• Tentang Kami
Friday, October 23, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Bendera Putih Aceh dan Frustrasi Kolektif yang Ditahan

Anna Rizatil by Anna Rizatil
December 19, 2025
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Perang Timur Tengah dan Tameng APBN Kita

Safuadi. ST., M.Sc., Ph.D

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Safuadi Harun
Pemerhati Ekonomi dan Pembangunan Aceh

Bencana kembali menyelimuti Aceh. Hujan ekstrem, banjir bandang, dan siklon yang menyapu 18 kabupaten/kota menambah panjang daftar duka di tanah ini. Di berbagai desa terlihat bendera putih berkibar bukan sebagai simbol menyerah, melainkan penanda bahwa masyarakat sedang memanggil empati dunia.

Fenomena ini dapat dibaca melalui teori psikologi sosial klasik: Frustration–Aggression Theory, sebagaimana dikemukakan oleh John Dollard, Neal Miller, Leonard Doob, O.H. Mowrer, dan Robert Sears dalam buku “Frustration and Aggression” (1939). Teori ini menjelaskan hubungan kausal antara hambatan tujuan, frustrasi emosional, dan munculnya agresi.

BACA JUGA

Banda Aceh, Kota yang Bisa Dicari Orang untuk Belajar

Menyiapkan Technofinancepreneur Syariah: Ketika Teknologi Harus Berjalan Seiring dengan Nilai Islam

Menurut teori tersebut, ketika individu atau kelompok terhalang mencapai tujuan hidupnya seperti bekerja, bertani, menempati rumah, bersekolah maka muncullah frustrasi. Frustrasi memicu ketegangan psikologis yang mendorong individu merespons dalam bentuk agresi untuk mereduksi tekanan tersebut.

Dalam konteks Aceh, bencana berulang menghadang tujuan-tujuan dasar itu. Rumah hanyut, ladang hilang, jalan terputus, dan masa depan menjadi kabur. Ini bukan sekadar kerugian fisik, ia merusak rasa kendali atas hidup. Hambatan berulang ini membentuk frustrasi sosial kolektif.

Namun menurut Dollard dkk, agresi tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik. Ia bisa berubah menjadi agresi teralihkan atau bahkan sublimasi simbolik melalui norma budaya dan religius. Nilai‐nilai gotong royong, kesalehan kolektif, dan memori emosional tsunami 2004 menjadi penyangga sosial yang menghalangi ledakan agresi destruktif di Aceh.

Karena kanal kekerasan dibendung norma, energi emosional mencari ekspresi lain. Di sinilah bendera putih Aceh menemukan maknanya sebagai kanal agresi yang disublimkan menjadi seruan moral. Bendera putih itu bukan lambang pasrah, tetapi pesan psikososial: “Kami mencapai batas daya. Kami memilih damai. Tetapi dunia, lihatlah kami.”

Bendera putih menjadi simbol frustrasi kolektif yang menolak berubah menjadi kekerasan. Alih-alih merusak, masyarakat Aceh memilih menyalurkan ketegangan emosional melalui tanda visual yang memanggil perhatian dan empati. Ini adalah bentuk agresi pasif yang diarahkan keluar, dengan harapan dunia menatap melalui mata nurani.

Teori Frustrasi–Agresi membantu kita memahami bahwa bencana bukan hanya peristiwa alam. Ia menciptakan hambatan struktural yang menghasilkan frustrasi sosial. Jika frustrasi ini tak mendapat respons atau ruang pemulihan, ia berpotensi bermuara pada agresi destruktif. Kanal simbolik seperti bendera putih merupakan mekanisme sosial untuk meredam potensi itu.

Karena itu, saat masyarakat mengangkat bendera putih di tengah banjir dan longsor, dunia harus membaca pesan psikologis kolektif ini. Bahwa ketahanan sosial mereka luar biasa, tetapi tidak tanpa batas. Bahwa energi frustrasi itu harus dijawab bukan hanya dengan simpati, tetapi dengan tindakan nyata dan sistem dukungan yang berkeadilan.

Aceh kini berdiri di titik kritis: antara ketabahan dan keputusasaan. Bendera putih adalah seruan terakhir agar dunia hadir sebelum frustrasi itu berubah bentuk. Kita berharap, sebagaimana dicatat Dollard dan koleganya pada 1939, agresi tidak jatuh pada bentuk destruktif, tetapi dialihkan menjadi solidaritas, empati, dan percepatan bantuan kemanusiaan.

Namun pertanyaan yang mengemuka kini adalah: sampai kapan Aceh mampu bertahan dalam situasi sulit yang berulang ini? Ketangguhan sosial masyarakat Aceh memang kuat, tetapi daya tahan psikologis memiliki batas. Ketika bencana berulang menghancurkan sumber penghidupan, menunda pemulihan ekonomi, dan mengguncang rasa aman, frustrasi kolektif perlahan menumpuk. Jika kanal simbolik seperti bendera putih tidak direspons dengan tindakan cepat dan nyata, tanda itu dapat berubah makna; dari seruan empati menjadi gejala keputusasaan. Inilah saatnya negara, pemerintah daerah, dunia usaha, civil society, dan komunitas global memahami bahwa resiliensi masyarakat tidak boleh dianggap taken for granted.

