• Tentang Kami
Friday, June 5, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Artificial Intelligence dan Krisis Akal Manusia: Antara Alat Bantu dan Ancaman Peradaban

Anna Rizatil by Anna Rizatil
February 6, 2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Artificial Intelligence dan Krisis Akal Manusia: Antara Alat Bantu dan Ancaman Peradaban

Prof. Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prof. Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc
Profesor bidang teknologi pascapanen, Dosen Prodi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Email: rkhathir79@gmail.com

Era ini, perkembangan signifikan teknologi informasi telah melahirkan Artificial Intelligence yang biasa kita sebut sebagai AI. Apa itu AI? Teknologi AI adalah teknologi yang memungkinkan sistem komputer meniru kemampuan kognitif manusia seperti belajar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan, dengan memanfaatkan data untuk mengenali pola dan melakukan tugas kompleks secara mandiri.

Okey, di sini mari kita lihat, pertama di kata “meniru”. Teknologi ini hanya mempunyai kemampuan meniru. Pernahkah anda melihat pertunjukan sirkus hewan? Sirkus hewan adalah pertunjukan yang menampilkan hewan liar yang telah dilatih melakukan atraksi tertentu, seperti melompati api atau menaiki sepeda, demi hiburan. Namun praktik ini kontroversial karena seringkali melibatkan kekerasan dan eksploitasi terhadap hewan dari habitat aslinya, seperti monyet, gajah, singa, dan lumba-lumba. Pertanyaan nya, bagaimana hewan sirkus dapat melakukan semua atraksi mengagumkan tersebut? Jawabannya adalah karena mereka telah dilatih secara keras dan disiplin untuk meniru gerakan-gerakan tertentu, dan keahlian yang mereka tampilkan tersebut adalah murni tiruan. Pada akhirnya, mereka tetap hewan sirkus yang tidak mengalami peningkatan kecerdasan (inteligensia).

BACA JUGA

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

Kedua, teknologi ini memanfaatkan sekumpulan data untuk mengenali pola, sehingga setiap pengambilan keputusan dalam pemecahan masalah dilakukan berdasarkan data masukan (input) sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa sistem AI merupakan sistem pengulangan yang terjadi tanpa memungkinkan suatu peningkatan kapasitas (improvement). Untuk itu akan dipastikan bahwa di masa depan sistem AI akan menemukan level kebosanan (boring).

Teknologi AI sendiri mencakup teknik seperti machine learning, deep learning, dan natural language processing, yang memungkinkan aplikasi sehari-hari seperti asisten virtual (Google Assistant/Siri), filter media sosial, rekomendasi produk, hingga mobil otonom, untuk bekerja secara lebih efisien, cepat, dan akurat untuk suatu tugas spesifik. Intinya, teknologi AI dikembangkan sebagai alat bantu pekerjaan manusia.

Lalu dimanakah kesenjangan (gap) akibat penggunaan AI secara masif yang dapat merusak kehidupan manusia? Perkembangan AI menjadi ancaman ketika manusia mulai menggunakan AI dengan cara yang salah. Lihat kembali ke aliniea sebelumnya, teknologi AI dikembangkan untuk membantu kelelahan manusia, sebagai asisten manusia, dan membantu meringankan beban tenaga otot. Kesalahan terjadi ketika teknologi AI digunakan untuk menggantikan kerja -otak- manusia. Manusia-manusia mulai menggunakan AI atau dengan kata lain menanggalkan (menyimpan) otaknya.

Penyalahgunaan asisten sangat berbahaya. Misalnya penyalahgunaan asisten rumah tangga akan berpotensi menghancurkan sebuah keluarga. Penyalahgunaan AI sebagai asisten lebih dahsyat justeru akan menghancurkan peradaban manusia.

Contohnya ketika AI digunakan dalam sistem pembelajaran sebagai alat untuk menyelesaikan berbagai tugas. Seorang dosen yang menggunakan AI dan menyimpan otaknya, maka yang dihasilkan adalah materi pembelajaran ataupun artikel ilmiah yang tidak ada peningkatan secara keilmuan namun berbasis tiruan dan multiplikasi. Seorang mahasiswa yang menggunakan AI untuk menyelesaikan perkuliahan tanpa menggunakan kemampuan otaknya, juga akan menjadi sarjana yang kosong atau tidak berkompetensi. Proses pembelajaran yang berfungsi mencetak generasi unggul beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan, berubah arah menjadi proses mencetak generasi berijazah yang inkompeten. Proses menuntut ilmu berubah menjadi proses menuntut nilai atau dokumen. Manusia-manusia yang telah sampai pada tahap ini menjadi manusia yang sangat lemah, yang dapat kita matikan (shutdown) dengan hanya mematikan arus listrik di negara kita.

Di sisi lain, otak yang sering disimpan dan tidak dimanfaatkan untuk berpikir, akan menjadi tumpul atau bodoh. Proses tidak menggunakan otak ini merupakan virus malas yang berbahaya dan bahkan melanggar perintah Allah SWT. Allah memerintahkan kita untuk berpikir dan mendayagunakan akal, afala tatafakkarun?, afala ta’qilun?. Akal pikiran ini adalah pemberian Allah yang paling berharga kepada manusia, di mana tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Oleh karena itulah, ketika pemberian paling berharga tidak kita gunakan alias kita musiumkan, maka sama halnya dengan kita tidak berterima kasih (bersyukur) kepada Allah. Perkara ini sangat berbahaya, yang akan membawa kita kepada kekufuran atas nikmat Allah.

