• Tentang Kami
Friday, September 4, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Artificial Intelligence dan Krisis Akal Manusia: Antara Alat Bantu dan Ancaman Peradaban

Anna Rizatil by Anna Rizatil
February 6, 2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Artificial Intelligence dan Krisis Akal Manusia: Antara Alat Bantu dan Ancaman Peradaban

Prof. Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prof. Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc
Profesor bidang teknologi pascapanen, Dosen Prodi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Email: rkhathir79@gmail.com

Era ini, perkembangan signifikan teknologi informasi telah melahirkan Artificial Intelligence yang biasa kita sebut sebagai AI. Apa itu AI? Teknologi AI adalah teknologi yang memungkinkan sistem komputer meniru kemampuan kognitif manusia seperti belajar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan, dengan memanfaatkan data untuk mengenali pola dan melakukan tugas kompleks secara mandiri.

Okey, di sini mari kita lihat, pertama di kata “meniru”. Teknologi ini hanya mempunyai kemampuan meniru. Pernahkah anda melihat pertunjukan sirkus hewan? Sirkus hewan adalah pertunjukan yang menampilkan hewan liar yang telah dilatih melakukan atraksi tertentu, seperti melompati api atau menaiki sepeda, demi hiburan. Namun praktik ini kontroversial karena seringkali melibatkan kekerasan dan eksploitasi terhadap hewan dari habitat aslinya, seperti monyet, gajah, singa, dan lumba-lumba. Pertanyaan nya, bagaimana hewan sirkus dapat melakukan semua atraksi mengagumkan tersebut? Jawabannya adalah karena mereka telah dilatih secara keras dan disiplin untuk meniru gerakan-gerakan tertentu, dan keahlian yang mereka tampilkan tersebut adalah murni tiruan. Pada akhirnya, mereka tetap hewan sirkus yang tidak mengalami peningkatan kecerdasan (inteligensia).

BACA JUGA

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

Kedua, teknologi ini memanfaatkan sekumpulan data untuk mengenali pola, sehingga setiap pengambilan keputusan dalam pemecahan masalah dilakukan berdasarkan data masukan (input) sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa sistem AI merupakan sistem pengulangan yang terjadi tanpa memungkinkan suatu peningkatan kapasitas (improvement). Untuk itu akan dipastikan bahwa di masa depan sistem AI akan menemukan level kebosanan (boring).

Teknologi AI sendiri mencakup teknik seperti machine learning, deep learning, dan natural language processing, yang memungkinkan aplikasi sehari-hari seperti asisten virtual (Google Assistant/Siri), filter media sosial, rekomendasi produk, hingga mobil otonom, untuk bekerja secara lebih efisien, cepat, dan akurat untuk suatu tugas spesifik. Intinya, teknologi AI dikembangkan sebagai alat bantu pekerjaan manusia.

Lalu dimanakah kesenjangan (gap) akibat penggunaan AI secara masif yang dapat merusak kehidupan manusia? Perkembangan AI menjadi ancaman ketika manusia mulai menggunakan AI dengan cara yang salah. Lihat kembali ke aliniea sebelumnya, teknologi AI dikembangkan untuk membantu kelelahan manusia, sebagai asisten manusia, dan membantu meringankan beban tenaga otot. Kesalahan terjadi ketika teknologi AI digunakan untuk menggantikan kerja -otak- manusia. Manusia-manusia mulai menggunakan AI atau dengan kata lain menanggalkan (menyimpan) otaknya.

Penyalahgunaan asisten sangat berbahaya. Misalnya penyalahgunaan asisten rumah tangga akan berpotensi menghancurkan sebuah keluarga. Penyalahgunaan AI sebagai asisten lebih dahsyat justeru akan menghancurkan peradaban manusia.

Contohnya ketika AI digunakan dalam sistem pembelajaran sebagai alat untuk menyelesaikan berbagai tugas. Seorang dosen yang menggunakan AI dan menyimpan otaknya, maka yang dihasilkan adalah materi pembelajaran ataupun artikel ilmiah yang tidak ada peningkatan secara keilmuan namun berbasis tiruan dan multiplikasi. Seorang mahasiswa yang menggunakan AI untuk menyelesaikan perkuliahan tanpa menggunakan kemampuan otaknya, juga akan menjadi sarjana yang kosong atau tidak berkompetensi. Proses pembelajaran yang berfungsi mencetak generasi unggul beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan, berubah arah menjadi proses mencetak generasi berijazah yang inkompeten. Proses menuntut ilmu berubah menjadi proses menuntut nilai atau dokumen. Manusia-manusia yang telah sampai pada tahap ini menjadi manusia yang sangat lemah, yang dapat kita matikan (shutdown) dengan hanya mematikan arus listrik di negara kita.

Di sisi lain, otak yang sering disimpan dan tidak dimanfaatkan untuk berpikir, akan menjadi tumpul atau bodoh. Proses tidak menggunakan otak ini merupakan virus malas yang berbahaya dan bahkan melanggar perintah Allah SWT. Allah memerintahkan kita untuk berpikir dan mendayagunakan akal, afala tatafakkarun?, afala ta’qilun?. Akal pikiran ini adalah pemberian Allah yang paling berharga kepada manusia, di mana tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Oleh karena itulah, ketika pemberian paling berharga tidak kita gunakan alias kita musiumkan, maka sama halnya dengan kita tidak berterima kasih (bersyukur) kepada Allah. Perkara ini sangat berbahaya, yang akan membawa kita kepada kekufuran atas nikmat Allah.

