Halo, pembaca. Sebulan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor, dua jurnalis Sagoe TV menempuh perjalanan panjang dari Kota Banda Aceh menuju Kabupaten Aceh Tamiang. Perjalanan ini bukan sekadar liputan, melainkan upaya melihat dari dekat bagaimana luka bencana masih tinggal dan bagaimana harapan, meski pelan, tetap bertahan.
Dini hari yang melelahkan, ban motor bocor di Seunuddon, hingga bermalam di Masjid Panton Labu menjadi bagian dari perjalanan. Semua itu seperti isyarat kecil bahwa menuju Aceh Tamiang berarti bersiap bertemu cerita yang tak ringan. Namun kisah sesungguhnya baru benar-benar terasa saat kami tiba di lokasi bencana.
Di Kota Lintang, warga menyebut hidup pascabencana dengan satu istilah: “ngezombie.” Duduk di depan tenda, menunggu bantuan datang, mengejarnya saat terlihat, lalu kembali lagi ke tenda. Hari-hari berjalan dalam pengulangan yang melelahkan. Namun di tengah lumpur dan puing, tidak semua memilih menunggu.
Sarah mulai berjualan sate di depan rumah sang kakak yang rusak. Modalnya sisa bantuan. Bukan karena keadaan sudah membaik, melainkan karena hidup harus tetap berjalan, meski tertatih.
Ada pula Rizqi yang bangkit dengan cara berbeda. Ia bekerja membersihkan lumpur di rumah orang lain. Upahnya kemudian digunakan untuk membersihkan ruko dan menjadi modal usaha kembali berdagang.
Sementara di Sukajadi, sepasang suami istri bertahan di gubuk darurat, menggantungkan asa untuk kembali berjualan—harapan yang kini tertahan karena ketiadaan modal.
Di tengah segala keterbatasan, solidaritas masih tumbuh. Warga membantu warga. Dapur umum menjadi penyangga RSUD Aceh Tamiang yang mulai beroperasi secara bertahap. Tak ada kisah heroik berlebihan, hanya keteguhan orang-orang biasa yang berusaha berdiri lagi setelah dihantam bencana.
Bencana mungkin telah berlalu, tetapi pemulihan masih panjang. Dan di sela keterbatasan itu, warga Aceh Tamiang terus berjuang dengan cara mereka sendiri.
Bagaimana wajah Aceh Tamiang hari ini? Apa makna “ngezombie” bagi para penyintas? Dan bagaimana mereka merajut asa di antara puing-puing kehidupan?
Selengkapnya dapat dibaca dalam laporan Sagoe TV di teras.id/sagoe-tv. Selamat membaca.



















