• Tentang Kami
Saturday, June 27, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis dan Keterbukaan

Anna Rizatil by Anna Rizatil
December 30, 2025
in Analisis
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis dan Keterbukaan

Dr. Safrizal ZA Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri. Foto: Internet

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Peneliti Budaya & Akademia Seni, Universitas Syiah Kuala

Penugasan Dr. Safrizal Zakaria Ali sebagai Koordinator Lintas Sektor Penanganan Bencana Nasional datang pada saat yang menentukan. Indonesia, khususnya Sumatra sedang menghadapi bencana hidrometeorologi yang tidak lagi bisa dipahami sebagai siklus alam biasa. Banjir dan longsor berulang menandai krisis tata kelola wilayah, kegagalan integrasi kebijakan, serta keterputusan antara data, keputusan, dan realitas sosial. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan diuji bukan hanya oleh kecepatan respons, tetapi oleh keberanian membuka data, menyatukan institusi, dan menjaga kesinambungan kebijakan lintas sektor.

Amanah tersebut menempatkan Dr. Safrizal ZA Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, mantan Penjabat Gubernur di tiga provinsi, dan Wakil Ketua III Satgas Penanganan Covid-19 Nasional pada posisi yang unik. Ia bukan figur baru dalam manajemen krisis. Pengalaman panjangnya di bidang otonomi daerah, penataan wilayah, kebencanaan, hingga inovasi pemerintahan memberi modal kepemimpinan yang teruji di situasi kompleks, penuh tekanan, dan lintas kepentingan.

BACA JUGA

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

Namun di saat yang hampir bersamaan, Dr. Safrizal ZA juga memegang amanah strategis sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Syiah Kuala (USK), lembaga yang kini berada di persimpangan penting menjelang Pemilihan Rektor periode 2026–2031. Dua medan pengabdian ini penanganan bencana nasional dan tata kelola pendidikan tinggi tampak berbeda, tetapi sesungguhnya bertemu pada satu titik krusial, bagaimana kepemimpinan dijalankan ketika krisis nyata dan masa depan institusi harus diputuskan secara bersamaan.

Dalam beberapa bulan terakhir, diskursus publik seputar Pilrek USK diwarnai kegelisahan yang sah. Kegelisahan tentang keterbukaan proses, tentang bagaimana asesmen kompetensi kandidat ditempatkan dalam pengambilan keputusan, tentang regenerasi kepemimpinan yang dirasakan tertahan, serta tentang jarak yang mulai terasa antara universitas dan publiknya. Kegelisahan ini bukan serangan personal atau penolakan institusi. Ia adalah sinyal sosial—seperti peringatan dini dalam kebencanaan yang patut dibaca dengan jernih.

Di sinilah peran MWA menjadi sentral. Majelis Wali Amanat bukan sekadar penjaga kepatuhan administratif, melainkan penentu kualitas etik dan arah moral proses. Dalam sistem PTN-BH, MWA memegang tanggung jawab strategis untuk memastikan bahwa keputusan besar universitas berdiri di atas dasar yang rasional, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan secara publik. Cara MWA memperlakukan data, asesmen, dan suara sivitas akademika akan menentukan apakah Pilrek menjadi ritual administratif yang tertutup, atau momentum pembaruan yang menghidupkan kembali kepercayaan.

Pengalaman memimpin penanganan bencana menawarkan pelajaran yang relevan bagi dunia akademik. Dalam bencana, tidak ada ruang bagi ego kelembagaan. Data harus dibuka, informasi harus dibagi, dan keputusan harus diambil meski tidak sempurna. Kepemimpinan yang terlalu berhati-hati, tertutup, atau berlindung di balik prosedur justru memperpanjang risiko dan penderitaan warga. Prinsip yang sama berlaku di universitas. Kampus yang enggan membuka proses dan menghindari evaluasi kritis akan kehilangan daya adaptasinya.

Universitas Syiah Kuala memiliki sejarah yang sarat makna. Ia lahir dari rahim masyarakat Aceh, membawa semangat Darussalam sebagai ruang pertemuan ilmu, nilai, dan tanggung jawab sosial. Namun relasi historis ini kini diuji oleh perubahan tata kelola, tuntutan efisiensi, dan dominasi logika teknokratis. Di sinilah Pilrek menjadi lebih dari sekadar pemilihan figur. Ia adalah cermin apakah universitas masih mampu menjaga martabatnya sebagai institusi pengetahuan yang berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik.