Etika normatif

Oleh karena itu, dengan mengenali teknologi AI secara benar, kita perlu membuat etika normatif dalam penggunaan Artificial Intelligence. Hal ini dapat dijadikan batasan (limit) agar kita terhindar dari penyalahgunaan AI. Etika normatif pertama adalah kejujuran (integritas). Generasi yang berintegritas akan dapat mengendalikan dirinya dari penggunaan AI untuk kecurangan. Contoh kecurangan penggunaan AI adalah menyelesaikan sebuah tugas atau pekerjaan dengan AI secara total. Indikasi ini dapat dilihat misalnya dari kualitas item pekerjaan yang rendah, jumlah item pekerjaan yang banyak melebihi kewajaran, dan inkompetensi generasi.

Etika normatif kedua adalah kemanusiaan (humanis). Humanis merujuk pada sikap, pemikiran, atau orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, martabat, potensi, dan kebebasan individu, serta mengedepankan akal budi dan empati dalam memandang dunia dan menyelesaikan masalah. Sifat ini berfokus pada pengembangan diri manusia, pembangunan masyarakat yang adil, dan solusi yang berpusat pada kebutuhan manusia.

Kehidupan kita sudah sampai di era revolusi industri 5.0. Revolusi industri 1.0 adalah periode perubahan proses produksi manual ke proses produksi mekanis (menggunakan mesin). Revolusi industri 2.0 terjadi akhir abad ke-19 dengan penemuan listrik, inovasi proses otomatisasi, dan kemajuan industri baja, kereta api, telekomunikasi dan otomotif. Pada akhir abad ke-20 kita memasuki era revolusi industri 3.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi komputer membawa kita ke era digitalisasi. Revolusi industri 4.0 adalah integrasi teknologi digital dalam dunia fisik, digital dan biologi yang menghasilkan AI, Internet of Things (IoTs) dan big data. Nah, sekarang kita sudah di ambang revolusi industri 5.0 yaitu kembali kepada manusia dengan visi mengkolaborasikan AI, IoT dan robotika dengan kecerdasan manusia.

Mengapa revolusi industri 5.0 lahir? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena pada tahap ini kita sudah menyadari bahwa keberlanjutan kehidupan manusia (sustainability) sangat tergantung humanisasi itu sendiri.

Dalam Islam, manusia diciptakan oleh Allah sebagai pengelola (khalifah) bumi (QS. Al Baqarah: 30). Terjadi dialog antara malaikat dan Tuhan, di mana malaikat mempertanyakan untuk apa Allah menciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan? Allah menjawab secara arif bahwa Allahlah yang Maha Mengetahui. Kemudian pada ayat 32, para malaikat menjadi takjub dengan kehebatan nabiyullah Adam AS. yang mampu menyebutkan nama benda-benda dengan akurat sebagaimana yang telah Allah ajarkan, sementara para malaikat tidak menguasai ilmu tersebut.

Maka inti kehidupan kita adalah bahwa manusia berfungsi sebagai subjek sekaligus objek. Posisi manusia tidak boleh digantikan oleh apapun itu, apalagi AI. Terlebih lagi bahwa AI sendiri adalah hasil pemikiran manusia. Hanya kepada Allah kita menggantungkan diri, bukan kepada AI. []

Tags: AIArtificial IntelligenceKrisis Akal ManusiaMakin Tahu IndonesiaopiniPeradaban
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026
Opini

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

by SAGOE TV
September 2, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK
Opini

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

by SAGOE TV
August 31, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

by SAGOE TV
August 23, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi
Opini

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

by SAGOE TV
August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

by SAGOE TV
August 20, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

September 2, 2026
Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

August 31, 2026
Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

September 3, 2026
9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

August 31, 2026
Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

August 31, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Diversifikasi Program lewat SPS Talk #1: Membaca Seni di Ruang Publik

August 31, 2026
Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

August 12, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

August 31, 2026

EDITOR'S PICK

Mengenang Kontribusi Yusdarita dalam Pemulihan dan Perlindungan Perempuan Korban Kekerasan di Bener Meriah

Mengenang Kontribusi Yusdarita dalam Pemulihan dan Perlindungan Perempuan Korban Kekerasan di Bener Meriah

February 21, 2025
Fahri Hamzah Pengalaman Aceh Bangun Perumahan Bisa Jadi Pelajaran Nasional

Fahri Hamzah: Pengalaman Aceh Bangun Perumahan Bisa Jadi Pelajaran Nasional

June 19, 2025
AJI Kota Banda Aceh menggelar pelatihan untuk sejumlah jurnalis dalam rangka memperkuat pemberitaan yang inklusif jelang Pilkada 2024.

AJI Kota Banda Aceh Latih Jurnalis Perkuat Informasi Kelompok Marjinal

November 16, 2024
Presiden Jokowi Resmikan 4 Ruas Tol Sibanceh: Dorong Pertumbuhan Ekonomi Aceh

Presiden Jokowi Resmikan 4 Ruas Tol Sibanceh: Dorong Pertumbuhan Ekonomi Aceh

September 10, 2024
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.