Oleh: Prof. Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc
Profesor bidang teknologi pascapanen, Dosen Prodi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Email: rkhathir79@gmail.com
Era ini, perkembangan signifikan teknologi informasi telah melahirkan Artificial Intelligence yang biasa kita sebut sebagai AI. Apa itu AI? Teknologi AI adalah teknologi yang memungkinkan sistem komputer meniru kemampuan kognitif manusia seperti belajar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan, dengan memanfaatkan data untuk mengenali pola dan melakukan tugas kompleks secara mandiri.
Okey, di sini mari kita lihat, pertama di kata “meniru”. Teknologi ini hanya mempunyai kemampuan meniru. Pernahkah anda melihat pertunjukan sirkus hewan? Sirkus hewan adalah pertunjukan yang menampilkan hewan liar yang telah dilatih melakukan atraksi tertentu, seperti melompati api atau menaiki sepeda, demi hiburan. Namun praktik ini kontroversial karena seringkali melibatkan kekerasan dan eksploitasi terhadap hewan dari habitat aslinya, seperti monyet, gajah, singa, dan lumba-lumba. Pertanyaan nya, bagaimana hewan sirkus dapat melakukan semua atraksi mengagumkan tersebut? Jawabannya adalah karena mereka telah dilatih secara keras dan disiplin untuk meniru gerakan-gerakan tertentu, dan keahlian yang mereka tampilkan tersebut adalah murni tiruan. Pada akhirnya, mereka tetap hewan sirkus yang tidak mengalami peningkatan kecerdasan (inteligensia).
Kedua, teknologi ini memanfaatkan sekumpulan data untuk mengenali pola, sehingga setiap pengambilan keputusan dalam pemecahan masalah dilakukan berdasarkan data masukan (input) sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa sistem AI merupakan sistem pengulangan yang terjadi tanpa memungkinkan suatu peningkatan kapasitas (improvement). Untuk itu akan dipastikan bahwa di masa depan sistem AI akan menemukan level kebosanan (boring).
Teknologi AI sendiri mencakup teknik seperti machine learning, deep learning, dan natural language processing, yang memungkinkan aplikasi sehari-hari seperti asisten virtual (Google Assistant/Siri), filter media sosial, rekomendasi produk, hingga mobil otonom, untuk bekerja secara lebih efisien, cepat, dan akurat untuk suatu tugas spesifik. Intinya, teknologi AI dikembangkan sebagai alat bantu pekerjaan manusia.
Lalu dimanakah kesenjangan (gap) akibat penggunaan AI secara masif yang dapat merusak kehidupan manusia? Perkembangan AI menjadi ancaman ketika manusia mulai menggunakan AI dengan cara yang salah. Lihat kembali ke aliniea sebelumnya, teknologi AI dikembangkan untuk membantu kelelahan manusia, sebagai asisten manusia, dan membantu meringankan beban tenaga otot. Kesalahan terjadi ketika teknologi AI digunakan untuk menggantikan kerja -otak- manusia. Manusia-manusia mulai menggunakan AI atau dengan kata lain menanggalkan (menyimpan) otaknya.
Penyalahgunaan asisten sangat berbahaya. Misalnya penyalahgunaan asisten rumah tangga akan berpotensi menghancurkan sebuah keluarga. Penyalahgunaan AI sebagai asisten lebih dahsyat justeru akan menghancurkan peradaban manusia.
Contohnya ketika AI digunakan dalam sistem pembelajaran sebagai alat untuk menyelesaikan berbagai tugas. Seorang dosen yang menggunakan AI dan menyimpan otaknya, maka yang dihasilkan adalah materi pembelajaran ataupun artikel ilmiah yang tidak ada peningkatan secara keilmuan namun berbasis tiruan dan multiplikasi. Seorang mahasiswa yang menggunakan AI untuk menyelesaikan perkuliahan tanpa menggunakan kemampuan otaknya, juga akan menjadi sarjana yang kosong atau tidak berkompetensi. Proses pembelajaran yang berfungsi mencetak generasi unggul beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan, berubah arah menjadi proses mencetak generasi berijazah yang inkompeten. Proses menuntut ilmu berubah menjadi proses menuntut nilai atau dokumen. Manusia-manusia yang telah sampai pada tahap ini menjadi manusia yang sangat lemah, yang dapat kita matikan (shutdown) dengan hanya mematikan arus listrik di negara kita.