Karena itu, perlu atensi penuh dan terkoordinasi dari semua pihak agar suasana frustrasi ini tidak terdorong ke arah agresi destruktif. Pemerintah harus memastikan langkah rekonstruksi dan rehabilitasi secepatnya. Media perlu menjaga sensitivitas narasi. Akademisi dan lembaga sosial harus menguatkan dukungan psikososial, bukan sekadar bantuan fisik. Bencana alam memang tidak dapat dicegah, namun frustrasi sosial dapat dikelola. Dengan membaca bendera putih sebagai sinyal awal tekanan kolektif, bukan sekadar simbol keputusasaan, para pemangku kepentingan dapat bertindak sebelum energi frustrasi itu mencari jalan agresi yang lebih keras. Aceh bukan hanya memerlukan empati, tetapi kepemimpinan kolaboratif untuk mencegah tragedi sosial susulan. Bendera putih bukan tanda menyerah. Ia adalah tanda kehidupan dan harapan.[]

Tags: AcehBencana AcehBencana Sumatera 2025Bendera PutihFrustasi KolektifopiniSafuadi. ST.
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Ari J. Palawi
Opini

Banda Aceh, Kota yang Bisa Dicari Orang untuk Belajar

by SAGOE TV
October 23, 2026
Menyiapkan Technofinancepreneur Syariah Ketika Teknologi Harus Berjalan Seiring dengan Nilai Islam
Opini

Menyiapkan Technofinancepreneur Syariah: Ketika Teknologi Harus Berjalan Seiring dengan Nilai Islam

by SAGOE TV
October 21, 2026
Negeri Hahaha Hihihi
Opini

Negeri Hahaha Hihihi

by SAGOE TV
October 20, 2026
Mengapa Pelajaran Biologi Jauh dari Kehidupan Siswa
Opini

Mengapa Pelajaran Biologi Jauh dari Kehidupan Siswa?

by SAGOE TV
October 19, 2026
Risnawati Ridwan
Opini

Kabut Asap Sampai ke Aceh, Apa yang Sudah Kita Ajarkan kepada Anak-anak?

by Risnawati binti Ridwan
October 18, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

KPK Anugerahkan Penghargaan kepada 15 Desa Antikorupsi di Aceh, Ini Daftarnya

KPK Anugerahkan Penghargaan kepada 15 Desa Antikorupsi di Aceh, Ini Daftarnya

October 21, 2026
1,2 Ton Sabu-Sabu Cair Disita di Pidie, 11 Orang Ditangkap Termasuk 2 Warga Tiongkok

1,2 Ton Sabu-Sabu Cair Disita di Pidie, 11 Orang Ditangkap Termasuk 2 Warga Tiongkok

October 23, 2026
Dugaan Penggerebekan Pabrik Sabu-Sabu di Pidie Bikin Warga Terkejut, Polisi Masih di Lokasi

Dugaan Penggerebekan Pabrik Sabu-Sabu di Pidie Bikin Warga Terkejut, Polisi Masih di Lokasi

October 22, 2026
Muhammad Riza Nurdin Direktur Komersial PT PEMA

Muhammad Riza Nurdin Ditunjuk Jadi Direktur Komersial PT PEMA

October 20, 2026
Risnawati Ridwan

Kabut Asap Sampai ke Aceh, Apa yang Sudah Kita Ajarkan kepada Anak-anak?

October 18, 2026
Arsip tabloid asAsi

asAsi: Nyawöung dalam Wujud Lain

October 16, 2026
Baun Thoib Soaloon Kepala Kantor Bahasa Kepri

Mendikdasmen Lantik 162 Pejabat, Baun Thoib Soaloon Jabat Kepala Kantor Bahasa Kepri

October 18, 2026
Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

October 18, 2026
Wisuda 227 Lulusan, UIA Beri Hadiah Umrah untuk Prodi S1 Ekonomi Syariah Berpredikat Unggul

Wisuda 227 Lulusan, UIA Beri Hadiah Umrah untuk Prodi S1 Ekonomi Syariah Berpredikat Unggul

October 21, 2026

EDITOR'S PICK

Anak Aceh Masih Bisa Daftar Akademi Persiraja, Latihan Perdana 3 Oktober

Anak Aceh Masih Bisa Daftar Akademi Persiraja, Latihan Perdana 3 Oktober

September 15, 2026
Salah Baca Langkah Cina, Visi Global 2021 Runtuh

Salah Baca Langkah Cina, Visi Global 2021 Runtuh

March 24, 2025
Pemain Asing Akan Ramaikan Turnamen Lantak Laju Byond Cup 2025 di Stadion H Dimurthala

Pemain Asing Akan Ramaikan Turnamen Lantak Laju Byond Cup di Stadion H Dimurthala

June 13, 2025
Banjir Susulan di Masa Transisi, Aceh Utara Kembali Tetapkan Status Tanggap Darurat

Banjir Susulan di Masa Transisi, Aceh Utara Kembali Tetapkan Status Tanggap Darurat

January 12, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.