Amanah ganda yang diemban Dr. Safrizal ZA tentu tidak ringan. Risiko tarik-menarik kepentingan, keterbatasan waktu, dan ekspektasi publik adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Namun justru di titik inilah kepemimpinan menemukan ujiannya. Sebagai putra Aceh yang meniti karier dari lurah di Lhokseumawe hingga Dirjen Kemendagri, Safrizal memahami betul denyut daerah, kompleksitas otonomi, dan arti kepercayaan publik. Pengalaman itu adalah modal etis, bukan sekadar administratif.

Kehadiran beliau yang intens di Aceh dalam konteks kebencanaan seharusnya memberi perspektif yang kuat: bahwa data yang ditutup memperlambat penyelamatan; bahwa koordinasi yang ditunda memperbesar dampak; dan bahwa keterbukaan bukan ancaman, melainkan prasyarat keselamatan. Prinsip ini relevan sepenuhnya dalam mengelola proses Pilrek USK. Membuka proses, menempatkan asesmen secara jujur, dan memberi ruang regenerasi bukanlah risiko institusional, tetapi investasi jangka panjang bagi kepercayaan dan kualitas kepemimpinan akademik.

Apa yang terjadi di USK mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak PTN-BH di Indonesia hari ini. Di tengah krisis lingkungan, ketidakpastian global, dan erosi kepercayaan, universitas dituntut tidak hanya efisien secara manajerial, tetapi berani secara moral. Kampus harus mampu membaca luka di luar pagar dan meresponsnya dengan kepemimpinan yang menyatukan.

Harapan ini tidak bertumpu pada satu figur semata, melainkan pada keberanian institusi menjaga integritasnya. Namun sejarah menunjukkan, momentum perubahan sering menemukan wajahnya pada sosok tertentu. Dari medan bencana ke ruang akademik, amanah yang kini diemban Dr. Safrizal ZA membuka peluang penting: menyatukan pengalaman krisis, pengetahuan, dan kepentingan publik dalam satu kepemimpinan yang terbuka.
Ketika negara belajar dari pengetahuan, dan kampus berani menyentuh realitas sosial, di situlah kepemimpinan menemukan maknanya bukan sebagai jabatan, melainkan sebagai tanggung jawab sejarah. []

Tags: Dr. H. Safrizal ZAKepemimpinanKeterbukaanKrisisMakin Tahu Indonesia
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Sulaiman Tripa
Analisis

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

by Anna Rizatil
February 2, 2026
Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala
Analisis

Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas
Analisis

Sabar Bukan Diam: Refleksi Etika dan Kebijakan dalam Penanggulangan Bencana Aceh

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Zulfikar Akbar
Analisis

Suara Pengajian di Pengungsian Bencana Aceh

by SAGOE TV
December 28, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh

Mengantar Si Perantau Cilik: Sebuah Perjalanan Melepaskan, Sebuah Pelajaran Mengikhlaskan

June 26, 2026
SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh

SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh

June 26, 2026
Irama Aceh PUNGO Bahas Masa Depan Kreativitas, Budaya, dan Energi Aceh

Irama Aceh PUNGO Bahas Masa Depan Kreativitas, Budaya, dan Energi Aceh

June 23, 2026
Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh

Setelah Dilestarikan, Lalu Apa?

June 16, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas

Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas

June 23, 2026
Blok Andaman Harus Segera Jalan; Revisi POD Berisiko Tunda Investasi Bertahun-Tahun

Blok Andaman Harus Segera Jalan; Revisi POD Berisiko Tunda Investasi Bertahun-Tahun

June 26, 2026
M Adli Abdullah

Alam Peudeung: Simbol Kedaulatan dan Marwah Aceh yang Tak Lekang Zaman

June 23, 2026
Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

June 18, 2026

EDITOR'S PICK

Rektor UIN Ar-Raniry Perdamaian Harus Jadi Ideologi Generasi Muda Aceh

Rektor UIN Ar-Raniry: Perdamaian Harus Jadi Ideologi Generasi Muda Aceh

September 8, 2025
USK Jangkau 483 Anak Terdampak Bencana Aceh Lewat Pembelajaran Darurat Inklusif

USK Jangkau 483 Anak Terdampak Bencana Aceh Lewat Pembelajaran Darurat Inklusif

December 24, 2025
Kontes Kapal Indonesia 2024, Kroeng Team USK Siap Berlaga dengan Delphinus

Kontes Kapal Indonesia 2024, Kroeng Team USK Siap Berlaga dengan Delphinus

October 23, 2024
Dr Jalaluddin: Harusnya Investasi Aceh Mengurangi Kemiskinan

Dr Jalaluddin: Harusnya Investasi Aceh Mengurangi Kemiskinan

November 17, 2021
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.