• Tentang Kami
Monday, March 16, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Bendera Putih Aceh dan Frustrasi Kolektif yang Ditahan

Anna Rizatil by Anna Rizatil
December 19, 2025
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Perang Timur Tengah dan Tameng APBN Kita

Safuadi. ST., M.Sc., Ph.D

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Safuadi Harun
Pemerhati Ekonomi dan Pembangunan Aceh

Bencana kembali menyelimuti Aceh. Hujan ekstrem, banjir bandang, dan siklon yang menyapu 18 kabupaten/kota menambah panjang daftar duka di tanah ini. Di berbagai desa terlihat bendera putih berkibar bukan sebagai simbol menyerah, melainkan penanda bahwa masyarakat sedang memanggil empati dunia.

Fenomena ini dapat dibaca melalui teori psikologi sosial klasik: Frustration–Aggression Theory, sebagaimana dikemukakan oleh John Dollard, Neal Miller, Leonard Doob, O.H. Mowrer, dan Robert Sears dalam buku “Frustration and Aggression” (1939). Teori ini menjelaskan hubungan kausal antara hambatan tujuan, frustrasi emosional, dan munculnya agresi.

BACA JUGA

Karantina Ramadhan, Pretest Sebelum Mondok

Kerentanan Negara Teluk dalam Bayang-Bayang Perang Iran vs Israel-USA

Menurut teori tersebut, ketika individu atau kelompok terhalang mencapai tujuan hidupnya seperti bekerja, bertani, menempati rumah, bersekolah maka muncullah frustrasi. Frustrasi memicu ketegangan psikologis yang mendorong individu merespons dalam bentuk agresi untuk mereduksi tekanan tersebut.

Dalam konteks Aceh, bencana berulang menghadang tujuan-tujuan dasar itu. Rumah hanyut, ladang hilang, jalan terputus, dan masa depan menjadi kabur. Ini bukan sekadar kerugian fisik, ia merusak rasa kendali atas hidup. Hambatan berulang ini membentuk frustrasi sosial kolektif.

Namun menurut Dollard dkk, agresi tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik. Ia bisa berubah menjadi agresi teralihkan atau bahkan sublimasi simbolik melalui norma budaya dan religius. Nilai‐nilai gotong royong, kesalehan kolektif, dan memori emosional tsunami 2004 menjadi penyangga sosial yang menghalangi ledakan agresi destruktif di Aceh.

Karena kanal kekerasan dibendung norma, energi emosional mencari ekspresi lain. Di sinilah bendera putih Aceh menemukan maknanya sebagai kanal agresi yang disublimkan menjadi seruan moral. Bendera putih itu bukan lambang pasrah, tetapi pesan psikososial: “Kami mencapai batas daya. Kami memilih damai. Tetapi dunia, lihatlah kami.”

Baca Juga:  Aceh Barat Daya Diguncang Gempa, Ini Data dan Penjelasan BMKG

Bendera putih menjadi simbol frustrasi kolektif yang menolak berubah menjadi kekerasan. Alih-alih merusak, masyarakat Aceh memilih menyalurkan ketegangan emosional melalui tanda visual yang memanggil perhatian dan empati. Ini adalah bentuk agresi pasif yang diarahkan keluar, dengan harapan dunia menatap melalui mata nurani.

Teori Frustrasi–Agresi membantu kita memahami bahwa bencana bukan hanya peristiwa alam. Ia menciptakan hambatan struktural yang menghasilkan frustrasi sosial. Jika frustrasi ini tak mendapat respons atau ruang pemulihan, ia berpotensi bermuara pada agresi destruktif. Kanal simbolik seperti bendera putih merupakan mekanisme sosial untuk meredam potensi itu.

Karena itu, saat masyarakat mengangkat bendera putih di tengah banjir dan longsor, dunia harus membaca pesan psikologis kolektif ini. Bahwa ketahanan sosial mereka luar biasa, tetapi tidak tanpa batas. Bahwa energi frustrasi itu harus dijawab bukan hanya dengan simpati, tetapi dengan tindakan nyata dan sistem dukungan yang berkeadilan.

Aceh kini berdiri di titik kritis: antara ketabahan dan keputusasaan. Bendera putih adalah seruan terakhir agar dunia hadir sebelum frustrasi itu berubah bentuk. Kita berharap, sebagaimana dicatat Dollard dan koleganya pada 1939, agresi tidak jatuh pada bentuk destruktif, tetapi dialihkan menjadi solidaritas, empati, dan percepatan bantuan kemanusiaan.

