diversifikasi Program lewat SPS Talk #1: Membaca Seni di Ruang Publik

August 31, 2026
Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

August 12, 2026

EDITOR'S PICK

Siklus atau Karma?

Toleransi di Tengah Pandemi

March 24, 2025
Perpustakaan Keliling Gencarkan Minat Baca Remaja

Perpustakaan Keliling Gencarkan Minat Baca Remaja

October 8, 2024
Membaca kembali Strategi Mengawal Undang-Undang Pemerintahan Aceh

Membaca Kembali Strategi Mengawal Undang-Undang Pemerintahan Aceh

February 13, 2026
Pj Bupati Aceh Besar Sambut Kedatangan Pj Gubernur Aceh

Pj Bupati Aceh Besar Sambut Kedatangan Pj Gubernur Aceh

February 8, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.