Di sisi lain, otak yang sering disimpan dan tidak dimanfaatkan untuk berpikir, akan menjadi tumpul atau bodoh. Proses tidak menggunakan otak ini merupakan virus malas yang berbahaya dan bahkan melanggar perintah Allah SWT. Allah memerintahkan kita untuk berpikir dan mendayagunakan akal, afala tatafakkarun?, afala ta’qilun?. Akal pikiran ini adalah pemberian Allah yang paling berharga kepada manusia, di mana tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Oleh karena itulah, ketika pemberian paling berharga tidak kita gunakan alias kita musiumkan, maka sama halnya dengan kita tidak berterima kasih (bersyukur) kepada Allah. Perkara ini sangat berbahaya, yang akan membawa kita kepada kekufuran atas nikmat Allah.
Etika normatif
Oleh karena itu, dengan mengenali teknologi AI secara benar, kita perlu membuat etika normatif dalam penggunaan Artificial Intelligence. Hal ini dapat dijadikan batasan (limit) agar kita terhindar dari penyalahgunaan AI. Etika normatif pertama adalah kejujuran (integritas). Generasi yang berintegritas akan dapat mengendalikan dirinya dari penggunaan AI untuk kecurangan. Contoh kecurangan penggunaan AI adalah menyelesaikan sebuah tugas atau pekerjaan dengan AI secara total. Indikasi ini dapat dilihat misalnya dari kualitas item pekerjaan yang rendah, jumlah item pekerjaan yang banyak melebihi kewajaran, dan inkompetensi generasi.
Etika normatif kedua adalah kemanusiaan (humanis). Humanis merujuk pada sikap, pemikiran, atau orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, martabat, potensi, dan kebebasan individu, serta mengedepankan akal budi dan empati dalam memandang dunia dan menyelesaikan masalah. Sifat ini berfokus pada pengembangan diri manusia, pembangunan masyarakat yang adil, dan solusi yang berpusat pada kebutuhan manusia.
Kehidupan kita sudah sampai di era revolusi industri 5.0. Revolusi industri 1.0 adalah periode perubahan proses produksi manual ke proses produksi mekanis (menggunakan mesin). Revolusi industri 2.0 terjadi akhir abad ke-19 dengan penemuan listrik, inovasi proses otomatisasi, dan kemajuan industri baja, kereta api, telekomunikasi dan otomotif. Pada akhir abad ke-20 kita memasuki era revolusi industri 3.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi komputer membawa kita ke era digitalisasi. Revolusi industri 4.0 adalah integrasi teknologi digital dalam dunia fisik, digital dan biologi yang menghasilkan AI, Internet of Things (IoTs) dan big data. Nah, sekarang kita sudah di ambang revolusi industri 5.0 yaitu kembali kepada manusia dengan visi mengkolaborasikan AI, IoT dan robotika dengan kecerdasan manusia.
Mengapa revolusi industri 5.0 lahir? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena pada tahap ini kita sudah menyadari bahwa keberlanjutan kehidupan manusia (sustainability) sangat tergantung humanisasi itu sendiri.
Dalam Islam, manusia diciptakan oleh Allah sebagai pengelola (khalifah) bumi (QS. Al Baqarah: 30). Terjadi dialog antara malaikat dan Tuhan, di mana malaikat mempertanyakan untuk apa Allah menciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan? Allah menjawab secara arif bahwa Allahlah yang Maha Mengetahui. Kemudian pada ayat 32, para malaikat menjadi takjub dengan kehebatan nabiyullah Adam AS. yang mampu menyebutkan nama benda-benda dengan akurat sebagaimana yang telah Allah ajarkan, sementara para malaikat tidak menguasai ilmu tersebut.
Maka inti kehidupan kita adalah bahwa manusia berfungsi sebagai subjek sekaligus objek. Posisi manusia tidak boleh digantikan oleh apapun itu, apalagi AI. Terlebih lagi bahwa AI sendiri adalah hasil pemikiran manusia. Hanya kepada Allah kita menggantungkan diri, bukan kepada AI. []



