Namun pertanyaan yang mengemuka kini adalah: sampai kapan Aceh mampu bertahan dalam situasi sulit yang berulang ini? Ketangguhan sosial masyarakat Aceh memang kuat, tetapi daya tahan psikologis memiliki batas. Ketika bencana berulang menghancurkan sumber penghidupan, menunda pemulihan ekonomi, dan mengguncang rasa aman, frustrasi kolektif perlahan menumpuk. Jika kanal simbolik seperti bendera putih tidak direspons dengan tindakan cepat dan nyata, tanda itu dapat berubah makna; dari seruan empati menjadi gejala keputusasaan. Inilah saatnya negara, pemerintah daerah, dunia usaha, civil society, dan komunitas global memahami bahwa resiliensi masyarakat tidak boleh dianggap taken for granted.

Baca Juga:  Menempatkan Aceh di Peta: Antara Representasi, Diplomasi Budaya, dan Daya Hidup Seni Tradisi

Karena itu, perlu atensi penuh dan terkoordinasi dari semua pihak agar suasana frustrasi ini tidak terdorong ke arah agresi destruktif. Pemerintah harus memastikan langkah rekonstruksi dan rehabilitasi secepatnya. Media perlu menjaga sensitivitas narasi. Akademisi dan lembaga sosial harus menguatkan dukungan psikososial, bukan sekadar bantuan fisik. Bencana alam memang tidak dapat dicegah, namun frustrasi sosial dapat dikelola. Dengan membaca bendera putih sebagai sinyal awal tekanan kolektif, bukan sekadar simbol keputusasaan, para pemangku kepentingan dapat bertindak sebelum energi frustrasi itu mencari jalan agresi yang lebih keras. Aceh bukan hanya memerlukan empati, tetapi kepemimpinan kolaboratif untuk mencegah tragedi sosial susulan. Bendera putih bukan tanda menyerah. Ia adalah tanda kehidupan dan harapan.[]

Tags: acehBencana AcehBencana Sumatera 2025Bendera PutihFrustasi KolektifopiniSafuadi. ST.
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Karantina Ramadhan, Pretest Sebelum Mondok
Opini

Karantina Ramadhan, Pretest Sebelum Mondok

by Anna Rizatil
March 9, 2026
Reposisi dan Evaluasi Aceh di Dalam NKRI
Opini

Kerentanan Negara Teluk dalam Bayang-Bayang Perang Iran vs Israel-USA

by SAGOE TV
March 8, 2026
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Opini

Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa

by Anna Rizatil
March 8, 2026
Perang Timur Tengah dan Tameng APBN Kita
Opini

Perang Timur Tengah dan Tameng APBN Kita

by Anna Rizatil
March 8, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

5.789 PPPK Pemerintah Aceh Terima SK, Mualem Ingatkan Jangan Nongkrong di Warkop saat Jam Kerja

THR ASN Aceh Rp 205,7 Miliar Mulai Cair, 41.410 PNS dan PPPK Terima Jelang Idul Fitri

March 14, 2026
Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

March 14, 2026
Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh

Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh: Dari Momentum ke Kerja Nyata

March 14, 2026
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

March 8, 2026
Prof Mirza Tabrani Resmi Dilantik Jadi Rektor Universitas Syiah Kuala

Prof Mirza Tabrani Resmi Dilantik Jadi Rektor Universitas Syiah Kuala

March 9, 2026
Karantina Ramadhan, Pretest Sebelum Mondok

Karantina Ramadhan, Pretest Sebelum Mondok

March 9, 2026
Kabar Baik! Pemerintah Aceh Gelar Operasi Pasar Murah di 5 Daerah, Ini Lokasi Lengkapnya

Kabar Baik! Pemerintah Aceh Gelar Operasi Pasar Murah di 5 Daerah, Ini Lokasi Lengkapnya

March 11, 2026
UIN Ar-Raniry Masuk Enam Besar PTKIN dengan Peminat Terbanyak

UIN Ar-Raniry Masuk Enam Besar PTKIN dengan Peminat Terbanyak

March 10, 2026
Olahraga Padel Makin Populer di Aceh, Komunitas Gelar Turnamen 'Ramadhan Silaturahmi'

Olahraga Padel Makin Populer di Aceh, Komunitas Gelar Turnamen ‘Ramadhan Silaturahmi’

March 14, 2026

EDITOR'S PICK

Letkol Inf Teuku Mustafa Kamal Jabat Kapendam IM

Letkol Inf Teuku Mustafa Kamal Jabat Kapendam IM

September 28, 2024
Biaya Haji 2025 yang Wajib Dibayar Jemaah Rp55,43 Juta

Biaya Haji 2025 yang Wajib Dibayar Jemaah Rp55,43 Juta

January 6, 2025
Aceh Tambah 27 Medali di PON XXI 2024

Aceh Tambah 27 Medali di PON XXI 2024

September 13, 2024
Kemenkum Aceh Siap Fasilitasi Proses Pengesahan Koperasi Desa Merah Putih

Kemenkum Aceh Siap Fasilitasi Proses Pengesahan Koperasi Desa Merah Putih

May 5, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.