Etika normatif

Oleh karena itu, dengan mengenali teknologi AI secara benar, kita perlu membuat etika normatif dalam penggunaan Artificial Intelligence. Hal ini dapat dijadikan batasan (limit) agar kita terhindar dari penyalahgunaan AI. Etika normatif pertama adalah kejujuran (integritas). Generasi yang berintegritas akan dapat mengendalikan dirinya dari penggunaan AI untuk kecurangan. Contoh kecurangan penggunaan AI adalah menyelesaikan sebuah tugas atau pekerjaan dengan AI secara total. Indikasi ini dapat dilihat misalnya dari kualitas item pekerjaan yang rendah, jumlah item pekerjaan yang banyak melebihi kewajaran, dan inkompetensi generasi.

Etika normatif kedua adalah kemanusiaan (humanis). Humanis merujuk pada sikap, pemikiran, atau orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, martabat, potensi, dan kebebasan individu, serta mengedepankan akal budi dan empati dalam memandang dunia dan menyelesaikan masalah. Sifat ini berfokus pada pengembangan diri manusia, pembangunan masyarakat yang adil, dan solusi yang berpusat pada kebutuhan manusia.

Kehidupan kita sudah sampai di era revolusi industri 5.0. Revolusi industri 1.0 adalah periode perubahan proses produksi manual ke proses produksi mekanis (menggunakan mesin). Revolusi industri 2.0 terjadi akhir abad ke-19 dengan penemuan listrik, inovasi proses otomatisasi, dan kemajuan industri baja, kereta api, telekomunikasi dan otomotif. Pada akhir abad ke-20 kita memasuki era revolusi industri 3.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi komputer membawa kita ke era digitalisasi. Revolusi industri 4.0 adalah integrasi teknologi digital dalam dunia fisik, digital dan biologi yang menghasilkan AI, Internet of Things (IoTs) dan big data. Nah, sekarang kita sudah di ambang revolusi industri 5.0 yaitu kembali kepada manusia dengan visi mengkolaborasikan AI, IoT dan robotika dengan kecerdasan manusia.

Mengapa revolusi industri 5.0 lahir? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena pada tahap ini kita sudah menyadari bahwa keberlanjutan kehidupan manusia (sustainability) sangat tergantung humanisasi itu sendiri.

Dalam Islam, manusia diciptakan oleh Allah sebagai pengelola (khalifah) bumi (QS. Al Baqarah: 30). Terjadi dialog antara malaikat dan Tuhan, di mana malaikat mempertanyakan untuk apa Allah menciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan? Allah menjawab secara arif bahwa Allahlah yang Maha Mengetahui. Kemudian pada ayat 32, para malaikat menjadi takjub dengan kehebatan nabiyullah Adam AS. yang mampu menyebutkan nama benda-benda dengan akurat sebagaimana yang telah Allah ajarkan, sementara para malaikat tidak menguasai ilmu tersebut.

Maka inti kehidupan kita adalah bahwa manusia berfungsi sebagai subjek sekaligus objek. Posisi manusia tidak boleh digantikan oleh apapun itu, apalagi AI. Terlebih lagi bahwa AI sendiri adalah hasil pemikiran manusia. Hanya kepada Allah kita menggantungkan diri, bukan kepada AI. []

Tags: AIArtificial IntelligenceKrisis Akal ManusiaMakin Tahu IndonesiaopiniPeradaban
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan
Opini

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

by SAGOE TV
June 3, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup
Opini

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

by SAGOE TV
June 3, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup
Opini

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

by SAGOE TV
June 3, 2026
Aceh dan Paradoks Kemakmuran: Mengapa Bantuan Sosial Tidak Akan Pernah Cukup Tanpa Industrialisasi
Opini

Aceh dan Paradoks Kemakmuran: Mengapa Bantuan Sosial Tidak Akan Pernah Cukup Tanpa Industrialisasi

by SAGOE TV
May 25, 2026
Ketika Niat Baik Berjalan Tanpa Peta
Opini

Ketika Niat Baik Berjalan Tanpa Peta

by Anna Rizatil
May 21, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 3, 2026
IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

June 4, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

June 3, 2026
Dari Meja yang Sama

Dari Meja yang Sama

June 3, 2026
Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

September 12, 2025
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

May 25, 2026
12.648 Peserta UTBK SNBT 2026 Ikuti Ujian di USK, Rektor Ingatkan Jangan Salah Lokasi

3.886 Peserta Lulus SNBT 2026 di USK, Ini Daftar Prodi Paling Diminati

May 26, 2026

EDITOR'S PICK

UIN Ar-Raniry Siap Fasilitasi Rekrutmen Beasiswa Turki untuk Pelajar dan Mahasiswa Aceh

UIN Ar-Raniry Siap Fasilitasi Rekrutmen Beasiswa Turki untuk Pelajar dan Mahasiswa Aceh

April 15, 2025
Hari Kesehatan Nasional ke-61, Sekda Aceh Tekankan Pentingnya Generasi Sehat untuk Indonesia Emas 2045

Hari Kesehatan Nasional ke-61, Sekda Aceh Tekankan Pentingnya Generasi Sehat untuk Indonesia Emas 2045

November 12, 2025
Peringati 20 Tahun Tsunami Aceh, Yayasan Khadam Indonesia Gelar Smong Fest

Peringati 20 Tahun Tsunami Aceh, Yayasan Khadam Indonesia Gelar Smong Fest

December 15, 2024
Mualem Pantau Distribusi Bantuan di Aceh Utara, Minta Helikopter untuk Jangkau Daerah Terisolasi

Mualem Pantau Distribusi Bantuan di Aceh Utara, Minta Helikopter untuk Jangkau Daerah Terisolasi

November 30, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.